Bab. 19. Pak Boss sakit.

480 Kata
Pertama masuk kerja setelah empat hari libur karena sakit, aku melihat lembaran kertas di atas meja seperti gunung yang menjulang menunggu disentuh tanganku dan sepertinya bakal jadi PR . Yah, itulah resiko yang harus diterima dan tanggung jawab yang harus diemban. Pekerjaan menumpuk bukanlah hal yang menyita pikiranku saat ini karena aku sudah terbiasa kerja dalam tekanan tetapi yang aku herankan, sampai detik ini belum kulihat Pak Boss berseliweran, baik raga maupun suaranya. Kantor bagai padang gurun yang hening dan tenang. Biasanya, ada saja yang kena semprotan lahar panasnya, bahkan cipratannya saja bisa 'menghanguskan'. Terakhir kata Loni, Pak Boss sakit maka pria berkulit eksotis itu absen ke kantor. Apa dia masih sakit yah ? Sakit apa sampai beberapa hari ga ngantor? Aku ingin mengorek informasi dari Loni, tapi si gadis kutilang itu sedang berada di area pameran, sedari pagi aku belum sempat ketemu dengannya begitu juga dengan Andy dan Leo, tim-ku. Pameran komputer dan elektronik yang diselenggarakan perusahaan itu masih berlangsung untuk beberapa hari ke depan. Aku bisa saja tanya kabar Pak Boss langsung karena aku punya nomor Wa-nya tapi lebih baik tidak, aku tak mau sok akrab, insiden-insiden kecil yang terjadi di antara kami bukanlah alasan menjadi gede rasa. Menjaga jarak menjadi pilihan tepat mengingat Tio sudah terang-terangan cemburu pada Pak Boss. Gimana kalau aku korek informasi dari Dewi, sekretaris Pak Boss? Aku menggeleng kecil, mengibas lintasan pikiran itu, seperti nya akan kentara benar aku sangat ingin tahu. Pasti Dewi jadi berprasangka aneh padaku. Lain halnya jika ada hubungannya dengan kerjaan. Oiya, siapa tahu ada file yang musti ditandatangani Pak Boss? Bibir mungilku mengulas senyum, segera kucari di antara tumpukan file barangkali ku dapati satu dua lembaran kertas yang butuh coretan tangan Pak Boss. "Ck, tak ada, kayaknya sudah diambil alih Loni. " gumamku, sedikit kecewa. Tapi kenapa pula aku jadi khawatir gini yah..? Sudahlah, daripada kebanyakan mikir mending fokus menuntaskan pekerjaan yang terbengkalai, banyak sketsa desain yang masih mentah perlu diolah. Jam dinding menunjukkan pukul 12.15 saat kutoleh. Waktu jam istirahat makan siang, akhirnya aku bisa meregangkan otot-otot yang tegang sejenak, bersiap menikmati makan siang yang kubawa dari rumah setelah itu tak boleh lupa minum obat antibiotik biarpun sudah tidak merasakan gejala ISK lagi. Ting. Bunyi ponselku. Kuraih benda persegi empat itu di atas meja, tampak di layar notif masuk dari Loni. Lia, nanti pulang kerja mau ikut jenguk Pak Messach ga? Lagi rawat inap di rumah sakit. Mataku membola membaca chat wa Loni. Jemariku pun langsung menari di atas keyboard ponsel, mengetik cepat merespon chat Loni. Sakit apa, Loni? Parah yah? Pantesan ga keliatan? Jam berapa ke sana? Ku tunggu beberapa saat dengan perasaan was-was menanti balasan chat dari Loni. Ting. Masuk chat wa. Katanya sih gejala DBD. Jam empat aku balik ke kantor jadi kita langsung ke rumah sakit. Ku tunggu di lobby kantor yah . Ku balas segera. Oke, ku selesaikan dulu kerjaanku ini. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN