4. Pengakuan

1068 Kata
“Kamu pasti kenal dengannya, kan?” selidiknya lagi. Adrian tampak penasaran. “Ti-tidak, Tuan,” jawab Erina gugup. Ia sampai berkeringat saat pria itu menatapnya dengan tajam. Tatapan Adrian selalu begitu tiap bertanya hal yang masih ingin diketahuinya. Dalam diam Adrian menelisik raut wajahnya, mencoba mencari kejujuran di matanya. "Tuan, jangan menatapku seolah aku ini maling," pintanya. “Baik, tak mengaku juga kamu. Setidaknya jujur akan membuat hidupmu tenang, Erina Khanza!” Pria itu memanggilnya dengan nama lengkap, Erina merasa pria itu begitu posesif dan menyebalkan. Hanya ingin tahu saja sampai menatapnya tajam. “Tuan, jangan memaksaku!” pintanya. Adrian tersenyum sinis, membuka pintu dan menoleh pada Erina. Lalu, Adrian menarik tangannya ke kamar. Erina tampak ketakutan, ia tak mau mengaku meski berkali-kali Adrian memaksanya untuk jujur agar mengatakan yang sebenarnya. “Siapa dia sampai kamu ketakutan seperti itu?” tanya Adrian lagi, ia sudah diambang batas kesabaran. Erina hanya bisa diam menunduk memainkan ujung kain roknya. Gadis itu tak menjawab apapun, hingga ketika Mamahnya Adrian datang untuk mencarinya, Adrian tak membolehkan Erina pergi. "Erina mana, Dri? Mamah mau minta tolong padanya," "Mamah selalu saja minta bantuan dia, aku sedang bersamanya saat ini," ketusnya. Adrian berdecak kesal, ia memasang wajah masam nan ketus. Mamahnya tahu kalau Adrian putranya mengalami hari yang buruk hari ini. Tapi, ia butuh Erina untuk membantunya. “Aku sedang menanyainya, Mah. Jangan dulu ganggu kami!” ujarnya dengan wajah masam, ditekuk tak karuan. "Kenapa, sih Dri kamu selalu marah sama Erin, dia itu rajin dan juga baik," Mamahnya sangat heran dengan Adrian yang selalu ingin tahu tentang Lervia meski ia hanya seorang pelayan, tapi anaknya begitu perhatian dan posesif. Niatnya hendak menjodohkan keduanya tapi jelas Adrian sepertinya tak akan mau, teman wanitanya banyak dan bisa memilih yang jauh lebih cantik dari Erina yang menurutnya sangat polos bahkan bisa dibilang sangat lugu. “Adrian, anakku. Erina harus bantu Mamah sekarang, pinjam dulu lah, dia itu lebih rajin ketimbang yang lain, Mamah maunya sama dia,” "Nanti setelah aku selesai, Mah. Dia harus menjawab pertanyaanku!" "Erina pasti tak berbuat macam-macam dengan siapapun, lagipula dia sudah bilang tak kenal, kamu seharusnya tahu itu!" Adrian tak terima dan menutup pintu kamarnya. Didalam kamar ia menatap tajam gadis di depannya. "Kalaupun aku kenal dengan pria itu, memangnya Tuan mau apa?" tanya Erina. Adrian tak menjawabnya, agak kesal juga pada pria itu karena selalu membuatnya tegang tiap ia kelelahan. Pikirannya tak tenang karena ingin istirahat. Terkadang dipanggil sewaktu-waktu dan harus segera datang. "Apa dia Ayah tirimu?" tanyanya lagi. "I-iya," jawab Erina akhirnya. "Bagus, dari tadi kek menjawabnya, jadi aku tak perlu mencak-mencak begini," Adrian menghadap ke arahnya. Memposisikan dirinya duduk di hadapannya. "Ada apa lagi?" tanya Erina. Erina benar-benar sangat takut, hingga akhirnya Adrian mengatakan sesuatu yang dianggapnya aneh. "Kamu pasti selalu ketakutan kalau Ayah tirimu mengejar mu," ujarnya. Erina mengangguk, "Sebaiknya kamu segera melepaskan diri agar tak selalu terbebani perasaan takut dan terancam," "Iya, tapi aku bisa apa, Tuan?" Adrian menatapnya, lalu memandang bola mata gadis yang selalu ketakutan tiap ia ajak bicara itu. Polos dan lugu, tepatnya Erina merupakan gadis pelarian yang selalu resah dan gelisah tiap ada orang yang datang dan mengajaknya bicara. "Supaya kamu tetep bisa bekerja dengan nyaman, jangan sampai keluar dari rumah ini, apapun caranya kamu harus tetap berada di dalam rumah," ucapnya lagi. Erina sekali lagi mengangguk. Adrian mendesah dan menatap nanar pada daun yang bergoyang di luar jendela kamar ini. Ia akan memberikan sebuah pilihan pada Erina. ** Erina tengah sibuk di dapur membuat masakan untuk Adrian. Hari itu, dimana Adrian akan pergi ke kantor untuk menemui seseorang yang datang dari Swiss untuk mengajak kerjasama. Adrian yang harus datang karena tamunya minta dia yang datang dan ia mempersiapkan dirinya dengan baik dan sudah duduk di depan meja makan. "Erina ... Mana makananku?" serunya. Seorang pelayan berlari dan memberitahu pada Erina kalau Tuannya sudah siap untuk sarapan pagi. "Ya, Tuan. Ini makanannya, silakan!" Erina menyiapkan semuanya dan ia dengan cekatan membersihkan meja yang sedikit berdebu karena pakaian Adrian berwarna putih jadi harus benar-benar bersih. "Kamu sudah sarapan?" tanyanya. "Nanti saja, Tuan. Yang penting Tuan bisa makan dulu baru nanti aku," jawab Erina. Adrian meliriknya, lalu tiba-tiba ia menyuapi Erina di hadapan pelayan dan membuat Erina kaget. Ia tersentak, "Tu-tuan ... sebaiknya Tuan saja yang makan," Adrian tersenyum sinis, "Makanlah! Duduk di sini dan nanti ikut aku aku ke kantor," "Tapi, pakaianku? Ini jelek dan aku tak punya yang lebih bagus lagi," "Oh, ya? Butik masih banyak yang buka, apa kamu lupa, cepat sarapan dan nanti siap-siap untuk ikut aku!" Sontak pelayan yang lain melirik pada Erina dan menganggap Erina adalah gadis yang beruntung. Sebagian merasa iri dan ingin menjadi seperti Erina. Kadang Erina sampai menangis kalau dimarahi Tuannya ini. Jadinya, yang tadinya iri menjadi ciut nyalinya. Mereka harus berpikir seribu kali jika nanti menjadi pelayan pribadi Tuan Adrian. Selang lima menit, Adrian dan Erina sudah berada di dalam mobil, Nelsy melihat keduanya dan bertanya. "Erin, kamu ikut Adrian?" "Iya, Nyonya," Adrian meminta Mamahnya tak mencari Erina. "Dia akan ikut aku ke kantor, mengurus keperluanku disana," Nelsy hanya mengangguk dan melambaikan tangan saat mereka pergi dengan mobil Adrian. Tiba-tiba, Yesi datang dan menghampirinya. "Tante, si udik itu ikut Adrian?" "Iya, dia ikut untuk mengurus Adrian di kantor," Nelsy sebenarnya merasa keberatan tapi apa mau dikata, putranya orang yang keras kepala dan ingin selalu bersama dengan Erina. Gadis itu memang pendiam dan penurut selama yang ia lihat. Jadilah Adrian kerap memarahinya meski harus selalu menahan sabar karena Erina kadang tak bisa diajak mengobrol. Satu hari mendengarkan lain hari akan berbuat ceroboh lagi. Yesi duduk sambil melipat tangannya. "Tante, jangan-jangan Adrian suka sama dia. Hati-hati Tante, takutnya Adrian kena pelet gadis udik itu," Nelsy berdecak dan hanya tertawa, "Masa sih dia mau pakai pelet. Dia gadis pendiam lagipula hanya biasa saja wajahnya. Tak mungkin Adrian ku akan jatuh cinta pada gadis semacam dia," Yesi mengatur tempat duduknya dan menghadap ke arah Nelsy. "Tante, semua hal bisa jadi mungkin kalau pikiran orang itu jahat dan ingin cepat kaya. Mana tahu setelah masuk ke kamarnya dia pasang jampi-jampi dan Adrian mulai deh klepek-klepek sama si udik itu," Nelsy mulai berpikir, ada benarnya juga keponakannya ini bicara. Ia pasti tak asal bicara karena tahu seperti apa Yesi ini. Pendidikannya merupakan lulusan dari universitas terkenal di kota ini dan favorit. "Tante akan pikirkan ucapan mu, Yesi," "Iya, Tante. Tetap hati-hati saja dan jangan sampai terjadi apa-apa pada anak Tante,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN