8. Akhirnya

1460 Kata
Adrian duduk termenung di ujung ruangan di kamar rawat Papahnya. Dengan wajah datar mereka tengah menunggu kedatangan Mamahnya yang baru datang dari Bandung. Mamahnya pergi ke Bandung ingin memberi tahu pada keluarga Papahnya mengenai musibah yang terjadi. Sekaligus meminta donor darah untuk Papahnya. “Kak, Papah butuh tambahan darah, ya?” Rima yang merupakan kakak satu-satunya itu tengah berdiri menatap dengan sendu. "Iya, Dri. Papah butuh banyak darah, Mamah sedang ke Bandung untuk mendapatkan darah yang sesuai dengan golongan darah Papah," Kondisinya sangat memprihatinkan, kekurangan darah yang cukup banyak. O merupakan golongan darah Papah mereka. Pak Trisnadi Hartoyo pemilik perusahaan yang bernaung dibawah perusahaan besar milik Kakek Ibrahim. Perusahaan Ibrahim Corporation merupakan perusahaan yang paling besar di kota ini dan selalu di rebutkan menjadi investor terbesar. Namun sang Kakek memilih memberikan syarat yang cukup berat untuk Trisnadi karena ternyata perusahaan itu akan di turunkan pada Adrian. “Tanya satu persatu orang di rumah kita, siapa tahu ada yang cocok dengan golongan darah Papah,” ucap Rima dengan serius. "Memangnya siapa yang akan cocok, Kak? Kita tidak tahu siapa di antara mereka yang punya golongan datang O," "Entahlah. Kalalu mau kita tunggu Mamah datang saja dan bantu cari kalau belum ada darahnya," ujar kakaknya. Begitu Adrian akan beranjak pergi, Mamahnya datang dan ia berpamitan pulang pada mereka yang langsung masuk ke ruangan rawat sang Papah. "Dri, jika pulang nanti usahakan ponselmu tetap menyala. Mamah ingin dijemput karena malas naik taksi online," Adrian mengangguk dan ia ditemani seorang asisten yang berjalan mendorong kursi rodanya melewati lorong rumah sakit untuk pulang. Tubuhnya sudah sangat mengantuk dan lelah. Tapi, perasaannya sedikit lega karena Mamahnya mendapatkan darah untuk Papahnya. Ia bisa pulang dan tidur dengan cepat setalah sampai di rumah nanti. Tiba di rumah, matanya sangat berat dan melihat Erina tengah duduk berbincang dengan seorang tukang kebun rumahnya yang masih muda. Pria itu memang bekerja menjadi tukang kebun rumahnya dan seringkali ia pergoki melirik dan mencuri pandang pada Erina. “Erina!!!” panggilnya. Erina menoleh dan tukang kebunnya langsung pergi begitu tahu ia datang. Ia melihat gadis itu segera menghampirinya dan dengan sedikit gertakan mencoba membuatnya takut. Lagi-lagi ia ingin menggertak saja. Gadis itu pasti akan ketakutan. “Apa-apaan kamu, Erin! Belum menjadi istriku sudah selingkuh, gimana ceritanya nanti kalau beneran jadi istriku!” sahutnya percaya diri. Glek! "Tuan!" Ia sangat terkejut dengan kata-kata Adrian, “Kapan aku pernah berkata setuju untuk menikah dengan Tuan?” ujar Erina. "Kapan? Tentu saja saat kamu menjawabnya mau, nah itu yang disebut setuju," tukas Adrian cepat. Erina hanya diam, ia memikirkan bagaimana cara agar Tuannya ini tak marah dan emosi dengan hanya melihatnya mengobrol dengan seorang pria. "Tukang kebunmu yang bertanya tentang Tuan Besar, aku hanya menjawabnya saja. Apa harus diam saat dia bertanya seperti itu?" Adrian menatapnya, matanya yang tadinya mengantuk menjadi tak mengantuk lagi dan lebih melek karena Erina berani menjawabnya. "Seharusnya kamu turuti kata-kata calon suamimu ini, Erin!" Ia melunak karena tak ingin berdebat dengan gadis yang dinilainya pemberani ini. Adrian meminta Erina untuk tidak mengatakan sesuatu yang membuatnya marah. "Calon suami? Tuan tidak salah?" tanya Erina lagi. Kepala Adrian mulai berdenyut, ia paling pusing mendengar Erina bertanya, gadis ini terlalu cerewet tapi ia tak mau kalau sampai ia mengobrol dengan pria lain yang selain dirinya. "Erina! Apa kamu lupa kalau kita akan menikah!" “Tuan sangat egois, bagaimana bisa Anda menjadi suamiku yang setiap kata dan ucapan harus selalu di dengar, bahkan mengobrol dengan orang lain pun marah!” Erina membuka dompetnya dan memberikan secarik kertas yang disebutnya cek. "Tuan, ini ku kembalikan!" “Jadi, uang ini kurang menurutmu?” “Tuan, apa tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, kalau Tuan bisa membayar seorang istri, boleh pada gadis lain, tapi tidak denganku!” Adrian melotot, dilihatnya Erina berjalan masuk ke kamarnya. Dari arahnya berdiri bisa dilihat kalau Erina tengah menurunkan pakaiannya dari lemari dan akan pergi dengan membawa sebuah tas berukuran besar. "Mau kemana kamu?" "Tuan banyak mengaturku. Aku seolah barang yang bisa Tuan permainkan!" "Lalu, kamu akan kemana ini?" Rupanya Erina memilih pergi dan berpamitan akan berhenti kerja darinya. "Maaf, tapi ini akan jauh lebih baik kalau aku pergi, Tuan," ucapnya lirih dengan menunduk. Adrian merasa bersalah, ia pikir Erina akan benar-benar takut dan tak akan mengulanginya lagi. Tapi, malah jauh lebih galakan dia ketimbang dirinya. “Tunggu!" Adrian meraih lengan Erina, "Biar aku jelaskan," "Maaf, Tuan ini cek nya," "Tidak, simpan saja untukmu, tapi ... tolong jangan pergi, Erin!” ucap Adrian dengan lirih. “Tuan mencoba untuk membeli bukan untuk meminang, ini suatu ....” "... Ok, baiklah jika kamu tak berkenan. Tapi ini kulakukan agar kamu tahu kalau pernikahan membuatku gugup," ucap Adrian beralasan. Suasana tampak lengang dan keduanya diam dalam pikiran masing-masing. Adrian menyadari jika ia salah mengartikan arti uang untuk membantu Erina mengatasi hutang keluarganya. “Aku hanya membantumu, niatku agar kalian keluar dari kemelut hutang yang menimpa keluargamu, cuma itu,” Erina menatapnya, ia mulai menitikkan air mata, baru kali ini mendengar ketulusan dari pria yang kerap memarahinya itu. “Tuan benar-benar ingin membantuku?” tanya Erina dengan bernada keras. Ia tahu dengan pergi dari sini nanti pasti keluarganya tetap akan mencarinya. Entah dimana lagi ia akan sembunyi. “Dengar, Erin! Persoalan yang kamu hadapi setiap saat kupikirkan. Aku menginginkan pernikahan ini jelas bukan untuk membelinya, tapi kalau kamu bersedia kita bisa buat perjanjian nantinya,” “Perjanjian apa, Tuan?” Gadis dengan sedikit kesombongan di matanya itu menatapnya dengan penuh selidik. Adrian balas menatapnya dan melihat sebuah harapan yang menjadi impian seorang Erina. "Ini!" Ia memberikan sebuah kertas bertuliskan perjanjian yang memang ia tetapkan dalam sebuah pernikahan. Sebuah perjanjian yang akan menjadi rencana pernikahan mereka. "Itu perjanjian yang harus kamu baca dan pahami, Erin!" "Termasuk tidak menyentuhku?" tanya Erina. Adrian tak menjawabnya, ia hanya diam dan memalingkan wajahnya. Erina membacanya lagi, tak ada perjanjian ia tak akan di sentuh jadi tadi ia menanyakannya tapi ternyata Tuannya ini tak menjawabnya. “Sudah jelas semuanya, dan setiap kata kamu pahami?” tanyanya. "Mengenai malam pertama, Tuan. Apa ..." "Itu urusan nanti, setuju atau tidak isi perjanjiannya?" "Aku ... aku tak mau kalau Tuan sampai menyentuhku," ujar Erina. Adrian menoleh dan terus menatapnya. "Aku begitu buruknya dimatamu, Rin?" tanyanya. "Tuan hanya ingin menikahiku selama 6 bukan saja, kan?" "Tanda tangani saja dulu, itu urusan nanti," Erina yang ragu pun akhirnya mengangguk pelan, ia segera menandatanganinya. Adrian tersenyum dan melihat sebuah coretan manis di antara surat perjanjian itu. “Baik, di depan kakekku, kita akan menikah,” kata Adrian. Ia meraih kertas perjanjian itu dan menyimpannya dari balik jaketnya. “Ta-tapi kapan Tuan?” tanya Erina gugup. “Secepatnya, aku akan bilang dulu pada Kakek, tak sembarangan gadis yang bisa ku nikahi, semoga kamu bisa diloloskan dan kita menikah dalam waktu dekat,” tutur Adrian. Pria itu memberikan lagi cek baru padanya. Tenyata ia merobek cek yang tadi diberikan olehnya dan meminta nya untuk mengirimkan uang pada keluarganya sebesar yang dibutuhkan mereka. "Besok kamu bisa pulang menjenguk keluargamu," "Benar itu, Tuan?" "Ya, berikan saja uang yang menjadi hutang mereka," Erina mengangguk, “Simpan sisa uangnya dan jangan kamu lebihkan untuk keluargamu, jika mereka tanya, bilang saja kamu bekerja disini dengan gaji yang cukup tinggi!” “Ba-baik, Tuan,” “Orang ku akan mengantar dan mengawasi mu, jadi tak ada ruang gerak bebas yang akan membuatmu kabur!” sahutnya lagi. Erina mengangguk, ia memandang cek yang diterimanya, kali ini jauh lebih besar dan ia memejamkan matanya, mencoba mengingat adik-adiknya yang masih kecil. ‘Akan tetap aku lebih kan untuk kalian, kakak janji, uang ini akan membahagiakan kalian termasuk untuk ibu,’ Erina masuk ke kamarnya dan membaca minimal yang cukup besar yang belum pernah ia terima. Bekerja satu tahun atau dua tahun pun tak akan sanggup mendapatkan uang sebesar yang diberikan Adrian padanya. 'Pria yang aneh, memilihku menjadi istri bayarannya. Aku takut dia nanti akan mempermainkan ku,' ucapnya dalam hati. ** Adrian merebahkan tubuhnya setelah Erina membantunya sebentar naik ke atas tempat tidurnya. Besok ia akan pergi ke rumah sakit untuk mengecek kondisi kakinya yang kata dokter sudah tidak mengalami keluhan apa-apa lagi. 'Belajar untuk berjalan lagi, Tuan Adrian. Kaki Anda sudah bebas bergerak dan ia telah sehat seperti sedia kala,' kata sang dokter. Dokter menyarankannya untuk melatih kakinya dan Erina juga berkata hal yang sama padanya tapi ia kadang malas bergerak. Matanya langsung terpejam begitu ia merasakan kantuk yang luar biasa. Adrian sangat nyaman sekarang ini. Hatinya begitu tenang karena mendapat tanda tangan gadis yang ia minta menjadi istrinya. Erina sebetulnya sangat mengesalkan tapi ia begitu bergantung padanya dan ingin selalu dekat dengannya. Gadis yang cukup berani jika melontarkan kata-kata yang sedikit membuatnya senewen. Namun, tiba-tiba saat pagi hari ia bangun, Mamahnya memberi kabar yang buruk yang harus ia dengar saat bangun tidur. Adrian baru saja mengucek matanya dan menguap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN