Lorong panjang tak berujung diselimuti pekatnya kegelapan terasa begitu mencekam, tak ada sinar yang memberi mata menelisik.
Aku tidak tahu ada dimana, mungkin ini mimpi tapi terasa begitu nyata.
Namun, tetap ku ayunkan langkah menyusuri lorong gelap pekat itu sembari jemariku menggapai dinding tembok kokoh dan telapak kakiku yang polos ikut merasakan dinginnya lantai marmer menusuk-nusuk syaraf.
Dadaku pun sesak oleh tipisnya oksigen yang memenuhi paru-paru.
Sanggupkah ku melanjutkan langkah ini? Ataukah menyerah saja pada kegelapan yang sebentar lagi akan menelanku hidup-hidup?
Tak lama kemudian telingaku menangkap suara langkah kaki mendekat dari arah berlawanan disertai setitik cahaya. Hatiku bersorak, aku tidak sendirian di sini.
Seseorang dengan lilin kecil dalam genggaman tangan, sepertinya dia hendak mengusir pekatnya gelap lewat seberkas cahaya itu.
Sedikit lagi aku bisa melihat dengan jelas si Pembawa lilin seiring langkah kakinya yang kian mendekat mempersempit jarak kami.
Dia menghentikan ayunan kaki saat kami berjangka dua meter.
Tampak olehku kini, seorang gadis kecil berbalut baju putih panjang berenda dengan mahkota bunga di atas kepala. Wajahnya tertimpa cahaya lilin dalam tautan tangan di d**a. Dia terlihat begitu manis.
Aku tertegun sesaat mengernyit dahi, wajah itu sangat familiar. belum sempat aku menebak, gadis kecil ini sudah bersuara," Kak Onnie, ayo menikah dengan aku., " Senyumnya.
Ah! Kalimat ini seringkali hadir dalam mimpiku.
Aku menelan ludah. Berarti ini hanya mimpi? Kucubit pipiku, terasa sakit. Nyatakah ini?
Aku menggeleng kepala tak percaya.
Bagaimana mungkin gadis kecil ini ada di sini? Seharusnya dia sudah bertumbuh menjadi gadis dewasa. Apakah ini artinya aku telah kembali kepada masa lalu? Atau Aku terjebak di lorong waktu?
"Kamu Nana?" tanyaku memastikan.
Hening.
"Nana? Kau kah itu?" tanyaku lagi karena dia tidak menjawab.
Tiba-tiba dia menjatuhkan lilinnya, seketika lorong panjang itu kembali gelap dan pekat bagai jelata.
"Nana? Nana?! Kamu dimana?!" teriakku panik.
Aku meraba-raba dalam kegelapan berusaha mencari dan menyentuh nya. Namun, sia-sia. Dia benar-benar telah lenyap. Walau mataku tak dapat menembus kegelapan, aku tahu dia telah pergi, tak lagi kurasakan kehadirannya
Dalam suasana yang kembali mencekam, nafasku tersengal-sengal. Dinginnya lantai bagai es pelan merayapi tapak kakiku menjalar terus naik menjangkau bagian
tubuhku yang lain. Aku terpaku di lantai bagai manekin, membeku, tak mampu bergerak sedikitpun. Hanya otakku yang aktif, masih sadar dengan keadaan sekitar.
Sementara napas yang tinggal satu-satu ini semakin mencekik leher. Entah apa yang terjadi padaku saat ini, aku berusaha sadar mencerna kondisiku. Apakah aku akan...?
Melalui kesadaran yang tinggal sejengkal ini, sayup-sayup aku mendengar sedu-sedan tangisan yang begitu pedih di ujung lorong, semakin lama semakin jelas membuat aku ikut hanyut dalam kesedihan seolah jiwaku sudah menyatu dengannya.
Gadis kecil itu menangis? Bukan! Bukan dia! Ini lebih mirip suara gadis dewasa!
Di tengah sesenggukan, dia berkata lirih menembus pendengaranku.
"Jika nyawaku bisa selamatkan Pak Messach, ambillah Tuhan, aku sudah kehilangan gairah. Asa ku sudah hilang, terbang entah kemana. Aku juga seorang yang berlumur dosa. Aku tak sanggup menjalankan hidup yang penuh aib ini... "
Suara Lianakah itu? Oh, Liana, kamukah itu? Kamu bilang apa? Nyawa? Ap.. Apa maksudmu? Liana.....a..ada apa denganmu?
Aku hanya bisa membatin tak mampu bersuara walau hanya sekedar desahan. Tenggorokanku terasa kering, lidahku kebas dan kelu.
Sedetik kemudian dari ujung lorong muncul seberkas cahaya terang berkilauan menyilaukan mata merambati tempat dimana aku berdiri.
Tetiba sekujur tubuhku menghangat, di mulai dari ujung kaki sampai ke pucuk kepala. Udara pun leluasa mengisi lorong panjang yang berubah terang ini, ku hirup dengan rakus, rasanya sangat lega.
Mataku memutar mencari sosok wanita yang kuyakini adalah Liana. Dia tidak tampak tapi tangisannya masih terdengar.
"Liana? Kamu dimana?!" teriakku dengan suara cukup keras.
Tak ada sahutan, tapi tangisan itu belum reda juga. Ku berjalan cepat mengikuti suaranya sembari memindai setiap sudut, barangkali dia ada di sana.
"Oh! Itu dia!" seruku girang saat mataku bertubrukan dengan sosok wanita yang duduk bersandar di tembok dengan kepala ditekuk ke bawah.
"Liana......" panggilku seraya berjalan mendekatinya.
Aneh! Dia tidak mendengar apalagi menoleh.
"Aku mati saja!" desisnya tiba-tiba.
"Hah? Apa?!" Jantungku mencelos demi mendengar ucapannya.
Auuuuurmm!!
Apa itu??!
Aku menoleh ke kanan-kiri mencari sumber auaman itu yang begitu kencang dengan aura mengerikan. Bulu kuduk ku berdiri, ini pertanda tak baik.
Sekonyong-konyong entah dari mana datangnya, sekelebat bayangan hitam pekat melintas dengan cepat melewati punggung ku lalu menghampiri Liana dan...
"Liana... "
"Kak, kakak sudah sadar?!"
"Panggil dokter! Panggil dokter!"
Suara-suara tak asing berdengung di telingaku.
Perlahan aku membuka mataku, mengerjap menyesuaikan dengan sinar lampu yang silau.
"Oh, syukurlah kamu sudah sadar, Ronny."
"Aku... ada dimana?" Suaraku serak.
Mataku memutar memindai sekeliling ruangan yang serba putih.
Ada sesuatu yang menempel di bawah hidungku, tangan yang ku gerakan pun tertarik oleh selang infus?
'Kamu masih di rumah sakit, nak. "
"Mama?"
Wanita yang kupanggil ini tersenyum lalu mengelus kepalaku.
"Ya, Ronny. Kamu membuat kami khawatir... Syukurlah kamu sudah sadar, nak."
Aku memejam mata sebentar mencoba mengingat apa yang sedang terjadi. Itu mimpi atau nyata?
"Liana.... " desahku teringat gadis yang kutemui di dalam dunia yang sulit kurangkai dengan kata-kata.
"Ronny... Kamu jangan banyak pikir dulu yah, utamakan kesehatanmu dulu, oke?" Mama menggenggam erat tanganku.
"Selamat pagi... " Sapaan ramah menerpa kami.
"Pagi, Pak dokter... " Senyum mama lalu bangkit berdiri.
Dokter Handoyo berjalan ke arah kami diikuti oleh Jenny, saudara tiriku dan seorang suster.
"Gimana pasien kita hari ini?" tanya dokter tersenyum ramah. Dia lalu memeriksa detak jantungku dengan stetoskop. Suster yang bersamanya dengannya ikut mengukur tensiku.
"Ronny, kamu sudah melewati masa kritis, tapi harus tetap dipantau yah sehari dua hari ini sampai benar -benar-benar fit baru boleh pulang. " urainya sambil memeriksa denyut nadiku.
"Makasih, dok.. " kataku lirih pada dokter keluarga kami ini.
"Lain kali jangan terlalu forsir diri kalo kerja. Jaga kesehatan, mamamu khawatir sekali sama kamu." ucapnya sambil menepuk pelan punggung telapak tanganku.
Aku mengangguk tersenyum tipis.
Ekor mataku melirik wanita berusia 60 an itu yang berdiri dekat dokter. Dia tetap mendampingiku walau papa telah berpulang. Perhatiannya tak pernah berubah biarpun dia hanyalah ibu sambungku.
"Banyak minum air putih, makan yang banyak, kalau lambung mu kurang enak, makan dikit-dikit dulu." nasehat dokter berkharisma ini. Papaku pasti seumur dia jika masih hidup.
"Tenang, Om. Kali ini Kak Ronny harus nurut . " timpal Jenny yang sejak tadi tak bersuara.
"Nah, Ronny, banyak yang sayang sama kamu... " Dokter berkacamata itu tersenyum lebar.
"Nanti saya kasih resep multivitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Saya mau kontrol pasen lain dulu, ingat pesan saya, ya." lanjutnya kemudian pamit pada mama.
Sepeninggalan dokter berperawakan tinggi besar itu, Jenny mengambil tempat duduk di sebelahku sedangkan mama memilih duduk di sofa pojok, katanya mau mengupas buah apel.
"Jen... Firasat ku tak enak tentang Liana... " Aku mengutarakan kegelisahan hatiku.
"Kak, jangan banyak pikir dulu yah, kamu baru saja melewati masa kritis, aku ga mau kamu kenapa-napa lagi.. " Jenny menghela napas.
"Tapi..... " Aku masih bersikeras.
"Iya, nanti aku minta tolong Loni cek keadaan Liana ya, kakak jangan khawatir , kalau kaka sudah sembuh, kita cari Liana, selesaikan semuanya. " sela Jenny lembut, melekukkan kedua sudut bibirnya ke atas. Wanita berwajah tirus ini memperbaiki letak selimut yang menutupi batas pinggang ku.
"Kayaknya aku harus menunda kepulanganku ke Singapura." sambungnya.
"Makasih Jenny, kamu selalu menjadi adik yang manis. " kataku mengulum bibir ke dalam.
"Kak..., kamu tahu memang seharusnya seperti itu kan?" Senyum tipisnya.
Yah, aku mengerti dan tidak mau mengungkitnya lagi. Menjalani takdir yang sudah digariskan Tuhan, itu wajib hukumnya.
Seperti apa yang dikatakan keluarga ku ini, aku patut bersyukur diberikan kesempatan hidup lebih lama.
Namun, bayangan Liana dalam penglihatanku masih jelas dalam benakku.
Tuhan, jika Engkau menjawab doa Liana, kiranya Engkau juga mendengar seruan doaku, lindungi Liana dimanapun dia berada.
Aku berdoa sungguh-sungguh dalam hati pada Yang Khalik.
****