Bab 21.Mantan?

1903 Kata
Aku siap berangkat ke rumah orang tua Tio, dua paper bag isi kue nanas dan kerupuk panggang khas Babel ada dalam genggaman tanganku. Semuanya oleh-oleh buat mamanya Tio, tante Yola. Sudah lama aku tidak bertandang ke rumahnya. Sengaja aku tidak mengabari Tio jika aku mau ke sana, aku ingin memberi kejutan yang manis buat mereka. Akan kukatakan jika semua ini adalah buah tangan dari mama aku, supaya hubungan keduanya, calon besan, semakin akrab. Berkendara ojek motor, aku pun berangkat. Kediaman orang tua Tio tidak begitu jauh dari tempat kost ku, lebih jauh apartemen Tio. Pria yang menjadi kekasihku ini memang memilih tinggal berpisah dengan orangtuanya dan tinggal di apartemen dengan alasan lebih dekat dengan perusahaan pamannya tempat dimana dia bekerja. Cuaca panas akibat kemarau panjang di ibu kota bikin gerah, ditambah debu dan polusi kendaraan menjadi satu membuat hidung gatal. Belum lagi macet yang sulit diurai. Namun, itu tidak menjadi halanganku demi bertemu dengan calon mertua. Katakanlah aku ingin membawa suasana damai dulu sebelum mama berjumpa dengan calon besannya itu. Kurang lebih lima belas menit aku pun sudah sampai. Sebelum aku menekan tombol bel rumah minimalis itu, Aku merapikan dulu rambutku yang awut-awutan, menyisirnya dengan rapi, juga mengibas-ibas bajuku.Dandanan ku sederhana saja, tidak menor maupun pucat, cukup dengan riasan tipis. Baju yang kupakai pun sederhana, hanya celana panjang hitam bahan kain dan atasan blus warna merah muda. Ting tong. Bunyi bel rumah setelah ku tekan. Sekian menit aku menunggu pintu pagar dibukakan. Ketika jariku hendak menyentuh bel pintu itu lagi, aku mendengar langkah kaki mendekat. Ku turunkan tanganku, menggenggam erat paper bag, hatiku jadi berdebar. Kreeeet. Suara pagar dibuka. Seorang wanita paruh baya berdiri di hadapanku, kelopak matanya melebar, mungkin kaget dengan kehadiranku yang tiba-tiba. "Oh, non Lia... "seru Bik Sumi, Art yang ku kenal baik. "Hai, Bik.. Apa kabarnya?" Senyum lebar ku. "Oh, ba. Baik, non. Lama tak ke sini..?" tanyanya kikuk. "Ya, Bik.. Sibuk banget hari-hari nih.." jelasku. "Oh.. Gitu...ng.." katanya ragu-ragu. Pintu pagar terbuka sedikit. Biasanya Bik Sumi akan segera melebarkan pagar dan sangat antusias menyambut ku. "Bi.. Tante Yola, ada kan?" tanyaku melihat gelagatnya yang aneh. "Oh ada, Non. Ng.. Ada tamu juga.. " Sudut bibirnya berkedut. "Oya, sapa..?" tanyaku antusias. Pasti ada saudaranya tante Yola. Samar-samar aku dengar tawa riang di dalam rumah itu. "Ng.. Itu.. " Bi Sumi menjawab bingung. "Tante Betty kan? Bi.. Panas loh." Aku mengibaskan tangan merasakan hawa panas di luar pagar, matahari sedang terik-teriknya bersinar. "Oiya, Non.. Maaf,. Mm. Masuk dulu. " Bi Sumi gugup dan segera mendorong pintu pagar agar aku bisa masuk dengan leluasa. Aku mengayunkan langkah kaki menuju rumah bercat abu-abu itu diikuti Bi Sumi di belakang setelah dia menutup pintu pagar. Semakin dekat, semakin jelas riuh tawa di dalam rumah. Tante Betty pasti sedang bikin lelucon nih. Aku kenal beberapa saudara tante Yola, mama Tio. Tante Betty inilah yang paling suka bercanda. Kakiku sudah menginjak lantai marmer teras. Beberapa tahun pacaran dengan