7. Kamu Keterlaluan

1265 Kata
"Tuan Adrian!" teriaknya lagi. Adrian terus maju, ia berhasil turun dari kursi roda meski dengan susah payah dan bersiap menindih tubuh Erina. Tapi, Erina dengan cepat langsung mendorong tubuh kekar pria itu, meski ia gagal dan ... "Erin! Aku tahu sebenarnya kamu juga suka, kan denganku? Jangan munafik, siapa yang tak suka melihat wajah tampan ku ini. Semua gadis pasti akan bertekuk lutut di hadapanku. Jadi, apa yang akan kamu pikirkan lagi. Kita menikah, kamu ku bayar dan kita ..." "Kenapa kamu melakukan ini padaku, Tuan! Aku salah apa sampai membuatku seperti ini!" "Membuatmu seperti apa, Erin? Jangan munafik, Rin!" "Tuan sudah keterlaluan!" Adrian memandangnya, lalu tertawa, ia merasa senang saat dilihatnya wajah ketakutan Erina dan ia tampak puas. Adrian langsung duduk kembali di atas kursi rodanya sambil menertawakannya, gadis di depannya ini nampak begitu polos. Ia begitu puas dan masih memandang wajah Erina yang sedang terisak. “Aku masih cukup waras untuk memperkosa calon istriku, jadi ... jangan ragu kalau kamu menikah denganku, hidupmu terjamin dan hutang keluargamu terbayar,” ucapnya sambil menatap langit kamar. Adrian menghela napas panjang. "Aku bukannya tega berbuat seperti ini padamu, Erin!" Erina masih menangis, ia bingung dengan yang dilakukan pria yang sedang bersamanya saat ini. Mereka hanya berdua saja, satu menit berlalu jika benar pria ini melakukannya, hilang sudah masa depannya. "Kamu memang berniat membeli ku," ucap Erina. "Aku tidak bermaksud seperti itu, itu hanya pendapatmu saja," "Pendapatku sama saja, Tuan membeli ku!" tegas Erina dengan sinis. "Tidak ada yang akan membeli mu, yang ada hanya saja sebuah tukar tambah, dan nominal uang itu sepadan dengan yang kamu lakukan jika menikah denganku," jawab Adrian jujur. "Tidak sepantasnya Tuan berbuat seperti tadi. Aku sangat ...." Erina menangis, ia sesenggukan. Adrian menjadi tak tega, ditatapnya wajah yang sembab karena menangis terus. “Kenapa menangis?” tanya Adrian. “Tuan selalu memperlakukan aku seperti boneka. Mempermainkan bahkan membuat candaan yang tak berarti!" ketus Erina kesal. "Huh, kamu mau aku menyayangimu lalu kamu akan seenaknya memperlakukanku, begitu?" Erina tampak tak takut, ia menatap tajam pada Adrian yang berniat kurang ajar padanya. "Apa tidak ada yang bisa Tuan permainkan selain aku? Masih banyak gadis yang bisa Tuan sentuh tapi tidak denganku!" Adrian mulai akan menghampirinya. "Dengar, Erin. Aku tidak mempermainkan mu!" ujarnya membela diri. "Sikap Tuan menjadikan hidupku dibayangi ketakutan,” ujar Erina. Adrian terdiam, ia mendengar sendiri bagaimana gadis di hadapannya ini memang benar-benar ketakutan yang teramat sangat dan itu membuatnya sedikit merasa tak tega padanya. "Lalu, aku harus apa?" tanya Adrian. Ditatapnya gadis yang terlihat berani padanya itu. Ia pikir, hanya akan bercanda saja tadi tapi ternyata Erina mengira ia akan benar-benar melakukannya. Erina bangkit dari pembaringannya dan keluar dari kamar Adrian dengan masih terisak. Hal itu menjadikan Mamahnya memanggilnya dan masuk ke kamarnya. "Adrian Sayang, kamu apakan Erina?" Adrian terdiam, ia baru tahu ternyata Erina adalah gadis pengadu. "Apa dia mengadu pada Mamah?" tanya Adrian. "Tidak, dia belum sampai ke dapur, saat ini mungkin dia ada di kamarnya. Mamah melihatnya menangis setelah keluar dari kamarmu," "Kupikir dia mengadu," Putranya tampak cuek saja, tapi ia tahu jika ada gadis yang menangis pasti dia juga takut. Nelsy paham betul dengan sifat putranya ini. Nelsy menatap wajah putranya yang sedang memikirkan sesuatu. "Kamu pasti menyakitinya, Dri!" "Dia saja yang cengeng!" "Ckckck ... Mamah tak habis pikir denganmu, meski dia itu anak pinggiran tapi kerjanya bagus Mamah lihat, apa kamu memang tak suka dengannya, ya? Bisa kita bicarakan, ehm ... dengan memecatnya mungkin," "Tidak! Jangan pecat dia!" "Lantas, kamu akan terus menyakitinya, dia itu juga manusia, Dri," "Mah ... Tolonglah! Jangan membuatku merasa bersalah, Erina hanya pelayanku, dia juga tidak bekerja pada Mamah, kan?" ketusnya. "Memang, tapi setidaknya hargai dia, Dri!" Mamahnya bersiap akan menceramahinya. Dengan cepat, Adrian minta Mamahnya keluar dari kamar, ia ingin sendiri katanya. "Tapi, Dri. Mamah berharap kamu bisa lebih sabar, jika ia pergi dari sini dan mengadu pada Komnas HAM apa kata mereka," Adrian ingin tertawa sebenarnya mendengar ledekan Mamahnya tentang Komnas HAM. "Jangan buat Adrian tambah marah, Mah," "Hmm, ya sudah, Mamah mau ke bawah dulu. Ingat, Dri ... Dia tidak akan kuat jika kamu menyakitinya terus!" Adrian terdiam, ia menutup pintu kamar dan menguncinya. Tak habis pikir dengan yang dilakukannya tadi membuat hati Erina sakit. Ia hanya tak ingin berlama-lama menunda pernikahan. Permintaan sang Kakek harus ia turuti sesegera mungkin. Saat Nelsy dibawah, ketika ia mencoba membujuk Erina. Ada kabar yang sangat mengejutkannya. Dari atas di kamarnya, Adrian mendengar keributan di bawah, ia melihat ada Yesi dan juga kakaknya, Rima memberi kabar pada Mamahnya kalau Papahnya mengalami kecelakaan. "Tante ... Om, Tante ..." pekik Yesi. "Apa? Apa Om baik-baik saja, Yesi?" Yesi terdiam, sementara Nelsy mengguncang tubuh keponakannya. Rima hanya diam saja, ia tak ditanya oleh Mamahnya. Padahal ia bisa saja memberi tahu yang terjadi. Tapi sepertinya tidak mungkin dirinya akan di perhatikan, Rima memilih diam saja. ** Erina terisak di kamarnya, ia benar-benar sangat sedih mengingat dirinya selalu menjadi bahan permainan bagi majikannya. Ia di jadikan seolah-olah tak memiliki perasaan dan juga pikiran kalau disakiti. Adrian pria yang sangat angkuh dan sangat kejam padanya. Berulang kali melakukan hal yang sama dan membuatnya membenci setiap perlakuannya. "Bu, apa aku bisa pulang kalau sudah seperti ini? Apa aku kena karma dan hukuman darimu karena tak menurut pada kalian orang tuaku?" Berbagai pikiran bergelayut dalam otaknya. Ia ingat bagaimana beraninya dia melawan kehendak kedua orang tuanya yang meminta dia menikah dengan juragan Parjo. Juragan tua yang sudah menikah sebanyak lima kali. Kata Ayahnya, ia diminta menikah dengan Juragan Parjo agar bisa melunasi hutang keluarganya. Ibunya juga meminta dia menyanggupinya karena terpaksa. 'Maafkan ibu, Rin. Tapi ini terpaksa ibu lakukan agar hutang kita terbayarkan. Juragan Parjo ingin kamu menjadi istrinya,' 'Erin, nggak mau, Bu. Sepantasnya dia itu jadi kakek ku,' Ayahnya marah besar saat tahu ia tak mau menyanggupinya dan minta tetap menikah meski menolak. 'Kamu akan tetap dinikahkan meski menolaknya. Jadi, tak ada alasan yang lain yang bisa membuat pernikahan ini batal atau tak jadi,' Ibunya menangis, bahkan adiknya juga ikut menangis semuanya. Ia menjadi bingung. Saat malam tiba dan ia dibangunkan, ibu dan Ayahnya ternyata telah menyiapkan pernikahan secara mendadak. 'Kamu akan ke rumah Juragan Parjo dulu, baru besok menikahnya,' Ia langsung panik karena terkejut baru bangun tidur sudah di suruh pergi ke rumah Juragan Parjo yang tua bangka itu. Meski melawan tak mau ikut tapi Ayahnya tinggi besar dan menggendongnya berhasil memasukkan dirinya ke dalam mobil Juragan Parjo. Sungguh ia tak menyangka jika secepat kilat mereka akan menikahkannya dengan tau bangka sialan pecandu gadis muda itu. Hingga saat pagi sekitar pukul delapan saat bersiap akan dinikahkan, ia cepat-cepat pergi saat semuanya lengah. Waktu itu ia beralasan ingin buang air kecil. Di dalam toilet ia berganti pakaian dan keluar lewat jendela kecil di toilet itu. Dengan sekuat tenaga ia berlari dan tak mengenal jarak bahkan lelah. Orang-orang suruhan Juragan Parjo dan Ayahnya mengejarnya saat tahu dirinya kabur dan berlari kencang. 'Hei! Jangan lari!' Ia tak menggubrisnya, bahkan terus berlari sampai masuk ke dalam hutan yang cukup lebat nan menyeramkan. Ia tak tahu kalau hutan itu milik Tuannya yang sekarang menjadi majikannya. Tuan CEO yang cukup sadis yang pernah ia kenal. Tangisnya berhenti karena ia harus tidur, jam malam sudah berlabuh. Orang-orang di rumah tampak tak ada dan terasa sepi. Ia memilih untuk tak keluar dari kamarnya. Wajahnya yang sembab membuatnya tak ingin menampakkan wajah kusutnya pada orang-orang. "Bu ... Aku rindu kalian, Vino ... Iva, hiks ..." Air matanya jatuh lagi menuruni ke pipinya dan Erina tak menyadari jika ia terisak lagi. Bantalnya basah dan cukup membuatnya risih sampai harus melepaskan sarung bantalnya dan mengganti dengan yang baru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN