Di dalam tidur Nami yang lelap, ia merasakan wangi yang sangat dikenal menusuk-nusuk hidungnya. Wangi mint yang menyegarkan dan sudah terbiasa berada di dekatnya. Ia sangat menyukai wangi itu. Nami semakin tajam mencium wangi itu ketika ia merasakan ada gerakan halus di wajahnya. Beberapa saat Nami sempat yakin apa yang ia rasakan itu hanya mimpi, tetapi gerakan itu semakin lama semakin nyata. Nami membuka matanya. “Matamu jadi membengkak.” Nami mengerjapkan matanya beberapa saat kemudian ia membulatkan matanya dengan sempurna. Dean tengah menelusuri wajah Nami dengan telunjuk tangannya. “Dean!” Nami langsung terduduk sementara Dean tertawa pelan. Ia dengan lembut menarik Nami untuk kembali berbaring. “Jika kau ingin bertanya mengapa aku ada di sini akan aku jelaskan, tetapi dengan sya