Tio, aku sudah familiar dengan rumah ini. Ku ketuk pintu itu dan membukanya perlahan. "Tante..... " sapaku. Mataku melebar sempurna, aku menelan ludah melihat pemandangan di depanku. Ternyata di sana, tidak hanya ada tante Yola dan tante Betty, tapi ada dua orang lagi yang tidak ku kenal yang seorang duduk tak terlihat jelas karena berada di belakang tante berparas ayu itu, hanya terlihat kakinya yang menjuntai. Tante Yola dan seorang lainnya, wanita paruh baya yang cantik sedang fitting baju pesta warna senada. Suaraku mengubah atensi mereka, beberapa pasang mata itu tertuju padaku. "Liana..?!"Suara nada terkejut keluar dari bibir tante Betty, adik tante Yola. Dia menjatuhkan baju yang dipegangnya. "Tante, ap. Apa kabar?" Aku menyapa susah payah karena tiba-tiba tenggorokanku kering. Entah kenapa feeling -ku tak enak. Tante Yola yang berdiri di sampingnya, mengernyitkan dahi dengan sudut bibir kanan menukik ke atas. Ini bukan sambutan yang baik, ada apa? Tante Betty memungut baju yang dijatuhkannya lalu membalas sapaanku, "Liana.. Lama tak bersua.... " "Iya, tante, aku ba.. " Aku menjeda kalimatku, mataku mengunci seorang gadis muda yang duduk di sofa tak terlihat jelas oleh ku tadi, berdiri memutar tubuhnya menghadap ku. Mulutku membuka, jantungku berdebar kencang. Wanita muda ini, ini yang ketiga kali aku melihatnya, daya ingat ku masih jernih, walau agak ragu di awal, kini aku yakin gadis muda ini ... "Siapa itu, Yola?" tanya wanita cantik nan anggun itu pada mamanya Tio. Dari nada bicaranya mereka terlihat sangat akrab. Siapa wanita muda itu? Siapa dia? Kenapa dia ada di sini? Apa hubungannya dengan keluarga ini? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di pikiranku, mulut ingin berucap tapi hanya tercekat di tenggorokan. Mataku menatapnya intens dan dibalasnya dengan sorotan tajam. "Dia itu mantan Tio." Suara tante Yola terdengar datar. Namun, di telingaku bagai lebah berdengung. Mantan? Siapa? Gadis itu...? Atau.. Aku terpaku di lantai, rasa gugup membuatku menggenggam erat kedua paper bag di tangan kanan- kiriku. "Mantan? Oh! Mau nyari Tio?!" seru wanita muda yang berparas cantik itu, kakinya maju selangkah hendak menghampiriku tapi ditahan oleh tante Yola. "Angelin, duduk dulu, tenang dulu yah, kamu sedang hamil muda." bujuk Tante Yola. Hah? Hamil muda? Pendengaranku tidak salah bukan? "Ya, Angelin, ingat kata dokter yah. " Wanita paruh baya yang mempunyai wajah mirip dengan gadis yang dipanggil Angelin itu, ikut bersuara. Mereka mirip? Apakah mereka berdua ibu dan anak? "Liana, kamu bawa apa??" tanya tante Betty ramah, seperti ingin mencairkan suasana yang tegang. Aku menoleh ke arah wanita itu, mataku yang memutar tak sengaja menangkap tumpukan-tumpukan baki cantik berenda dan juga beberapa barang terbungkus plastik transparan tercecer di atas meja itu. Ini apa? Seperti souvenir pernikahan? "Tante.... " suaraku terdengar lirih. Aku dilanda kebingungan yang sangat parah. "Liana! Apa keperluanmu ke sini?" Pertanyaan wanita dengan garis rahang yang keras menyentak kesadaranku. "Tante Yola.. Apa ini?" Susah payah aku bertanya. "Kamu sudah putus dengan Tio! Tante harap kamu tidak membuat keributan di sini!" ketus wanita bertubuh tinggi langsing itu. Buk! Paper bag terlepas dari genggaman tanganku seketika. Aku hampir limbung andai gerak refleks tante Betty tidak menggapai ku. "Heh?! Kamu tak apa-apa, Liana?!" serunya sembari menggenggam lengan kananku. "Maksud... Maksudnya ap ...apa ini?" Aku terbata- bata, berusaha menyeimbangkan tubuhku kembali. Putus? Hubunganku dengan Tio putus? Padahal kami belum lama... "Duduk dulu...yah..?" ajak tante Betty. Aku menggeleng kepala pelan, kaki ku serasa kaku bagai dibelenggu rantai. Tiba-tiba. "Liana...?!" Suara lelaki yang sangat kukenal bahkan sampai ke desah napasnya, terdengar di belakang punggungku. Aku membalik badan cepat. "Tio??!" panggil ku. Hanya pria di depan ku ini yang bisa menjelaskan semua kebingungan ini. "Tio..! Apa kamu masih berhubungan dengan Liana? Kamu kan sudah mau menikah!" tandas tante Yola. Tio akan menikah? Tapi bukan dengan aku? Oh, Tuhan! "Tio.. Katakan sesuatu, ada apa ini??" Lirihku. Pandanganku nanar, mengembun oleh cairan air mata. Semua sudah terang tapi aku sangat butuh penjelasan Tio. "Liana.. Kita bicara di luar.. " Wajah lelaki ini menegang. Dia menarik tanganku berjalan ke pintu. "Tio!" pekik Tante Yola, menghentikan langkah kami berdua "Apa-apaan ini?!" Wanita satunya ikut-ikutan memekik. "Sayang......?" panggilan lembut gadis muda sembari mengelus perutnya. "Kasih waktu aku sebentar!" ucap Tio, menggenggam tanganku lalu menarik ku keluar. Setengah berlari aku mengikuti langkahnya yang cepat.Bi Sumi yang berdiri di depan memberi jalan pada kami. Lamat-lamat aku mendengar suara tante Betty, "Biarkan mereka, kak. " Di pelataran rumah minimalis ini, aku menghentakkan tangan Tio. "Lepaskan aku!" teriakku. Genggaman tangan itu terlepas, Tio menyugar rambutnya kasar. "Liana...?ck! Kamu kenapa ke sini?" decaknya. "Kalau aku tidak ke sini, tak akan terbongkar!" tandas ku nyalang. "Maafkan..aku.., Liana.. Ini.., " Dia meraup wajahnya. "Tio? Apa kau bilang ke mereka kalau kita sudah putus?!" tanyaku sembari menunjuk rumah itu. "Na.... " Jangkun pria ini naik turun. "Padahal.. Kita.. Kita... " Aku tak sanggup mengatakannya, air mataku bergulir dengan cepat merefleksikan betapa hancur hatiku. Tio memegang kedua pundakku dan berkata, "Na, maafkan aku.. Aku tergelincir... " "Dia hamil kan?? Sudah berapa lama kalian berhubungan,Tio?! " cecar ku melepaskan diri dari remasan tangannya di pundakku. "Na.. Mama aku, dia ingin aku menikah dengan pilihannya, mama sakit jantung, aku tak kuasa menolaknya. Aku ini anak tunggal, dia ingin punya cucu.. Sedangkan.. " Tio mengelus tengkuk lehernya. "Sedangkan aku tidak hamil, begitu?!" sinis ku. "Na.. Andai.. " Plak! Aku reflek menamparnya. Wajah tampan yang ku puja-puja selama ini. memerah. Tio mengelus pipinya, dia terperanjat tak menyangka akan tindakan kasar ku. "Tio.. Selama enam tahun? Apakah ini tidak ada artinya bagimu?! Kenapa kamu tega sekali... Kau. ..kau.. " Dadaku naik turun menahan emosi yang kian memuncak. Tio dengan sigap memelukku, membenamkan kepalaku ke dadanya. Aku meronta dalam pelukannya. "Na, maafkan aku, maafkan aku, kamu tahu aku cinta kamu.. " Tio mempererat pelukannya. Aku terus meronta dengan teriakan, "Lepaskan aku! Kamu akan menikah tapi kamu masih bisa pura-pura di depan aku!" Akhirnya Tio melepaskan ku. Aku pun mundur selangkah. "Na... . Tenang dulu.. " Bujuknya "Tenang? Kamu.. Kamu ingin aku tenang.. ?" Bahuku luruh, bagaimana aku bisa tenang di situasi seperti ini? "Kamu jahat, Tio! Kamu masih bilang cinta. Tapi kamu sakiti aku... Kau.. Kau b******k!" Aku mengeraskan rahangku, meremas jemariku menahan emosi yang bergejolak. "Na! Itu karena kamu ga mau dengar masukanku! Berapa kali aku bilang kuruskan badanmu!" Tio tak kalah sengit. "Apa... Apa maksudmu??" Aku menatapnya nyalang. Pernyataan apa ini, bagaimana ini ada hubungannya dengan bentuk tubuh ku? Ini gila! "Na, mama bilang orang gemuk....' Tio menghela napas, " Andai kau hamil duluan, aku pasti akan menikahi mu. " Mataku hampir keluar dari rongganya, mulutku menganga. Reflek ku tutup mulut ini. Kata-katanya bagai ribuan belati terbang menancap hatiku, sangat sakit. Aku shock! Kakiku melemas, sendi- sendiku bagai terlepas dari engselnya. Jadi jika aku tidak hamil, aku tidak akan dinikahi?! Gila! Aku melayangkan telapak tanganku dengan geram, hampir menyentuh pipi Tio tapi pria yang sudah mengisi hari-hariku sekian tahun ini menangkap tanganku cepat. "Liana!" sentaknya,"kau juga punya hubungan dengan Boss mu' kan? Kamu kira aku tidak tahu?!" "Lepaskan!"teriakku. "Jawab dulu, apa hubunganmu dengan Pak Boss?! Bisa jadi dia juga menggauli mu!" Rahangnya mengeras. "Kau anggap aku ini apa, Tio?! Kau yang selingkuh malah tuduh aku?! Aku bodoh percaya padamu! Bertahun-tahun kita pacaran, ga ada artinya bagimu!" Sakit sekali hati ini. "Jawab aku, apa kamu sudah tidur dengan Boss mu?!" desak Tio memperkuat genggamannya. "Kau... Tega sekali, Tio! Apa aku di matamu?" Bibirku bergetar menahan tangis yang hendak meledak. "Jawab dulu!" geramnya semakin memperkuat genggamannya, tanganku pun menjadi sakit. "Lepaskan!" teriakku sambil meronta. "Lepaskan dia, Tio!" Kami menoleh ke arah suara, Tante Yola sudah berada di samping kami tanpa kami sadari. "Ma...?" Tio melepaskan tanganku perlahan. "Jangan pernah mencari ku lagi.. " Aku mendesis berbalik arah, membuka pintu pagar yang tak terkunci lalu melangkahkan kakiku tergopoh-gopoh. "Liana!" teriak Tio. "Biarkan dia pergi, Tio!" Suara Tante Yola tak kalah kencang. Pria yang kucintai setengah mati ini tak berlari mengejar ku. Aku juga tidak perduli. Biarkan aku pergi.. Jangan cari aku. Seberapa dalam cintaku padamu tak lagi menarik lagi untuk kau selami. Asa-asa yang kurajut melewati hari demi hari, tahun demi tahun tak lagi miliki makna. Setumpuk asa yang kutulis dengan hati merindu di atas kertas, terbang bagai layang-layang mengikuti angin, membawanya entah kemana. Relung hati ini telah terisi mara, sesakit ini. Cinta kita, mengapa secepatnya ini berakhir? Aku terus melangkah dan melangkah menyusuri trotoar, sampai ke ujung dimana jalan berakhir. Bendungan air mataku telah terkoyak, tetesan bening ini pun terus bergulir bagai air hujan tak henti-henti tercurah. Oh, Tuhan, turunkanlah hujan, aku ingin tenggelam bersamanya. Biarkan aku menyatu dengannya dan mengalir sampai ke hilir, tempat bernaungnya kumpulan kristal-kristal ini. Akan seperti apakah hidupku nanti? ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN