Erina merasa semuanya sudah berubah, ia tidak bisa lagi seperti dulu yang seenaknya menyuruh Iva yang seolah masih kecil dan tak tahu apa-apa. Ia tersenyum pada Iva dan mengelus rambutnya, sembari mengajaknya duduk, Erina memberikan kue dan juga barang lainnya yang ia bawa pada Iva adik perempuannya ini. Semua barang yang ia bawa dikeluarkannya semua dari tas yang dibawanya dan meletakkannya di atas meja.
"Kakak mau kamu menerima ini semua, begitu juga untuk Vino. Nanti dia kebagian juga, kok," ucap Erina.
"Kak, kakak sudah kerja, ya?"
"Iya, kakak kerja. Makanya bisa membeli semuanya ini, untukmu dan untuk Vino juga,"
"Untuk ibu, ada tidak?"
Erina mengangguk, ia menunjuk tas yang masih ada satu yang belum ia buka. "Ini disini punya ibu,"
"Jadi, kamu dapat semuanya, ya Kak?"
"Iya, dong, kamu dan semuanya dapat, kecuali ..."
"Ya, kecuali Ayah," jawab Iva dengan cepat seperti tahu apa isi hatinya.
"Aku panggilkan ibu, ya Kak?"
Erina mencegahnya pergi, ia tahu niat Iva baik, tapi ia tak mau membuat ibunya kerepotan karena ia melihat ibunya sedang sibuk tadi.
“Ibu kan sedang repot, dan waktuku tidak banyak. Mereka hanya memberiku waktu setengah jam saja,” gumamnya lirih.
Iva bertanya kenapa ia hanya akan sebentar saja. "Karena kakak sedang kerja, Va. Jadi, majikan kakak menyuruh cuma mampir dan tidak menginap," jawabnya dengan cepat.
"Sayang sekali, kalau lama pasti ketemu ibu. Apa aku panggil ibu saja, ya Kak?"
"Ehm ... Tak perlu, Iva. Biarkan saja, ibu kan sedang berjualan, besok mungkin Kakak akan pulang kesini lagi dan usahakan bisa menginap," ujarnya membuat hati Iva plong.
Ia mencari sosok Ayah tirinya tapi tak terlihat juga, dipandanginya wajah Iva yang sedang makan kue dengan lahap. Anak itu masih berusia 7 tahun sedangkan Vino baru lima tahun genap akhir bulan ini.
Tiba-tiba, tangan seseorang berseru dan memukulnya dari belakang. “Kak Erin!” panggilnya dengan keras.
Erina sangat kaget karena Vino ternyata yang memukulnya tadi dan ia begitu senang melihat dirinya datang. "Vino!"
"Kak, Kakak baru keliatan, dari mana saja?" tanyanya.
Nampak lucu dia, Vino ternyata mendengar suaranya dan langsung bangun, ia pun minta digendong.
“Vino Ya Allah, berat juga ya kamu, makin besar sih ... "
“Kak, ibu mana? Kakak pulang ibu kok nggak kesini?” tanyanya.
Erina tersenyum dan menciumnya lagi. "Kakak akan disini sampai kapan? Nggak pergi lagi, kan?"
Erina terdiam, lalu ia memberikan barang miliknya yang ada di atas meja. "Maafkan Kakak, hanya sebentar saja nanti, Vino,"
"Yah, kok sebentar sih?"
Erina mengangguk, "Iya, Vino. Kakak kan musti kerja lagi,"
"Ibu mana sih, Kak?" tanyanya.
Erina menggendongnya lagi dan membuka pintu lalu mengarahkan tangannya ke depan. “Ibu sedang jualan, Vino disini dulu sama kakak,”
“Kak Iva makan apa itu?” tanyanya penasaran. “Kue, Vino. Kak Erin bawa banyak ini, enak banget lho,” kata Iva dengan sumringah. Ia terlihat kelaparan, mungkin karena belum sarapan. “Dimakan ya Vino, kamu pasti lapar juga,”
Vino mengambil satu potong kue, lalu sepotong lagi dan lagi. Ia sangat menyukainya dan sudah habis banyak. "Enaknya," kata Vino.
"Iya, enak banget, ya?" ujar Iva menambahkan.
Terdengar langkah kaki masuk ke rumah ini, seseorang masuk dan memberinya peringatan kalau waktunya tinggal sepuluh menit lagi.
"Ayo, Nona Erin. Waktumu sedikit lagi ini!"
Erina menoleh ke arah depan pintu rumahnya, "Sebentar, aku masih ingin mengobrol dengan adikku,"
"Tuan Adrian sudah menelepon, Nona,"
“Aku belum bertemu ibuku, tolong tambah lagi waktunya,” ucap Erina.
Wanita itu menggeleng, ia melihat jam nya dan tampak mengerutkan keningnya dengan minta ia mempercepat pertemuan dengan ibunya. Ia tak tahu jika Iva telah berlari keluar dan dengan cepat masuk kembali ke rumah sambil duduk dan makan kue lagi.
"Va, kuenya lagi, ya?"
"Ini juga masih ada, Kak di mulutku,"
Erina tersenyum melihatnya, kedua adiknya sedang asyik menikmati makanan yang dibawanya. Tak terasa ia hampir akan pulang karena orang suruhan Adrian datang lagi dan memberikan ia kode kalau Tuannya sudah meneleponnya.
“Erina!"
Ia terkejut tatkala ibunya pulang dan berdiri di depan pintu rumah ini. "Ibu!"
"Kamu pulang juga akhirnya!” Suara ibunya membuatnya terkejut, agak parau ia mendengarnya.
"Ibu bagaimana keadaannya, ibu sakit kah?"
Ia sangat rindu dengan mereka terutama ibunya, ia memeluk ibunya tapi ternyata ditolaknya. “Sebaiknya kamu lekas pergi dari sini, Erin!”
“Bu ...” ia kaget ternyata ibunya tak ingin dia kembali bahkan tak menyukainya disini. Kehadirannya tak membuat ibunya tersenyum apalagi merasa gembira. Erina kecewa.
“Bu, aku memang hanya akan sebentar saja, aku kangen ibu dan Iva juga Vino, kalian semua,” sahut Erina jujur.
Ia tersenyum dan mencoba untuk berbesar hati, tak ingin menangis atas perlakuan ibunya tadi.
Ibunya menggeleng sambil mengawasi tempat jualannya. Ia tampak tak tenang bahkan sesekali melihat ke arah luar untuk memastikan sesuatu. Erina menunggu reaksi ibunya selanjutnya.
“Bu ... jualannya laris?” tanyanya mencoba berbasa basi. Ibunya diam dan terlihat titik air di matanya, “Sebaiknya kamu segera pergi, Erina, sudah bagus kamu tidak disini!” katanya.
“Tapi, kenapa Bu, aku kangen kalian!"
"Sebaiknya pergi jangan lagi kembali atau ..."
"... atau apa, Bu? Aku kangen ibu, ingin melihat Vino dan juga Iva, dan ini pun hanya sebentar,"
Ibunya terdiam lagi dan tidak bisa lagi menanggapi apapun ucapan Erina putrinya yang pertama. Sejujurnya ia merasakan rindu yang teramat berat tapi ini harus dilakukan demi kebaikan putrinya.
"Dan rumah kita ... Kenapa kalian tinggal disini?” tanya Erina.
Ibunya menangis dan menyuruhnya tetap pergi. “Pergilah! Jangan cari tahu kenapa kami seperti ini!”
Iva mendekati ibunya dan memandangi kakaknya yang tengah kebingungan dengan yang terjadi pada mereka.
"Tapi, Bu ..."
"Apa ibu harus mengusirmu? Kamu sudah bahagia disana jadi tak usah kembali!"
Erina tertegun, ibunya mendorongnya keluar dari gubug ini. Wanita di luar yang menungguinya ternyata juga menyarankan agar ia pulang saja.
"Bu, ibu nggak ingin ketemu Erin, ya?"
"Pergilah, secepatnya pergi!"
Ibunya memandanginya dan sorot matanya yang tajam membuat Erina takut. Ibunya bukan lagi seperti yang dulu.
“Bu ... sebelum Erina pergi, aku hanya minta segera tinggalkan gubug ini dan ini ... pasti ini cukup untuk ibu membayar hutang semuanya dan kembali ke rumah itu,”
Erina mengeluarkan amplop coklat dan memberikannya pada ibunya, Wajah sayu wanita yang melahirkannya itu tampak sangat kaget saat tangan nya menerima sesuatu yang cukup tebal dalam sebuah amplop.
“Dari mana kamu dapatkan ini, Erin? Apa kerjamu? Kerja yang nggak bener, ya?” tanya ibunya.
Seorang wanita tiba-tiba menyeruak masuk dan minta dia segera pulang, “Tuan sudah menelpon,” bisiknya pada Erina.
“Bu, pakai uang ini untuk membayar semuanya. Maaf, Erina pergi dulu, tolong diterima dan jangan buruk sangka,”
Ibunya menolaknya, “Tidak! Bawa saja uang ini, daripada menerima uang haram itu!” tukas ibunya dengan tuduhannya.
Erina menoleh dan menatap wajah ibunya, “Aku tidak melakukan sesuatu yang menjadikan uang ini haram, Erin kerja, Bu. Ini yang ku kumpulkan dan sebanyak ini yang aku dapat!” Erina mencoba membela diri meski hati kecilnya mengatakan jika ibunya berkata benar.
Amplop yang diberikan dilempar ke atas meja dan Erina tampak sangat sedih hingga ia berkaca-kaca. "Bu, aku memberinya untuk kalian,"
“Cepat pergi dan jangan kembali!” ucap ibunya. Erina tak menyangka, ibunya bisa setega itu, “Ayo, Tuan menunggumu!” ucap wanita yang mengikutinya. Terlihat ibunya sangat terkejut mendengar ia ditunggu seorang Tuan.
Erina melirik ibunya yang tampak kaget saat mendengar kata Tuan dari orang suruhan Adrian. Ia tahu dari raut wajahnya, ibunya pasti akan menyangka yang bukan-bukan. “Yah, pergilah dan temui Tuanmu itu!”
"Bu, jangan seperti itu padaku, aku kangen kalian, kenapa kita harus seperti ini!"
"Tak ada rasa rindu. Ibu dan adik-adikmu baik-baik saja!" ucap ibunya.
Erina menatap ibunya, ia diusir secara halus dan tangan wanita yang mengikutinya menarik-narik hingga akhirnya mereka keluar dan masuk ke mobil. Laju mobil berlalu dengan kencang. Erina melihat kedua adiknya menangis, gubug reyot itu ramai oleh tangis keduanya.