Alarick menahan napasnya kuat-kuat ketika Valerie melilitkan handuk di sekitar pinggangnya. Dia menelan ludahnya susah payah. Jantungnya berdegup gugup karena Alabirdnya semakin lama semakin tegang. Tentu saja itu karena Valerie yang berada dalam satu ruangan yang intim dengannya. Valerie yang selesai melilitkan handuk malah diam dengan kepala yang menunduk. Alarick mengerutkan alisnya dengan bingung. "Vale...?" "Hiks!" Mendengar isakan Valerie sontak membuat Alarick panik. Dia memegang bahu Valerie dan membungkukan badannya agar wajahnya sejajar dengan Valerie. "Hey, ada apa? Kenapa menangis?" "Hiks! Kau jijik padaku, kan? Kau jijik padaku karena aku hamil, kan, Al? Hiks!" isak Valerie sambil mengusap matanya yang berair. Mata Alarick melotot mendengarnya. "Sayang... Kenapa kau berpi

