Loni, aku ga enak badan, kayak mau flu, Gimana yah.. Aku ga tau bisa hadir ga nih.
Setelah mengetik pesan melalui chat Wa, ku tekan tombol send.
Sembari menunggu responnya, aku habiskan sarapanku berupa roti tawar selai kacang dan segelas s**u.
Ting. Suara ponselku.
Notif masuk dari Loni, k*****a dalam hati.
Ga parah kan, Lia? Masih bisa bangun kan? Kan acara pembukaan sore hari, masih ada beberapa jam lagi, kamu istirahat dulu, minum obat. Bisa kan?
Sebetulnya, aku tahu ini bukan gejala flu tetapi hanya itu alasan yang terlintas di pikiranku.
Sejak semalam setiap aku kencing, daerah intimku terasa nyeri dan rasanya urine yang keluar tidak pernah tuntas. Daerah bawah perut juga terasa sakit.
Itu seperti gejala ISK, mirip dengan apa yang k****a di artikel kesehatan Google. Jika iya, apakah Ini dampak dari hubungan intimku dengan Tio? Sampai sekarang aku tidak tahu asal mula keintiman itu terjadi, hanya saja besoknya aku terdampar di ranjangnya dengan sedikit ingatan yang melekat.
Ini dosa akibat hubungan terlarang, batinku terus menuduh.
Ting. Notif chat Wa masuk lagi dari Loni.
Lia, Pak Boss barusan wa , suruh ingatkan kamu. Jadi datang ya, flu dikit-dikit ga pa pa kali.
Ku hela napas panjang, bukan aku tak mau datang tapi kondisi ku yang tidak memungkinkan.
Namun, aku juga sadar akan tanggung jawab pekerjaanku.
Baiklah aku akan usahakan datang biarpun hanya sebentar. Aku juga sudah berjanji akan menunaikan tanggung jawabku pada Pak Boss.
Kubalas chat nya mengabari keputusanku .
Oke, deh. Aku istirahat dulu ya, doakan aku cepat pulih.
Jam menujukkan pukul sebelas siang, masih ada beberapa jam lagi untuk sampai ke jam lima sore. Cukuplah buat istirahat dulu. Minum obat anti nyeri mungkin bisa mengurangi sakit.
12.30. Am.
Aku terbangun dari tidur siang karena kebelet pipis. Ku langkahkan kaki ke kamar mandi dan duduk di atas toilet.
"Ssssh.. " ringisku menahan sakit. Hanya sedikit urine yang keluar disertai rasa terbakar. Aku kembali ke kamar, minum air lebih banyak, barangkali bisa mendorong menuntaskan urine yang tertahan. Namun, tetap saja tidak bisa. Jadinya aku bolak balik ke kamar mandi dengan langkah tertatih-tatih, kencing dikit-dikit yang disertai rasa perih.
Capek banget.
Kepalaku pusing, kupegang dahiku, terasa panas, sepertinya aku demam. Kucari thermometer di laci lemari meja buat ukur suhu badanku.
"Astaga, pantas kepalaku pusing. " gumamku lirih melihat angka yang tertera di thermometer. 39 derajat Celcius.
Aku harus minum obat paracetamol.
Untunglah aku selalu stock obat-obatan di kamar kost. Ku ambil satu butir obat penurun panas di kotak obat dan menelannya dengan selingan air putih hangat.
Obat yang ku minum semua itu hanya untuk menahan sakit dan menurunkan suhu tubuh saja tapi selama aku belum meminum obat antibiotik, aku akan tetap merasakan sakit jika daya kerja obat itu sudah habis.
Aku harus ke dokter, tapi dimana ada dokter praktek di hari minggu? Apa aku tunggu sehari lagi?
Kubaringkan tubuhku lagi di atas ranjang, menarik selimut sampai ke pundak, aku kedinginan walau badanku panas. Fix, aku terserang demam, pasti ada bagian tubuhku mengalami infeksi.
Aku hanya berharap obat paracetamol yang ku minum ini dapat menurunkan suhu tubuhku walau nyeri di bawah perut belum reda.
Aku tidak tahu berapa jam aku tertidur sampai aku mendengar dering ponselku bertalu-talu, mungkin yang menelpon kesal aku tidak segera menjawab panggilan seperti yang dia mau.
Dengan malas ku raih ponselku di atas nakas.
"Hallo?" Suaraku serak.
"Liana, kamu kemana aja, aku chat ga kamu jawab?" Suara Loni di ujung telepon.
"Maaf, aku ketiduran... "
"Loh masih tidur? Kamu tahu ga jam berapa? Udah setengah lima loh!" gerutu Loni.
"Loni... Aku kayaknya ga bisa deh hadir.. " lirih suaraku.
"Lho? Kamu kenapa? Belum baikan juga?" Nada prihatin terdengar.
"Aku demam, Loni.. Badanku lemas. "
"Astaga! Kamu ga ke dokter? Nih lagi musim Dbd loh. Hati-hati. "
Aku diam.
"Lia, mending kamu ke UGD deh. " saran Loni.
"Kan harus tiga hari baru bisa pastiin. " kilahku.
"Iya sih, tapi ke dokter lah biar dikasih obat yang pas. Lebih cepet lebih baik kan? Emang kamu mau rawat inap?"
"Jangan sampe... "
"Maka itu, ke dokter lah, minta tolong Tio antarin, pacar sendiri loh. " desak Loni.
"Iya... Sampaikan ke Pak Boss ya, sorry banget aku ga bisa hadir. "
"Oke, kabarin ya, Lia. Jangan sungkanan jadi orang kalo butuh bantuan. "
"Iya.ya..makasih.. "
Aku mengakhiri obrolan, meletakkan kembali ponselku. Aku paksa tubuhku yang lemas bangkit dari ranjang,
Perutku lapar tapi mau beli makanan juga rasanya malas, hanya ada biskuit yang tersisa, tak apalah untuk mengganjal perut dulu.
Jangan sungkan kalo butuh bantuan orang.
Loni benar, aku harus jadi orang yang flexible.
Aku meraih ponselku lagi, membuka fitur wa dan mencari kontak nama Tio tapi sebelum kepencet tombol panggilan, ponselku terlebih dulu bunyi. Ternyata Pak Boss yang menelpon.
"Iya, Pak?" sapaku dengan suara lemah.
"Liana, kata Loni, kamu sakit?" suara lembut Pak Boss
"Maaf, Pak, tidak kasih kabar" kataku tak enak hati, rasa takut dimarahi menyelinap.
"Apa gejala dbd?" Pak Boss mengabaikan permintaan maaf ku, sepertinya lebih fokus kepada sakit ku.
"Hm. Ga tahu, Pak." . " Aku berharap dia tidak mendesakku lagi. Tak mungkin aku ceritakan detail gejala yang kualami.
"Belum ke dokter?"
"Ini hari Minggu, Pak.. "
"Ya, aku tahu. Rumah sakit kan buka?"
"Mungkin besok senin saja, Pak." kilahku.
"Tapi kamu kuat sampai besok?" Hembusan napasnya terdengar jelas.
"Iya... "' jawabku tak yakin.
"Jangan remehkan sakitmu, Liana!" tegasnya yang menurutku berlebihan, siapa juga yang meremehkan.
"Ya, Pak... "
"Oke, kalau besok masih demam, kamu harus ke rumah sakit. Aku tak bisa mengantarmu karena ada tamu dari Jepang. Kabarin kalau kamu perlu bantuan, aku bisa suruh Pak Sopir antar kamu ke rumah sakit. "
Hah? Antar aku ke rumah sakit? Yang benar? Pak Boss...
"Itu karena kamu pegawaiku, aku Boss mu!" lanjutnya cepat.
Eh? Apa dia tahu apa yang di benakku? Tak memberiku kesempatan ge er sendikit saja?
"Ya.ya, Pak.. Maka... "
Tuuuut... Sambungan diputus sepihak.
"Seenak udel!" gumam ku kesal. Namun, terbersit senyum di bibirku. Siapa juga yang tidak suka diperhatikan atasan? Tapi sebatas itu saja sih, aku tak mungkin juga membiarkannya mengantarku ke rumah sakit menemui dokter. Ini bukan sakit biasa, apa yang dipikirkannya tentang aku jika dia tahu aku mengalami gejala ISK? Ah, jangan sampe! Mau ditaruh di mana mukaku?
Aku harus banyak makan biar tubuhku bisa melawan infeksi bakteri. Aku pesan makanan lewat aplikasi grabfood, aplikasi yang memudahkan ruang gerak, tidak perlu keluar rumah beli makanan.
Sedetik aku lupa sakitku sebelum rasa kepengin pipis menyerangku lagi.
"Tiap kali pipis perih... " desisku melipat bibir.
Gara-gara sakit ini aku tidak bisa hadir dalam acara pembukaan pameran yang meriah padahal aku jauh-jauh hari sudah menantikannya.
Semoga besok aku lebih mendingan.
***
"Nona Liana, ... "
"Ya?" jawabku lalu menghampiri Petugas yang memanggilku tadi. Usaha antri hampir setengah jam akhirnya berhasil juga.
"Ini obat antibiotik diminum tiga kali sehari, habiskan, obat anti nyeri bila sakit saja, " Petugas apotik menjelaskan takaran obat yang harus ku minum. Aku menganggukkan kepala tanda mengerti.
Semalam badanku panas lagi walau tidak sepanas pertama kali. Jadi kuputuskan pagi ini pergi ke klinik dimana aku biasa berobat. Dari hasil pemeriksaan aku positif terkena ISK ( Infeksi saluran kemih) seperti dugaanku.
Untunglah dokter yang menangani ku seorang wanita jadi aku tidak harus terlalu menanggung malu. Kan lebih nyaman jika diperiksa sesama wanita. Namun, tetap saja dia mengernyit heran melihat kondisiku, entah apa yang ada di pikirannya aku pura-pura tidak peduli.
"Infeksi seperti ini jangan dibiarkan, bakteri bisa merusak ginjal. " jelas dokter wanita berumur sekitar lima puluhan itu.
"Jaga kebersihan, sementara ini hindari dulu hubungan intim karena bisa mendorong bakteri masuk ke daerah ginjal. " Dokter berkata dengan intonasi datar tapi bagiku bagai suara hembusan angin badai di gendang telingaku.
Aku diam tak mau mengiyakan ataupun menyanggah, dia seorang dokter pasti sudah tahu sebab penyebabnya penyakit ini apalagi tadi sempat meriksa bagian bawah tubuhku ini.
"Jika dalam beberapa hari setelah minum obat belum ada perubahan atau alami demam lagi segera balik ke sini. " pesan dokter bertag nama Inry.K di dadanya itu.
Aku menggangguk tegas. Aku harus sembuh. Aku yakinkan diri tak kan balik lagi ke sini dengan penyakit yang sama.
Saat aku berbalik badan setelah menebus obat di apotik, aku melihat seorang wanita cantik berambut ikal sedang berjalan berlawanan arah denganku. Entah mengapa aku seperti pernah melihat dia, familiar. Rasa penasaran ekor mataku terus mengikuti arah langkahnya dan berhenti di ruang tunggu dokter kandungan. Di klinik ini memang berkumpul beberapa dokter praktek spesialis.
Wanita muda yang ku taksir berumur sekitar dua puluhan ini belum tampak perut hamilnya. Asumsi ku dia mungkin sedang hamil muda.
Ga keliatan suaminya, apa dia....?
Aku menggeleng kepala mengibaskan pikiran negatif yang tiba-tiba saja menghinggapi otak ini.
Ku langkahkan kaki menuju pintu keluar klinik. Biarpun jalanku belum normal tapi aku masih kuat jalan.
Di pelataran luar klinik, aku memesan ojek online lewat aplikasi hijau.
Andai Tio bisa menjemputku...Tetapi tak mungkin! Dia sedang banyak pekerjaan. Semalam aku kabari, dia bilang sangat sibuk. Memang sih terakhir ketemu di apartemennya, dia ditelpon oleh kantor, kayaknya ada masalah yang harus segera diselesaikan. Tio hanya menyematkan emoji peluk dan love saat ku kabari aku sakit lewat aplikasi chatting.
Beberapa menit menunggu ojek, aku iseng melihat apakah Tio sedang online atau tidak di aplikasi Wa.
Ternyata seperti harapanku, sedang online.
Hm, coba aku kirim wa, nanya kabar.
Sayang, lagi sibuk yah.
Selesai mengetik, tanpa sengaja jemari ku menyentuh tombol panggilan.
Tiba-tiba terdengar bunyi dering ponsel yang khas, lagu kesukaan Tio.
Tio ada di sini? Kok...?
Kutolehkan kepala mencari sumber suara.
Kelopak mataku terangkat, kaget mendapati seorang pria berkulit putih berbalut kemeja panjang warna biru muda, sedang berdiri di samping mobil Fortuner, tak jauh dari tempatku berdiri. Dia sedang menunduk mengamati ponsel di tangannya.
"Tio..???!" Tanpa sadar suaraku keluar begitu kencang mengagetkan pria yang sedang dalam atensi ku ini.
Dia mendongakkan kepala, tak kalah terperanjatnya dengan aku.
"Liana.... Sayang..?!"