Satu minggu dirawat di rumah sakit sangat menyiksa, aku yang terbiasa kerja siang malam, tergolek di ranjang dengan tubuh lemah sangat tidak mengenakkan.
Walaupun tubuhku sudah kembali segar dan diperbolehkan pulang ke rumah, tetap saja aku belum diperbolehkan kerja oleh mama. Aku tak mau membuat mama tiriku ini semakin khawatir, aku yang sakit, dia yang tidak bisa tidur, kata Jenny, mama terus berdoa untuk kesembuhanku.
"Ron, nurut sama mama yah, jangan pikir kerja dulu. Kesehatan itu nomor satu."
Akhirnya ku iyakan nasehatnya, lagi pula ada Jenny di sini, bisa menemaniku di rumah.
"Ayo, makan dulu... " Mama membawakan sup ayam obat, katanya bagus untuk pemulihan setelah sembuh dari sakit.
"Wangi..... " seru Jenny menghirup asap yang masih mengepul di hot pot.
"Wangi apa, Jen. Bau obat itu. " dengusku.
Jenny terkekeh.
"Tapi bagus buat kesehatanmu loh. " timpal Mama seraya mencedok sup itu ke mangkok kecil dan diberikannya padaku.
Aku menghela napas menerimanya. Aku paling tidak suka dengan bau menyengat.
"Jen, kamu juga makan ini. " Mama juga memberikan pada Jenny membuat raut wajah wanita berbalut dress selutut warna tosca ini menegang, "oh?!"
Aku menahan tawa melihat matanya yang membulat dan bibir membentuk huruf o.
"Sudah nikmati dan habiskan yah, kalian berdua ini. Mama mau bikin sup sarang burung walet dulu. " kata mama sebelum berlalu dari hadapan kami.
Aku dan Jenny mengaduk-aduk sup itu seolah tak rela memasukkannya ke dalam mulut. Tapi mau tak mau harus dihabiskan sebelum mama kembali.
"Jen, perasaanku masih tak enak soal Liana.. " kataku menghela napas panjang.
"Kak, apa karena kamu terlalu memikirkannya? Soalnya Loni bilang, dia meninggalkan pesan kalau dia ijin istirahat dan mau berlibur selama tiga hari?" Jenny mengernyitkan dahi.
"Semoga saja.. Karena tak biasanya Liana tak pamit padaku jika dia minta cuti... " Aku menyandarkan punggung ke sandaran kursi .
Jenny menghabiskan sup itu dengan gelengan kepala, pasti rasanya eneg.
"Saat aku sakit ...aku gak tau itu nyata atau bukan tapi yang jelas aku melihat dan mendengar suara tangisan Liana seperti orang depresi dan dia bilang mau mati.. " tukasku berharap Jenny percaya pada apa yang kualami.
"O, begitu?" Jenny mengangguk-anggukan kepala, mungkin mencoba memahami isi ceritaku.
"Aku sungguh khawatir, Jen... " Ku tatap dalam mata wanita yang duduk di depanku ini.
"Aku ngerti, kak. Kita tidak tahu dia ada dimana.. Mungkin kita akan coba lacak, bisa jadi dia pulang kampung kan? " tebak Jenny.
"Ga mungkin, Jen karena mama bilang mamanya Liana mau bertandang ke sini besok atau lusa, tak mungkin dia pulang saat mamanya mau ke sini kan?" Aku menganalisa.
"Iya sih..... " Jenny mulai khawatir terlihat dari gestur wajahnya.
"Kak, kita berdoa saja, minta petunjuk Tuhan, seperti kakak mendapatkan penglihatan itu. " Jenny mencondongkan tubuhnya ke depan, wangi parfumnya sesaat menyentuh saraf hidungku.
"Iya, hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi dengan Liana. " Bahuku luruh. Aku pasrahkan pada Sang Khalik.
Jenny mengulas senyum lalu dia berucap kembali, "'Aku senang, kakak sudah move on dari trauma masa lalu. Kakak sudah membuka hati kakak, I am happy for you. "
Ah, Jenny, kami sudah berjanji tidak menyinggung perihal itu lagi tapi wanita anggun ini membuka sedikit celah membiarkan memori yang sudah ku pendam ini menyeruak masuk.
"Jen, apa kabar Michael dan Mikaela?" tanyaku mengalihkan obrolan.
"Suami ku baik saja dan Kaela bertumbuh sehat dan makin gemesin." Mata coklat Jenny berbinar,
"Ponakanku pasti semakin cantik saja seperti mamanya... " pujiku.
"Ho.oh... " Jenny tak menampik.
"Kakak tahu kan, mendapatkan anak se gemesin Kaela tak mudah...?" Lanjutnya masih dengan mata yang berbinar-binar.
Yah, tentu saja aku tahu kesabaran Jenny dan Michael menunggu seorang anak hadir dalam pernikahan mereka itu tak main-main. Sepuluh tahun lamanya!
"Aku jadi kangen dengan ponakan ku itu, lain kali kalau kau pulang ke sini ikut sertakan Kaela ya. " usulku sembari meraih gelas di atas meja mengisinya dengan air dari teko beling.
"Mending kakak saja yang jalan-jalan ke sana, ajak Liana, calon adik iparku. " goda Jenny tersenyum lebar , barisan gigi putihnya bagai gigi pepsodent.
"Ck! Masih jauh itu, apalagi dia punya pacar. " elakku mengibaskan tangan ke udara.
"Kak, kalo belum nikah masih bisa dikejar. Wong yang udah nikah aja bisa selingkuh. Tenang, aku akan bantu kakak mewujudkannya. Ingat aku sudah menunda kepulanganku demi misi ini." Dia mengedipkan sebelah mata.
Aku terkekeh.
"Apa kamu mau kakakmu itu menjadi penghancur hubungan orang?" Senyum miringku.
"Alah... Kan kakak juga pernah cerita kalau pernah curiga sama pacarnya, matan pegawainya kakak itu?"
Seketika aku tersentak, seperti tersengat aliran listrik.
"Napa kak? Kok tegang gitu??!" Alis mata bulan sabit Jenny bertaut.
"Jenny, aku tanya apa yang bikin seorang wanita depresi?" Aku meremas jemariku, tegang dengan pemikiranku sendiri.
Jenny mengangkat bahu, "Banyak hal sih, yang jelas orang depresi karena tekanan dan self pity."
"Seperti putus pacaran?" tanyaku dengan mimik serius.
"Ngg bisa aja." jawab Jenny memainkan ujung rambut panjangnya.
Aku menjentikkan jari, "Ya, pasti itu! Ini firasat! Liana depresi karena putus cinta!"
"Kak, jangan asumsi dong! Mending tanya Loni dulu, kan dia dekat sama Loni. Jangan berpikir negatif dulu. " tegur Jenny.
"Loni ya?" Aku ragu-ragu. Loni itu pegawai aku, masa aku harus bertanya hal pribadi padanya? Akh!
"Kalo kak Ronny ragu, aku bisa nanya, kan Loni teman aku." Jenny memberi opsi yang masuk akal.
"Iya... Kamu tanya yah.. Gali sampe ke akarnya." Aku tersenyum simpul.
"Siap bos! Tenang Loni ada di pihak aku. Aku suka kakak sekarang lebih ceria, murah senyum." Jenny membuat tanda love dengan jari jempol dan telunjuk.
"Ah! Kau ini! Apa aku segalak itu?!"
Aku memberengut.
"Kupastikan pegawai mu semua punya pendapat yang sama termasuk Liana." Dia terkekeh, ah, menertawakanku rupanya.
Tapi iya sih, semua pegawaiku memang tegang bila berhadapan denganku, apalagi Liana. Aku suka sekali menggodanya. Ingat semua kejadian bersama si gadis kikuk itu membuat hatiku geli, tanpa sadar wajahku memanas.
"Woy, yang lagi jatuh cinta, ingat masih ada di bumi yah." Jenny mengibaskan tangan di depan mukaku.
"Ah! Kamu ini!" decakku, rasa malu menggelitikku seketika.
"Tapi bagaimanapun, aku tetap wanita pertama yang kau.... " Ujung kalimat Jenny terjeda demi mendengar langkah kaki khas mama mendekat. Aku ikut lega Jenny tidak jadi melontarkan ujung kalimat itu, ini adalah rahasia kami, apa jadinya jika mama tahu? Biarpun itu kisah lama, kami sepakat tidak mau membuat mama merasa bersalah.
"Hmm.. Apa yang kalian bicarakan, kayaknya serius?" tanya mama seraya meletakkan sepiring buah-buahan di atas meja makan.
"Omongin jodoh kak Ronny, ma." jawab Jenny, matanya mengerlingku.
"Ooh itu, iya, Ron, kamu harus belajar lupakan mantan istrimu yah." kata mama menepuk pundakku lalu menarik kursi duduk di sebelah Jenny.
Aku hanya melebarkan sudut bibirku, andai mama sambungku ini tahu wanita mana yang sulit kulupakan? Dan baru dua tahun ini tergantikan dengan yang lain.
Yah, hanya Liana yang bisa menggantikan wanita yang kucintai dulu, Jenny.
Takdir mempertemukan kami kembali bertahun-tahun kemudian.
Liana, dimanapun kamu dan apapun yang kamu alami saat ini, kamu harus tetap kuat. Aku ada untukmu bersama kenangan kita....
*****