Selesai acara wisuda, Aira dan ibunya kembali ke rumah menggunakan aplikasi mobil online. Sampai di rumah Aira kemudian langsung masuk ke kamar, mengambil handphone dan menelpon Sabiru
[Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif]
"Apakah operasinya belum selesai". Tanyanya pada diri sendiri.
Hari ini sedikit aneh, mengapa Sabiru tiba-tiba pergi, bukankah ia bilang sebelumnya bahwa dia mengambil cuti untuk hadir di acara wisudanya. Seandainya ada operasi mendadak bukankah ada dokter kandungan lain yang standby di rumah sakit. Jangan-jangan Sabiru melihat Marcela datang tadi.
Aira tidak tenang, kemudian ia menelpon teman Sabiru yaitu Novan.
Novan yang kini sedang istirahat di ruangannya sambil bermain game online dan menyeruput kopi instan tiba-tiba terbatuk karena terkejut melihat nama Aira muncul di layar ponselnya.
"Puffftttt uhuk uhuk... Aira?". Novan menghirup napas panjang agar batuknya reda setelah itu langsung memencet tombol jawab di ponselnya.
"Halo ibu guru cantik".
"Novan, kamu lihat Sabiru gak?". Tanya Aira begitu diangkat tanpa mengucapkan kata Halo.
"Sabiru?".
"Iya hari ini Sabiru ada jadwal operasi mendadak di rumah sakit?". Tanya Aira lagi.
Lho bukannya hari ini Sabiru cuti ya?. Katanya ia akan menemani Aira wisuda dan akan melamar Aira disana. Kok ini malah Aira menelponnya guna menanyakan Sabiru. Apa Aira tidak jadi wisuda? Atau Aira tidak jadi dilamar.
"Emmm coba aku tanya perawat dulu ya nanti aku kabari kamu lagi, gimana?".
"Ok deh Van, sorry ya udah ganggu kamu kerja".
"Gak papa Aira, gak ganggu kok, bye bye".
"Bye".
Setelah meneguk telpon Novan segera menuju tempat pos jaga perawat menanyakan jadwal Sabiru.
"Hari ini dokter Sabiru cuti dok". Kata perawat.
"Coba lihat lagi sus, ada operasi mendadak gak?".
"Gak ada dokter Novan".
"Terus kalian lihat dokter Sabiru datang ke rumah sakit gak?".
"Tidak dokter".
Novan jadi kepikiran, kemana Sabiru?. Seenaknya saja bikin Aira jadi panik. Emang ada hal apa sih sampai Sabiru main ilang gitu aja. Dia sudah berusaha untuk mengubur rasa sayangnya pada Aira setelah tahu Sabiru akan melamarnya, tapi mengapa sekarang jadi begini. "Jangan sampai loe sakiti Aira bro, jika itu terjadi gue pastiin akan merebut Aira dari sisi loe".
Karena sudah lelah Aira akhirnya tertidur, sampai malam begini belum ada kabar dari Sabiru dan handphone Novan saat di telpon tidak diangkat. Aira juga sudah menghubungi orang rumah Sabiru dan mereka bilang Sabiru belum pulang. Kemana Sabiru?.
Disebuah club malam, Sabiru memesan sebotol wine. Ia sebenarnya bukan peminum, ia adalah dokter, sangat tahu betul jika alkohol tidak baik untuk kesehatan. Namun malam ini dia meminumnya, bahkan sekarang sudah habis lebih dari setengah botol.
Kepala Sabiru pusing memikirkan Marcela. "Mengapa dia kembali?".
Hidupnya kini sudah bahagia dengan Aira, mengapa Marcela tiba-tiba muncul. Ia dulu memang sangat mencintai Marcela, namun kepergian Marcela sudah membuat luka yang dalam di hati Sabiru. Hati Sabiru kini sudah sembuh, semua berkat Aira.
Wajah Aira yang sedikit chubby terlintas di matanya, dari segala aspek menurutnya Aira lebih unggul. Wajahnya, sifatnya, keras kepalanya. Sabiru menyesali kelakuannya tadi siang yang langsung pergi begitu saja dari acara wisudanya Aira, seharusnya ia tidak begitu. Ia harus menghadapi Marcela bersama dengan Aira.
Sabiru menghidupkan handphonenya, ada banyak notifikasi muncul dari Aira dan Novan. Semuanya sedang mencari dirinya. Dan dirinya sekarang malah bersembunyi disini.
Sabiru ingin menelpon Aira namun melihat jam ternyata sudah larut malam, sehingga ia memutuskan untuk menghubungi Aira besok pagi, barangkali Aira sudah tidur, Sabiru tidak mau mengganggunya.
Kring... Panggilan masuk dari Novan.
"Halo".
"Masih hidup loe? Gue kira udah mati kayak hape loe". Suara Novan memaki Sabiru.
Sabiru yang sudah sangat pusing tidak memperdulikan perkataan Novan. "Jemput gue sekarang Van".
"Apa? Enak aja loe perintah-perintah. Gak tau apa dari tadi Aira cariin loe".
"Club malam StarNight".
Tut Tut Tut.
"Halo, biru... Halo.. sialan dimattin lagi".
Meskipun jengkel, Novan masih pergi ke club malam menjemput Sabiru, hanya butuh 30 menit Novan sudah sampai di club, untunglah Sabiru duduk di bar sehingga mudah terlihat, sungguh repotnya jika harus berkeliling mencari orang di tengah lautan manusia yang sedang asik joget. Huft.
"Dokter kok minum alkohol". Sindir Novan saat menghampiri Sabiru.
Sabiru tertawa "Dokter juga manusia".
Novan melirik botol wine yang ada di tangan Sabiru tinggal sedikit.
"Kalau mau mati bilang aja ke gue. Gue punya bermacam macam pisau bedah, dijamin tajam dan steril. Sekali tusuk pasti bakalan tembus dan mati cepat. Ngapain elu minum ginian, udah mahal gak langsung mati". Sinis Novan.
Sabiru kemudian tertawa "ha ha ha loe kalau ngomel mirip Aira".
"Aira. Dari tadi siang dia nyariin elo bro"
"Oh ya, gue pasti bikin dia kuwatir".
"Masih jalan rupanya otak loe. Oh ya tadi elo jadi ngelamar Aira gak".
"Gue...".
Bruk
Kepala Sabiru jatuh diatas meja, dia tertidur.
"Eh bro, jawab dulu pertanyaan gue" Novan menggoyang goyangkan tubuh Sabiru namun Sabiru hanya diam seperti orang pingsan.
"Gila... Tidur loe ya... Untung temen, coba kalau enggak, gue bedah loe sekarang buat eksperimen. Trus gue nikahin Aira. Huft sebel gue".
Dengan terpaksa Novan menggendong Sabiru untuk pulang kerumahnya.