Bab. 14. Rasa-rasa yang Aneh Bag. 2

2720 Kata
Drrrrt. Ponselku berdering, sekejap benda pipih itu sudah menempel di kupingku. "Na, bentar lagi aku sampai, kamu nunggu di luar ya " Suara Tio. "Oke." jawabku singkat, memasukan ponselku ke dalam tas jinjingku dan melangkah ke luar gedung. Tak menunggu lama Tio sudah tiba dengan mobilnya, berhenti persis di depanku. Aku membuka pintu mobil dan duduk di sebelahnya. "Ga lama nunggu kan, Na?" Senyum Tio. "Ga sih. " jawabku. Sedetik mataku menangkap gerakan mobil di parkiran khusus di depan gedung perusahaan. Itu kan mobil Pak Boss, dia belum pulang? "Kenapa, Na?" tanya Tio sambil menjalankan mobilnya, mungkin dia keheranan aku terus memandang mobil Pak Boss. "Ga papa. kupikr Pak Messach sudah pulang dari tadi." jawabku. Tio hanya ber-oho saja. "Hmm.. Kamu ke apartemenku saja yah, inap. " ajak Tio mengelus pundak ku dengan tangan kiri. Aku menoleh. Tumben. "Aku kangen sama kamu, Na. Udah lama kita ga ketemu." Suara Tio terdengar berat. "Tapi masa harus inap? Ku kan ga bawa baju." kilahku. "Aku ada beli baju buat kamu. " "Hah? Baju apa?" tanyaku spontan dengan gestur wajah ceria. "Lihat saja, nanti. " Senyum simpul Tio. "Tapi Tio, apa kata orang kalau aku inap di apartemenmu. " kataku ragu. "Penghuni apartemen itu cuek semua." Tio membelokkan arah mobilnya. Aku tahu itu bukan arah jalan ke tempat kostku. Ternyata dia sangat serius mengajakku menginap di apartemennya. "Tio, kamu salah jalan!" protesku karena dia tidak meminta persetujuanku. "Na, aku kangen sama kamu, aku pengen kita banyak ngobrol sepanjang malam, tentang kelanjutan hubungan kita." sanggahnya. Kelanjutan hubungan? Artinya melangkah ke jenjang lebih serius? "Kamu serius, Tio?" Aku menatapnya dari samping. Tetiba hatiku bergejolak melihat responnya, dia tersenyum lebar, pria yang kucintai ini mengelus kepalaku, jawabnya, "Yah, sayang... ." "Tapi besok aku kerja... " Masih terselip rasa ragu di hati. "Besok weekend, Na." "Oiya.. " Aku terkekeh. Kok aku jadi lupa yah? "Gimana.. Sebelum aku putar balik arah nih? " Tio melirikku, ada kedutan senyum di sudut bibirnya. "Okeylah, asal kita bisa menjaga diri." jawabku menyetujui. "Na, kita kan sudah... " Kalimatnya terhenti karena sudah ku sela duluan. "Cukup sekali, Tio. Itu kecelakaan.. " lirih ku, mengingat kejadian itu aku merasa tertuduh. "Maafkan aku... " ucap Tio menghela napas. "Ya, kita kan sudah janji kan, Tio.. " Aku menggigit bibir, sejujurnya aku sendiri takut tak bisa menepati janji. Itulah mengapa aku sering menghindar jika keintiman tercipta di antara kami. "Okey, lupakan yah, Na daripada kamu merasa bersalah terus." Tio menggenggam jemariku. Aku mengangguk mengiyakan. Kurang lebih dua puluh lima menit perjalanan, kami pun sampai di apartemen Tio yang berada di lantai lima. Tio merangkul pinggangku memasuki apartemennya. "Kamu pasti belum makan kan?" tanya Tio saat kami sudah ada di dalam ruang tamu apartemen. Aku lalu duduk di sofa menyandarkan punggungku. "Ya, udah lapar." sahutku, "emang kamu masak, yang?" "Spaghetti, mau?" tawarnya. "Boleh deh. Tapi aku mandi dulu yah... " Sejenak aku tersadar kalau aku tidak membawa baju ganti. "Pake baju kaos dan celana hawai ku aja, oke?" Tio cukup peka apa yang ada di benak ku. "Ya deh, " Aku setuju daripada tidak ganti baju, "eh.katanya kamu beli baju untukku?" Aku teringat ucapannya tadi. "Ya, Na. Itu lingerie, apa kamu mau pake di depan aku?" godanya mengedipkan mata. Aku mencibik, "Maunya gitu yah.. " Tio tertawa. Dia lalu masuk ke dalam kamarnya mengambil baju ganti yang dimaksud dan memberikannya padaku. "Okey, kamu mandi yah, aku bikin spaghetti dulu. " Aku mengacungkan jempolku kemudian melangkahkan kaki menuju kamar tidur tamu. "Na..!" panggil Tio. Aku menoleh, dia menyodorkan paperbag. "Kamu coba aja di kamar ya." "Iya.. Makasih yah, yang. " ucapku lalu melangkahkan kaki yang tertunda tadi menuju kamar tamu sambil menjinjing paper bag berisi baju tidur lingerie. Lima belas menit di kamar mandi, aku keluar dengan lilitan handuk di kepala, mencari Tio di dapur dan kupastikan dia sedang memasak spaghetti. Ternyata tidak ada. Kemana dia ya? Kok ga bilang mau keluar? Aku pun mengambil botol minuman di kulkas menuangkannya di gelas. Kuteguk air dingin itu, terasa segar membasahi tenggorokanku yang kering. Setelahnya aku mengambil tutup gelas buat menutup gelas bekas yang kupakai. Kreet. Suara pintu dibuka. Itu pasti Tio. Dan benar saja dia masuk membawa banyak tentengan kantong plastik. "Wah, banyak amat belanjanya." seruku. Tio menatapku tertegun, kulihat jakunnya naik turun, apa mungkin karena kaos yang kupakai ini agak sempit mencetak buah dadaku? "Agak sempit yah, Na?" Aku mengangguk malu. "Dari mana, yang?" tanyaku mengalihkan perhatiannya. Aku risih ditatap intens begitu. "Abis dari indomaret bawah, buat camilan nonton film." Tio memperlihatkan hasil belanjaannya. Waduh, camilan bikin gendut tapi ga apalah sekali-kali. Aku tersenyum tipis, ikut membantu mengeluarkan isi belanjaannya berupa soft drink, keripik kentang, dan kacang, tak lupa donat. Tio sendiri mengeluarkan dua bungkus nasgor dari kantong lain. "Na, sorry ga jadi spaghetti yah, tenyata mie -nya habis. Aku beli nasgor, ga papa kan?" "Yang penting kenyang aja. " timpalku. "Na, kalau kamu mau keringkan rambut ada hair dryer di kamarku." usulnya. "Hmm.. " Aku berpikir sejenak. "Udah, sana. Aku ga bakalan ngapain kamu!" Tio mendengus kesal membuatku cepat melangkah ke arah kamarnya. Di dalam kamar, mataku mengitari ruangan itu, semuanya tertata rapi, Tio tipe pria berjiwa seni, dia menatanya dengan cukup indah dipandang mata. Sejujurnya, selama aku pacaran dengan Tio, ini adalah yang kedua kali aku masuk ke kamarnya. Pertama kali berakhir dengan gelora panas yang berujung penyesalan di hatiku. Boleh dikata, aku tipe wanita konservatif. Aku sedemikian menjaga virgin-ku selama tahunan berpacaran dengan Tio apalagi mamaku selalu berpesan, virginitas itu milik suami. Namun, pada akhirnya pertahananku jebol juga, dua bulan lalu aku gagal berkomitmen walau aku memberikannya kepada orang yang kucintai, tapi tetaplah dia bukan suamiku. Semua yang terjadi di malam itu adalah kesalahan, aku tak ingin mengulangnya lagi maka aku memaksa Tio berjanji menjaga hubungan kami tidak keluar jalur lagi. Namun, tentu tidak mudah, ada kalanya gejolak itu bisa datang bagai gelombang panas hampir membakar kami berdua ketika kami berdekatan. Sejauh ini aku cukup bisa menahan diri, begitu juga dengan Tio untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Itulah alasan aku menolak diajak menginap di apartemennya, tapi untuk sekali ini saja aku mau, kan tujuannya untuk membahas pernikahan kami. Dan kulihat Tio tidak menampakkan gelagat "aneh" maka aku pun tenang. Aku secepatnya mengeringkan rambutku dan menyisinya. Tio sudah lama menunggu di luar. "Na.. Udah selesai belum?!" teriak Tio di luar kamar. "Bentar lagi selesai.. " balasku dengan suara kencang sambil menyimpan kembali hair dryer ke tempatnya. Saat aku keluar dari kamar pribadinya, kulihat Tio sudah duduk di sofa depan TV sedang mencari channel dengan remote dalam genggaman tangannya. "Sini, Na. Ku lagi nyari film Jacky chan." ucap Tio sembari menepuk sofa, isyarat menyuruhku untuk duduk di sampingnya. Ku henyakkan bokongku di sofa berwarna biru tua itu. "Kamu belum makan, Tio?" tanyaku melihat dua piring nasgor di atas meja depan sofa masih utuh. "Nunggu kamu, Na." katanya dengan mata yang menatap intens layar TV berukuran lima puluh inch. "Yo, makan dulu." ajakku. "Ya, bentar, kamu makan dulu, Na. " Tio masih fokus mencari channel film yang disukainya. Tadi katanya nunggu aku, sekarang di ajak malah suruh makan dulu. Tio tipe tak suka dibantah, jadi aku mengambil sepiring nasi di atas meja dan mulai menikmati nasgor yang membuat lidahku menari-nari. Enak. Dua menit kemudian, akhirnya Tio pun ikut makan bareng. "Enak yah, ini nasgor kaki lima yang paling kusuka." katanya melahap nasgor dengan ekspresi wajah kepedasan. Aku mengiyakan dengan anggukan kepala. "Aku ambilkan minum ya." kataku sembari beranjak ke dapur dan keluar lagi dengan dua gelas air putih. Ku sodorkan padanya, Tio meminumnya dengan perasaan lega. Pria berkulit putih ini mengusap keringat di dahinya akibat kepedasan. "Awas aslam loh kalo ga kuat pedas." Aku mengingatkannya karena dia ada riwayat asam lambung. Aku duduk di sampingnya dengan jarak dekat. "Makasih udah ingatkan aku, Na. Tapi aku kepedasan karena liat kamu." godanya, cubitanku langung melayang di pinggang pria bertubuh atletis itu. "Aduh..?!" ringisnya. "Serius dong, ah. " omelku sebal. Tio hanya cengengesan. "Hm, nonton film ya, Film Jacky chan ga ada yang baru, ganti lain yah, gimana?" tanya Tio. "Film apa yah..?" Bingung juga karena aku bukan penggemar berat film. Tidak banyak tahu film box office. Aku lebih suka membaca novel. "Mau genre apa? Thriller, comedy, action, atau romance?" tanya Tio sambil memencet tombol, mencari di saluran netflix. "Yang lucu aja deh." usulku, mengangkat kakiku ke atas sofa menekuknya dengan posisi duduk bersila. "Hm..bride wars Filmnya Anne Hathaway?" Bride? Tentang pernikahan? Siapa tahu bisa menyentuh hati Tio? Hm, bolehlah. "Sip!" Jariku melingkar membentuk huruf O. Film pun diputar, aku dan Tio menonton sambil ngemil. Abis ini naik sekilo deh timbangan. Adegan film itu cukup lucu membuat kami tertawa bersama. Satu setengah jam berlalu, film sudah usai dan aku pun mulai menguap ngantuk tapi kutahan rasa kantuk ini sebelum aku dan Tio terlibat pembicaraan serius. "Waktu kecil aku suka berkhayal menjadi pengantin, " Aku memancing reaksi Tio. "Anak gadis memang suka berkhayal kayak gitu yah, " timpalnya mengelus bahuku. "Ga cuman itu, malah main pengantinan."'Senyumku. "Hm, siapa yang jadi pengantin pria waktu itu?" "Aku udah lupa, tapi aku hanya ingat ada anak cowo tetanggaku, kulitnya coklat. Anaknya tinggi, sampai aku harus mendongak menatapnya. " "Siapa anak cowo beruntung itu?" "Eh, itu kan masa kanak-kanak." Sikutku. Tio terkekeh, "Tapi aku cemburu loh. " "Ah, ada-ada aja kamu ini. " Aku ikut terkekeh. Harapanku, kamu yang akan jadi pengantin priaku. "Ya, Na. Kita akan menikah abis tahun ini. Aku akan melamarmu nanti. Kamu siap-siap yah." Dia mengecup pucuk kepalaku, hatiku berdenyut bahagia. Tio menghadapkan tubuhnya ke arahku. Jemarinya membingkai wajahku Tatapan matanya lembut, satu detik kemudian satu kecupan singkat mendarat di bibirku. "Sayang, kamu tau aku cinta kamu kan...?" bisiknya. "Aku juga... " Pria berbalut kaos warna Navy itu mendekatkan kepalanya pelan, memiringkannya sedikit, hendak mengecup bibirku sekali lagi. Kali ini pasti beda, lebih mendalam, dapat kulihat dari sorot matanya. Aku menahan napas, otakku bekerja keras, apa yang harus kulakukan, ini memang bukan yang pertama kali tapi aku sadar ciuman ini akan berakhir membangkitkan hasrat kami. Sayang aku terlambat, bibirnya telah menyatu dengan bibirku, dan dapat kurasakan lumatannya. Bahkan aku tanpa sadar telah membuka mulutku memberinya akses lebih menjelajahi rongga mulutku dengan lidahnya, bahkan kini ciumannya semakin menuntut. Kali ini aku serasa tak menginjak tanah, perasaanku melayang tetapi aku masih punya sedkit kesadaran, bahwa ini salah. Aku harus bisa menghentikannya segera sebelum aku luluh. Ku dorong dadanya dengan kuat memisahkan tubuhnya yang berusaha menyatu dengan tubuhku. Tio sedkit terjangkang ke belakang. Tautan itu pun terlepas, aku langsung meraup udara dengan rakus melegakan paru-paru yang sesak. "Maaf, sayang.. " Tio meraup wajahnya. "Tio, maafkan aku juga. Kita tak boleh ingkar janji kita. Kamu mengerti aku 'kan?" Suaraku bergetar menahan segala gejolak rasa di d**a. "Ya... " Tio menghembuskan napas frustasi. Ya, aku tahu, sebagai laki-laki, dia pasti sulit menahan serangan hasrat birahi. "Aku cuci piring dulu. " Aku membereskan piring-piring di meja lalu membawanya ke dapur. Aku menarik napas panjang, mungkin keputusanku salah menginap di apartemen Tio, nyatanya kami berdua sulit menahan hasrat. "Na.. " Aku pura-pura tidak mendengar, menyibukkan diri mencuci peralatan makan. Suara langkah kakinya menjauh, ku hembuskan napas lega. Jujur, aku takut terulang kembali. Sekian menit aku di dapur menenangkan diri, kemudian aku kembali mendapati Tio masih di depan TV, sekarang dia sedang menonton pertandingan sepak bola. Telihat seru. "Tio... " Tak ada sahutan. Terlalu fokus hingga tidak mendengar suara ku atau dia sedang membalas kelakuanku tadi? "Goal! " teriaknya kencang, aku melonjak kaget,"Aduh!" Demi mendengar suara teriakanku, Tio menoleh, "Napa, Na?" "Kaget aja." Aku memberungut. "Duduk sini" Dia melambaikan tangannya. "Aku ga suka bola, aku tidur aja yah.." kilahku menunjuk kamar. "Oke, tutup pintu kamar biar ga dimasuki genderuwo. " Sekejap aku melihat kedutan di sudut bibirnya. Aku mendelik, Tio malah tertawa ngakak. Aku bergumam tak jelas sambil kaki melangkah menuju kamar, di sebelah kamar Tio. Tio, pria ini mengapa dalam tawanya aku merasa dia sedang mengejekku? Apa aku yang terlalu sensitif? Jam dinding menunjukkan pukul 22.15 saat kupandang. Aku mau beristirahat tapi baju kaos Tio yang kupakai ini tidak nyaman, agak sempit di d**a. Aku suka baju longgar buat tidur, lebih nyaman. Paper bag di atas meja rias menarik perhatianku. Aku belum membukanya, Tio bilang itu baju tidur, lingerie. Hm, seperti apa yah? Aku penasaran, ku lihat isinya, seketika mataku membulat, lingerie warna maroon bertali tipis. "Wow sexy banget." gumamku. tertarik untuk mencobanya. Aku mematut diri di depan cermin meja rias, ku pandangi diriku lewat pantulan kaca. Terlihat sexy dengan sembulan buah d**a yang tidak tertutup penuh. Aku menggidik bahu, terlampau 'seram' bagiku. Apa jadinya jika Tio tahu penampilanku saat ini, jangan sampe deh. Masih di depan cermin, aku berpikir untuk apa Tio memberiku baju tidur terbuka begini, hampir semua bagian tubuhku kelihatan. Hm, mungkin ini untuk 'malam pertama' kami nanti. Namun, aku suka kok, terasa ringan saja di pakai. Aku berjalan ke arah pintu memastikan pintu sudah terkunci rapat karena aku mau tidur dengan baju ini. Aku tak mau Tio atau siapapun masuk ke kamar ini melihatku dalam keadaan memakai lingerie, bisa memancing hasrat lelaki kan? "Wooah.. " Aku menguap, ngantuk berat. Aku menghempaskan tubuhku ke atas ranjang empuk. Tak berselang lama aku sudah masuk ke alam mimpi. Kring-Kring.. Kring.. Mataku mengernyit terganggu dengan suara alarm ponselku. "Ck! Jam berapa sih kok cepat banget pagi nih?" gumamku sambil tanganku meraba-raba mencari ponselku, masih dengan mata tertutup. Tidak ketemu, aku mulai kesal sebab alarm terus berbunyi, sedangkan aku masih ngantuk, belum lagi aku rasa badanku pegal semua seperti habis angkat beban berat. "Ck! Kemana sih?! gerutuku kesal. Ku buka mata pelan, tapi sedetik kemudian mataku melebar sempurna, sebab aku melihat warna tembok yang berwarna biru, padahal aku yakin aku tidur semalam di kamar dengan nuansa warna pink. "Aku ada di mana?!" "Nggggg.. " Sekali lagi aku dibuat kaget mendengar lenguhan seorang lelaki. Ku tolehkan kepalaku ke samping, ke arah suara. Jantungku hampir copot melihat seseorang tidur di sampingku dalam posisi tengkurap di tutupi selimut. Kusibak selimutnya cepat. "Tio??!" pekikku. Dia dalam keadaan telanjang! Tak berpikir panjang lagi, aku tahu sesuatu telah terjadi! Kusibak bagian selimut yang menutupi tubuhku. Oh, God! Ternyata benar! Aku dalam keadaan yang sama dengan Tio! Tanpa sehelai benang pun! "Ke.ke.a.ada apa ini??!" Suaraku bergetar. Aku sungguh tak ingat apa yang telah terjadi semalam. Sangat bingung. Mengapa aku bisa tidur di kamar Tio? Apa aku mimpi sambil berjalan? Aku hendak bangkit tapi aku merasa nyeri di bagian intim ku. "Ssssh..." Aku meringis sembari menekan bagian tubuh bawahku yang sakit. Tio, pria yang kucintai ini, membalikkan tubuhnya, tangannya membelai wajahku. "Pagi.. Sayang... " sapanya lembut. Ku tepis tangannya, aku dongkol karena Tio tidak menepati janjinya, tidak 'menyentuh' ku lagi sampai malam pertama pernikahan kami. "Kenapa aku ada di sini?!" ketus ku bangkit duduk perlahan menahan nyeri. Tio juga melakukan hal yang sama, dia duduk lalu tangannya merangkul bahuku dan berbisik dengan suara lembut,"Na, kamu tidak ingat kejadian semalam? Kamu mendatangiku memakai lingerie, kamu bilang ingin bercinta. Na, kamu sungguh-sungguh b*******h semalam. Kamu sangat hebat." "Aku?? Ba.. Bagaimana mungkin? Aku ga ingat apa-apa?" sanggah ku meremas sprei kuat, menahan gemuruh di d**a. Apa aku memang semalam menggoda Tio? Tapi kenapa aku ga ingat apa-apa? "Na, aku tak mungkin memperkosa mu kan?! Kamu juga sudah mengunci pintu kamar kan?!" Tio menekan setiap kata yang meluncur dari mulutnya. "Iya.. Ta.. Tapi..?" Ku gigit bibir bawahku. Yah, aku yakin sudah mengunci pintu kamar. Namun, bisa saja Tio punya kunci cadangan? Aku tatap Tio, "Kamu punya kun... " "Na!" Matanya melotot, "apa kamu pikir aku seburuk itu? Kalau kamu tidak percaya, kita lihat rekaman cctv!" "Apa!? CCTV di kamarmu?!" Aku panik. Astaga! Tak mungkin! Wajahku memucat. Tio meraih tubuhku dalam pelukannya. Dia membelai rambutku bermaksud menenangkan ku. . "Na, di dapur ada CCTV, maksudku semua bermula di dapur, kamu ga ingat sama sekali?" Aku menggeleng lemah "Yah, udah, asal kamu tahu semalam sangat berarti bagiku karena aku mencintaimu, kita juga akan menikah kan? Semua atas dasar cinta.. Kamu tahu itu kan, Na? Aku mencintaimu.. " "Iya.... " lirih suaraku, melemas dalam kungkungan Tio. Ini memang bukan pertama kali kuserahkan kehormatanku pada kekasihku, Tio. Aku sadar semua yang kulakukan atas dasar cinta. Aku tahu Tio mencintaiku, begitu pula aku tetapi mengapa di hatiku kini ada perasaan asing yng menghimpit, bukan perasaan bahagia yang membuncah di d**a? Apa karena aku lupa kejadian semalam? Aku bingung? Tapi rasanya bukan karena itu! Entahlah, aku sulit menguraikannya. Tio, betapa banyak asa ku gantungkan padamu.... ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN