One
Jalanan di Manhattan hari itu sangat ramai. Salju baru saja selesai turun. Mobil-mobil pembersih salju sudah lewat untuk membersihkan salju di jalanan. Hiasan-hiasan Natal menghiasi sudut jalanan di New York City, lagu-lagu khas Natal terputar di mana pun saat itu. Masih tersisa sedikit butiran salju yang turun sisa semalam, menghiasi mantel tebal Nami Anezaki yang berwarna coklat tanah. Ia memasukkan tangannya ke saku mantel, dingin menusuk kulit tubuhnya. Sesekali Nami Anezaki menggigit bibirnya menahan dingin. Pagi itu ia akan ke toko kue temannya untuk mengambil kue pesanan.
“Kuharap Danniela punya segelas kopi panas untukku.”
Nami tiba di sebuah toko kecil dengan warna coklat pucat. Di depannya tertulis dengan jelas tempat itu adalah sebuah toko kue. Di depan pintu terdapat hiasan Natal berbentuk lingkaran dengan lobang di tengahnya, tergantung di pintu. Lampu berkerlap-kerlip di sana dan dari luar, toko kue itu tampak hangat. Nami membuka pintunya, terdengar dentingan kecil lalu pemilik toko, Danniela yang berparas cantik tersenyum ketika melihat kehadirannya. Ia berambut pirang pendek, bermata hijau emerald dan beralis sedikit tebal. Senyumnya menawan khas wanita Prancis.
“Bonjour (Selamat pagi), Anezaki!” sapanya dalam bahasa Prancis. “Ingin mengambil kue pesanan Anne?” sambungnya.
“Tepat sekali, tapi sebelum itu bisakah kau memberiku secangkir kopi. Dingin sekali di luar,” jawab Nami sambil duduk di kursi kecil. Ia melepaskan mantel dan menyampirkannya di pinggiran kursi. Wangi kue jelas berpendar di hidungnya.
“With my pleasure, Darling.” Danniela memerintahkan pelayannya untuk membuatkan secangkir kopi panas dan ia juga memberikan sepiring soupe a l’oignon. “Kau juga pasti belum sarapan pagi, makanlah sup bawang yang masih panas ini. Kau akan merasa kenyang hingga siang nanti.”
Nami menghirup wangi yang sangat lezat dari sup bawang khas Prancis yang ada di depannya itu. Ia memang belum sempat sarapan pagi, jadi Nami tidak akan menolak tawaran dari Danniela. Toko kue Danniela cukup ramai, banyak orang membeli kue di sana untuk sekadar makan sendirian atau membawa pulang untuk keluarga. Terutama saat musim dingin dan mendekati Natal, toko kuenya ramai sekali.
“Ini kopi panasmu dan ini kue pesanan Anne Scholz.” Danniela meletakkan dua benda itu di meja patri di depannya.
“Merci beaucoup (Terima kasih banyak), Danniela,” balas Nami dengan senyumnya.
“D’accord! (Sama-sama)” jawabnya membalas senyum Nami.
Danniela Durand sudah mengenal Nami Anezaki semenjak empat tahun lalu. Ia salah satu pelanggan kue Danniela. Nami Anezaki, gadis Jepang berdarah campuran dari ibu Amerika-Indonesia dan ayah Jepang, yang hijrah ke Amerika untuk kuliah dan bekerja di perusahaan asing. Ia pertama kali kenal dengan Nami ketika Anne Scholz mengajak Nami ke toko kuenya. Semenjak saat itu, Nami ketagihan dengan cita rasa kue buatan Danniela. Mereka berteman cukup baik dan kadang pergi makan siang bersama atau sekadar menghabiskan hari libur bersama.
“Kudengar kemarin kau mengalami kecelakaan, apakah itu benar?” Nami menghentikan gerakan tangannya untuk menyuap makanan. Ia meletakkan kembali sendoknya dengan raut wajah muram.
“Ya itu benar.”
“Lalu kau tidak apa-apa?” Danniela tampak khawatir.
“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Sebenarnya bukan aku yang mengalami luka parah. Justru orang yang menabrakku yang terluka cukup parah,” jawab Nami. Danniela tampak menaikkan satu alisnya tanda ia heran.
“Bagaimana bisa?”
“Dia membanting setir mobilnya dan mengenai pipa air. Tangan kirinya retak dan aku tidak apa-apa,” cerita Nami. Danniela tampak heran dengan cerita Nami, ia tidak menceritakan detail kejadiannya.
“Tapi syukurlah kau tidak apa-apa. Lalu orang yang tertabrak itu bagaimana?”
“Dia marah-marah padaku lalu aku membawanya berobat. Oke, itu bentuk pertanggungjawabanku, tapi tidak sebatas itu saja. Kau tahu, dia ingin menyeret kejadian itu ke kepolisian. Dia gila,” kekesalan terbit di raut wajah Nami Anezaki.
“Kau tidak berbuat macam-macam sehingga dia ingin menuntutmu?”
“Tentu saja tidak, aku sudah melakukan tugasku dengan bertanggung jawab. Lagi pula ia tertabrak karena berkendara sambil menelpon, tidak melihat kehadiranku yang tengah menyeberang,” jawab Nami.
“Kau menyeberang di saat lampu merah atau hijau?” tanya Danniela ingin tahu. Ia penasaran dengan cerita itu ketika Anne Scholz menceritakannya semalam di telpon dan dari tadi Danniela menahan dirinya untuk bertanya ketika Nami baru tiba.
“Tentu saja saat lampu merah.”
“Oke, itu salahnya dan dia tidak berhak menuntutmu.”
“Memang, oleh karena itulah sekarang aku bisa bebas keluar dan makan sup bawang prancis yang enak ini di tokomu,” jawab Nami.
“Oke, itu bagus,” ucapnya dengan senyum terkembang. Danniela senang tidak terjadi apa pun pada temannya itu. “Lalu kau mau ke mana setelah mengantarkan kue pesanan Anne?” tanyanya.
“Forest Hill, aku ada keperluan di sana.” jawab Nami. Danniela ingin bertanya lagi, tetapi ada pelanggan yang ingin membeli.
“Oke aku tinggal dulu, makanlah dengan kenyang.”
Nami menghabiskan suapan terakhir sup bawang dan meminum habis kopinya. Kemudian ia memakai mantel lalu siap mengambil kue pesanan Anne Scholz, tetapi ia mengurungkan niatnya karena ponselnya tiba-tiba berbunyi dengan nyaring. Nami mengumpat pelan karena bunyi ponsel itu mampu membuat beberapa pengunjung toko kue Danniela menoleh padanya. Ia melihat ponselnya dan nomor yang menghubunginya membuat Nami memutar bola mata.
“Aku tahu,” jawabnya dengan malas. “Tunggu saja satu jam lagi aku akan tiba.”
Setelah menutup ponselnya Nami pamit untuk pergi, ia mengucapkan terima kasih untuk kopi panas dan juga sup bawang prancisnya. Ia menyetop taxi dan mengatakan kepada sopir tujuannya. SoHo, South of Houston Street.
❆❆❆
“Akhirnya kau tiba, aku sudah menunggumu.”
“Aku tidak bisa menolak sup bawang prancis milik Danniela. Jadi aku sedikit terlambat,” jawab Nami. “Dan ini kue pesananmu. Apakah tamumu sudah datang?”
“Terima kasih karena mengambilkannya untukku. Mereka akan tiba lima menit lagi, kau datang tepat waktu.” Anne Scholz tersenyum kecil. Dia wanita Jerman dan pemilik butik di SoHo. Dia teman Nami semasa kuliah. Penampilannya sangat menarik dan memesona.
“Oh baguslah, aku datang tepat waktu.” Nami duduk di kursi kecil sambil memanjangkan kakinya. “Jika tidak aku akan menghancurkan bisnismu hanya karena kue hidangan untuk menyambut klienmu datang terlambat.”
“Klienku sudah datang.” Nami menoleh ke arah pintu kaca, tampak dua wanita turun dari mobil dengan sopir yang membukakan pintu.
“Aku juga akan pergi.”
“Wohim gehem sie?(Ke mana kau akan pergi?)” tanya Anne Scholz dalam bahasa Jerman.
“Forest Hill.”
“Mit wem gehen sie? (Dengan siapa kau pergi?)” tanya Anne Scholz lagi.
“Sendirian. Hanya menemui seseorang,” jawab Nami sambil melihat jam di ponselnya. “Oh sial, sepertinya aku akan terlambat!”
“Passen sie auf!(Hati-hatilah!)” teriaknya pada Nami yang berjalan cepat menuju pintu keluar sebelum klien Anne Scholz masuk ke dalam butiknya.
“Machen sie sich keine sorgen! Bis später! (Jangan cemas! Sampai jumpa lagi!)” pintu tertutup setelah Nami berpamitan. Anne Scholz hanya mampu mengembuskan napasnya pelan. Ia masih harus menyambut klien yang akan bekerja sama dengannya.
TBC...