"Bangun woi.. bangun..".
Teriak Marcela disamping telinga Aira.
Marcela sengaja pagi-pagi sekali datang ke rumah Aira untuk mengajaknya berjalan-jalan, namun ternyata Aira masih tidur padahal ini sudah hampir jam 8 pagi.
Aira terusik tidurnya, akhirnya ia bangun dengan sedikit kesal. "Apaan sih. Ini hari Minggu gitu lho".
"Wake up Miss lazy".
Tunggu ini suara bukannya milik "Marcela".
"Good morning". Kata Marcela semangat.
"Kok kamu ada disini?".
"Ayo cepat bangun, kamu kan sudah janji temenin aku jalan-jalan".
Astaga ia lupa, gara-gara kemarin galau nungguin telpon dari Sabiru sampai malam. "Ini kan masih pagi Cel". Jawab Aira.
"Udah cepetan bangun, aku bawain sarapan istimewa".
"Apa?".
"Mangkanya bangun, keburu habis". Katanya sambil pergi dari kamar.
Aira buru-buru mencuci muka dan menggosok gigi.
Begitu keluar dari kamar, harum makanan yang sudah ia kenal masuk ke hidung dan mengusik lambungnya.
"Bubur ayam Mang Jaja". Aira terlihat senang saat mengetahui sarapan istimewa yang Marcela bilang adalah bubur ayam kesukaannya.
"Kamu tau gak Ai... Sekarang bubur ayam ini makin ramai,.. aduh antrinya kayak ular tau gak, lebih dari setengah jam aku berdiri ngantri. Untung masih kebagian".
Melodi tersenyum, rupanya Marcela baru tahu kalau bubur ayam Mang Jaja tambah ramai dan laris sekarang.
"Kamu belum tau aja, kalau bubur ayamnya pernah di liput sama acara kuliner stasiun tv".
"Oh ya?".
"He'em".
"Wah aku harus minta resep rahasianya Mang Jaja nih".
"Koki lulusan luar negeri berguru sama pedagang kaki lima nih ceritanya".
"Gak masalah, belajar bisa dari mana aja Ai...".
"Betul".
000
Sabiru mengerjapkan matanya yang silau oleh sinar matahari.
Badannya pegal semua, perutnya kembung dan kepalanya pusing seperti habis naik komedi putar.
Sabiru membuka satu matanya, dilihatnya ruangan sekelilingnya. Semuanya serba putih tapi ini jelas bukan di rumah sakit karena wangi ruangan ini wangi lavender bukan disinfektan.
Pelan-pelan Sabiru mulai ingat apa saja yang terjadi hari kemarin. Mulai dari wisuda Aira hingga ia memutuskan untuk minum di salah satu club malam.
Sabiru menarik selimut menutupi badannya, ia masih ngantuk, ingin tidur lagi sebentar. Sabiru sudah mengenali ruangan ini yang ternyata adalah kamar Novan, teman satu rumah sakit yang super Flamboyan.
"Mungkin dia pergi ke rumah sakit hari ini" pikir Sabiru.
Saat memejamkan mata ia kemudian ingat jika belum memberi kabar Aira semalaman. Ia kalau bangun dan bergegas mencari ponselnya. Astaga... Sudah jam 11 siang.
Ia tertunduk lesu karena tidak ada panggilan atau pesan dari Aira. Apakah Aira mengira dirinya masih ada operasi di rumah sakit.
Novan sungguh perhatian, handphone Sabiru sudah di cash sehingga saat ini baterai full. Sabiru tersenyum senang, temannya satu ini benar benar perhatian. Ia kemudian menelpon Aira.
Tak lama Aira mengangkat telponnya "Halo".
"Halo sayang".
"Biru!".
"Aku kerumah kamu ya sebentar lagi".
"Jangan" teriak Aira tiba-tiba.
"Kenapa?".
"Aku ada diluar, nanti malam aja ya kita ketemu".
"Emang kamu dimana?".
"Emmm" Aira tak langsung menjawab, ia berada di restoran hotel sekarang, menunggu Marcela yang katanya sedang mengurusi satu hal.
"Sayang". Panggil Sabiru yang dari tadi menunggu jawaban Aira.
"Aku lagi belanja diluar. Nanti aku telpon lagi ya, bye". Aira segera menutup telpon supaya Sabiru tidak bertanya lagi.
Kepala Sabiru masih pusing, dia tidak menyadari suara gugup Aira sehingga ia tidak berpikir banyak.
Karena masih mengantuk Sabiru lalu melanjutkan tidurnya lagi.
"Siapa yang telpon?". Suara Marcela terdengar saat ia berjalan menghampiri meja.
"Hah". Aira terkejut mengapa Marcela tiba-tiba ada disini.
Marcela langsung duduk di seberang Aira. "Siapa yang telpon kok tengang gitu". Marcela mengulangi pertanyaannya.
"Ohhh enggak kok, cuma teman katanya nanti malam mau kerumah". Kata Aira berbohong.
"Yahhh padahal aku mau ajak kamu jalan-jalan sampai malem lho". Keluh Marcela.
Aira menepuk pundak Marcela, "Ingat besok kita berdua harus kerja, kamu gak siap siap apa?".
"Maka dari itu".
"Gimana kalau Minggu depan kita jalan-jalan lagi. Aku janji bakal temenin kamu seharian, gimana?". Usul Aira.
Marcela tampak berpikir "Ya udah deh,.. masih ada hari esok soalnya aku bakal tinggal lama disini. Jadi gak usah kuwatir. Ha ha ha.. Ohh ya udah pesan makan belum kok cuma ada jus aja dimeja?".
"Belum nunggu kamu, kamu pilihan yang rekomended ya kan kamu kokinya".
"Aku bertugas bagian desert Aira". Marcela meluruskan.
"Ohhh... ".
Tak lama makanan pesanan Marcela datang, mereka sarapan pagi agak siang tapi sekarang setelah melihat penampilan makanan yang di meja keduanya merasa lapar lagi. Tampilannya sungguh membuat lidah gak sabar untuk menaklukkannya.
Tanpa berlama-lama keduanya menyantap makanan dengan lahap.
"Oh ya Aira, aku mau tanya sesuatu boleh?".
"Apa?".
"Kamu tahu gak gimana kabarnya Sabiru?".
"Puffff" Aira menyemburkan makanan yang ada di mulutnya karena terkejut.
"Pelan dong makannya" kata Marcela sambil menepuk belakang leher Aira yang sedang terbatuk.
Setelah batuknya reda Aira segera meminum jusnya. Aira sungguh tidak ingin Marcela bertanya tentang ini padanya. Ia harus jawab apa?.
"Tanya apa tadi?". Tanya Aira pada Marcela.
"Kamu tahu gak kabarnya Sabiru?". Ulang Marcela.
"Memangnya kenapa?".
"Aku mau minta tolong, tolong kamu carikan kontak Sabiru ya, no telpon atau w******p gitu...".
"Buat apa?".
"Aku kangen sama Sabiru". Kata Marcela dengan senyum malu-malu.
"Kenapa gak cari sosmednya aja?".
"Diprivat. Tolong dong Aira... Kamu kan pasti punya kontak beberapa teman SMA kita yang masih aktif, tolong kamu tanyakan kontaknya Sabiru ya?". Rengek Marcela.
"Ngapain sih cari Sabiru segala, kamu kan udah putus?". Bukan maksudku melarangnya tapi kenyataannya memang begitu. Dan berat rasanya harus mengabulkan permintaan Marcela karena Aira sudah punya firasat tidak baik dengan permintaan Marcela.
Marcela senyum sendiri sambil malu-malu. Ia menopang wajahnya dengan kedua tangannya sambil mengingat-ingat sesuatu.
"Aku mau ajak Sabiru balikan. Aku mau pacaran lagi sama dia". Kata Marcela bersemangat.