Bab. 13.Rasa-rasa yang Aneh Bag. 1

497 Kata
Sejak insiden-insiden tak sengaja dengan Pak Boss, aku berusaha menjaga jarak, bukan sebagai atasan dan anak buah, tidak ada hubungan nya dengan pekerjaaan karena aku seorang yang profesional. Namun, menjaga jarak yang kumaksud adalah bila Pak Boss menawarkan diri mengantar aku pulang ketika aku lembur, atau ketika dia menawarkan makan malam bareng, aku tolak dengan halus. Bukan karena aku orangnya belagu tapi demi menghindari gosip-gosip yang kian santer terdengar mengilukan kuping. Memang sih statusnya Pak Boss masih sendiri, dia itu duda keren, jadi aku tak bisa disamakan dengan pelakor. Tak ku pungkiri juga andai aku belum memiliki Tio, pasti ku terima dengan senang hati jika Pak Messach melamarku. Namun, aku sudah punya tambatan hati. Tentu aku tak mau citra ku sebagai seorang yang setia pada pacar tercoreng hanya gara-gara kedekatanku dengan Pak Boss. Aku dapat melihat gestur wajah Pak Messach saat aku menolak halus permintaannya seperti yang aku bilang tadi, aku tahu dia kecewa atau barangkali dia tersinggung? Yah, sudahlah, tak perlu juga aku menduga-duga apa yang di hati Pak Messach walau Si Loni suka sekali menggodaku, katanya hatinya Pak Messach terpanah cupid, cinta mati sama aku. Akh, ada-ada saja Si Loni! Tahu dari mana dia? Yang pasti, aku mendingan menjaga jarak dan ku rasa keputusanku itu tepat. Akhir-akhir ini aku juga semakin sibuk menjelang hari H, dua hari lagi pameran akan berlangsung. Tim-ku bekerja keras memberikan yang terbaik, semua sudah ada di jalurnya, tinggal digelar di hari H. Patut kami berbangga jika Pak Boss puas dengan pekerjaan kami dan tentu saja bonus yang akan kami terima nanti bila berhasil meng sukseskan pameran perusahaan tempat aku bekerja ini dengan perusahaan Jepang. Pameran besar alat-alat elektronik dan komputer. Semoga semua lancar sesuai ekspektasi. Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Tepat jam 18.30. Sembari beberes, aku melakukan panggilan dengan Tio yang berjanji akan menjemput ku pulang ngantor. "Liana, sebentar lagi aku nyampe yah." katanya di seberang sebelum aku menyapanya. "Aku tunggu ya di lobby." "Oke." Panggilanpun berakhir lalu aku yang sudah bersiap bergegas turun menuju lobby. Di sana, aku duduk di sofa panjang menunggu kedatangan Tio sambil scrolling i********:. Tap.. Tap.. Tap.. Langkah kaki yang familiar menembus pendengaranku. Langkah tegap Pak Boss. "Malam, Pak.. " sapaku ketika Pak Messach melewatiku. Dia menghentikan langkahnya, menoleh ke arah ku. "Belum pulang, Liana?" tanyanya, mengernyitkan dahi. "Lagi nunggu jemputan, Pak." jawabku tersenyum tipis. Pak Messach mengangguk dan tanpa berkata lagi dia berjalan menuju pintu keluar yang terbuat dari kaca. Sejenak ada perasaan aneh merayapi hatiku saat aku memandang punggungnya sebelum dia menghilang di balik pintu. Rasanya tak rela dia berjalan begitu cepat tanpa ada perbincangan lebih. Tadi gestur wajahnya pun datar, malah terkesan sangat kaku. Memang sih pembawaan Pak Boss begitu tapi sejak kedekatan kami beberapa waktu lalu, jika berpapasan dia akan melebarkan sudut bibir, memperlihatkan lesung pipinya yang manis dipandang. Akhir- akhir ini sejak aku menjaga jarak, tak lagi kulihat senyum manisnya itu. Dan entah kenapa aku jadi merindukan senyumannya. Ah, perasaan apa ini, ku tepis tanganku ke udara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN