2, Dia lagi.

1022 Kata
Angelina sengaja menjauh, ia tak ingin dimarahi lagi disaat terlalu dekat dengan Arya. Ada perasaan hangat di hatinya di saat ia kembali bisa melihat pria itu.. Namun, ada perasaan yang meremas-remas perasaannya tak menentu juga pada saat bersamaan. "Tidak, jangan berfikir yang tidak-tidak, apalagi berfikir suatu hal yang tidak mungkin." gumam Angelina. Ia lalu pergi ke arah belakang rumah, dan di sana ia mulai mengerjakan pekerjaan yang ada di belakang rumah besar keluarga itu. Angelina akhirnya tidak masuk ke dalam rumah, meski makan siang sudah hendak berlangsung. Angelina membiarkan maid yang ada di dalam — yang mengurus semua makanan yang ia persiapkan. Bukan tidak mau menjamu, namun ia terlalu enggan untuk bertemu pria itu lagi. *** Di ruang makan.. Suasana terasa sangat dingin, Arya diam seribu bahasa. Arya bahkan hanya berdehem bila di tanyain sesuatu. Dan di sana, ayahnya juga tampak berekspresi sama. Mereka berdua memang memiliki sifat dan sikap yang hampir sama. Rafli Santoso... itu lah nama dari ayah Arya Santoso — pria dingin tak tersentuh, dan pria itu juga adalah pribadi yang disiplin dan keras kepala. "Maid, tinggalkan ruangan ini. Ada suatu hal yang ingin aku bahas, jangan mencoba untuk menguping — bila kalian ingin tetap bekerja di sini." Ancam Rafli sembari melirik ke arah para maid yang ada di ruangan itu. Para maid mengangguk, mereka akhirnya pergi ke belakang, dan mereka tentu tak berani membantah. Pihak keluarga yang lain tampak menoleh ke arah Rafli sembari menatap wajah Rafli dengan tatapan yang menuntut penjelasan. "Ayah, ada apa ini?" tanya Ningrum, istri dari Rafli. Seluruh anggota keluarga itu tampak diam dan mencoba mendengarkan suatu hal yang mungkin membuat Rafli menyuruh semua maid di kediaman mereka untuk menjauh dari sana. Rafli menghela nafas, ia melirik ke arah Arya, dan setelahnya ia mencoba berbicara.. "Arya, kamu tahu mengapa Ayah menyuruh kamu pulang 'kan?" tanya Rafli. Arya hanya menggeleng sejenak. Ia bahkan terlihat enggan berbicara setelah beradu mulut dengan Ayahnya tadi di belakang. "Ayah menyuruh kamu pulang, karena Ayah ingin menjodohkan kamu dengan rekan bisnis Ayah," ujar Rafli. Seketika itu juga — Arya terperanjat kaget mendengar ucapan ayahnya. ia tak menyangka ia malah kini terlibat dalam sebuah perjodohan. "Apa?" gumam Arya. matanya terlihat terbelalak lebar disaat mengatakan semua hal itu. Bila yang lain terlihat senang, ternyata lain halnya dengan Arya. Pria itu tampak terkejut dengan segala ucapan dari ayahnya. "Apa? Kenapa Ayah tak mendiskusikan ini dulu denganku?" tanya Arya dengan mata yang terbelalak menatap ke arah ayahnya. ia tak menyangka ayahnya memintanya pulang ternyata karena semata-mata ingin menjodohkan dirinya. "Untuk apa Ayah mendiskusikan hal ini denganmu? Apapun keputusan Ayah — semua itu tak akan bisa di ganggu gugat. Semua yang Ayah ucapkan dan putuskan, adalah salah satu hal yang bersifat mutlak!" tekan Rafli. Rahang Arya yang kokoh tampak mengeras. Ia yang tak sanggup terus diatur akhirnya berdiri dari duduknya. Arya mengangkat tangannya ke udara dan menghempaskan nya dengan sangat kasar ke atas meja. Suara gebrakan meja terdengar begitu nyaring, dan membuat semua orang yang ada di sana cukup terkejut. "Ayah, aku tahu apa yang harus aku lakukan... Soal pernikahan, itu adalah masa depanku, dan aku sendiri yang akan menentukan masa depanku!" tutur Arya, pria yang sudah bangkit dari duduknya itu segera pergi dari sana. "Arya! Mau kemana kamu?!" teriak Rafli. Arya tampak tak perduli, ia pergi begitu saja dari sana. Ningrum sedikit terkejut melihat sikap dari putranya, ia tak tahu mengapa ia merasa ada hal yang lain dalam diri putranya. "Sebenarnya ada apa ini? Kenapa jadi begini?" tanya Ningrum. "Mah, kamu awasi salah satu maid kita. Aku sedikit curiga dia ada hubungan dengan Putra kita." ujar Rafli. "Hah?! Apa?" ujar semua orang yang ada di sana. "Mas, Kamu jangan mengada-ada. Masa iya putra kita ada hubungan sama orang miskin!" balas Ningrum dengan suara tidak percaya. "Iya, Mas.. Sepertinya tidak mungkin, bukankah keponakanku baru saja pulang setelah bertahun tahun bekerja di Luar Negri." timpal salah satu adik Rafli. "Itu tidak mungkin! Bagaimana bisa," timpal beberapa orang di ruangan makan itu. Semua tampak menyangkal, dan mungkin hanya Rafli yang mencoba mempercayai hubungan yang masih tertutup rapat itu. "Semua bisa saja terjadi, Kalian harus ingat... Sebelum Arya pergi, kita tak pernah memperhatikan gerak dari segala hal yang di lakukannya. Kita hanya di sibukkan dengan segala pekerjaan masing-masing — sehingga tak bisa mengawasi seluruh anggota keluarga, dan salah satunya anak." balas Rafli *** Arya yang merasa kesal akhirnya pergi dari rumah.. Tujuan utamanya adalah suatu tempat yang lumayan jauh dari kediamannya. setelah menempuh perjalanan beberapa saat... Mobil Arya terus melaju ke arah pemukiman yang merupakan suatu komplek dari Apartemen Mewah. Ia pergi ke suatu tempat, dan setelah di perbolehkan masuk oleh orang yang hendak ia kunjungi — ia akhirnya masuk ke sana. Arya menaiki lift dan menuju ke lantai 5, setelah beberapa saat menaiki lift, ia menuju ke sebuah pintu Apartemen yang ada di sana. Setelah menunggu beberapa saat, ia memencet bel, dan akhirnya pintu di buka. "Wah, lihat ini, Sayang. Siapa yang datang?" tanya seseorang yang tampak bertelanjang d**a disaat membuka pintu Apartemennya. Arya mendengus kesal setelah melihat pria di hadapannya. Melihat pria itu yang tampak bertelanjang d**a, ia akhirnya paham betul apa yang ia lakukan di dalam. "Dasar Predator! Sibuk tidak? Kalau kamu sibuk aku pergi saja. Aku tak mau melihat kamu bergulat dengan seorang wanita di dalam sana!" tegur Arya. "Wah-wah, aku kira setelah tinggal di Luar Negri kamu akan jadi orang yang brutal, ternyata masih sama.. Ya sudah, kamu tunggu disini sebentar." Pria itu menutup pintu dan Arya akhirnya hanya bisa menghela nafas sejenak. Ia memang tengah mengunjungi salah satu teman baiknya yang gila wanita. Beberapa saat kemudian, pintu kembali terbuka.. "Silahkan masuk, Tuan Muda Santoso, kamu datang dari jauh tanpa kasih kabar, dan tak bawa oleh-oleh pula," Celetuk pria itu sembari mempersilahkan Arya masuk. "Ah! Berisik — kamu, kamu lebih kaya dari aku, jadi aku tak perlu memberikan kamu oleh-oleh." ujar Arya sembari melangkah masuk ke dalam Apartemen. Ia menuju ke arah sofa, dan setelahnya ia duduk di sana tanpa menunggu dipersilahkan duduk. "Ngomong-ngomong, mengapa kamu kesini? Apa ini masalah wanita yang sama? Yang pernah kamu ceritakan disaat hendak berangkat?" "Hm, siapa lagi kalau bukan dia." balas Arya sembari menatap kosong ke depan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN