"Adrian! Ke rumah sakit sekarang, ayo antar Mamah!"
"Ada apa, Mah?"
"Cepat kita pergi kesana. Kakek masuk rumah sakit juga, Dri!"
"Masa sih, Mah?"
Adrian hampir tidak percaya tapi ia segera mandi dan turun untuk mengantar Mamahnya menuju ke rumah sakit. Tapi saat ia sedang turun tampak Erina tengah bersiap pergi juga. Rupanya ia baru selesai beberes.
Erina berjalan membawa tas besar, ia sudah siap pergi dan melihat Nyonya Nelsy yang tengah mencarinya dan malah melihatnya sedang berjalan dengan menjinjing tas besar. “Erina, kamu benar-benar akan pergi?” tanyanya.
“Iya, Nyonya. Maaf, saya belum berpamitan pada Nyonya,"
"Mau kemana?"
"Mau ke rumah ibu,"
"Ibumu?"
Erina mengangguk, "Untuk menengok ibu dan adikku,”
Erina sedikit berbohong tapi beneran ia memang pergi kesana, benar-benar pulang ke rumah ibunya. Niatnya ingin melihat keadaan orang rumah dan memberikan sejumlah uang.
“Tolong jangan kelamaan, ya Erina! Aku butuh kamu dan ehm ... pikirkan juga mengenai permintaan ku tempo hari,”
"Tapi, Nyonya, sepertinya saya tidak bisa," jawab Erina jujur.
"Kamu sudah ada calon?"
Terpaksa ia mengangguk dan Nelsy menjadi menghela napas, ia bahkan tak bisa lagi memaksa gadis itu menerimanya. Mungkin kepulangannya ada hubungannya dengan penolakan yang dilakukan Erina. "Kamu pulang karena ada yang melamar, ya?"
Erina menggelengkan kepalanya, lalu mengangkat tas besar miliknya. Ia mengabaikan Nyonya Nelsy yang bertanya perihal dia pulang.
"Maaf, Nyonya, saya pergi dulu,"
Putra dari Nyonya Nelsy telah mengikat dirinya dengan sebuah perjanjian, tak mungkin ia menerima tawaran majikan cantik ini. Ia diam tak menjawab apapun, hingga mobil yang membawanya jauh pergi dari rumah besar dan mewah milik keluarga
Trisnadi Hartoyo.
Perjalanan selama hampir satu jam ia tempuh dan rasa kantuknya yang tadi menyerang perlahan sirna saat mobil berbelok ke arah gang yang menjadi arah menuju ke rumahnya. Dilihatnya beberapa tetangga memandang dengan heran ada mobil mewah dan bagus datang ke gang kecil yang jarang dilewati mobil itu.
"Siapa itu?" bisik tetangganya.
Erina tersenyum ramah pada mereka, sebagian mengenalnya dan langsung membalas senyumannya.
“Apa disini rumahnya?” tanya supir mobilnya. Ia mengangguk, “Ya, benar. Sebaiknya berhenti saja disini! Aku akan turun disini sendirian saja,”
“Tunggu! Meski kamu sendirian, tapi ada teman untuk kamu masuk ke rumahmu!’ ucapnya.
Erina sangat bingung karena supir mengatakan sesuatu yang tidak ia mengerti. Namun, saat dijelaskan membuat ia kaget setengah mati.
"Itu dia yang akan menemanimu,"
“Menemaniku? Si-siapa dia?” tanya Erina kaget. Ia melihat ada satu mobil lagi yang ternyata ada di belakangnya, ia diikuti mobil lain dan ada seorang wanita yang turun dan mengajaknya keluar.
“Ayo Nona, Tuan Adrian mengutus ku untuk menemanimu!” sahutnya. Erina tertegun, seperti ini menjadi calon istri orang kaya. Ehm, bukan sih tapi istri bayaran pastinya, gumamnya sambil berdecak.
"Kamu menemaniku ke dalam?" tanya Erina.
