5. Menikah

1568 Kata
Erina dan Adrian tengah duduk sambil makan siang di kantor. Gadis itu kini terbiasa ikut dengannya pergi ke kantor. Namun hanya membantunya mengurusi dirinya saja saya kesulitan naik ke atas kursi roda. "Kamu mau sesuatu yang lebih dari bekerja hanya menjadi pelayan?" tanya Adrian. Erina menoleh, ia sedang membersihkan meja tempat Adrian makan dan akan diisi dengan laptopnya. "Maksud Tuan, apa?" “Aku tahu kamu takut ketahuan oleh keluargamu, hutang mereka pasti banyak, kan?” tanyanya. "Aku tidak paham maksud Tuan," "Hutang mereka banyak dan kamu dijadikan sebagai pembayar hutangnya, ya kan?" "Tuan bertanya yang sudah Tuan ketahui dari awal kita bertemu," ujar Erina sedih. Ia tak mau mengingat semuanya itu lagi. Ada hal yang harus ia lupakan termasuk kejamnya Ayah tiri yang menginginkan dia menikah pria tua yang menjadi penghutang keluarga mereka. Ibunya tampak mendukung Ayahnya, kalau tidak seharusnya ia dilindungi dan Ayahnya dilarang namun ibunya malah diam saja waktu itu. Rasa sedih menyelimutinya. Ia harus menerima kenyataan kalau hal ini menjadi takdirnya bekerja menjadi pelayan seorang pria yang juga tak kalah arogannya. "Aku bisa melihatmu sedih setiap saat, pasti kamu mengingatnya selalu, ya kan?" Erina mendongak dan mengangguk pelan. “Untuk apa Tuan menanyakan itu?” Erina menoleh dan tersenyum lalu mendekat padanya. Adrian mendengus dengan kesal pada Erina saat pertanyaannya terdengar aneh di telinganya. “Kamu heran aku tanya seperti itu?” Erina hanya bisa diam, ia menunduk lagi. Adrian tertawa dalam hati, ia merasa senang saat gadis di hadapannya ini tak bisa menjawab atau melawan kata-katanya. Adrian memandangi tubuh Erina yang tampak seksi meski ia tak berbalut pakaian yang menonjolkan lekuk tubuhnya . Tubuh gadis itu yang bagi Adrian meski terlihat kecil tapi cukup menarik jika ia bisa menyentuhnya. Dengan sekali ucap nominal ia sebutkan, gadis manapun pasti akan tunduk padanya. ia menyadari jika rasa ketertarikan pada Erina membuatnya ingin mengatakan sesuatu yang akan membuat gadis itu terhenyak. “Aku mau kamu melakukan sesuatu, apakah kamu bersedia?" tanyanya. "Apa, Tuan?" "Tenang, ini bukan sesuatu yang menjijikkan. Sebagai imbalannya hutang keluargamu, ku bayar lunas,” ucapnya dengan wajah sumringah. Erina menatapnya, ia sangat kaget, Adrian juga membalas tatapannya. Namun, sejenak kemudian ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Apa kamu mendengarnya?" "A-aku ..." Adrian menoleh padanya dan mereka saling bertatapan. Bola matanya tampak menghitam seiiring dengan keterkejutannya pada apa yang dikatakan majikannya ini. “Maksud Tuan ... Tuan Adrian akan membantuku melunasi hutang Ayah ildan Ibuku?” tanya Erina. Adrian mengangguk, kemudian menarik tangannya, "Ini!" Diberikannya secarik kertas yang berisi sebuah tulisan yang cukup membuatnya syok. Erina membacanya dengan mata melotot. ia hampir tak mempercayainya. Lalu, menghampiri Adrian. “I-ini ... Tuan, ini apa?” tanyanya tergagap saat melihat tulisan di kertas itu. “Kamu bisa baca, kan gadis bodoh, itu nominal uang," "Tapi, apa ini semuanya untuk aku?" "Ya, tapi ada syaratnya," "Apa, Tuan? Yang penting jangan aneh-aneh!" pinta Erina. Adrian tersenyum, ia merasa senang saat tahu Erina mulai tertarik dengan syarat yang akan ia ajukan. Pria itu memandang wajah lugu Erina yang sangat polos dan berharap banyak padanya. "Syaratnya, kita menikah dan kamu mendapatkan uang itu!” ucapnya dengan enteng lalu menggerakkan kursi rodanya ke dekat jendela. Dipandanginya keadaan di hutan miliknya yang menjadi warisan dari Kakeknya. Hutan itu tempat ia bertemu dengan Erina, sekaligus menjadi hutan tempat ia jatuh saat berkuda. “Maksud Tuan, ki-kita menikah!” Adrian terus memandang keluar sambil menjawab singkat, “Ya,” “A-aku tidak mengerti,” Adrian mendekat dan lebih mendekat lagi pada Erina. Menyuruh gadis itu duduk di atas tempat tidur dan ia juga duduk di sana. Keduanya saling berhadapan kini. Adrian mengatakan sesuatu yang membuat jantung Erina berdegup kencang. “Kita menikah, seperti layaknya sepasang kekasih yang mengalami pernikahan bahagia, berbulan madu dan ...” Erina menatapnya, “Tapi, Tuan ... ?” “Kamu menjadi istriku, jadi jangan ragu , uang itu segera kamu dapatkan dan bisa kamu cairkan di bank, tapi ... ” Adrian tak meneruskan ucapannya, ia dengan senyum sinis nya berkata pada Erina. "Tapi, apa Tuan?" Adrian menatapnya, “Jangan minta aku untuk menjadi suami seperti yang lainnya, kita suami istri hanya di hadapan semuanya. Tapi, hanya sementara saja. Jadi kamu adalah istri bayaran yang hanya menjadi istriku selama enam bulan ini," Deg ... "Enam bulan?" "Ya, enam bulan saja kita menikah," Tapi Erina masih tak mengerti, ia mencoba menerka namun gagal. Dilihatnya sorot mata Adrian yang kadang begitu membingungkan, ia bisa lembut menatapnya dan bisa juga kasar saat berkata padanya. “Jadi, pernikahan macam apa ini, Tuan?” Adrian sepertinya mulai merasa tak sabar bahkan hampir marah karena Erina terus bertanya padanya tanpa henti. “Dengar Erina, aku hanya butuh kamu untuk menjadi istriku, tapi kita memiliki suatu. Ingat satu hal, aku suami di depan orang-orang tapi di dalam rumah, bahkan di kamar aku ini majikanmu, paham!” Erina menatap kertas yang ia pegang, Adrian dengan cepat mengatakan lagi. “Itu imbalan untukmu kalau mau menikah denganku, hutang keluargamu lunas dan kamu bisa tinggal di istana megah ini,” Adrian menghampiri Erina dan meraih pinggangnya, lalu merapatkan tubuh Erina pada tubuhnya. Erina terkejut, ia segera menepisnya dan bergerak mundur, lalu turun dari tempat tidur dan menjauhi Adrian yang memandangnya dengan tatapan m***m. "Apa-apaan ini Tuan?" "Aku hanya mengetes mu saja, Gadis Manis!" Erina merasa risih, ia bergerak mundur sambil memandangi Adrian yang sedang tersenyum puas dengan kemenangannya sudah membuatnya ketakutan. “Ku kira kamu ini pemberani ternyata hanya disuruh begitu saja tak mau, gadis payah!” ujarnya sambil memejamkan mata. Erina terdiam, ia melihat ke arah jendela dan teringat bagaimana dulu ia dikejar banyak orang. Orang-orang dari suruhan Ayah tirinya. Dengan kekuatan penuh waktu itu ia berlari tanpa tahu tujuan dan terjatuh ke jurang yang tak terlalu dalam. Di dekat jurang ada hutan yang cukup luas yang ternyata milik Tuannya ini. Ia bekerja dengannya dan terus mengalami sesuatu yang hampir sama di rumahnya. Diomeli bahkan hendak di pukul jika tak menuruti. Dipandanginya, kertas berisi nominal yang cukup menggiurkan. Ia tak ubahnya menjual dirinya jika menerima uang itu. Ia bingung jika menerimanya seolah dirinya menjual dirinya, jika tidak, ini adalah kesempatan yang baik untuknya. Antara dua pilihan yang membuatnya sulit memutuskannya. Tiba-tiba, suara Nyonya besar yang merupakan orang tua dari Tuannya datang. Nyonya Nelsy yang datang dan mengetuk pintu dengan lembut, ia segera keluar dan menyembunyikan lebih dulu kertas pemberian Adrian tadi. “Adrian sudah tidur, ya?” Ia mengangguk, "Iya, Nyonya, sudah tidur baru saja," "Ikut aku, yuk!" "Ya, Nyonya," Erina mengikuti perintah wanita yang tampak cantik di usia empat puluh lima tahun itu. Nyonya Nelsy, orang tua Adrian ini adalah wanita yang merupakan keturunan darah biru dan ningrat. Tapi, ia tidak sombong seperti kebanyakan orang kaya lainya yang Erina kenal. Justru Nyonya Nelsy ini selalu baik bahkan selalu menjaganya dari kemarahan putranya. Anak Nyonya Nelsy ada dua, Rima dan Adrian. Nyonya Nelsy jarang sekali berada di rumah. Ia selalu berada di rumah besar milik Kakek Adrian. “Nanti setelah selesai makan dulu, ya aku sudah siapkan makanan untuk para pelayan. Oh ya, Adrian sudah makan belum, ya!” “Sudah, Nyonya.” Jawabnya. Tiba-tiba Yesi datang dan melirik padanya dengan sinis, “Tante, Adrian di cari cewek pagi tadi, cantik banget orangnya,” ucapnya sambil mengamati makanan yang tersaji di atas meja makan. Ia mengambil sebuah irisan alpukat dan memakannya. Erina hanya diam saja dan terus membersihkan meja makan yang cukup lebar tempatnya. “Tante, Adrian akan menikah dengan siapa nantinya? Setahuku dia kan harus menikah dalam waktu dekat,” ujarnya sambil melirik padanya. Erina tahu diri, ia dengan cekatan memindahkan sendok dan juga beberapa piring ke tempat yang semestinya. Ia cukup duduk sedikit menjauh supaya bisa bekerja dengan baik tanpa merasa dilirik secara sadis okeh Yesi yang membencinya . “Adrian tidak punya pacar setelah ia mengalami sakit di kakinya, mungkin kamu ada kenalan, bolehlah bawa kesini dan kenalkan pada Tante!” Yesi dengan bersemangat menceritakan seorang gadis yang ia kenal dan masih sendiri. “Besok aku bawa saja dia kemari, namanya Reina, Tante,” “Cantik tidak orangnya?” Yesi mengangguk, "Cantik pakai banget malah," Keduanya tertawa dan Nelsy memberikan tanda jempol setuju padanya. "Aku pergi dulu, Tante!" Gadis itu pun pergi keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya. “Erin ... aku dengar kamu tidak punya pacar, ya?” Tiba-tiba, Mamahnya Adrian menanyakan itu. Erina langsung terbatuk dan menjatuhkan sendok yang ada di tangannya. Entah kenapa ia menjadi kaget saat Mamahnya Adrian bertanya tentang itu. “Memang kenapa, Nyonya?” tanyanya. Nelsy menoleh dan mendekat padanya. “Serius punya tidak? Aku ingin jawabannya,” Erina terdiam, ia tak berani mengatakan apa-apa, yang ia alami sekarang ini adalah sebatang kara saja. Bahkan sekedar keluarga saja tak ada apalagi pacar. Sungguh ia akan malu jika nanti berhubungan dekat dengan seorang pria dan tak memiliki sanak saudara. Jelas sekali Ayah dan ibunya pasti akan mendampratnya jika pulang lagi nanti. Ia tak mau jika pulang membawa suami bahkan anak yang nantinya pasti akan kena usir juga. “Nggak ada pacar atau siapapun, Nyonya,” jawabnya. “Masa, Erin? Yang benar, aku serius ini lho,” Erina mengangguk, "Saya lebih serius, Nyonya," Namun Nelsy masih dengan sabar mencoba mengoreknya lagi dan minta gadis itu jujur. “Kamu mau aku jodohkan dengan seseorang?” tanya Nelsy hati-hati. Ia cukup pelan saat bertanya. Tak ingin ada yang tahu tentang rencananya. Apalagi ini menyangkut tentang harta warisan dari orang tuanya. Erina terkejut, pertanyaan itu ia dapatkan setalah tadi putranya juga menginginkan sebuah pernikahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN