4, Sentuhan.

1033 Kata
Angelina dapat merasakan sentuhan lembut di bibirnya. Ia sadar semua itu salah. Seharusnya ia menarik dirinya dan menyudahi apa yang Arya lakukan. Namun, debaran di hatinya membuatnya tak bisa melakukannya.. Ia malah makin tenggelam saat bibir mereka saling memberikan kelembaban. Setelah mereka hampir kehabisan nafas, pada saat itu juga — akhirnya Arya melepaskannya. "Melihat reaksimu, aku merasa — kamu memiliki perasaan yang sama denganku. Benar begitu bukan?" tanya Arya. Angelina terdiam di saat mendapatkan pertanyaan yang sungguh sulit ia jawab. Arya menarik pinggang ramping Angelin, ia memeluk lembut tubuh gadis cantik itu. "Tu—tuan, ini tidak boleh terjadi.. To—tolong lepaskan." balas Angelina pada saat itu juga. Bibirnya seakan menolak, namun beda dengan reaksi tubuhnya. tubuhnya seakan membeku dan enggan untuk menjauh. "Kamu berkata seolah menolakku, namun — reaksi dari dirimu sama sekali tidak seperti itu. Apa yang terjadi? Bila kamu ingin memelukku kali ini, maka peluklah.. tak akan ada orang yang akan menghentikan kita untuk saat ini. Pergunakan waktu kali ini dengan baik." Arya masih memeluk tubuh Angelina. Dan pada saat yang bersamaan, akhirnya Angelina membalas pelukan hangat itu. Itu yang dia harapkan, dan itu yang selama ini yang ia inginkan. "Tapi.. Ini tidak boleh." gumam Angelina pada saat itu. Arya tak menjawab, ia hanya diam, dan menikmati aroma tubuh gadis itu. sesaat mereka melupakan jati diri masing-masing, dan pada saat itu — Angelina mencoba untuk menenangkan hatinya sejenak. Namun, setelah merasa tenang.. Angelina menarik dirinya dari Arya dan berlari masuk ke dalam rumah besar santoso. Arya terpaku dengan apa yang gadis itu lakukan, dan setelah kepergian gadis itu, ia hanya diam di tempat tanpa melakukan apapun. Angelina berlari ke dalam rumah keluarga santoso, setelah sampai dalam ia baru sadar kakinya yang kotor telah menginjak lantai marmer. Ia akhirnya melepaskan sendalnya dan mengelap beberapa jejak kakinya dan setelahnya ia masuk ke dalam kamar. Hal yang ia lakukan untuk pertama kalinya adalah mandi. Angelina hanya bisa melakukan hal itu untuk mengurangi rasa lelah dan perasaan tak menentu di dalam dirinya. Waktu terus berlalu.. Hingga pada akhirnya malam pun tiba. Sore hari sebelumnya Angelina di buat sibuk oleh banyaknya hidangan yang hendak di masak. Ia yang bertugas memasak untuk seluruh Anggota Keluarga Santoso akhirnya dibuat sibuk bukan main. Bahkan mungkin dirinya akan sibuk sampai malam hari. Pada malam hari itu, suasana kediaman santoso terasa lebih ramai. Angelina yang sudah sibuk di dapur sore tadi ternyata kini harus membawa semua masakannya ke ruang makan. Meski ingin protes ke teman-teman kerjanya, Angelina tak akan pernah mendapatkan keadilan selain makin dari kepala maid di kediaman mewah itu. Rasa lelah dan letih seakan dua kali lipat dari biasanya, dan kini — Angelina harus menyusun semua hidangan di atas meja panjang di ruang makan. Angelina cukup heran mengapa masakan sampai begitu banyak, namun, mengingat Tuan Muda kediaman itu telah kembali, mungkin akan ada tamu yang datang berkunjung tentunya. Angelina hanya mampu menghela nafas. Rasa-rasanya ; rasa lelah bahkan sudah menguras semua energinya sedari pagi tadi. *** Sementara itu di luar bangunan mewah kediaman santoso.. Benar dugaan Angelina tentang adanya tamu. Kini ada dua mobil mewah memasuki halaman rumah dan akhirnya terparkir di depan rumah keluarga santoso. Setelah beberapa saat, orang-orang di dalam sana tampak keluar dan menuju pintu utama. Sang kepala maid kediaman mewah itu langsung menghampiri satu keluarga yang malam itu menjadi tamu agung di sana. Sepasang suami istri paruh baya tampak keluar dari mobil, dan setelahnya di susul oleh putra dan putri mereka yang ada di mobil lain. penampilan mereka tampak terlihat sangat formal, bahkan putri mereka tampak memakai dress malam yang sangat cantik dan anggun. "Selamat datang, Tuan dan Nyonya.. Tuan dan Nyonya besar Keluarga Santoso sudah menunggu kehadiran anda, mari.. Saya antarkan ke tempat Beliau berada." ujar sang kepala maid. Mereka tidak menjawab, melainkan hanya mengangguk kecil. Wajah mereka tampak sangat angkuh, dan mereka juga enggan bicara dengan orang yang mereka anggap tidak sederajat dengan mereka. Kepala maid bahkan sampai merasa sedikit risih dan merasa tak di hargai. Namun, ia tak bisa berbuat banyak selain menunduk patuh. Setelah berjalan memasuki rumah megah itu, akhirnya para tamu dapat melihat sosok yang hendak mereka temui. Rafi dan Ningrum tampak menyambut kedatangan mereka, dan Suriana beserta Bagaskara tampak menghampiri mereka. "Akhirnya kalian datang juga, aku bahkan tidak mengira kalian akan datang semua ke kediaman kami ini." ujar Rafli sembari memeluk tubuh Bagaskara. "Mana mungkin kami tidak datang semua, bahkan disaat putra dan putri kami berkata banyak kesibukanpun, kami meminta mereka untuk menyempatkan waktu untuk datang." balas Bagaskara. "Aduh, jeng.. Repot - repot bawa apa ini?" tanya Ningrum disaat Suriana menyodorkan sebuah Paperbag pada dirinya. "Hanya oleh-oleh kecil dari Paris, putra kami — Dika, kemarin baru saja melakukan perjalanan bisnis ke Paris." balas Suriana. Tak lupa, sebelumnya kedua teman lama sekaligus rekan bisnis itu berpelukan satu sama lain. "Cindy, itu Cindy 'kan?" tanya Ningrum. Matanya tampak menatap ke arah seorang gadis cantik yang berdiri tak jauh dari mereka. "iya, Tante." balas gadis itu dengan ekspresi wajah yang terlihat manis dan ramah. Sang kepala maid dapat melihat betapa berbedanya sikap mereka di antara bersamanya ataupun bersama orang yang setara dengan mereka. "Waduh, cantik sekali.. Ngga salah nih kalau kita pilih Cindy sebagai menantu kita, Ayah." ujar Ningrum. Cindy tampak tersipu malu pada saat itu. Dan beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu utama. perhatian mereka akhirnya tertuju ke sana, dan pada saat itu juga — Cindy menahan nafasnya disaat melihat siapa yang datang. Pada saat itu, sosok Tuan Muda di kediaman santoso tampak memasuki rumahnya dengan langkah kaki yang terlihat tegas. Wajah tampannya membuat Cindy sampai tidak berkedip disaat melihatnya. "Arya, kamu baru datang?" tanya Ningrum pada saat itu. "Hmm," hanya suara deheman yang terdengar, dan pada saat itu — Arya tampak menatap malas ke arah mereka semua. "Om dan Tante datang, sekarang kamu cepatlah ganti pakaian dan kita makan malam bersama." ujar Ningrum. "Untuk apa repot-repot ganti pakaian? Pakaian ku masih bersih, dan layak aku kenakan bila hanya sekedar makan malam." balas Arya. setelah mengatakan hal tersebut, pria itu tampak berlalu pergi menuju ke ruang makan. semua orang di sana tampak terdiam setelah mendengar ucapan Arya, dan entah mengapa — Cindy merasa kesal dan marah setelah merasa keberadaannya dan keluarganya seperti tidak di hormati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN