12. Demam

1390 Kata
Kabar kesehatan sang Kakek yang menurun lagi membuat Adrian bergegas datang ke rumah besar milik sang Kakek. Ia yang membawanya ke rumah sakit. Erina kebetulan juga sudah membaik keadaannya dan ia berpesan padanya agar datang ke rumah sakit untuk menjaga kakeknya. "Nanti supir menjemputmu," "Ya," Adrian melihat wajah sendi itu dan menegurnya, "Kamu masih belum melupakan keluargamu?" tanyanya "Ehm, aku ..." Adrian menatapnya tajam. "Jika kakek melihatmu seperti ini, dia pasti bertanya kalau aku yang membuatmu sedih!" Adrian menyentuh lengannya dan minta Erina tak lagi memikirkan tentang sikap ibunya. "Tuan tahu itu?" "Jangan sebut aku Tuan lagi, kita akan menikah. Aku juga tak mau kalau kakek dengar dan mengira aku main-main menikahimu!" Adrian tak yakin bisa menggertak nya tapi Erina kemudian mengangguk. Ia pun pergi ke rumah sakit mengantar sang Kakek. Disana ia telah berulang kali menghubungi supirnya agar menjemput Erina. Kakeknya ingin bertemu tapi sayang Haris dalam keadaan yang cukup memprihatinkan. Keadaannya yang harus bolak balik ke rumah sakit itulah yang membuat kakeknya menjadi langganan rumah sakit elite di kota ini. Erina datang dan ia menyuruhnya untuk menjaganya sebentar. Sementara Adrian pergi ke kantor untuk memimpin rapat. "Aku ada proyek besar dan kata kakek setiap rawat aku harus datang. Tunggui kakek ku dan turuti permintaannya!" Erina mengangguk dan duduk dekat dengan Kakek Ibrahim. Sementara Adrian pergi ke kantor dan sampai disana Mamahnya menghubunginya agar tak terlalu lama di kantor. Ia pun menyanggupinya dan berjanji pulang cepat. Dua hari kemudian, saat Adrian tengah pulang ke rumah ia bertemu Mamahnya yang tengah memasak untuk sang Kakek. "Kamu belum bertemu kakek lagi ya, Dri? Segera temui karena Kakek bertanya tentang proyek besar itu," “Iya, Mah, siang nanti Adrian mau bertemu kakek lagi. Keadaan kakek sudah lebih baik, kan dari hari kemarin,” "Iya, hari ini mungkin akan pulang. Kakekmu memang sudah minta pulang, minta di rawat disini saja, siang ini kakek Ibrahim akan di check up lagi di kamarnya,” Barry menoleh pada Mamahnya, “Benar itu Mah?” tanya Barry tak percaya. Mamahnya mengangguk cepat, mengartikan bahwa ucapannya benar. ** Erina ternyata mengalami demam lagi dan suhunya telah mencapai 40 derajat. Adrian terpaksa harus sering mencari tahu tentang keadaannya. Seorang pelayan diminta membantunya dan merawat sakit Erina. Hingga ia pulang dari rumah sakit, ternyata keadaan Erina masih demam, Adrian duduk menunggunya di luar kamar gadis itu. Beberapa pelayan berbisik-bisik. Mereka iri dengan perhatian Adrian pada Erina si pelayan baru. “Baru kali ini aku lihat Tuan mau menunggu seorang pelayan seperti Erina. Gadis kumuh itu begitu menarik perhatiannya,” ucap seorang pelayan dengan tubuh lumayan gemuk. Ucapannya diiyakan pelayan yang lain. “Mungkin Erina pintar mengambil hati Tuan. Dan barang kali sudah memberikan yang Tuan inginkan, seperti tubuhnya mungkin. Jadi, bela-belain duduk menunggunya sampai ia keluar, nggak mungkinlah kalau hanya perhatian biasa, kaya nggak tahu gadis jaman now saja!” “Hush, jangan ngawur kamu, ku lihat Erina ini gadis yang baik, cantik juga tidak, tapi Tuan seolah begitu tergila-gila padanya,” Berbagai tudingan miring dialamatkan pada Erina, gadis itu tengah duduk merasakan pusing di kepalanya. Selepas pergi menjenguk ibunya, ia kepikiran terus. Meski sudah dibawa sibuk untuk mengurusi yang lain, tetap sajabia tak berhasil menyingkirkan rasa bersalah pada keluarganya. Gubug itu begitu reyot dan ia mengkhawatirkan keadaan mereka. Ceklek ... Ia berjalan keluar dan sangat terkejut. Adrian muncul dari balik pintu dan Erina kaget melihatnya. Ia tahu dari pelayan lain kalau Adrian menungguinya di luar kamar saat ia sedang demam tinggi. “Tuan ... disini?” “Sudah membaik belum?” Erina menengok ke kanan dan ke kiri, sepi. Tak ada siapapun, ia memandang pria itu. “Masih sedikit pusing, Tuan,” jawabnya. “Makan dulu, ayo kamu ke ruang makan, sekalian denganku!” "Tapi, Tuan. Aku bisa makan di dapur, biarkan aku makan disana saja!" "Kenapa? Kamu tak enak hati begitu, biarkan saja yang lain mengira yang bukan-bukan," ketus Adrian setengah memaksa. "Ayo, tunggu apa lagi?" "Tu-tuan, sebaiknya aku disini," Adrian menghela napas kasar dan minta dia tak berpikir yang terlalu dalam. "Ayo, sehatkan badanmu, kita akan menikah, kan?" Erina pun mengangguk, pria itu memang selalu ingin makan bersamanya. Dalam keadaan masih sedikit pusing, ia melayaninya untuk makan bersama-sama dan mereka duduk bersama di ruang makan yang lumayan besar dan mewah ini. “Sore nanti berdandanlah yang cantik! Aku mau mengajakmu menemui seseorang!” ujar Erina. “Kemana Tuan?” Erina kebingungan dan An Adrian ternyata menjadi malas untuk menjawabnya. Ia debal karena Erina masih kerap memanggilnya Tuan. Hingga mereka selesai makan, Adrian langsung pergi lagi ke kamarnya. ** Yesi sedang berjalan dengan santai di ruang kediaman kakek Ibrahim. Secara tak sengaja ia melihat Adrian masuk ke kamar sang kakek bersama pelayan kumuh itu. Kakeknya memang baru pulang hari ini. Ia mengamati cara berjalan keduanya. Namun, cara pakaian pelayan itu menjadi perhatiannya. Lebih rapi dan terlihat elegan. Ia menjadi curiga dan hendak menyusul mereka masuk ke dalam kamar sang kakek. “Yesi! Mau apa kamu Sayang?” tanya Nelsy dari arah dapur. Yesi baru saja akan berjalan menyusul Adrian tadi. “Mau ke kamar kakek, Tante,” “Adrian sedang ada perlu dengan kakek, biarkan mereka bicara berdua!” Sebenarnya Yesi tak setuju. Ia ingin masuk dan melihat apa yang akan dilakukan pelayan kumuh itu. Pakaiannya sedikit rapi seperti seorang Nyonya. Dan ia tidak bisa menerimanya, meski tak dipungkiri kalau Adrian selalu terlihat membelanya. Setengah jam berlalu, Adrian terlihat keluar dari kamar sang kakek dan minta ke kamarnya. Adrian menyentuh tangan Erina. “Tuan, mau apa?” tanya Erina takut. “Aku hanya memastikan tubuhmu sudah tidak demam lagi,” Erina merasa lega dan tersenyum, ia masuk ke kamar Adrian dan merapikan tempat tidurnya, serta membereskan semua barang yang berserakan di kamar Adrian. “Duduklah dulu! Aku mau bicara,” Erina menurutinya, ia menunduk dan tak mau memandang Adrian. “Seminggu lagi kita menikah, jangan bilang kamu terpaksa dan hanya demi uang saja. Kakek menyukaimu, bahkan akan memberikan hadiah jika kamu tulus menikahiku,” Erina masih diam saja, ia hanya mengangguk, “Dengar! Jangan katakan pada siapapun tentang perjanjian kita! Termasuk pada Mamahku!” Erina mengangguk lagi, "Iya, akan aku simpan rahasia ini," "Bagus," Erina tampak berkaca-kaca matanya, hal itu membuat Adrian merasa heran. Sejujurnya ia tadi mengatakan dengan bahasa yang baik dan tidak menyinggung perasaannya. "Ada apa?" tanyanya. Adrian menatapnya lalu menyentuh dagunya, bola matanya berkaca-kaca. “Kenapa menangis? Kamu tertekan?Atau merasa terpaksa?” Adrian memandangnya dengan heran, “Pernikahan itu berjalan seminggu lagi, jika kamu melakukannya dengan terpaksa lebih baik katakan sekarang!” "Bukan itu," "Lantas apa?" "Bolehkah jika mengatakan sesuatu yang ingin saya sampaikan?" "Apa?" “Tuan, saya ingin menjenguk mereka lagi. Tolong sekali ini lagi, berikan waktu satu hari untuk pulang tanpa ... ehm pengawal” Adrian menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir, baru kemarin pulang sampai pulang kesini lagi sakit dan banyak pikiran malah akan kesana lagi. “Tak akan ku ijinkan!” Erina menatap matanya, pria itu memang telah memberinya sebuah kesempatan kemarin bahkan memberi nominal yang cukup untuk bisa ia berikan pada keluarganya. “Tuan, mereka tinggal di gubug yang cukup reyot, itu menjadikan perasaan saya merasa bersalah telah membuat mereka terlantar,” "Lain kali saja kamu pergi kesana lagi, bisa dengan aku misalnya," ucapnya beralasan. Erina menunduk, membuat Adrian ingin menggodanya. Mereka berdua berada dalam satu kamar yang sama. Kali ini ia ingin sekali membuat Erina tertawa lepas bebas dari beban pikirannya. "Kamu sudah pernah pacaran belum, Erin?" tanyanya. "Memang kenapa, Tuan?" Erina menatapnya. Adrian menatap balik dan memandangi tubuhnya, ia membisikkan beberapa kalimat pada Erina. Bisikan itu membuat Erina tercengang. “Tidak, Tuan. Maaf, cari saja gadis lain untuk membuatmu puas!” Erina begitu marah saat Adrian membisikkan kata dan mengeluarkan kata m***m padanya. “Tunggu! Aku tidak bersungguh-sungguh tadi," "Tuan Hanay mengetes dan jika mau apa yang akan Tuan lakukan? Pasti akan melakukannya, kan? Memaksa dan ..." " ... Aku hanya bercanda, oh ya, sebaiknya kamu pulang setelah kita menikah!” ujar Adrian. Erina tiba-tiba menangis, “Tuan, mereka sedang kesulitan itu karena aku, tolong hari nuranimu! Berikan aku waktu satu hari dan kita menikah dengan kerelaan ku,” “Jadi, kamu memang menikah dengan terpaksa?” Air mata Erina turun, ia terisak dan memohon untuk diberikan waktu pulang ke rumah ibunya lagi. Adrian memeluknya, "Sudah, jangan menangis lagi, aduh ... kenapa begini sih?" Erina menangis tergugu dan tanpa sadar, Mamahnya Adrian masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN