Pertemuan Bag 2

2036 Kata
Hanna. Wanita 27 tahun—yang menderita amnesia. Kehilangan ingatan masa lalunya, karena kecelakaan mobil yang terjadi padanya— 3 tahun lalu. Kecelakaan yang terjadi sebelum ia pindah ke Indonesia. Hanna, wanita biasa yang yatim piatu. Sejak kecil, ia di tinggal di depan panti asuhan. Dia tumbuh menjadi gadis yang pandai. Dan, bekerja di salah satu perusahaan di Korea. Setidaknya, itu yang diketahuinya dari cerita Sang Suami—Hoon. "Kau mengingatku, Mina?" Jae Kyung bertanya dengan bibir gemetar. Mendengar nama Mina di sebut Dong Hoo terkejut— melebarkan matanya. Menatap Jae Kyung dan Hanna secara bergantian. "Tentu," Jawab Hanna. Senyum mengembang di wajah Jae Kyung. Sumringah. Bahagia. "Mi-" "Kau tetangga baruku, kan? Kenapa kau kemari?" ucap Hanna. Jae Kyung mengernyit. "Apa kau mencariku? Tapi, bagaimana kau tahu jika aku bekerja di dini?" Hanna terus melemparkan pertanyaan. Sementara, Jae Kyung hanya terperanga menatap Hanna. "Kenapa.. Ia tak mengingatku?" Rani memberanikan diri mendongakkan sedikit kepala. Memandang lawan bicara Hanna. Terkesiap ia dalam waktu sedetik. Mencubit lengan Hanna. "Hanna! Dia adalah Direktur kita!" Rani berbisik. Bisikan yang masih bisa terdengar oleh Jae Kyung. Semakin terkejut ia, karena wanita di depannya di panggil Hanna. "Apa? Dia memanggilnya Hanna? Dia, bukan Mina? Tapi, wajahnya mirip sekali dengan Mina." Napasnya menjadi berat—kedua kakinya menjadi lemas. Dia mencoba untuk mengembuskan napas perlahan melalui mulut—tapi itu tak dapat dilakukannya. Napasnya menjadi tersengal. Perlahan kakinya melangkah mundur. Dong Hoo segera memegang lengan Jae Kyung. "Anda baik-baik saja?" Tapi Jae Kyung tidak menjawab. Bola matanya berputar. Hanna yang melihat itu, menjadi simpatik dan berjalan mendekatinya. "A-anda baik-baik saja?" "Lebih baik kalian pergi dari sini," perintah Dong Hoo. Hanna menatap Dong Hoo seakan ingin mengucapkan sesuatu tapi ia urungkan. Lalu memandang Jae Kyung—dan, kebimbangan mampir dalam dirinya. Ingin berniat membantu Jae Kyung, tapi ia takut jika salah langkah. "Cepat pergi!" bentak Dong Hoo. Hanna dan Rani tersentak kaget. Di detik selanjutnya, Rani menarik tangannya. Dan, mereka berjalan keluar—dengan Hanna masih memandang iba pada Jae Kyung. "Dong Hoo.. Sepertinya, aku tidak bisa memimpin rapat. Katakan pada semua orang, jika rapat akan ditunda. Dan.. bawa aku ke ruanganku," pinta Jae Kyung, napasnya masih tersengal. Hari ini.. Mendadak jadi hari yang terberat untuk Jae Kyung. Pun untuk Hoon. Hoon baru saja tiba di Bandara Internasional Incheon. Segera berjalan menuju tempat parkir. Dengan perasaan jengkel, kesal—bercampur marah. Beberapa pengawal yang dikirim oleh agensinya sudah menunggu di tempat parkir. Begitu Hoon tiba di sana, ia menghela napas panjang. "Aku akan membawa mobilku sendiri!" seru Hoon. "Anda tidak bisa melakukan itu. Pak Oh memberi kami perintah agar menjemput Anda." "Aku tidak mau! Minggir!" Hoon mengatupkan gigi kesal. Berjalan ke arah mobil— yang dibawa supir pribadinya ke Bandara. Namun, langkahnya di halangi oleh para pengawal. "Mau wajah kalian babak belur?" ancam Hoon. Menggertakkan gigi. Ji Woon yang sedari tadi berada di belakangnya— mengedarkan pandangan. Dia melihat beberapa reporter—yang entah kapan datangnya dan bagaimana mereka tahu jika Hoon di sini. Ji Woon kemudian mendekati Hoon. Berjinjit—karena tinggi yang tak sepadan dengan Hoon. Mendekatkan bibirnya ke telinga Hoon. "Lebih baik, kita turuti mereka. Ada banyak reporter disini. Kau bisa jadi trending topik nanti, " bisik Ji Woon. Hoon menundukkan kepala. Mengepalkan tangan dengan erat. Menghela napas pendek. Urat di pelipisnya muncul sejenak. Hoon mencoba meredam emosinya. Mau tak mau ia harus mengikuti mereka. ** Pukul 13.12 di Korea Selatan saat ini. Hoon sedang menatap layar ponsel saat ini—di dalam ruangan Direktur Sang Mo Oh. Pimpinan Star Agensi. Sejak tadi, ia memandangi wajah Hanna di layar ponsel. Rasa bersalah terus menyelimuti dirinya. Menyesal—karena tak menepati janji pada Hanna. Untuk menemaninya di Indonesia. Meski, hanya beberapa hari saja. Kesempatan mereka untuk bersama hampir tidak ada. Hoon lebih banyak menghabiskan waktu di Korea Selatan karena pekerjaannya. Dia selalu berusaha mengumpulkan hari libur yang tak pernah di ambilnya—hanya untuk menemui Hanna. Meski, itu hanya 7 hari saja. Tapi kali ini, hanya 2 hari kebersamaan mereka. Membuat Hoon menghela napas pendek sejak tadi. Sekalipun ia tahu, Hanna takkan kesal ataupun marah karena hal seperti itu. Tapi, tetap saja—rasa tidak enak hati terus di rasakan nya. Di menit selanjutnya, pria paruh baya dengan rambut bervolume dan bulu kumis serta jenggot yang tidak terlalu tebal—masuk ke dalam ruangan. Sa Mo Oh—Direktur yang membesarkan nama Hoon. Menggeluti dunia hiburan sejak usianya 25 tahun. Pernah menjadi model iklan di masa muda. Kini mengisi masa tuanya dengan menjadi Direktur di perusahaan yang ia dirikan sendiri. Wajah lebar. Memiliki senyum yang mengintimidasi. Gigi yang tak terlalu putih. Suara yang husky. 50 tahun usianya sekarang. Beberapa orang mengatakan, jika semakin tua usianya—seseorang akan terlihat menjengkelkan. Yap. Sepertinya, kalimat itu cocok di sematkan pada pria yang akrab di panggil Pak Oh. Gigih. Pekerja keras. Menyukai hal-hal yang menguntungkan baginya. Sekalipun, bagi orang lain itu akan menyiksa. Selama membuat ATM Pak Oh menggendut—tidak akan masalah baginya. "Kau tahu Dalmoon corp,. akan meluncurkan produk barunya?" tanya Pak Oh. Duduk di sofa tunggal—sebelah Hoon. "Lalu? Apa hubungannya denganku?" "Beberapa hari yang lalu kakakmu— Jae Kyung-" "Sudah berapa kali aku katakan, kan? Aku anak tunggal! Aku tidak memiliki saudara! Jangan berbelit, katakan ada apa Anda memanggilku?" tandas Hoon, menatap Pak Oh dengan kesal. Pak Oh berdeham. Membetulkan posisi duduknya. "Dia ingin kau menjadi model produk barunya tersebut." Hoon mengernyit. "Apa?" "Bagaimanapun, kau harus menerimanya. Aku sudah menandatangani kontraknya kemarin." "Pak Oh! Kenapa Anda memutuskan itu hanya sepihak? Kenapa kau tidak menghubungi Ji Woon?! Dia Manager-ku! Seharusnya Anda mendiskusikannya dengan dia!" "Hei.. dia bekerja denganku. Di sini.. jabatanku paling tinggi. Jika dia yang memintamu, aku yakin kau akan menolaknya." "Tapi-" "Jika kau menolak, aku akan menemui wanita itu dan menceritakan segalanya." Hoon menyeringai disertai dengusan jengkel. "Anda mengancamku?" Kini giliran Pak Oh yang menyeringai. "Bagaimana jika dikatakan.. Mmm, ini sebagai uang tutup mulutku?" Begitulah Pak Oh. Terkenal sebagai orang yang akan melakukan apa pun demi uang. Oleh karena itu, banyak artis yang hengkang dari agensinya. Dan, hal itu juga yang diinginkan Hoon sejak lama. Namun, ia tak dapat melakukannya. Karena Pak Oh memegang rahasia terbesar Hoon. Amarah Hoon telah mencapai puncak. Dia mengepalkan tangannya. Menatap tajam Pak Oh. Urat halus merah di bola matanya semburat keluar. Giginya bergeretak. Sementara, Pak Oh tetap tenang. Karena ia tahu, Hoon takkan mungkin menyelakai dirinya. Hoon berdiri dengan kemuakan. Memutari sofa. Memegang gagang pintu, ketika Pak Oh kembali bicara. "Ah iya.. Satu lagi. Kau akan menjadi model iklan ini bersama Ji Yin Song. Di Indonesia." Mendengar itu, Hoon terhenyak. Mendengus. Membuka pintu dan menutupnya dengan keras. "Ck.. Dasar anak muda,” gumam Pak Oh. Sementara, Hoon berjalan dengan langkah cepat. Napasnya memburu. Tatapan dingin. Di pintu kantor paling depan, Ji Woon baru tiba. Segera keluar dari mobil. Dia berjalan mendekat ke arah pintu, bersamaan dengan Hoon keluar. "Hoon.. Bagaimana? Kau sudah menemui Pak Oh?" tanya Ji Woon. "Kunci mobil,” pinta Hoon, menadahkan tangannya. Dengan ragu Ji Woon memberikan kunci mobil dan berkata, "A-apa yang terjadi?" Hoon tetap tak merespon. Berjalan menuju parkiran. Masuk ke dalam mobil. Sementara, Ji Woon menyusulnya dengan terburu-buru. Membuka pintu di kursi sebelah kemudi. “Hoon, sebenarnya apa yang terjadi? Pak Oh bilang apa?” "Pakai sabuk pengamanmu." "Kita akan pergi ke mana?" tanya Ji Woon. Memasang sabuk pengaman. Sedangkan, Hoon tetap diam. Menyalakan mesin. Menginjak gas. Begitu masuk ke jalan raya— ia menambah kecepatan mobilnya. Membunyikan klakson dengan garang—apabila ada yang menghalangi lajunya. Selip sana. Selip sini. Sedangkan, Ji Woon merasa takut. Memandang Hoon dan jalan secara bergantian. Tangannya berpegang erat pada pegangan pada mobil yang tergantung di atas. Ji Woon tak tahu apa yang terjadi. Namun, ia tahu jika Pak Oh mungkin berbicara sesuatu yang membuat Hoon kesal. Nyata terlihat dari raut wajah Hoon saat ini. Sedangkan di belahan bumi lainnya—Indonesia, Sama halnya yang dialami oleh Jae Kyung. Semenjak bertemu dengan Hanna lagi tadi, ia hanya berdiam diri dalam kantornya. Melonggarkan dasi. Tatapannya kosong. Sesekali menghela napas panjang. Duduk di kursinya. Dua tangan ia letakkan di atas meja. "Kenapa ia tak mengenaliku? Apa mungkin.. ia hanya berpura-pura? Atau.. Ia hilang ingatan?” gumam Jae Kyung. Di detik selanjutnya, Jae Kyung bersandar pada punggung kursi. Memejamkan mata. Mencoba mengingat kenangannya bersama Mina Kim—tunangannya. "Kau tahu, apa yang sangat kurindukan darimu?" ujar Mina, tidur di pangkuan Jae Kyung—di atas ranjang. Jae Kyung menyunggingkan senyumnya. "Tidak." "Senyummu," Jawab Mina, memandang Jae Kyung. Sementara, yang di puji terkekeh. "Saat hariku buruk— saat mereka mengatakan jika naskahku jelek, saat tenggat waktu naskahku sudah dekat,—tapi aku belum menyelesaikan tulisanku. Ataupun, saat aku tak dapat menulis satu kata saja—aku selalu mengingat senyummu. Dan, seperti bubuk ajaib tinkerbell, itu selalu berhasil memberiku kekuatan.” Mina tersenyum manis. Berbeda dengan Jae Kyung yang merasa tersentuh, mendengar kata-kata dari gadis yang sudah bersamanya selama 5 tahun itu. "Wah, apa kau merayu pria lain dengan cara seperti itu? Kau hampir menghipnotisku,” ledek Jae Kyung. "Hei.. memang kau pikir aku gadis murahan? Yang semudah itu, mengatakan hal-hal romantis?!” Mina bangun dengan kesal. Mendecak. Melipat kedua tangannya di d**a. Duduk membelakangi Jae Kyung. Tingkahnya membuat Jae Kyung menahan tawa. Tingkah Mina seperti anak kecil. Kemudian, ia merangkak ke depan Mina. "Kau marah? Aku hanya bercanda." Mina menekuk wajahnya dan kembali membelakangi Jae Kyung. Jae Kyung menghela napas dan tersenyum. Kembali merangkak ke depan Mina. "Maaf. Tersenyumlah,” pinta Jae Kyung. "Tidak!" Jae Kyung menundukkan kepala. Menghela napas pendek. "Apa.. Aku harus melakukan ini, agar kau tersenyum?" Jae Kyung perlahan mengangkat kepala. Menggembungkan pipi, serta menjulingkan matanya. Mina yang sebelumnya menahatan tawa—akhirnya tertawa terpingkal. Melihat wajah konyol kekasihnya. Hal serupa di lakukan oleh Jae Kyung: tertawa. Selanjutnya, Jae Kyung duduk. Memeluk Mina. "Aku tahu.. kau sangat setia padaku. Kau takkan mencintai laki-laki lain, kecuali aku." Mina mengangguk di bahu Jae Kyung. Perlahan Jae Kyung melepaskan pelukannya. Mata cokelat terang mereka bertemu. Dan, saling tersenyum. Jae Kyung mencium singkat dahi Mina. Lalu, kembali memeluknya. ** TOK. TOK. Ketukan ringan di pintu membuyarkan lamunannya. Dong Hoo mendorong pintu hitam itu dan masuk. Dia memberikan sebuah kertas pada Jae Kyung. Kertas tersebut adalah biodata Hanna. "Dia adalah Hanna Jang. Dia bekerja di perusahaan ini baru 7 bulan. Dia warga Korea Selatan. Tinggal di Indonesia selama 3 tahun." Dong Hoo menjelaskan. "Tidak.. dia adalah Mina. Dia adalah Mina!" Jae Kyung meracau. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan keluar. Jae Kyung tak menghiraukan ketika Dong Hoo memanggil. Terus berlari menyusuri setiap titik gedung. Kepalanya terus bergerak. Mengedarkan pandangan. Di menit selanjutnya, ia berlari seperti orang tidak waras. Langkahnya melambat, ketika melihat Hanna sedang berjalan bersama Rani di koridor gedung. Sejenak Jae Kyung terdiam, menarik napas cepat. Juga diembuskan dengan cepat. Menatap Hanna. Jae Kyung berjalan. Menghalangi langkah Hanna. Membuat Hanna sedikit terkejut. Menghentikan langkahnya. Jae Kyung menarik tangan Hanna. