5, Sikap buruk Arya.

1028 Kata
"Ekhem, maaf ya atas kelancangan putra kami." ujar Rafli di saat ia melihat reaksi dari para tamunya. Mereka tentu sudah memperlihatkan wajah tak enak, terlebih Dika — pria yang tampak seumuran dengan Arya itu sudah sangat murka dengan apa yang di lakukan oleh Arya barusan. Dika seakan hampir mengamuk, namun — Bagaskara mencoba menghentikannya dan ia bahkan sampai menahan Dika dengan mencekal tangan Dika yang hampir saja hendak maju dan memberi pelajaran pada Arya. "Putra kami sudah sangat keterlaluan, kami minta maaf bila segala ucapannya menyinggung perasaan kalian." ujar Ningrum, ia juga melihat bagaimana ekspresi wajah para tamunya pada saat itu. "Iya, tidak apa-apa, jeng.. Kami memakluminya kali ini, kalau begitu mari, kita ke ruang makan saja bagaimana?" tanya Suriana. wanita itu mencoba mencairkan suasana yang sudah menegang pada saat itu. "Ah, iya. Kalau begitu, mari.." ujar Ningrum. Rafli akhirnya mengajak tamunya menuju ruang makan pada saat itu. *** Arya memang orang yang sangat dingin dan keras kepala. ia akan secara langsung terang-terangan memperlihatkan sikap tak sukanya pada siapapun. Dan pada malam itu, ia akhirnya memperlihatkan kekurangan dalam dirinya yang di pandang sempurna bagi hampir semua orang. Saat memasuki ke ruang makan, Arya langsung menatap ke segala penjuru ruangan. Suasana hatinya yang tadi sempat merasa kesal pada sikap ibunya yang sampai melakukan hal berlebih ketika ada tamunya yang datang itu akhirnya sedikit mereda di saat ia melihat Angelina ada di sana. Gadis cantik itu tampak meletakan beberapa hidangan yang ia masak tadi. Dan, di saat itu Arya tiba-tiba saja mendekat. "Kenapa hanya kamu yang mengerjakan semua ini? Kemana yang lain?" tanya Arya sembari membantu mengambil satu piring hidangan yang masih ada di nampan yang Angelina bawa. "Eh?! Tu—tuan? Apa yang anda lakukan?" tanya Angelina dengan suara terbata-bata. jantungnya kembali berdegup kencang di saat menyadari jarak antara tubuhnya dengan Arya begitu dekat. "Aku tanya, kemana yang lain? Kenapa kamu menyajikan semua hidangan sendirian?" tanya Arya lagi dengan suara yang terdengar lembut. "Emh, itu... Mereka mengerjakan pekerjaan lain." balas Angelina dengan suara terbata-bata. Pada saat itu, Angelina hendak membenarkan salah satu piring yang serasa kurang tepat pada tempatnya. Dan seketika.. Angelina terdiam di saat tangannya di sentuh oleh Arya. Pada saat ia hendak membenarkan piring, pada saat itu Arya juga hendak melakukan hal yang sama. Seketika, pandangan mereka kembali bertemu, Arya melihat tatapan Angelina yang tampak memiliki binar yang sama dengan dirinya. Namun, Angelina terkesiap di saat mendengar suara langkah kaki yang masuk kedalam ruang makan. Dengan langkah yang tergopoh, akhirnya gadis itu meninggalkan ruang makan dan sekaligus Arya. Ada suatu hal yang membuatnya harus menjauh, yaitu — Arya. Angelina tak ingin ada kesalahpahaman lagi, dan mungkin akan terjadi untuk kesekian kalinya bila ia tetap ada disana. Arya tercengang di saat melihat gadis itu kabur darinya, namun, setelah melihat orang yang datang, ia akhirnya sadar.. Ada suatu hal yang membuat Angelina takut. Dan hal itu mungkin adalah orangtuanya sendiri. "Arya, ada apa?" tanya Ningrum di saat ia melihat putranya berdiri terpaku di dekat meja makan. "Tidak, tidak ada apa-apa." balas Arya sembari duduk di sebuah kursi. "Silahkan duduk." ujar Ningrum pada para tamunya. Pada saat itu, Cindy malah dipersilahkan duduk di samping Arya. apa yang dilakukan ibunya sungguh membuat Arya marah, tapi — dia yang menyadari aroma masakan yang sering kali Angelina masak — akhirnya mengurungkan niatnya untuk memperlihatkan amarahnya pada keluarganya. Entah mengapa, di saat mencium aroma masakan yang ia yakini masakan Angela sendiri, akhirnya ia tak bisa menahan diri untuk menyantapnya. Arya duduk dan langsung menatap ke arah masakan yang terhidang di sana. aroma harum membuat perutnya keroncongan. dan sepertinya hal itu juga berlaku untuk semua orang, setelah mereka ber basa-basi sejenak — mereka akhirnya mulai makan malam. Makan malam terjadi dengan suasana tenang. Hanya ada suara garpu dan sendok yang berpadu disaat mereka mulai menyantap hidangan yang lezat. Di kediaman santoso, hanya Angelina yang mampu memberikan hidangan yang dapat di nikmati banyak orang. Selain cantik, ia juga sangat pandai memasak. Angelina tersenyum senang di saat ia melihat Arya menikmati hidangannya dengan sangat baik. Pria yang ia kenal susah sekali untuk hal makan itu kini sampai mengambil semua lauk yang ia masak. "Hey, sedang apa kamu di sini?!" ujar seseorang dari belakang tubuh Angelina. Suaranya yang lirih itu hanya terdengar oleh Angelina. Angelina menelan ludahnya kasar. ia akhirnya mau tak mau membalikan tubuhnya untuk menghadapi seseorang yang kemungkinan akan membuat masalah dengannya. "Sini kamu!" Wanita paruh baya yang ada di hadapan Angelina itu menarik rambut Angelina dengan sangat kasar. Angelina hanya mampu menahan tangis di saat wanita itu kembali melakukan suatu hal yang dapat melukainya karena alasan yang terkadang sepele. Angelina mencoba melepaskan tangan Wanita itu pada rambutnya, namun — usahanya sia-sia. "Aagh! Bu, tolong lepaskan.. Saya akui, Saya bersalah.." ujar Angelina sembari terisak. Sesaat kemudian, tubuhnya menabrak wastafel yang ada di dapur dengan sangat kasar. "Makanya kerja yang bener!" tekan kepala maid kediaman santoso yang baru saja menyeret Angelina ke dapur. "Ada apa lagi ini?!" tegur salah satu orang yang baru saja masuk ke dalam dapur. Sontak karena kedatangannya, sang kepala maid dan Angelina akhirnya menoleh ke arah sumber suara. Rasa gugup dan takut menghampiri hati mereka berdua. "Tu–an, ke–kenapa.. Kenapa anda datang kesini? Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya sang kepala maid pada orang yang baru saja ada di sana. "Kenapa? Ini rumahku, dan aku berhak mau berada dimanapun. Apa yang kamu lakukan padanya? Kenapa aku selalu melihat keributan di sini?!" tanya Arya dengan suara yang terdengar dingin. Angelina menundukan kepalanya pada saat itu. "Ma–maaf, Tuan. Ini salah saya." balas Angelina pada saat itu. ia sampai menunduk dalam, dan jari-jemarinya sampai meremas ujung bajunya. Arya meminta sang kepala maid pergi dari sana hanya menggunakan Isyarat saja. Setelah wanita itu benar-benar pergi, Arya meraih lengan Angelina dan mulai menariknya perlahan. "Ah, apa yang anda lakukan?" tanya Angelina saat ia menyadari hal yang tengah di lakukan Arya. "Lenganmu terbentur kan? Biar aku olesi obat anti nyeri." balas Arya. "Ti–tidak usah, Tuan." tolak Angelina pada saat itu. Tapi sayangnya, Arya sama sekali tak mendengar apa yang Angelina katakan. "Apa yang kalian lakukan?!" tegur seseorang dari pintu masuk. Sontak hal itu akhirnya membuat Angelina dan Arya menoleh ke arah sumber suara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN