Bab 1. “Let’s waste this night away with me.” (Revisi)
Dentuman suara musik keras memekakan telinga khas club malam, terus terdengar semakin kencang seiring dengan waktu yang semakin malam. Bebauan alkohol dari berbagai jenis, menyerbak di sekitar ruangan. Orang-orang tanpa lelah menari-nari di bawah lampu dan di atas lantai yang sama. Berbagai aktivitas seksual lainnya yang sudah tidak aneh, tampak di beberapa sudut club. Mereka orang-orang mabuk yang tidak akan ingat apa yang telah dilakukan.
Ini bukan yang pertama kalinya Aileen melihat pemandangan seperti itu di sebuah club. Namun, ini pertama kalinya Aileen mengunjungi club yang benar-benar mewah sepanjang 24 tahun hidupnya. Maklum saja karena club bukan tempat yang suka Aileen kunjungi.
Bangunan ini cukup besar hingga menyerupai sebuah mall dengan banyak ruangan-ruangan. XV Nightclub memang sesuai dengan reputasinya. Orang-orang yang berkunjung ke Nevada pasti tidak pernah menyesal telah menghabiskan uang mereka di sini.
Aileen tengah berjalan di sebuah lorong ruangan khusus VVIP. Kedua sahabatnya yang diajak oleh beberapa teman dari kampus mereka, telah pergi lebih dulu masuk ke dalam salah satu ruangan ini. Sementara Aileen memisahkan diri karena harus menggunakan toilet sebelumnya. Jadi, ia tengah mencari pintu nomor 3, seperti yang dikatakan Irish padanya tadi sebelum pergi.
Begitu melihat pintu nomor 3, Aileen masuk ke dalam tanpa mengetuk. Ruangannya berbeda dari yang ia bayangkan. Ini lebih menyerupai sebuah kamar daripada ruangan khusus untuk beberapa orang minum dan bersenang-senang. Aileen semakin masuk ke dalam kamar tersebut untuk mencari keberadaan dua sahabatnya dan orang lain.
“Irish? Derick? Guys!” panggil Aileen sambil menoleh meneliti kamar ini.
Aileen terkejut saat menyadari keberadaan orang tidak dikenal di kamar ini yang duduk di sofa ujung ruangan. Aileen mengira itu mungkin salah satu dari teman kampusnya sehingga menghampiri pria tersebut untuk bertanya. Ia tidak mungkin salah kamar karena mendengar apa yang dikatakan Irish dengan jelas. Aileen juga merasa dirinya tidak mabuk, meski telah minum beberapa gelas sebelumnya.
“Hei, dimana Irish dan yang lainnya?” tanyanya sembari menyentuh tangan pria tersebut.
Tiba-tiba kedua netra pria tersebut terbuka, menampilkan warna biru shapire yang sangat cantik hingga Aileen untuk sementara jatuh ke dalam pesonanya. Mereka saling menatap beberapa detik, sebelum Aileen jatuh terduduk di samping pria tersebut sebab tangannya ditarik kencang.
Aileen mengaduh karena bokongnya mendarat dengan sedikit keras. Belum selesai rasa terkejutnya, ia telah melihat pria ini mendekat padanya. Alarm bahaya mulai berbunyi sehingga ia mencoba berdiri, tetapi gerakannya kalah cepat karena satu tangannya yang dicekal. Sehingga pria tersebut berhasil mencuri ciuman pertama milik Aileen.
Ciuman pertama Aileen yang begitu panas hingga langsung merangsangnya. Dia sangat ahli hingga Aileen berdebar dibuatnya dan untuk sekejap hilang kesadaran. Otaknya yang masih setengah bekerja, menolak dan membuat satu tangan Aileen yang lain mendorong d**a pria yang masih menciumnya ini.
Sekeras apapun Aileen mendorong, tampaknya itu sia-sia. Dari sanalah Aileen menyadari bahwa tenaga pria tidak akan pernah sebanding dengan tenaga wanita. Tidak ada pilihan lain selain menggigit bibir pria tersebut agar menghentikan ciuman mereka.
Usaha Aileen kini membuahkan hasil. Dia mengerang kesakitan dan melepaskan pagutan bibir mereka. Melalui kesempatan itu Aileen lagi-lagi mendorongnya untuk menjauhkan tubuh mereka yang sangat dekat. Dia memang terdorong dan Aileen berhasil berdiri, tetapi kemudian mereka menjadi semakin dekat dan intim karena Aileen jatuh di atas pangkuannya. Tangan kanannya yang masih dicengkram kuat membuat Aileen sulit meloloskan diri.
