Di bawah pancuran air shower yang mengucur membasahi tubuhku, dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, ku sabuni tubuhku yang lengket ini dengan cara menggosoknya dengan spon. Ketika tanganku menyabuni bagian d**a, sesaat mataku terpaku pada beberapa noda merah di sana, sepertinya ini bekas keintiman panas kami semalam? Apakah ini seperti yang dikatakan Tio, kami melalui malam dengan gelora yang membara? Jika begitu, apakah ini sisi liar diriku tetapi mengapa ingatanku begitu payah? Ku pejamkan mata dan menghela napas panjang, mencoba menarik kembali memori yang menjauh, barangkali ada satu dua potong memori yang tertinggal di otakku ini? Namun, aku terlalu lemah untuk mengingatnya.
"Sssh.. " ringisku merasakan perih di daerah selangkanganku.
Ah, mengapa seperih ini? Seakan aku telah melewati pergulatan sepanjang malam tanpa henti.
Aku cepat menyelesaikan ritual mandi ku, rasanya semakin perih saja terkena air.
Tak butuh waktu lama, aku sudah berpakaian rapi dengan meminjam baju kaos punya Tio dan memakai kembali celana panjangku bekas kemarin.
Aku berjalan keluar kamar dengan langkah yang tertatih sedikit karena menahan sakit, menuju dapur mungil milik Tio. Pria berbalut kaos putih bermerk penunggang kuda itu sedang memanggang roti. Mendengar langkah kakiku, dia pun menoleh.
"Hai sayang,...." sapaannya nan lembut menyapa gendang telingaku.
Aku mengulas senyum tipis,
"Kamu kenapa sayang, jalanmu.. " jeda Tio mengernyit dahi, mungkin sadar akibat yang telah dilakukannya padaku semalam.
Dia menghentikan kegiatan panggang rotinya, segera mendapatiku, dan memapahku duduk di kursi makan.
"Kamu duduk di sini dulu yah, sayang. Aku buatkan sarapan untukmu." Kecupnya di keningku.
Perlakuannya yang begitu manis membuatku lupa sejenak dengan kesakitanku.
"Ini roti panggang keju dan s**u, telur rebus setengah matang untuk memulihkan stamina, " ujarnya setelah meletakkan sejumlah sajian tersebut di atas meja.
"Makasih.. " kataku lirih.
Tio menarik kursi duduk di depanku.
"Maafkan aku yah sayang... " ucapnya sembari mengelus pipiku.
Permintaan maaf? Untuk apa? Bukankah hubungan ini karena maunya aku seperti penuturannya?
"Aku jadi malu, yang. Kelakuanku semalam pasti... " Aku menjeda, menahan napas. Bagaimana pun aku telah menjadi wanita yang liar di ranjang apalagi aku yang meminta-minta dipuaskan seperti kata Tio? Seketika aku merasakan wajahku memanas.
"Na, mengapa harus malu, kita melakukan karena saling cinta kan? Hubungan kita udah tahunan, kita udah seperti suami istri, kita juga dua orang yang sudah dewasa, kan?" Tio menyelipkan rambutku di belakang telinga, mengulas senyum.
"Aku tahu, tapi aku merasa sudah melanggar janjiku sendiri. Tio.. Mengapa kamu tidak mengingatkan ku kalo aku udah kelewat batas?" Aku melipat bibir ke dalam. Tio terkekeh.
"Na, aku ini lelaki, sulit bagiku menolakmu, wanita cantik sepertimu lagian ini juga bukan pertama kali kan?" sanggahnya.
Sedetik aku merasa bodoh telah melontarkan pertanyaan itu. Tentu, mana ada kucing menolak ikan asin yang disodorkan? Tak ayal, wajahku semakin memanas oleh rasa malu yang menjalar sampai ke ubun-ubun.
Namun, aku juga semakin sadar bahwa dalam hal ini kami berbeda prinsip. Aku merasa tertuduh karena melakukan kesalahan yang sama sedangkan bagi Tio, ini hal yang lumrah karena kami sudah pernah melakukan hubungan intim itu, tak ada salahnya melakukannya lagi dan lagi, asal demi cinta.
"Na, tenanglah, kamu juga tidak hamil kan?" bisiknya lembut.
Mataku sedikit melebar, pertanyaannya menyentilku. Ya benar, aku memang tidak hamil dari hubungan intim yang pertama.
"Kalau kamu hamil kali ini kita akan lebih cepat menikah? Simple kan?" Tio menggedikkan bahu sambil membuka kedua tangannya.
Ah, mengapa dia bicara se enteng itu?Apakah maksudnya, jika aka tidak hamil, tidak perlu dinikahi cepat?
"Jadi.. Kalo aku tidak hamil.. Ga perlu nikah cepat..?" selorohku, lirih.
Tio terkekeh lagi.
"Ga dong, sayang. Kamu itu cepat berasumsi... Jangan pikir yang aneh- aneh yah. Lebih baik kita makan dulu. " ujarnya seraya mengupas kulit telur dan memberikannya padaku telur yang sudah terkupas itu. Aku tersenyum mendapatkan perhatiannya.
Kami lalu menikmati sarapan pagi, dengan berbincang ringan seputar pekerjaan. Aku ber antusias menceritakan progress hasil kerjaku, pengalaman pertamaku menjadi leader tim ku. Tio menyimak dengan seksama, sekali-kali dia mengacungkan jempolnya. Tampak sekali dia mendukung karirku.
"Uhuk.. " Aku terbatuk merasakan tenggorokan kering karena terlalu banyak bicara.
"Pelan-pelan, Na. " kata Tio, dia lalu mengambil segelas air putih untukku.
"Makasih." ucapku meraih gelas yang diberikannya padaku
Setelah meneguk air di dalam gelas, aku amati gelas di dalam genggamanku ini, bentuknya cantik dengan ukiran bunga dan daun yang timbul melingkari gelas.
"Gelasnya cantik, " pujiku.
Deg.
Tiba-tiba perasaanku berkata aku pernah melihat gelas ini dan mengucapkan pujian yang sama.
Dejavu.
"Ada apa, Na? Kamu kok mendadak tegang?" Tio mengibaskan telapak tangan di depan wajahku.
"Oh, gapapa.. Aku hanya terpesona dengan gelas ini saja." sahutku memaksa senyum.
"Kamu suka? Aku punya satu lusin.Mau?" tawarnya
"Kayaknya ini beli di luar negeri ya." kataku asal. Aku tak menanggapi tawarannya sebab fokus ku bukan kecantikan gelas itu.
"Tepat, itu mami yang beliin, katanya unik, selera mami memang berkelas. " puji Tio pada maminya. Apapun tentang maminya, Tio selalu bersemangat cerita.
Aku manggut-manggut saja. Pikiranku sedang berkelana.
Ini bukan tentang uniknya si gelas, tapi ada sesuatu yang..akh.
Kupijit pelipisku, mendadak pusing.
"Sakit kepala ya? Mau istirahat dulu di kamar?" tanya Tio memperlihatkan gestur wajah khawatir, "kayaknya kamu kurang tidur semalam. Mau ku ambilkan air es lagi?"
Gelas, air es, tidur malam? Tiga kata ini seperti puzzle yang saling terhubung dan melengkapi.
Deg!
Ku dongakkan kepala, menatap inten Tio.
Pria berkulit putih ini mengernyit heran dengan tatapan tajamku.
"Ada apa, Na? Kamu kok jadi aneh?"
"Sayang, kamu semalam tidur jam berapa?" tanyaku serius.
"Hmm.. Hampir jam satu kali, aku ga ingat.. Yang kuingat setelah siaran bola di TV berakhir. Ada apa?"
Aku melipat bibir, ragu berucap.
"Ada apa, Na?" tanya Tio untuk kedua kali.
"Tio, aku kayaknya ingat semalam..... " Suaraku terjeda oleh dering telepon yang tiba-tiba bunyi.
Tio merogoh ponsel di kantong celana jeansnya. Melihat sekilas ponsel itu lalu menatapku, "Na, ada telpon masuk. Kayaknya penting, aku terima telpon dulu. " Kemudian Tio berjalan menjauh ke arah ruang tamu berjarak sekitar 4 meter.
Sementara Tio menerima panggilan telepon, aku duduk bersandar dengan bahu luruh, termenung. Memoriku sudah kembali membawa satu kenyataan yang membuatku sulit menarik kesimpulan.
Semalam, sesudah aku meninggalkan Tio yang sedang asyik nonton siaran sepak bola di Tv, aku kembali ke kamar. Rasa kantuk yang berat membuatku cepat terlelap. Aku terbangun kembali, entah jam berapa aku tidak ingat. Aku merasa haus, terasa kering di tenggorokan, aku lalu keluar kamar mencari air minum.
Sebelum ke dapur, aku melewati ruang tamu, ku lihat lampu sudah dimatikan, berarti Tio juga sudah masuk kamar.
Kutekan tombol on pada sakral lampu, ruangan dapur pun menjadi terang. Ku cari gelas bekas ku di atas meja, ternyata sudah dicuci, aku lalu mencari gelas baru di rak piring. Kutemukan gelas kaca unik dengan ukiran bunga dan daun yang melingkar di gelas.
Cantik banget ini gelas, aku membatin .
Di atas meja ada teko ukuran sedang berisi air minum. Aku pun menuangkan air teko itu ke gelasku. Meneguknya perlahan, seketika air membasahi tenggorokan memberikan rasa segar.
Selang beberapa detik, kepalaku mendadak pusing, pandanganku menjadi nanar, sebelum aku hilang kesadaran, menutup mata, aku masih sempat melihat bayangan mendekatiku. Paginya aku bangun tidur dan mendapati diriku berada di kamar Tio.
Hanya itu yang kuingat, selebihnya apa kata Tio aku tak ingat sama sekali.
Tio masih terlibat obrolan alot di telpon, sepertinya memang ada masalah di perusahaan tempat dia bekerja. Ada sentakan-sentakan dalam nada bicaranya.
"Oke, saya ke sana, kasih tahu bagian gudang jangan pulang dulu!" sentak Tio lalu mengakhiri sambungan telepon, menyugar rambutnya kesal.
Tio lalu menghampiriku, wajahnya masih terlihat tegang.
"Na, ada masalah di kantor ku, aku mau ke sana? Kamu gimana?"
"Ngg.kamu buru-buru?"
"Iya sih, apa kamu di sini sampai aku balik?" tawar Tio.
"Ga usah, aku pulang sendiri aja." putusku.
"Kamu gapapa pulang sendiri?" Alis Tio bertaut.
Aku mengangguk pasti.
"Oke, hati-hati yah. " Dia membelai rambutku lembut, "Na, maafkan aku ya ga bisa antar kamu pulang. Kamu telpon aku kalo udah sampai yah, "
Sekali lagi aku mengangguk.
Walau sedikit kecewa, mau tak mau aku harus merelakan Tio berangkat ke kantornya sedangkan aku kembali ke kost.
Padahal aku ingin menanyakan banyak hal kepadanya perihal kejadian semalam, tapi sepertinya kondisi tidak memungkinkan. Jika aku memaksa pasti Tio akan marah. Mungkin lain kali saja.
Aku pun pulang naik taxi online. Sepanjang perjalanan ke tempat kost, aku terus memikirkan ingatanku itu. Mengapa aku hanya mengingat secuil saja? Kemana potongan ingatan seperti yang Tio bilang itu? Rasanya aneh.
Apakah.. Apakah..
Aku menggeleng kepala keras, menghalau pikiran negatif yang tiba-tiba menghinggapi otakku.
Tidak mungkin! Tio tak kan mungkin melakukan hal di luar nalar.
Aku menarik napas dan menghembuskannya berulang.
Sesampai di tempat kostku, aku menyalakan AC, lalu membaringkan tubuhku.
Rasa perih masih terasa, badanku juga ikut lemas.
Drrrrt. Ponselku bergetar.
Ku raih benda persegi empat itu dari dalam tas, kulihat ada notifikasi wa masuk dari Pak Boss.
Liana, besok pembukaan pameran, kamu hadir lebih awal yah.
Kubalas dengan cepat.
Siap, Pak. Saya akan datang lebih awal.
Notifikasi masuk lagi.
Baik, jaga kesehatan yah.
Makasih, Pak.. Balas ku.
Sebenarnya tanpa diingatkan pun aku pasti datang lebih awal karena ini masih menjadi tanggung jawabku. Yah, mungkin saja tujuan Pak Boss mengirim pesan chat untuk memastikan dan membuat hatinya lebih lega. It's okay.
Aku senang akhirnya segala kerja keras aku dan tim-ku membuahkan hasil. Besok adalah Grand opening Pameran Computer dan Elektronik kerja sama dengan perusahaan Jepang. Aku berharap sampai pada hari H semua berjalan dengan lancar.
***