Cuaca sedang cukup cerah hari ini. Meski sudah jam sembilan, namun matanya enggan terpejam. Malam ini, Erina terbaring di atas tempat tidurnya dengan pikiran yang tak tenang. Ia merasa gelisah karena berada di antara dua pilihan. Entah benar atau tidak
Ia tengah dilanda bingung, ditawari untuk menikah oleh Adrian, tapi di sisi lain Nyonya Nelsy juga minta ia agar bersedia dijodohkan dengan orang yang tak tahu sama sekali siapa orangnya.
Mereka seakan sedang nge prank dirinya.
Tidur miring rasanya tak bisa, akhirnya ia memilih membuat s**u hangat di dapur agar pikirannya menjadi tenang. Setengah jam lamanya ia duduk dan menikmati s**u hangatnya. Kini, lambat laun mulai merasakan kantuk yang luar biasa dan akhirnya benar-benar bisa tidur dengan nyenyak.
"Hoam,"
Matanya mulai berat dan tidurnya pun lebih nyenyak hingga pagi menjelang ia bisa bangun lebih segar dan langsung membantu Nyonya rumah memasak di dapur. Nyonya Nelsy selalu memanggilnya jika butuh sesuatu.
“Erina!”
Pagi-pagi begini ia dikejutkan dengan suara panggilan Adrian saat sedang berada di dapur.
Suara pria yang memintanya cepat datang jika memanggilnya itu berteriak cukup keras dari atas. Ia sedang di bawah dan membantu pekerjaan Nyonya Nelsy. “Kamu dipanggil Adrian, Erin! Datanglah kesana dan temui apa maunya,”
“Baik, Nyonya.”
Nelsy tahu sifat Adrian yang memang keras dan banyak maunya, apalagi jika ingin sesuatu harus segera dilaksanakan. Dengan cepat Nelsy meminta Erina agar tetap turun lagi ke dapur jika urusan dengan putranya telah selesai.
“Jangan lupa selesaikan pekerjaanmu disini!"
"Baik, Nyonya,"
"Oh ya, Erina ... "
"Ya, Nyonya,"
"Sebaiknya ... pikirkan lagi dengan baik mengenai tawaranku tadi!”
Erina mengangguk, dengan cepat ia bergerak menuju ke lantai dua menemui Adrian. Pria itu duduk di dekat jendela dan minta ia membantu melepaskan bajunya.
“Apa? Tuan memangnya tidak bisa melepasnya sendiri?”
Erina sangat kaget dan tak mengira. Hanya melepas bajunya saja harus memanggil dirinya yang sedang sibuk. Lama kelamaan keinginan pria itu selalu mengarah ke hal yang di luar nalar dan jangkauan pikirannya. Kelakuannya mulai aneh dan cukup menggelikan jika dipikir.
“Kenapa bengong! Ayo, lepaskan bajuku!” sahutnya tak sabar.
Erina maju tapi ia agak ragu, “Tuan, tak salah jika aku membantumu?” tanyanya dengan keraguan yang cukup membuat Adrian sewot. “Maumu apa, sih? Masih mau kerja apa tidak? Atau kamu sudah mencairkan cek yang ku berikan kemarin?”
“Selalu saja menuduhku, memangnya kalau sudah begitu Tuan puas, ya dengan menuduhku sembarangan?” keluh Erina.
“Hei! Mulutmu sungguh bawel, kenapa tidak jadi pengacara saja yang kerjanya ngomong, nyerocos terus,”
"Tuan yang aneh, melepas baju saja sampai harus memanggilku!" ketus Erina yang semakin kesal.
Adrian menatapnya dingin, kemudian mencengkeram lengannya dan menatap Erina dengan tajam. "Masih mau kerja disini?" tanyanya.
“Tuan, sudahlah, sini kubantu melepas bajumu,” timpal Erina.
Adrian berhenti menatapnya, ia memalingkan wajahnya ke arah lain saat Erina mulai menunduk ingin melepaskan bajunya. Ia mulai melunak saat Erina benar-benar menunduk di hadapannya dan melepas bajunya. Ia merasa iba dan akhirnya memilih diam. Erina melakukan dengan perlahan dan memalingkan wajahnya saat baju itu akhirnya ia lepas.
Adrian terlihat salah tingkah saat dirinya kini bertelanjang d**a. Lebih-lebih Erina yang sebenarnya lebih salah tingkah.
Adrian mulai merasakan getaran aneh saat gadis itu menyentuh kulit tubuhnya. Rambut di sekujur tubuhnya mulai berdiri dan tampak merinding. “Su-sudah, cukup!” sahutnya saat Erina selesai melepas bajunya. “Sudah? Baiklah, jika Tuan minta melepas yang lainnya, panggil saja aku!”
Adrian diam saja, ia terlihat canggung dan malu hingga membuat Erina menahan tawa melihat tingkahnya.
“Ambilkan aku minum! Aku haus,” pintanya. Adrian tampak gugup saat Erina menatapnya sambil menghela napas. Ia memegangi dadanya, tampak aman tapi tangannya sedikit gemetaran.
“Tuan, ini minumnya, masih ada yang perlu aku lakukan lagi?” tanya Erina. Ia sudah mulai merasa pegal sekaligus ingin duduk sebenarnya, tapi putra Nyonya Nelsy ini sedikit manja dan selalu mengganggunya.
"Tidak, tidak ada lagi,"
"Tuan yakin?"
"Tentu saja, nanti ku panggil lagi kalau aku butuh kamu lagi,"
Erina duduk sebentar untuk menghilangkan lelahnya, ia tertunduk karena sangat lelah mengurus pria yang menurutnya sangat emosional jika kurang cepat tanggap melayaninya.
“Mengenai kemarin, apa kamu sudah memikirkannya?” tanyanya.
Adrian menelisik wajahnya, Erina memalingkan wajahnya, membelakangi tubuhnya agar tak terlihat tengah merasakan gugup.
Ia jengah pria itu memandanginya. Pria yang bawel menurutnya.
“Itu ...” ia ragu mengatakannya.
Adrian memutar arah kursi rodanya, ia menghadap ke arah Erina. “Jadi, bagaimana? Kamu mau kan?" tanyanya lagi .
Erina masih diam, ia sedang bingung. Belum bisa asal memutuskan saja mau atau tidaknya.
"Tuan menanyakan itu terus, sabar sedikit!" ujar Erina.
"Aku ingin tahu jawabannya secepatnya. Mengenai uang itu, cukup sepadan dengan yang kamu lakukan,” ucapnya.
“Tuan membeli ku?”
Erina melotot pada majikanya. Ia sedikit senewen setelah banyaknya keluhan yang ia rasakan saat mengurusi pria ini.
“Tidak! Aku memintamu menikah denganku, kamu dapatkan uang itu dan bisa untuk membayar hutang keluargamu, aku melihat kamu selalu ketakutan.” ujar Adrian.
“Tuan, mereka tak pernah mencari ku sepertinya. Jadi aku tak perlu takut,” jawab Erina.
Adrian tersenyum sinis, dipandanginya gadis dengan bola mata hitam pekat di matanya itu, lesung di pipinya tampak menawan jika tersenyum. Tapi, ia sering membuatnya bersedih dan murung.
Adrian menyadarinya jika mulutnya selalu berkata buruk pada gadis ini. Nalurinya mengatakan jika Erina sebetulnya sangat ngenes dengan kelakuannya.
“Jangan bohong, kemarin saja kamu takut dan melihat dengan gugup saat ada pria yang berdiri di depan pintu gerbang,”
“Tuan selalu sok tahu,” gerutu Erina.
Adrian terus menatapnya. “Apa kamu malu jika bersuamikan pria cacat sepertiku?”
Erina membalas tatapannya dan tanpa berkedip menjawab dengan tegas. “Justru akulah yang merasa tidak pantas Tuan nikahi,”
Adrian tersenyum sinis lagi dan menyentuh dagunya, “Aku tahu kamu pasti tak mau karena kondisiku ini," ujarnya.
"Tuan ... Aku bekerja padamu, yang telah menolongku waktu itu. Tak pernah terpikirkan olehku jika harus menikah dengan majikan ku sendiri," ucap Erina bijak.
"Oh, ya? Hanya itu? Aku tidak percaya. Aku pria normal, kakiku sakit karena jatuh dan hanya akan sementara saja di kursi ini, jadi meskipun aku cacat sementara, jika kamu menginginkan malam pertama yang indah akan aku ladeni!” ucapnya dengan percaya diri.
Erina diam saja, ia tak bisa bercanda dalam hal ini. Sebuah masa depan tidak bisa dibilang bercanda. Pria itu seenaknya memintanya untuk menjadi istrinya tapi ia kerap di marahi, diomeli dan di hina. Erina belum bisa menerimanya.
"Apa kurangnya aku?" tanya Adrian.
"Tuan kaya, bisa mencari calon istri yang lebih dari aku bahkan untuk membelinya dengan memuaskan hasrat dalam semalam,"
"Aku ingin istri, bukan pemuas nafsu!" kata Adrian, ia tampak marah.
Erina hanya diam tertunduk sementara itu di bawah sana, Nyonya Nelsy memanggilnya dan menyuruhnya turun dengan segera.
"Erina! Buruan Sayang kesini!"
“Nyonya memanggilku,”
Adrian mencegahnya menggerakkan kursi rodanya dan menghampirinya. "Ada apa, Tuan?"
Erina kaget karena tubuhnya di desak ke atas tempat tidur. Adrian mendorongnya ke atas tempat tidur ternyata. Erina kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas tempat tidur. Pria itu nekad hendak melakukan sesuatu yang akan membuatnya sangat terkejut.
“Tu-tuan mau apa?” jeritnya.
“Aku cuma ingin membuktikan kalau keadaanku normal sebagai seorang pria dan kamu akan tahu dengan menikah denganku nantinya tak akan pernah menyesal apalagi sampai mengira tak bisa memberimu nafkah batin,” sahutnya dengan wajah berbeda. Erina mulai ketakutan.
“Tuan, sebaiknya jangan lakukan ini, atau aku akan berteriak dan mereka akan menjebloskan mu ke penjara!” ancam Erina.
Adrian mulai berbuat nekad hanya demi membuktikan dirinya juga bisa berbuat yang pria lain dan normal bisa melakukannya.
“Akan menjebloskan ku ke penjara?" Adrian tertawa. "Silakan saja, tapi bukti cek di tanganmu akan menandakan kalau kamu telah ku beli, bagaimana?”
Erina menatapnya, pria sadis ini memang bermaksud membelinya. Ia marah dan gusar tapi Adrian menekan tubuhnya dengan tangannya. "Tuan Adrian!"
Erina memekik cukup keras tapi sayang, kamar ini memiliki peredam suara yang cukup bagus jadi tak bisa terdengar keluar meski ia berteriak cukup keras.
"Tuan ... Jangan berbuat nekad. Aku hanya gadis biasa, Tuan bisa cari yang lainnya!"
Adrian menatapnya tajam, ia tetap maju dan membuat Erina bergidik ngeri.