"Erin!" panggilnya. Wajah merah Erina tampak diam terpaku menatapnya. Adrian menjadi salah tingkah di tatap demikian tajam tapi rupanya Erina tidak ingin mengatakan apapun padanya. "Sudah makan, belum?" "Aku kan ingin pulang bukan makan," sahut Erina kesal. "Cobalah kesini, lihat kota Kyoto saat malam hari seperti ini," "Aku tak butuh itu!" Adrian mematikan rokoknya dan menghampiri Erina. "Rin, tenanglah! Aku mencoba untuk bersikap mengalah karena ..." ".... kamu sudah puas mendapatkannya!" Adrian diam, ia tidak ingin membuat semuanya hancur dalam sekejap karena Erina sudah mau bicara lagi dengannya. Disentuhnya tangan yang berkulit halus itu. Erina terlihat bersemu merah karena malu atau marah entah dia tidak tahu. Lalu, ia memeluknya dengan perlahan dan Erina hanya diam saja set

