"Loni, emang sakitnya parah yah?" tanyaku sambil menjejari langkahnya yang lebar menuju ruang inap vip rumah sakit Siloam.
"Kemarin malam drop, mungkin trombositnya turun," jawabnya sambil terus berjalan.
"Hmm, kamu tahu dari mana, Loni?" Yah, aku heran saja, informasinya cepat sekali sampai di telinganya.
"Tante.... " suara kencang Loni sambil mempercepat langkah.
Aku memutar bola mata, seorang wanita yang kutaksir berusia sekitar enam puluh tahunan yang hendak memasuki kamar inap berhenti lalu menoleh ke arah kami.
Siapa dia?
Wanita dengan tentengan tas di tangannya itu mengulas senyum.
"Oh, Loni.. " sapa wanita yang terlihat masih cantik dan anggun di usia yang tak muda lagi.
"Bagaimana kabar Pak Messach, tan?" tanya Loni setelah menyalami tangan tante tersebut. Aku pun ikut menyalami sambil mengangukkan kepala.
"Teman?" tanya tante itu dengan mata mengarah ke Loni.
"Teman kerja, tante. " jawab Loni.
"Oh, pegawainya Ronny juga yah?" Kini matanya memindaiku.
"Ya, tante... " Aku mengulas senyum walau aku baru tahu jika nama kecil Pak Messach itu Ronny.
"Ayo, masuk... " Tante mempersilahkan kami masuk ke ruang inap.
Dalam kamar yang bak hotel bintang lima itu, terbaring pria berbaju rumah sakit dengan infus di tangan, sedang tidur, di sebelahnya duduk seorang wanita muda, mungkin seumuran dengan kami.
Istrinyakah? Tapi setahuku Pak Messach itu duda? Atau...
"Hai, Loni... " wanita berparas ayu berkulit putih seperti kulit tante itu tersenyum saat melihat kami.
"Jenny, gimana, udah mendingan?" tanya Loni setengah berbisik menghampiri tempat pembaringan Pak Messach.
"Udah lebih mendingan dari semalam. Tapi masih sakit kepala katanya." Wanita yang dipanggil Jenny itu beranjak dari kursi dan mempersilahkan kami duduk di sofa, dimana ada mamanya Pak Boss.
Aku menduga-duga Loni kenal baik dengan keluarga ini, tapi si gadis kutilang itu tak pernah cerita? Rasanya ingin bertanya tapi waktunya kurang tepat kayaknya.
"Jen, nih mama ada bawa jus jambu merah, kalau koko udah bangun, kasihkan yah. " kata si Tante sambil menyerahkan satu botol isi ius jambu merah pada putrinya.
Koko? Mereka keturunan Tionghoa? Tapi kulit Pak Messach kok seperti orang timur?
"Jenny, ini loh teman yang aku ceritakan padamu." Loni akhirnya ingat padaku. Namun, mataku menyipit, cerita apa yang disampaikan Loni pada wanita ini?
"Oh, hai, aku Jenny, kamu Liana kan?" Dia mengulurkan tangannya dan langsung ku salami sambil menganggukkan kepala.
"Liana, kakak ku sering bercerita soal kamu, loh." Mata wanita itu mengerling.
Wajahku seketika memerah. Apa Pak Boss ini bercerita tentang kekonyolan ku? Duh, amit-amit bikin malu saja!
"Oya..?" Ku paksa bibirku tersenyum sebab aku masih dilanda kebingungan, di mulai dari sikap Loni. Harapanku mereka tidak membahas insiden kecil yang terjadi antara aku dan Pak Boss.
"Ngghhh.. " suara lenguhan Pak Boss.
Jenny mau beranjak bangun tapi ditahan oleh mamanya.
"Biar mama aja... " Tante itu pun mendekati putranya yang terbaring sakit.
"Apa kata dokter, Jen?" Suaranya Loni setengah berbisik.
"Positif DBD, untunglah cepat di tangani, ko Ronny kan suka anggap remeh kalo sakit. "
"Iya, kita doakan cepat sembuh yah.." tukas Loni.
"Mau ngobrol sama koko sebentar?" ajak Jenny, Aku dan Loni mengangguk berbarengan, kan memang tujuannya menjenguk Pak Boss.
Lalu kami pun menghampiri Pak Messach yang dipanggil Ronny itu. Dia sudah membuka matanya, masih terlihat lemas. Wajahnya agak pucat, tak kelihatan garang lagi.
"Pak..cepat sembuh yah, doa kita. " ucap Loni. Aku mengaminkan doa Loni dalam hati.
"Makasih ... " balas pria itu lalu
menatapku, mengerjapkan mata seolah tak percaya aku berdiri di sampingnya.
Mungkin dari tadi aku makhluk invisible?
"Liana...? Kamu sudah sembuh ya?" tanya Pak Boss, suaranya terdengar serak.
Dia sakit tapi masih nanya aku lagi.. Manis benar orang ini..
"Udah baikan, Pak. Aku udah masuk kerja... " laporku, melebarkan kedua sudut bibir.
Pak Boss tersenyum tipis, "Syukurlah.. "
"Pak, cepat sembuh yah, cepat masuk kantor, sepi kantor ga ada bapak. " Aku nyerocos, baru sadar saat ekor mataku menangkap pergerakan Loni menutup mulutnya menahan tawa.
Pasti dikira aku nyindir...
Memang sih, waktu Pak Boss tak pernah absen ke kantor aku pernah nyeletuk kepada Loni: moga-moga Pak Boss sekali-kali sakit jadi lebih damai kantor. Namun, sekarang kan beda kondisinya?
"Makasih, Liana... " ucap Pak Boss, masih tersenyum.
"Sama-sama, Pak., cepat sembuh. " balasku.
Kami tidak bisa berlama-lama, sadar Pak Boss musti banyak istirahat.
Setelah Loni memimpin doa untuk kesembuhan Pak Boss, kami pun pamit pulang.
"Tante, kami mau pulang dulu yah., "
"Ya, makasih yah udah jauh-jauh jenguk ke sini. " Senyum Tante.
"Sama-sama, Tante, " balasku.
Tante itu memindaiku, aku agak heran karena dia sudah dua kali bertingkah begitu.
"Hm, wajahmu tuh familiar, mirip dengan teman tante. Apa kamu anaknya Teresa?" Dahinya sedikit mengernyit.
Teresa? Itu emang nama mama aku.
"Iya, Tan. Tante kenal mama?" tanyaku.
"Kenal dong. Mamamu dan tante bersahabat semasa SMA." Sumringah Tante.
Aku hanya ber oh saja, tidak menyangka tenyata mamanya Pak Boss dan mamaku sahabatan. Mama sih jarang bercerita masa mudanya.
"Sampaikan salam tante buat mamamu yah, bilang dari tante Merry."
"Iya, Tan... "
Lalu kami pun benar -benar pamit.
Jenny dan Loni masih sempat ngobrol di luar kamar.
"Nanti main ke rumah yah, kapan-kapan ajak Liana." kata wanita bertubuh proposional itu.
"Iya, kalau Liana mau..?" ujar Loni melirikku. Aku hanya tersenyum tipis saja.
"Yah, mampir lah sebelum aku balik ke Singapura." rajuknya.
Mungkin ini teman lama Loni yang terpisah oleh jarak jadi masih belum puas kangen-kangenannya.
"Ya, entar aku chat yah. Masih sibuk dengan pameran." Alasan Loni.
"Ya, ya tau apalagi koko sakit. Kasih kabar aja yah. "
"Iya, pasti, Jen. Balik dulu yah, udah malam nih, besok-besok kita jalan-jalan. "
Akhirnya kami pun benar-benar pulang.
Di dalam mobil taxi online, aku sudah tidak tahan menyimpan banyak tanya di hati, waktunya kini Loni menjelaskan banyak hal.
"Loni... " Senggolku.
Gadis bermata sipit ini menoleh.
"Iya, deh, kamu penasaran kan?" tebak Loni mengangkat alis tipisnya.
"Iya lah, aku kayak orang asing aja tadi, kamu sejak kapan akrab sama keluarga Pak Boss?"
"Selama pameran.. " Loni terkekeh, mungkin melihat mulutku yang terbuka seperti ikan koki.
Loni itu type sanguinis, memang cepat akrab sama orang.
"Ck!"Aku berdecak sebal melihat Loni yang santai sedangkan penasaranku sudah di ubun-ubun.
"Sabar dong kalo mau dengar cerita. " Loni sengaja menjeda mau melihat reaksi ku tapi aku diam saja, pura-pura tidak antusias mendengar.
Mataku fokus ke depan memandang jalan raya. Pemilik mobil ini pun melirik kami lewat kaca spion depan, bisa jadi ikut penasaran juga.
"Jenny itu teman SD aku, teman sebangku. Kami udah lama ga ketemu, ketemunya di pameran beberapa hari lalu, baru pulang dari Singapura. Ternyata selama ini dia kuliah dan kerja di sana. Lost contact gitulah. " lanjutnya.
"Nah abis itu gimana kok bisa gosipin aku ?" Intinya ini yang mau aku dengar.
"Yah, aku kaget ternyata dia bilang pemilik perusahaan ini punya kakak tirinya."
Oh, kakak tiri? Pantesan emang ga mirip.
"Terus?" Aku kejar kalimat berikutnya.
"Iih mulai tertarik ya? Tadi pura-pura cuek. " ledek Loni bikin aku tambah sebal.
Satu cubitan sukses menjepit pinggangnya.
"Iih sakit, nih, Li." ringisnya. Aku mencibik, "Rasain!"
"Salahnya bawa-bawa namaku."' lanjutku.
"Ya, deh, nah waktu Jenny tahu aku kerja sama kakaknya, dia nanya aku kenal ga sama Liana? Dia penasaran sama kamu soalnya kakaknya itu sering cerita tentang kamu, Lia. Yah, aku kasih tahu dong kalo aku kenal sama kamu. Nah besoknya aku dapat kabar Pak Boss sakit dan harus rawat inap di rumah sakit, jadi yah aku ajak kamu jenguk sekalian ajak kenalan, cuman kamu nya ja im banget jadi orang tadi." urai Loni.
"Emang aku mau heboh di sana? Ga dong, kasihan orang sakit kalo kita berisik." jelasku.
"Iye.. " Setuju Loni.
Mobil yang kami tumpangi berbelok kiri menuju ke tempat kost ku berada.
"Liana, dugaanku benar kalau Pak Boss itu naksir kamu, buktinya dia banyak cerita kamu sama keluarganya. Feeling ku biasanya tepat." celetuk Loni tiba-tiba.
Aku geleng-geleng kepala, entah apa yang merasuk otak gadis kutilang ini, getol benar mau jodohkan aku sama Pak Boss.
Biarpun Pak Boss ganteng tapi gak bisa bayangin deh pacaran sama orang yang punya tensi tinggi, dikit-dikit marah, bisa -bisa premature aging.
"Putusin aja pacarmu itu, kek nya ga ada harapan lagi deh.. " cibik Loni.
"Hush sembarangan!"tampikku,"tapi selama kamu kerja, emang kamu ga tahu kalau Pak Boss itu saudara tirinya temanmu itu? Kan kamu udah lama temanan sama Jenny biarpun akhirnya pisah?"
"Oh itu..kan karena keluarga Jenny pindah ke Surabaya, aku hanya dengar mamanya nikah lagi sama duda beranak satu. "
"Ooh gitu, terus Jenny udah nikah?" tanyaku penasaran.
"Udah, suaminya orang sono, orang Singa."
"Oh syukur lah, soalnya kalo kakak adek ga ada hubungan darah, bisa jadian trus nikah." Aku mengedikkan bahu.
"Ck ck ck, kamu kebanyakan baca w*****d, Liana! Otakmu udah terkontaminasi." cetusnya.
Aku hanya nyengir.
Who knows? Iya kan?
Tak lama kamipun sampai ke tempat kost ku.
"Oke, aku duluan yah.. " pamit ku sambil mengeluarkan dompetku buat bayar.
"Udah, ga usah! Aku aja.. " tolaknya.
"Bagi dua aja, Loni.. " Aku bersikeras.
"Udah, Lia, gapapa, sekali-kali terima kebaikan orang, oke??!" Loni mulai julid
"Ngg.. Yah udah, makasih yah.. " kataku akhirnya, mengalah.
"Daaag, sampai ketemu besok." Loni melambaikan tangan setelah aku turun dari mobil lalu kendaraan beroda empat itu pun melaju keluar dari kompleks Kost.
Aku membuka pintu pagar, sudah disambut oleh Ibu Kost, yang rumahnya ada di sebelah kos-kos an.
"Liana, ada paketmu di rumah ibu yah.. " katanya.
"O, iya, Bu, makasih... "
Mama cepat benar kirim paketnya, kebetulan besok mau ke rumah mamanya Tio, bisa buat oleh-oleh, jadi ga tangan kosong.
****