Kali ini pria tersebut tidak menindihnya, melainkan menggendongnya di atas bahu, sebelum menjatuhkan Aileen di atas kasur yang tak berada jauh dari mereka. Aileen semakin merasa dalam bahaya dan jantungnya mulai berdegup kencang karena ketakutan. Sebelum pria ini bertindak semakin jauh, Aileen merangkak mundur untuk turun dari kasur dan berlari.
“Aw! Berhenti!” erang Aileen kesakitan saat kakinya ditarik hingga membuat tubuhnya ikut tertarik maju dan semakin mendekati pria tersebut.
Rok pendek yang ia kenakan telah tersingkap dan menampilkan celana dalam yang ia kenakan. Cardigan putih yang melapisi atasan crop Aileen sudah setengah terlepas. Lagi-lagi pria tersebut mencekal tangannya, kali ini kedua tangannya dan menahannya di atas kepala Aileen. Sebelum menindih dan mencium kembali Aileen.
Aileen kali ini mengerahkan seluruh tenaganya untuk memberontak. Kakinya menendang-nendang, tubuhnya tidak tinggal diam, begitu juga kepalanya yang menghindar, tetapi tidak satupun membuahkan hasil. Dia tetap berhasil mencumbu lehernya dengan kasar.
“Hentikan! Berhenti!” teriak Aileen bersamaan air mata yang mulai turun membasahi pipinya.
Kini Aileen menyadari bahwa ia telah salah memasuki kamar. Entah siapa yang salah di antara dirinya atau Irish. Yang jelas adalah Aileen menyesal telah mendekati pria ini dan terlalu berpikiran positif. Dia bukan pria dari salah satu kampusnya, dia pria berbahaya. Walaupun kondisinya mabuk, tenaga pria ini tetap kuat, dan Aileen kalah jauh.
Sesuatu yang lembut menyentuh paha Aileen dan semakin naik membuat ia merinding dan tersentak. Dia menyentuh titik sensitif pada tubuh seorang wanita, seolah sudah mengetahui kelemahan mereka. Kesadaran Aileen sedikit demi sedikit hampir hilang, berganti dengan gejolak gairah yang semakin naik ke permukaan. Meski begitu, ia tetap menolak akan respon alami tersebut. Ini tidak menyenangkan sama sekali dan Aileen membencinya.
Aileen menggigit bibir bawahnya, menahan suara erangan rasa sakit yang hanya sampai di kerongkongannya. Tubuhnya yang tidak berhenti menolak, sia-sia saja bergerak. Justru sekarang sekujur tubuhnya kesakitan. Percuma saja ia berteriak, berbicara, atau mengatakan apapun karena pria ini sepenuhnya tidak sadar. Yang bisa Aileen lakukan hanyalah menangis, berharap ada seseorang yang menghentikan pria gila ini.
Pria ini tiba-tiba berhenti setelah mungkin merasa puas dengan leher dan dadanya. Kemudian naik menatap ke arah wajah kacau Aileen yang menangis ketakutan. Sepasang netra abu-abu itu berlinang air mata ketika bertemu netra biru shapire yang cerah, walau kemerahan. Alih-alih berbelas kasihan melihat kondisi Aileen, bibirnya menyeringai. Aileen semakin tidak tahan untuk berteriak di depan wajahnya. “Lepaskan aku!”
“Kenapa aku harus melepaskanmu sementara kamu yang menghampiriku?” Aileen mengira dia tidak sadar sehingga tidak mungkin menjawab.
“Aku bukan wanita bayaranmu atau teman kencanmu, siapapun itu. Aku kemari karena kedua sahabatku yang datang bersamaku. Jadi, lepaskan aku, b******k!”
“Hei, are you lost baby girl?” tanyanya lagi dengan seringai jenaka yang menyebalkan bagi Aileen. Entah dia sekarang tersadar atau tidak, Aileen semakin menangis.
“Kumohon lepaskan aku …” Ia memohon padanya, selagi kesadarannya yang mungkin tiba-tiba kembali. Berharap ada sedikit hati nuraninya.
“Let’s waste this night away with me.” Tetapi itu sama sekali tidak berhasil.
-
-
-
To be continued