Bab. 23. Terpuruk

1219 Kata
Entah berapa jam aku tertidur, aku tak tahu. Aku dibangunkan oleh dering ponselku, tak ada niat untuk menjawab panggilan, kubiarkan bertalu-talu suaranya, tak ada niat untuk melirik siapakah yang memanggil. Sampai akhirnya dering itu berhenti dengan sendirinya. Aku terlalu malu menghadapi keluarga dan teman-temanku. Aku takut aibku terkuak. Apa kata mereka tentang aku? Apa kata mama tentang aku? Aku begitu mengecewakan mama. Andai ini adalah mimpi... Tapi ini bukan mimpi... Sampai detik ini aku masih bisa merasakan sakit dan pedihnya hati. Aku masih merasakan perasaan ku pada Tio tetap sama, belum sejengkal pun bergeser dan ini sangat menyiksa karena tak lagi mendapat balasan darinya sedangkan aku begitu mencintainya. Mataku sembab dan wajahku kuyu, aku tak bisa lagi mendongak bangga akan cinta kami, aku dan Tio, tak bisa lagi kubanggakan betapa dalamnya cinta kami, nyatanya aku bertepuk sebelah tangan. Tak lagi bisa ku impikan bersanding di pelaminan bersama dengan Tio. Semuanya sudah hancur, tak ada jejak lagi cinta Tio, hanya aku sendiri yang terus meratapi kandasnya bangunan cinta. Aku ingat kata-kata mama... "Lia, jaga diri baik-baik. Jaga kekudusan selama pacaran yah. Keperawananmu hanya milik suamimu, ingat itu!"' Aku tidak mengikuti nasehat mama, aku tak bisa menjaga kesucian diriku, dulu aku berpikir tak kan menjadi masalah karena aku yakin pasti menikah dengan Tio. "Kamu, mama kasih pilihan! Kejar Tio untuk lamar kamu tahun ini juga atau mama jodohkan dengan anak teman mama! Kamu tahu, umurmu bentar lagi 30, umur segitu itu jodoh sudah lewat. Ingat! Di keluarga kita ga ada perawan tua!" Biasanya aku akan ngotot bahwa mama salah menilai Tio, aku selalu berkata ini hanya soal waktu saja, hubungan ku dengan Tio baik-baik saja, kami pasti menikah, mama tak perlu khawatir. Sekarang, jawaban apa yang harus kuberikan pada mama? Ma, andai mama tahu hubunganku dengan Tio sudah berakhir, mama pasti sangat kecewa aku tidak menuruti nasehat mama. Aku mohon jangan jodohkan aku dengan siapapun, aku tak kan sanggup menanggung malu. Siapa yang mau menerima barang bekas? Aku sudah tak virgin lagi! Tak ada yang bisa kubanggakan sebagai wanita untuk suamiku nanti. Aku tidak punya muka lagi. Maafkan aku anakmu..yang sudah jatuh dalam dosa... Drrrt. Ponselku kembali berdering. Ku lirik sekilas ponselku di atas meja, ada panggilan dari Alena, sabahat sejak SMA. Aku diamkan kembali sampai berhenti dengan sendirinya. "Jangan-jangan Tio ga serius sama kamu? Bisa jadi kan? Kalo serius pasti dong kamu diajak diskusi soal nikah? Jangan-jangan dia punya gebetan baru, kamu yang dikadali! " Kalimat Alena waktu itu tidak meleset. Alena mengirim pesan lewat chat WA. Satu foto yang dikirimnya menarik perhatian, dengan catatan di bawahnya. Penasaran, kuraih ponselku untuk membuka fitur WA, membaca notifikasi yang masuk. Liana, undangan pernikahan ini kutemukan di rumah tante aku, dia kenal dengan keluarga si mempelai wanita. Aku kaget karena Tio ternyata pengantin prianya. Kamu baik-baik aja kan, Lia? Andai aku ga terlalu sibuk dengan foto prewed, mungkin ga sampe begini, feeling ku sudah ga enak soal buket mawar itu. Lia, kamu kabarin aku yah, kalo kamu butuh teman curhat. Aku ada untukmu. Foto undangan itu begitu indah, tampak Tio berjas putih gading dan gadis cantik itu berbalut baju pengantin texture grown warna senada, tampak keduanya sangat bahagia. Tanganku gemetar menggenggam ponsel. Apa yang ku lihat ini terlalu menyakitkan, ku gigit bibir . menahan tangis, rasanya sudah terlalu banyak air mata yang ku tumpahkan tapi mata ini kembali mengembun. Begitu banyak air mata yang tercurah kenapa tak bisa mengobati sakit hati ini? Ya, Tuhan, hatiku sakit sekali. Aku merintih dalam diam. Teman curhat? . Saat ini aku tak ingin bersama dengan siapapun, aku ingin berdiam diri, aku tak punya gairah untuk berbagi dengan apa yang kurasa. Sebentar lagi berita ini akan tersebar, dan Liana yang bodoh ini akan ditertawakan. Aku tersenyum sinis menertawakan nasibku yang tidak beruntung. Aku bagai tebu, habis manis sepah di buang. Begitulah pikiran orang-orang nanti. "Jika seorang mencintaimu dengan tulus, dia akan memberikan yang terbaik dari dirinya. " Apa yang dikatakan atasanku ,Pak Messach tidak salah, aku saja yang tidak bisa memberikan yang terbaik. Yah, bisa jadi aku memang wanita mandul, aku terlalu gemuk membuat ku tidak subur! Tio anak tunggal, bagaimana jika setelah menjadi istri, aku tidak bisa memberikan dia seorang anak? Tio tidak salah, dia pasti mencari yang terbaik untuknya tapi bukan aku. Pilihan Tio tepat, gadis bernama Angeline itu berparas cantik, tubuhnya bagus, masih muda, pasti bisa memberikan banyak anak buat Tio. Aku saja yang tidak tahu diri, mungkin saja sudah lama hati Tio berubah rasa terhadapku, aku saja yang terus mengejarnya, mungkin saja Tio sulit menolak ku, hanya belas kasihan saja, cintanya sudah berubah, aku yang tidak sadar dan lupa berkaca. Semua karena salahku yang tidak peka. Keintiman yang terjadi di antara kami, itu juga karana aku yang tidak bisa menjaga diri, aku tidak diperkosa tapi menyerahkan diri dengan suka rela, wanita macam apa aku ini? Munafik! Aku menjalankan ibadah tapi aku berlumur dosa! Malaikat pun pasti mengejekku. Drrrrt. Ponselku berbunyi lagi, kali ini dari kontak Loni, profil foto kucing. Sekali lagi kubiarkan berdering terus sampai tak berbunyi lagi. Aku hanya duduk diam menggenggam ponselku. Tak lama, notif chat Wa masuk. Liana, kenapa kamu ga jawab panggilan? Ini penting loh, aku mau kasih tahu, kalau Pak Messach lagi kritis. Kalo kamu mau ikut ke rumah sakit, segera kabarin. Lia, bantu doa buat Pak Boss yah. Pak Boss kritis? Dia tidak akan meninggal kan? "Liana, dugaanku benar kalau Pak Boss itu naksir kamu, buktinya dia banyak cerita kamu sama keluarganya. Feeling ku biasanya tepat." Ah, Loni, andai kamu tahu seperti apa aku ini, kamu pasti tak kan mau menjodohkan aku dengan Pak Boss. Bukan karena aku dulu pacaran sama Tio tetapi apa aku layak bersanding dengan Pak Boss? Kamu akan jadikan aku pungguk merindukan bulan. Pak Boss memang baik, dia pernah menolongku lewati maut, dia berikan ku kesempatan mengembangkan karir, dia selalu memotivasi ku untuk maju, perhatiannya hanya sebagai seorang atasan yang peduli dengan pegawainya. Tidak lebih. Dulu aku sangat berterimakasih dia sudah menolongku saat aku tersedak permen. Tetiba sebuah pikiran melintas di benak ku. Andai waktu itu aku mati, pasti tidak akan sakit hati seperti ini? Andai waktu itu aku mati, pasti dadaku tidak sesesak ini, bagai ditindih batu besar? Aku tidak akan merasakan seperti dilempar kotoran. Aku tidak akan merasakan semalu ini. Lia, bantu doa untuk Pak Boss yah. Ku baca lagi ujung kalimat itu. Aku menghela napas panjang, berusaha menata hatiku kembali. Pak Boss, walaupun dia galak tapi dia tetap orang yang baik, tak layak mati muda. Dia masih dibutuhkan keluarganya, dia masih dibutuhkan pegawai-pegawainya, dia masih dibutuhkan menjadi pemimpin di perusahaan. Baiklah, aku akan berdoa, mungkin saja Tuhan masih dengar doa orang berdosa ini. Aku turun dari ranjangku lalu menekuk kakiku, berlutut di lantai, jemariku ku tautkan mengambil posisi doa. "Tuhan, sejujurnya aku malu menghadap Mu. Namun, jika Engkau masih berkenan padaku, kabulkan lah doaku ini. Aku mohon sembuhkanlah Pak Messach, berikanlah mujizat Mu padanya, sembuhkan dia dari sakitnya. Pulihkan tubuhnya menjadi kuat kembali. Dia orang yang baik, berikan padanya untuk hidup lebih lama lagi, aku mohon padaMu dengan setulus hati. Kabulkan lah doaku, ya Tuhan sebab Engkaulah Tuhan yang penuh kasih sayang dan penuh rahmat, amin." Jika nyawaku bisa selamatkan Pak Messach, ambillah Tuhan, aku sudah kehilangan gairah. Asa ku sudah hilang, terbang entah kemana. Aku juga seorang yang berlumur dosa. Aku tak sanggup menjalankan hidup yang penuh aib ini... ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN