3, Sentuhan lembut di Bibir.

1091 Kata
Suara helaan nafas panjang mulai terdengar. Niko — sahabat Arya, dan satu-satunya orang yang tahu tentang asmara rumit Arya. Kini, Niko tampak ikut duduk dan menatap lurus ke depan. "Bro, ini kisah cintamu yang rumit. tapi, kenapa aku ikut serta dalam kepusingan ini?" celetuk Niko. Arya sebenarnya mendengar ucapan temannya. Namun, ia tetap menatap lurus ke depan tanpa ekspresi. Bahkan, tatapan matanya tampak kosong. "Apa yang harus aku lakukan?" gumam Arya. Dirinya sungguh sangat bingung dengan segala hal yang tengah ia alami. Perasaannya pada Angelina sungguh makin membesar dan sulit ia bendung —setiap melihat gadis cantik itu. "Aku kira, perasaan ini sudah mati untuknya. ternyata aku salah, dan kini — perasaan ini malah makin kian membesar." gumam Arya lagi. Niko menoleh ke arah Arya yang kini tampak duduk termenung dan sibuk dengan perasaannya, "Kenapa kau tidak mengungkapkan perasaanmu padanya?" tanya Niko. "Aku selalu mencoba untuk dekat dengannya, dan semua aku lakukan karena aku ingin mengungkapkan perasaanku. Tapi, dia selalu menghindar, bahkan di saat aku belum mengatakan banyak hal." ujar Arya dengan sangat lirih. "Ck, payah sekali hidupmu! Makanya lebih laki dong! Eh, tapi masuk akal juga sih." balas Niko. "Apa maksudmu?" "Arya, kamu tidak lihat posisinya? Dia hanya seorang maid di kediamanmu. Dia mungkin saja takut —" Niko sampai menjeda kata-katanya. "Takut apa? Aku tidak pernah bersikap kasar padanya, aku tidak menggodanya, aku tidak menyentuhnya juga. Apa aku juga terlihat menakutkan?!" balas Arya dengan suara yang sedikit meninggi. Niko kembali menghela nafas dibuatnya. "Bukan Kau yang menyeramkan, tapi keluargamu. Apa kamu tidak ingat bagaimana keluargamu?" tanya Niko lagi. ia berusaha menyadarkan Arya, siapa dirinya, dan siapa wanita yang begitu ia inginkan. Arya yang sadar akan hal itu — akhirnya terdiam dan tampak termangu. Ada perasaan sakit di dadanya, dan juga rasa sesak yang datang secara bersamaan. "Arya, apa kauu yakin akan bersama wanita itu?" Pertanyaan yang di lontarkan Niko membuat Arya menoleh ke arah Niko dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan. "Apa maksudmu?!" tanyanya dengan suara yang mulai terdengar tidak enak. "Kau seperti tidak kenal keluargamu. Aku yakin, bila kau tetap memaksakan perasaanmu — pasti mereka tidak akan merestuinya, dan mungkin saja — kau bahkan akan di usir dari rumah." balas Niko. Arya menatap Niko dengan tatapan yang mendalam namun terkesan tajam. "Aku tahu. Tapi, aku tidak perduli. Mereka bahkan sudah mengatur pertunanganku. Tapi, aku tak akan mau menuruti keinginan mereka. Aku pergi." balas Arya sembari bangkit dari duduknya. "Arya! Apa kau sudah gila?! Kau tidak akan jadi pewaris kalau kau melakukannya?!" Niko berusaha mengingatkan sahabatnya yang tampak hendak melakukan hal yang hendak merugikan dirinya sendiri. Arya menghentikan langkahnya, dan ia menolehkan kepalanya ke belakang. "Aku tidak perduli!" tekan Arya. Pria itu berlalu pergi begitu saja tanpa mengindahkan peringatan dari sahabatnya. Perasaan Arya semakin menggebu, dan ia merasa ia tak akan bisa menahan diri lagi. Ia mengendarai mobilnya dan segera melajukan kendaraannya di jalanan yang mulai macet. Perutnya seakan terasa di remas-remas setiap ia mengingat wajah Angelina. Gadis pujaan hatinya yang telah lama menduduki singgasana di hati itu ternyata masih tetap berada di posisi sama, meski sudah lama ia mencoba menimbun perasaan itu. Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya ia sampai juga di kediaman mewah Keluarga Santoso. Langkah kakinya begitu tergesa, seakan menuntutnya untuk segera sampai ke dalam rumah. "Maid, kamu lihat Angelina?" tanya Arya dengan ekspresi wajah datarnya. Orang yang ia tanyain sempat heran disaat Tuan Muda Keluarga Santoso menanyakan salah satu maid — langsung ke inti namanya. "Sepertinya dia tadi sedang berada di halaman belakang, Tuan. Apa ada suatu masalah yang ia perbuat, kalau benar begitu, Saya akan menegurnya untuk Anda." balas maid itu dengan senyuman yang malah membuat Arya merasa tidak suka dan tidak nyaman. Arya juga merasa, seakan-akan semua yang ia ucapkan bertujuan karena Angelina melakukan kesalahan. "Aku bahkan belum mengatakan apapun, tapi kamu sudah menarik kesimpulan! Sekarang perbaiki sikapmu, sebelum kamu berburuk sangka pada orang lain!" tegur Arya dengan suara yang terdengar begitu dingin. Pria itu langsung pergi menuju ke halaman belakang, dan ia meninggalkan maid yang tampak tertegun setelah mendengarkan setiap ucapan yang bak tamparan keras untuknya. *** Arya bergegas melangkah ke arah tempat dimana ia bisa menemui gadis pujaan hatinya. Dan, benar saja... Setelah ia sampai di sana, ia melihat Angelina tengah membersihkan beberapa pot bunga yang tampak di tumbuhi rumput kecil. Arya melihat gadis cantik itu berulang kali mengusap dahinya dengan punggung tangannya. Peluh tampak bercucuran, semua terjadi karena panas matahari begitu terik di siang hari menjelang sore itu. "Angelina, kita perlu bicara." ujar Arya tiba-tiba. Angelina yang sedang fokus mengerjakan pekerjaannya akhirnya tersentak kaget disaat mendengar namanya di sebut. "Tu—tuan Muda," gumam Angelina dengan suara terbata. Seketika ia merasa begitu gugup di saat melihat pria itu sudah mendekat ke arahnya. "Kita perlu bicara." ujar Arya lagi. "Bicara apa? Katakan saja, Tuan — saya akan dengarkan." balas Angelina. Ia mencoba untuk tetap tenang dan bicara dengan nada yang lembut. "Tidak di sini, ikut aku." Arya menarik pergelangan tangan Angelina dengan lembut dan membawanya ke balik pohon besar. Hal itu ia lakukan karena ia tak ingin keluarganya melihat apa yang akan ia lakukan di sana. "Tu—tuan Muda?" panggil Angelina dengan suara terbata. Hal itu terjadi karena pria itu sekarang ada di hadapannya, dan tubuhnya yang membelakangi pohon sekarang terkunci oleh kedua tangan Arya yang menjulur menyentuh pohon besar itu. "Angelina, aku mau bicara denganmu... Sekarang tolong dengarkan aku." balas Arya dengan suara yang terdengar tegas, namun lembut. "A—anda bisa bicara tanpa begini, 'kan?" balas Angelina, namun tampaknya — Arya tak perduli. "Aku menyukaimu, Angelina. Sudah sejak lama aku menyimpan perasaan ini." ungkap Arya. Angelina tertegun di saat mendengar apa yang Arya katakan. namun di sisi lain, ia sungguh enggan percaya begitu saja. "Apa yang Anda katakan?! Saya adalah maid di kediaman, Anda. Karena itu, Anda tentu menyukai Saya. Be—begitu bukan?" balas Angelina dengan suara terbata-bata. "Jangan mengelak, Bukan suka yang seperti itu. Tapi, aku mencintaimu.. Aku tak bisa menahan diri lagi." balas Arya sembari menahan gejolak emosi yang sudah menumpuk di dadanya. Arya menarik pinggang ramping itu agar merapat padanya, dan sesaat kemudian.. Bibir mereka bertemu. Angelina membelalakan matanya di saat merasakan sentuhan hangat dan lembut di bibirnya. Ingin rasanya dia marah untuk saat itu. Namun, gejolak perasaannya yang selama ini ia simpan ternyata menerima setiap sentuhan yang diberikan oleh Arya. Manis, lembut.. Dan penuh perasaan.. Hanya itu yang ia rasakan di bibir lembutnya. Arya memberikan sebuah sentuhan yang dapat menggambarkan perasaannya pada Angelina, dan ternyata respon Angelina tidak buruk, meski ia hanya sekedar menikmati Namun, terlihat jelas bahwa perasaan mereka sepertinya sama..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN