11. Kenapa Dia?

1776 Kata
Angin semerbak menyibak rambut panjang Erina. Ia termenung dalam diam. Mengira akan bahagia saat kembali ke rumahnya, melihat kedua adiknya tapi sikap ibunya yang tampak seperti musuh baginya. Ia tak pernah dendam meski ibunya yang juga menginginkan ia untuk membayar hutang Ayahnya dengan menikahi pria tua. Ia menjadi tak berselera lagi untuk hidup, apalah artinya uang jika ibunya saja tak ingin melihatnya. Bahkan dipeluknya pun tak mau, ia terisak. Supir yang membawa mobil ini meliriknya dan bertanya padanya. "Nona, baik-baik saja?" Erina diam, ia membisu seakan tak bisa mengeluarkan suaranya yang kecewa. Hatinya benar-benar kecewa dan tak ingin lagi membuka matanya saat nanti pulang ke rumah mewah itu. Mobil yang membawa Erina kembali ke kediaman Trisnadi Hartoyo akhirnya tiba, Adrian mengintip dari tirai jendela kamarnya. Ia melihat gadisnya pulang, lebih tepatnya, Erina yang berjalan menunduk dan begitu tergesa-gesa masuk ke dalam. Seorang wanita yang disuruhnya mengawal Erina memberitahu tentang apa saja yang terjadi dan yang dilakukan Erina saat pulang. Ia menceritakan semuanya termasuk sikap ketus ibunya yang menyambutnya datang. “Baik, laporanmu ku terima. Ini bonus untuk kalian yang telah mengawalnya,” Adrian memberikan amplop coklat sebanyak tiga lembar dan ketiga orang suruhannya tersenyum saat menerimanya. Adrian melihat kamar gadis itu tertutup rapat. Ia akan membiarkan gadis itu dan tak memanggilnya kali ini. Wajah yang sembab memang jelas terlihat dari saat ia masuk ke rumah ini. Apa yang dikatakan orang suruhannya benar ternyata, Erina menangis, memungkinkan kekecewaan yang mendalam saat pulang. Hal ini menjadi suatu kesempatan baginya. Gadis itu tak akan memiliki siapapun lagi jika keluarganya tak menerimanya lagi. Mungkin saja mereka telah membencinya karena menolak untuk dinikahkan. Adrian tersenyum sendiri, hal yang membuatnya semua menjadi mudah ada di depan matanya. Ia memilih untuk tidur setelah menghabiskan lima batang rokok di balkon kamar. Paginya, udara terasa begitu cerah. Adrian menggeliat bangun dan menguap. Ia teringat Erina yang sudah pulang. Hari ini ia akan mengajaknya pergi ke suatu tempat. Tapi, akan ia lihat dulu bagaimana kabar gadis itu setelah pulang kemarin. Dibawah, ia melihat Mamahnya datang. "Bagaimana Papah, Mah?" "Alhamdulillah, Papah baik keadannya, jauh lebih baik sekarang," "Alhamdulillah kalau begitu, nanti aku mau ke kamar tapi sarapan dulu," “Ya, Papahmu sedang istirahat, sebaiknya nanti saja, Erina baru pulang, ya?” tanya Mamahnya. “Ya, dia baru pulang, sebaiknya jika Mamah butuh bantuan dia, suruh saja yang lain!” ucap Adrian dengan tegas. “Aduh, Adrian, bukan itu maksud Mamah menanyakan dia, kita bicarakan ini yuk, di kamar kerja Papah mu!” Adrian menurutinya, dan di sana ternyata Mamahnya berkeinginan untuk menikahkan dia. "Menikah?" "Ya, menikah Sayang, kakekmu berpesan agar kamu secepatnya menikah, dan kamu tahu kan itu?" "Memang, Adrian tahu itu," "Nah, sebaiknya Mamah saja yang carikan, ya?" “Memangnya dengan siapa akan menikahkan Adrian, siapa gadis itu?” tanyanya. “Kalau kamu setuju menikah, Mamah mau kamu menikah dengan gadis pilihan Mamah,” Adrian terbatuk-batuk, ia tak menyangka ternyata masalah pernikahan juga dipikirkan oleh Mamahnya. "Aku bisa cari sendiri," tutur Adrian. "Memangnya kamu sudah ada calon?" tanya Nelsy. "Entahlah," ujar Adrian seolah tak tahu. "Kok, malah bingung, biar Mamah saja yang carikan!" “Mana ada gadis yang mau ku nikahi kalau ia tak tergiur dengan uangku,” ucap Adrian. “Tidak, kalian menikah juga bukan untuk memiliki anak, kalau kamu mau nikah kontrak saja dengan gadis itu, Adrian,” Adrian tertegun, ia tidak menyangka jika Mamahnya ternyata berpikiran yang sama dengan dirinya. “Mah, ini pernikahan, apa Mamah mau memiliki menantu yang menikah secara kontrak?” “Kalau kamu sudah ada calon, segera saja menikah. Ingat kan kata kakekmu, menikah dulu baru kita akan menikmati harta warisan itu,” ucap Mamahnya. Adrian diam saja, ia tak menjawab apapun. “Akan Adrian pikirkan, Mah,” jawabnya sambil keluar dari ruangan kerja Papahnya. Ia baru tahu ternyata ia dan Mamahnya sepemikiran dan kini ia harus bertemu dengan kakek secepatnya. Adrian masuk ke kamar Papahnya dan bertanya tentang keadaannya, ia sangat menyayangi kedua orang tuanya. Mereka telah memberikan segalanya untuknya. "Adrian, kakek menanyakan kamu terus," "Ya, Pah. Aku tak mau gegabah mencari istri," "Kalau Papah setuju saja siapapun calonnya, asal yang bisa membuat Mamahmu juga senang," "Ya, Pah. Adrian akan usahakan," ** Adrian perginke rumah besar milik sang Kakek yang tinggal disana. Kakeknya memang tinggal terpisah dengannya dan hanya tinggal bersama dengan para pelayan. Mamahnya dan juga Tantenya ( Mamanya Yesi ) kadang yang menjenguk dan menunggui disana. Ia masuk ke kamar dan melihat ada kakeknya tengah minum vitamin. Pelayan yang memberi tahu kalau ada dirinya yang datang dan kakek tersenyum sumringah saat Adrian muncul di hadapannya. "Cucuku!" "Kek, sehat kan Kakekku yang ganteng?" "Aku sehat agar bisa melihatmu menikah," "Ya, permintaan kakek akan segera dilaksanakan," “Menikah?” “Ya, Kek. Adrian akan menikah, sesuai keinginan kakek tentunya," Kakeknya tampak terkejut tak percaya, "Memangnya sudah memiliki calon?” Adrian mengangguk dan tertawa kecil karena sang kakek menganggapnya lelucon. “Siapa dia? Cepat sekali kamu mendapatkan kekasih, benar dia itu calon istrimu?” Adrian lagi-lagi mengangguk, ia memberitahu kakeknya kalau ia akan menikahi seorang gadis di rumahnya. "Siapa gadis yang ada di rumahmu? Kakek tak tahu, atau kamu sudah membawanya ke rumah tanpa Kakek tahu, iya?" "Kek, gadis itu yang selalu kesini dan merawat kakek," "Dia? Erina?" "Ya, Kek. Erina," “Erina? Kamu menikahinya?” Adrian mengangguk lagi, meyakinkan sang kakek bahwa pilihannya tertuju pada Erina. “Mana dia? Aku tak melihatnya datang kesini menemuiku,” “Dia baru pulang dari rumah orang tuanya, Kek,” “Secepat itu dia sampai pulang, kenapa kamu disini, tak menemaninya pulang?” "Sudah pulang kemarin, hari ini sedang ku bebaskan tak bekerja sehari," "Kakek tak mengira dia akan menjadi pilihanmu. Kamu serius kan memilih dia?" "Serius, Kek. Seribu kali serius," "Kakek tidak yakin dengan Nelsy," gumamnya. "Mamah?" "Ya, dia wanita yang berkelas tinggi, jadi apa dia akan terima kalau tahu menantunya adalah salah satu pelayan disini," "Tapi, Erina kerja denganku, bukan dengan Mamah," "Sama saja, Adrian. Berdoalah agar dia tak menganggu hubungan kalian. Kakek tetap akan merestui siapapun yang menjadi istrimu asal kuat dengan kelakuan playboy mu," ujar Kakek Ibrahim. Adrian tersenyum tapi ia juga merasa bingung, apakah yang dikatakan kakeknya ini benar tentang Mamahnya. "Kapan kalian menjalin hubungan, Cucuku?" "Ehm, sudah agak lama, Kek," jawab Adrian “Aneh, tapi kalian benar-benar memiliki hubungan, kan?” tanya kakek tua itu. Adrian dilanda kecemasan, berbohong pada kakeknya sangat sulit. Tangan sang kakek menggenggamnya, “Bawa dia kesini, suruh ia temui kakek, besok!” Adrian berkeringat dingin, ia tak tahu kalau kakeknya ini sedang menyelidikinya tapi ia harus merasa tenang. "Cucuku, kenapa bengong?" “Ba-baik, Kek. Akan Adrian bawa kesini besok,” Kakeknya terbatuk-batuk, Adrian segera memberikan air minum dan tak lama kakeknya tidur. Malam kian beranjak ke peraduannya, pria itu pulang ke rumah dan tidur dengan sejuta impian dalam pikirannya. ** Adrian duduk melamun di balkon kamarnya, rokoknya sudah habis ada tujuh batang. Dengan cepat ia membuangnya saat satu rokok telah habis ia hisap. Sejak kemarin, tak di dapatinya Erina masuk ke kamarnya. Ia mencemaskannya, takut gadis itu berubah pikiran dan kabur. Dengan menyuruh seseorang untuk mengetuk pintu kamar Erina ia menunggu hingga gadis itu datang ke kamarnya. “Tuan, tak ada jawaban atau apapun, gadis itu diam saja tanpa membuka pintu ataupun menjawab panggilan saya, Tuan,” ucap pesuruhnya. “Tapi dia tidak pergi, kan?” tanya Adrian, ia tak mau gadis itu pergi begitu saja. Karena telah mengeluarkan uang banyak dan calon istrinya malah kabur begitu saja. "Tidak Tuan. Sandal dan sepatunya masih ada di luar kamar," “Ya, sudah biar aku saja yang akan kesana!” “Ba-baik Tuan,” Adrian melangkah keluar, ia sudah bisa sedikit demi sedikit melangkah tanpa bantuan kursi roda. Kakinya sembuh seketika, itu yang membuat ia makin percaya diri untuk menikah. Dengan perlahan ia segera pergi ke arah kamar Erina yang letaknya berada persis di dekat deretan kamar pelayan lainnya. Ia memang memberikannya satu kamar khusus tanpa berbarengan dengan pelayan lain. Beberapa merasakan jika Adrian ini pilih kasih terhadap pelayannya tapi semua memaklumi karena Erina lebih lelah dari pekerjaan pelayan disini. “Rin ... Erina! Keluar kamu!” Ia mengetuk perlahan, namun lama kelamaan tak ada sahutan atau gerakan dan suara lainnya yang menandakan Erina ada di kamarnya. Adrian bertanya pada pelayan yang ada disana. Mereka tengah memperhatikan dirinya yang tengah mengetuk pintu kamar Erina. Satu hal yang jarang terjadi. Bagi mereka Erina benar-benar spesial di hati Tuannya ini. “Kalian tahu dimana simpanan kunci cadangan setiap kamar?” tanyanya. “Ada pada Nyonya, Tuan Adrian,” jawab mereka. Adrian dengan cepat langsung mencari Mamahnya dan meminta kunci cadangan kamar pelayan. “Ada apa, Adrian. Mungkin dia sedang tak di kamarnya,” “Dari pagi kamarnya diketuk tapi tak keluar juga, sungguh bebal gadis itu!” kata Adrian kesal. "Baiklah, ini kuncinya," Mereka pun pergi ke kamar pelayan dan berhasil membuka pintu kamar Erina. Disana gadis itu tengah tidur dengan posisi tangan menggenggam dan wajah pucat. "Erin!" teriaknya. Adrian sedikit panik tapi ia mencoba menahannya. Pelayan lain membantunya dan Adrian memanggil seorang dokter untuk datang mengeceknya. Mamahnya masuk ke kamar dan melihat juga keadaan Erina. “Tubuhnya demam, Dri,” Beberapa pelayan lain mengelus d**a, berharap Erina tak kenapa-kenapa. Sepuluh menit berlalu, dokter yang dipanggil sudah datang dan tengah memeriksa tubhh Erina. Kondisi Erina pun mulai stabil setelah diminumkan obat penurun panas. Adrian kini duduk di kamarnya dan menunggu gadis itu pulih kembali. “Nak, Adrian kelelahan sepertinya. Jangan memforsir tubuhnya, ingat dia itu masih belia. Jangan jadikan ia pelayan dengan kesibukan yang tinggi,” ucap Mamahnya. "Dai baru pulang dari rumahnya kemarin, dan sehat-sehat saja, jangan membuat Adrian merasa bersalah, Mah!" "Tapi, dia selalu kamu marahi, Dri," “Baik, mulai sekarang berhenti menyuruh Erina di dapur, dia harus stand by untukku, Mah,” seru Adrian, ia sewot. Adrian juga maunya hanya itu tapi selama ini Mamahnya kerap minta Erina turun ke bawah dan membantunya. “Baik, itu lebih baik asal jangan terus-terusan kamu marahi dia. Mamah tak suka itu,” “Dia memang pantas dimarahi, Mah,” “Nak, jangan seperti itu! Ingat dia hanya seorang gadis yang polos,” “Tapi dia sering melamun, jika kerja!” “Mamah akan berikan dia pengertian agar fokus pada pekerjaannya,” Adrian diam saja. Ia belum ingin keluar dari kamar Erina. Beberapa pelayan diminta pergi dan mereka mengangguk serta keluar dari kamar Erina. Nelsy merasa bahwa sikap Adrian pada Erina sangat berlebihan. "Dri, dia hanya seorang pelayan. Ayo, kamu keluar dari sini!" "Nanti, Mah. Dia kan kerja denganku," Nelsy menghela napas dan melangkah keluar dari kamar itu. Ia sebenarnya kesal karena putranya ini selalu saja membela pelayannya. Selalu saja ingin Erina yang mengurusnya. Ia melangkah keluar menuju ke rumah Papanya yang sedang sendirian di kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN