Bab. 18. Nyaris bag. 2

1165 Kata
Tiga hari beristirahat di rumah, sangat membosankan walau kesehatanku berangsur-angsur membaik tetapi aku tetap menghabiskan obat anti biotik resep dokter. Terbiasa kerja berganti suasana diam di dalam kamar, hanya tidur-tiduran, sungguh bikin jenuh. Lain soal kalau libur dalam kondisi tubuh sehat, bisa jalan-jalan, refreshing. Aku kepingin telpon Loni, tiga hari tidak mendengar celotehnya jadi kangen. Ku raih ponselku di atas nakas, aku melakukan panggilan telepon sambil tidur-tiduran. Sambungan telepon berhasil. "Lia? Eh gimana kabarmu? Sorry ya baru nanyain." Suara nyaring Loni di ujung telepon. "Ya, udah membaik, gimana kabarmu? Jadi kangen dengar suaramu. " Loni terkekeh. Pasti lagi ge er dikangenin. "Sibuk banget, ini aja masih di pameran loh. " Yah, aku mendengar suara gempita latar belakang di ujung telepon. "Banyak pengunjung yah?" "Iya, penjualan meningkat tiga hari ini. Kamu belum bisa masuk kah?" "Aku juga mau cepat masuk kerja nih. Mungkin besok atau lusa yah." "Oh gitu. Pak Boss juga sakit . Kayaknya kalian berdua sehati. " "Hah?! Sakit apa?" Tentu saja, aku kaget karena selama aku kerja di perusahaan itu Pak Boss hampir tak pernah sakit, batuk pilek saja dia masih ke kantor. Bahkan, jujur aku pernah berharap Boss Killer tidak ke kantor satu minggu biar aku tidak tegang. Lha ini? "Kata si Dewi sih, radang tenggorokan, badannya panas demam, lemas. Kayaknya kalian saling nularin nih. " Sampai kini Loni hanya tahu aku sakit flu, aku tidak memberitahu keadaan sebenarnya. "Pak Boss jarang sakit loh.... " "Iya mikirin kamu, Lia. Kangen. " Loni terkekeh. Untung saja, si cerewet ini jauh, kalau tidak pasti sudah kuhadiahi cubitan. "Loni, ada panggilan masuk di ponselku." "Siapa? Pak Boss?" tebak Loni. "Bukan! Kayaknya mama aku, udah yah, entar kutelpon balik lagi. " Ku alihkan ke panggilan lain. "Ya, ma?" sapaku. "Lama sekali angkatnya, Lia." Lama apanya, mama aja yang ga sabaran. "Tadi lagi ngobrol sama teman, napa, ma?" "Kalau orang tua itu telpon, nanya kabar! Bukan nanya napa?!" Suara cempreng mama bikin kupingku ngilu. Serba salah hadapi mama nih. "Iya, ma. Apa kabarnya mama?" ralatku biarpun telat, bikin hati mama senang. "Nah gitu dong, kan jadi damai tokh? Kamu mau titip apa, mama mau ke Jakarta." Aku langsung terduduk. "Hah? Kapan?" "Kamu ini kayak alergi sama mama sendiri aja!" dumel mama. "Ck, mama ini? Bukan gitu, kan Lia pengen tahu kapan datang, bisa siap-siap gitu." "Minggu depan, mama pengen ketemu keluarga Tio, pacar abadimu itu!" tegas mama. "What??! Ngapain ma? Mana ada pihak perempuan lamar lelaki??" Seketika nyeri lambung. "Yang bilang lamar siapa? Mama mau nanya pacarmu itu sama keluarganya, kapan kamu itu dinikahi?" "Ya ga gitu juga sih ma, Lia juga pengen cepat nikah... " "Maka itu! Kalau Tio masih gantungin kamu gitu, mending kamu nikah sama anak teman mama!" "Ya, ya, entar Lia kasih tahu Tio mau datang." "Sekalian kasih tahu mama bawa golok!" Tentu saja mama bercanda. Aku menutup mulut menahan tawa walau bocor juga. "Ketawa kamu?! Mama serius loh?! Anak orang digantung gitu! " "Iya, ya mama sayang...... " Kulembut-lembutkan suaraku. "Ck! Kalo kayak gini pasti mau minta sesuatu.... " "Mama tau aja deh. " Aku bersorak dalam batin, hatinya mama sudah mulai melumer, "daripada mama susah-susah bawa makanan naik pesawat, mending mama kirim aja deh." "Emang mau titip apa, Lia?" "Entar Lia tulis lewat wa yah, ma, siapa tahu juga teman-teman kantor mau ikutan pesan. " "Jangan banyak-banyak! Ongkir mahal lo?!" "Entar Lia tranfer deh, kan bentar lagi aku dapat bonus dari kantor?" "Wah? Mama kebagian dong? Beliin mama tas yah." Kubayangkan wajah mama pasti penuh harap. "Ma?! Emang tas kemarin kemana? Baru bulan lalu dibeliin." Dahiku berkerut, boros sekali mama. "Itu Lia, mama kan lupa gantung tasnya, mama taruh di kursi, eh digigit becky." "Ma... Jangan salahkan becky, ya. Itu salah mama taroh sembarangan. " Tak rela aku, mama mengkambing hitamkan si pudel, kesayanganku. "Lha wong, becky nakal gitu." Aku berdecak. Sudahlah, susah omong sama mama. Kalau aku bela becky terus bisa-bisa becky diracun. Itu anjing pudel dikasih Tio sebagai hari jadi kami yang ke empat, karena aku tak bisa merawatnya di tempat kost jadi ku bawa pulang. Mama bisa nekad kan saking kesalnya sama Tio? "Ya, udah, ma. Jadinya UUB." "Pa tuh UUB?" "Ujung-ujung barter." jawabku dongkol. Mama terkekeh. "Anak yang murah hati sama orang tua, rezekinya lancar.. " "Iye, tau! " Aku mendengus, "udah yah, ma?" "Eh, mama belum selesai ngomong." "Hmm." "Lia, jaga diri baik-baik. Jaga kekudusan selama pacaran yah. Virginitasmu hanya milik suamimu, ingat itu!"' Aku menelan ludah kasar. Tiap kali mama telpon selalu ujungnya membahas bagian itu. Tahun-tahun pertama aku sangat antusias merespon mama, kini apa yang bisa kukatakan pada mama? "Lia.. Kamu masih pegang janji kan?!" "Mama jangan cerewet deh! Lia kan bukan anak kecil lagi!" Alih-alih menjawab, aku pura-pura merajuk. "Ya, udah, nih ada orang bawa elpiji, mama mau bayar dulu, ingat pesan mama!" Tuuut.. Sambungan telpon pun diputusin mama. Aku menghela napas panjang. Apa yang akan terjadi jika seandainya mama tahu aku sedang mengalami ISK dan ada hubungannya dengan Tio? Bisa-bisa mama pingsan. Maafkan, anakmu ini, ma, tidak bisa menjaga kesucian. Aku sudah berusaha menjaga virgin ku dengan baik selama pacaran dengan Tio. Dua bulan lalu jebol dan terulang lagi yang kedua kali dua hari lalu dan berakibat sakit ISK. Dan baru-baru ini hatiku getar-getir, gelagat Tio itulah penyebabnya. Bagaimana tidak? Banyak dugaan yang mengarah bila Tio mulai "berulah." Setengah mati aku bersikap tenang, berharap ini semua karena aku yang terlalu parno saja. Entah karena rasa insecure-ku karena kehilangan virgin ku atau memang karena Tio yang mulai berubah, keduanya sama-sama membuatku sesak. Namun, kelembutan yang ditampakkan Tio sekonyong menyejukkan hati, walau hanya sementara. Jujur, aku sangat ketakutan ditinggal Tio setelah aku kehilangan kehormatan yang harusnya ku persembahkan pada suamiku kelak. Maka sangat besar harapanku, Tio akan memenuhi janjinya segera menikahiku, now or later. Aku tahu, dunia sudah berubah, mungkin manusia sudah tidak "sekuno" dulu, menganggap virginitas itu sesuatu yang harus dipertahankan sampai menikah. Mungkin banyak sekali tak terhitung pasangan yang sudah melakukan hubungan intim sebelum masuk bahtera pernikahan, termasuk aku tapi aku yakin jauh di dalam lubuk hati para pria di dunia ini pasti berharap mencicipi keperawanan istrinya, bukan bekas orang lain. Aku tidak bisa membayangkan betapa malunya aku andai suamiku, yang bukan Tio, mendapatiku adalah bekas orang lain. Apa yang bisa kubanggakan sebagai perempuan lagi? Dulu, aku protes pada Sang Pencipta, mengapa Dia tidak adil dalam menciptakan manusia, mengapa kaum hawa diberikan tanda keperawanana, sedangkan kaum adam, tidak? Seolah-olah kaum hawa didiskreditkan. Namun, inilah tanda Pencipta memberi nilai lebih pada seorang gadis. Kaum hawa itu sangat berharga, tubuhnya hanya bisa dimiliki oleh pria yang mengikatnya dengan janji suci, perempuan bisa mengklaim dirinya suci dengan tanda keperawanan itu. Dunia sudah jatuh dalam dosa, manusia sudah mengaburkan nilai pernikahan dan kesucian. Manusia melakukan apa yang menurutnya benar dan bukan melakukan Kebenaran sesuai perintah Tuhan. Itu ajaran yang kudengar saat aku dan mama beribadah ketika aku masih duduk di bangku SMA. Kini? Aku melipat bibirku dalam, andai aku punya mesin waktu... Menyesal? Penyesalan selalu datang terlambat. Tio, jangan biarkan asa-asaku bagai layang-layang putus. *** i
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN