Pandangan mata kami beradu, keterkejutan menarik kelopak mataku melebar, begitu pun Tio, mungkinkah porsi kejut itu lebih banyak menghantamnya? Gestur wajahnya jelas berkata begitu, memucat seketika. Mungkin karena kehadiran ku di sini yang tak terduga ataukah...?
Tetiba praduga berkonotasi jelek menyeruak masuk ke dalam benakku. Secepat itu otakku menghubungkan benang-benang terurai dan menyimpulkannya membentuk kalimat "Tio tertangkap basah?!"
Tapi oleh apa? Mengantar atau menjemput seseorang di dalam sana, di ruang klinik itu? Jelas seseorang yang sangat spesial bukan? Jika tidak, pasti aku, kekasihnya lebih diprioritaskan. Nyatanya, aku ke sini sendirian dalam keadaan sakit.
Kutepis asumsi itu segera, tak ingin semakin ditarik ke dalam pikiran yang jelas menyesatkan.
"Sayang, kondisimu gimana?" Suara lembut itu menarikku keluar dari lamunan.
Tanpa kusadari, Tio telah memperpendek jarak kami.
Kali ini aku yang terpana. Tak hanya suara lembut diperdengarkan, jemarinya pun mengelus kepalaku, bahkan kini turun ke wajahku.
"Hai, kok melamun." Satu jari menyentil hidungku.
"Eeeh.. " Aku mengulas senyum.
"Gimana kondisimu?" tanyanya ulang.
"Begitulah." Sesingkat itu aku menjawab.
"Syukurlah ga parah." Tio menyimpulkan sebelum aku menjelaskan lebih jauh.
"Yuk, kuantar pulang." Ajaknya.
Eh! Tunggu dulu!
"Tio, kamu kok bisa ke sini...?" Aku menyuarakan rasa penasaranku.
"Yah, jemput kamu dong, apa sih yang kamu pikirin?" kilahnya sembari menggenggam jemariku, hendak menarikku berjalan bersamanya tapi kutahan sejenak dengan menghentakkan tangannya.
"Kamu tau dari mana aku di sini?" Alisku bertaut. Mataku mencari kejujuran di kedalaman netra coklatnya.
"Astaga! Kamu belum tua sudah pikun! Kan kamu yang kabarin aku kalo kamu itu sakit dan minta dijemput?!" Sekilas mata coklatnya berkilat.
"Ooh... "
Apa benar aku sudah mulai pikun? Work pressure membuatku susah mengingat? Sepertinya aku harus banyak mengkonsumsi ginkgo biloba!
"Makanya, Na. Berapa kali aku bilang kamu itu suka berasumsi negatif. Tak baik, bisa cepat tua!" gerutu Tio.
Aku diam tak menyanggah, lalu berjalan bersisian menuju mobilnya.
Sebelum aku melangkah masuk ke mobil itu, motor ojek online telah tiba, aku langsung teringat sudah memesannya lewat aplikasi hijau.
"Maaf, Pak, ga jadi... " cicitku kepada bapak pengemudi motor itu.
Tak kusangka Tio mengeluarkan selembar uang berwarna biru dari dompetnya, memberikan pada pengemudi itu sambil berkata, "Buat kompensasi. "
Bapak itu menerima dan mengucapkan terimakasih, wajah masamnya berubah sumringah.
Dalam perjalanan pulang ke tempat kost, berada di dalam mobil Tio yang sedang melaju membelah jalan raya, aku melirik pria di sampingku ini.
Entah kenapa hatiku tak puas dengan jawabannya tadi. Aku senang saja dia tiba-tiba menjemputku di klinik ini. Namun, bukan soal itu, aku hanya heran bagaimana dia bisa tahu aku di klinik Medica center ini sedangkan aku tak pernah bilang, lagipula bukankah chat terakhir dia berkata tak bisa jemput, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan? Apa aku memang pelupa?
"Kenapa, Na? Kamu
menatapku aneh? Heran aku bisa jemput kamu?" tanyanya.
Seperti terhubung jaringan telepati saja.
"Ga papa, kaget aja kamu muncul, soalnya tadi bilang ga bisa jemput." tukasku.
"Bisa aja kan berubah pikiran?" Senyumnya, "apa kata dokter, Na?"
"Isk.." desahku.
"Infeksi... " Tio menarik napas sebentar, "maafkan aku, Na. Pasti gara-gara malam itu."
"Sama-sama salah... " sesalku, membuang napas.
Kurasakan elusan tangannya di pundakku.
"Iya, aku tak bisa menguasai diri.. Maafkan aku. " Elusan tangannya berubah menjadi remasan di pundak.
"Udah lewat, Tio....Aku hanya sedih ga bisa hadir di pameran. " Aku mengubah topik pembicaraan. Terus-terusan membahas malam panas itu hanya akan membuatku semakin tertuduh saja.
Tio meletakkan kembali tangan kirinya pada kemudi mobil.
"Oh? Gimana pamerannya, katanya besar? Sukses yah..?" tanya Tio sembari membelokkan mobilnya ke arah kanan.
"Ya mungkinlah, yang pasti bisa meningkatkan penjualan aja. "
"Iya, harus itu. Hm apa kabar Pak Boss killer?' Boss killer adalah julukan kami pada Pak Messach, mantan boss nya Tio .
Perlahan mobil Tio melambat lalu berhenti karena rambu merah lalin menyala.
"Dia... Baik. " Ini bukan basa-basi, Pak Boss memang baik hari-hari ini. Perhatian nya saat aku sakit boleh dibilang melebihi Tio. Sekilas peristiwa lucu bersamanya melintas di memori otakku, membuatku tersenyum geli.
"Kamu merona, Liana!" sindir Tio, menyentak gendang telingaku.
"Mm.. Apa??" Reflek kepalaku menoleh ke arahnya, mata kami bertubrukan. Rupanya sejak tadi dia menatapku.
"Kamu kayaknya suka dengan Pak Boss.. " Sudut bibirnya terangkat sebelah.
"Suka gimana sih? Dia boss!" timpalku sebal.
"Kalau kalian sering bertemu.. Bisa saja... "
"Maksudnya apa, Tio?" Selaku, tak suka. Apa dia pikir aku orang yang tidak setia?
"Kemungkinan bisa saja... " Dia mendengus, "maaf, aku ga bisa kalo ga cemburu."
"Tapi kan ga seharusnya cemburu sama Pak Boss.. " keluhku.
"Ya sih, harusnya tapi aku pernah... " Tio menjeda, melengos lalu menjalankan mobilnya kembali karena rambu sudah berganti warna, hijau.
Kalimat ambigunya telanjur terlontar dan aku tak bisa mengabaikannya.
"Pernah, apa?" Aku menatapnya dari samping. Dugaanku dia sedang memendam kekesalan, terlihat dari rahangnya yang mengeras.
"Forget it! "ketusnya sukses membungkam mulutku.
Aku membuang wajah ke arah kaca pintu mobil samping kiri, tanganku yang bertumpu pada pinggirannya memijit kepala yang terasa pusing.
"Kamu ga apa-apa?" tanya Tio bernada khawatir, menoleh ke arahku sejenak dan kembali memandang jalan raya, fokus menyetir.
"Pusing dikit... " jawabku lirih.
"Ya, sudah, jangan banyak bicara lagi. Maafkan aku yah... " Tangan kirinya mengelus kepalaku.
Tio selalu begitu, dia selalu menunjukkan sisi lembutnya setelah marah-marah.
Tak lama, kami sudah sampai di depan rumah kost.
Tio turun dari mobil membukakan pintu mobil untukku, aku turun perlahan karena bawah perutku masih nyeri. Dia lalu merangkul pundakku berjalan sampai di depan kamarku.
"Jangan lupa minum obat ya, Na." pesannya.
Aku mengangguk.
Tio mendekatkan kepalanya dan mengecup keningku lalu berkata, "Maafkan aku ya, sayang "
"Jangan minta maaf terus, Tio. Kita sama-sama salah.. " Ku hela napas pelan.
"Aku sedih kamu sakit begini, sayang. Kabari aku terus biarpun aku sibuk, Oke?" Dia mengelus pipiku.
"Ya... " sahutku tersenyum.
"Oke, aku balik yah, " ucapnya menepuk pipiku lembut.
"Hati-hati, yang" kataku, dijawab dengan anggukan kepala oleh Tio.
Kemudian pria yang kucintai ini pun berbalik arah.
Mataku terus mengikuti langkahnya yang menjauh sampai di ujung koridor. Sebelum badanku berputar membuka pintu kamar, kulihat dia merogoh ponsel, menatapnya sekilas lalu berjalan cepat.
Mungkin ditelponin kantor jadi buru-buru.
...... ***