"Iya, aku diminta untuk menemanimu, jadi anggap saja aku temanmu," ucapnya dengan senyum yang ramah.
“Dimana rumah mu?” tanya wanita itu lagi. Erina menunjuk ke sebuah rumah yang ia maksud, tapi ternyata ...
“Ya Allah ... Kok begini?” pekiknya tak percaya.
**
Yesi menghampiri Adrian yang sedang sendirian sambil melamun, ia tidak tahu apa yang telah terjadi pada sepupunya itu hingga tak menyadari ia telah di sampingnya.
“Adriab, dimana pelayan mu? Biasanya dia setia menemanimu kemana pun kamu pergi?” tanya Yesi.
Dipandanginya pria yang tengah diam tanpa bergerak sama sekali itu, Adrian merokok dengan begitu cepat dan Yesi melihat banyak sekali bekas rokok yang dihisap sepupunya itu. "Duh, yang lagi patah hati," sindirnya.
Adrianmelotot, matanya menatap kesal pada Yesi, sepupu centil yang tak suka pada Erina. Ia tahu itu, karena selalu menyindirnya setiap waktu.
Ia merasa kasihan pada Erina jika Yesi sudah mulai bicara di rumah ini.
“Kamu kangen dia, ya?” ledek Adrian sambil melempar sebotol minuman mineral pada sepupunya. “Kangen? Aku lebih baik kangen sama si Meli kucing yang kamu pelihara itu, Adrian. Ingat ya, kucingmu lebih menggemaskan ketimbang pelayan bodoh mu itu!” gerutu Yesi sambil berjalan menjauh dari Adrian.
Pria itu mulai menyebalkan karena telah terkena virus pelayannya dan ia tak suka itu.
Kakaknya datang dari rumah sakit dan memberitahu kalau Papah mereka akan segera pulang besok. “Adrian, sudah jenguk kakek belum? Tadi aku kesana dan seharian ini kakek mencarimu,” ucapnya.
“Ini aku juga mau kesana,” jawab Adrian.
Kakeknya telah pulang lebih dulu dan selalu menanyakan tentang cucu kesayangannya. Rima kerap datang kesana untuk merawat sang Kakek. Wajahnya yang sayu, membuat sang kakak memperhatikannya. Ia heran kali ini ia melihat adiknya yang biasanya tampak happy tapi kali ini tidak.
Adrian nampak murung dan sangat kasihan.
“Dimana Yesi, kamu tahu dia, Dri?”
Adrian mengedikkan bahunya dan meminta kakaknya untuk membantunya naik ke atas mobil.
“Kamu kenapa sih diam saja? Erina juga mana, dari pagi aku tidak melihatnya,”
“Dia sedang menjenguk keluarganya, Kak,” ucap Adrian lesu.
“Kok lesu begitu, sih? Karena dia pergi begitu? ... Oh, jangan-jangan kamu suka ya sama dia?” tanya Kakaknya.
“Apaan, sih Kak?” Adrian mulai jengah, ia tak mau diledek tapi dari raut wajah kakaknya, terlihat keseriusan di matanya. Rima tertawa, tapi kemudian dia serius menanyakan pada Adrian tentang perasannya pada Erina.
"Biasa saja, Kak," jawab Adrian.
"Masa, sih, Dri?"
Adrian pun bertanya balik dan Kakaknya bilang ternyata menyukai kepribadian Erina dan menyarankan agar ia menikahinya.
"Menikah dengannya?"
"Iya, kalau suka tak apa kamu nikahi dia. Lagipula dia pintar dan juga sopan, baik untuk menjadi istrimu,"
“Apa pantas aku dengannya?” Adrian bertanya seolah ia terlalu tua untuk seorang Erina yang masih muda.
"Lantas dong, kamu ini masih muda, meski beda usia tapi adikku ini tampan dan dia pasti tergila-gila padamu," ujar Kakaknya.
“Meski dia biasa saja kulihat, tapi tampaknya dia penyayang, kakak bisa lihat dari cara dia merawat mu,”
imbuhnya lagi
“Dia dibayar, jelas beda kalau merawat orang yang menjadi ATM baginya.” tukas Adrian. Adiknya ini tak pernah mau memujinya. Rima tersenyum, adiknya menyembunyikan sesuatu yang membuat ia tak mau kalah berdebat.
Ada cinta di dalamnya, dan dia tahu itu.
“Coba kalau dia pergi darimu, apa akan seperti ini terus, mengurung diri dan tak b*******h untuk keluar dari rumah,”
“Kak ... jangan meledekku terus,”
Rima tertawa lagi karena adiknya seperti kesal dan cemberut. Adrian terlihat tak suka tapi ledekannya mengena. Kakaknya memberi pilihan agar ia cepat-cepat menikah. “Mungkin dia bisa jadi istri yang baik,”
Adrian diam saja, ia tak mau bercerita apa-apa pada kakaknya ini. Satu hal yang akan ia lakukan tanpa sepengetahuan kakaknya ternyata diam-diam pandangannya terhadap Erina seperti menandakan kalau ia juga setuju. Adrian tersenyum, ia tahu ini keputusan yang tepat baginya. "Tuh, kan senyum-senyum sendiri, udah sana halalkan saja dia. Jangan kelamaan!"
Adrian tampak tersipu dan hanya menunduk, "Sudahlah, mending jenguk kakek dulu. Kak Rima meledek terus,"
Ia pun menyuruh supir untuk pergi menjenguk kakeknya.
Sementara Rima sedang merasa bersyukur karena memiliki adik yang menyayanginya. Disini hanya Adrian yang menghormatinya dan menganggap dirinya ada.
**
Di tempat lain, Erina sedang merasakan keterkejutannya karena keluarganya pindah ke tempat yang sangat memilukan keadaannya. Ia menangis dan tak tahu kalau keadaan ibu dan kedua adiknya sangat sengsara dan memprihatinkan.
“Kalian tinggal disini?” Erina tak menyangka sama sekali, ia melihat kedua adiknya tinggal di gubug yang cukup reyot. “Kak Erin!"
Iva berlari mendekat saat melihat kakaknya datang.
"Iva, kamu disini? Sehat kan kalian?"
Iva mengangguk, "Kak Erina, tahu dari mana kalau kami disini?” Iva bertanya padanya.
Air matanya jatuh lagi melihat kondisi adiknya yang kumal, Erina tak tega melihatnya. "Kak Erin pulang dan tak akan pergi lagi, kan?"
Erina merasa sangat bersalah bahkan ia menyesal membuat semua ini terjadi.
Ia memeluk Iva. "Kakak tahu rumah kami, Alhamdulillah, jangan pergi lagi, ya?"
“Iya, Va, kakak ingin melihat keadaan kalian. Kakak tahu rumah ini dari tetangga yang bilang kalau kalian tinggal disini,” ucap Erina
Dilihatnya Vino tengah tidur di kasur yang tampak kumal, ia masih belum bangun dan tengah bermimpi indah. “Kemana ibu, Iva?”
Iva menarik tangannya dan menunjukkan ke arah luar. "Itu Ibu, Kak!" ucapnya.
Ia sengaja mengatakan itu agar tahu yang dilakukan ibunya, "Sedang jualan?"
Iva mengangguk, “Iya, Ibu sedang jualan disana!”
Memang dilihatnya, ibunya tengah jualan nasi uduk dan sangat laris pagi ini. Ia tersenyum dan bertanya pada Iva. “Kau tidak membantunya?”
Iva menggeleng, “Aku masih kecil, seharusnya kakak yang membantu, bukan aku, Kak," ujarnya.
Glek ...
Erina baru sadar jika adiknya ini sudah pandai berbicara. Dipeluknya lagi tubuh Iva yang kurus dan tampak hitam kulitnya. "Maafkan kakak, sudah bertanya seperti tadi," Iva hanya memandangnya dengan tatapan nanar.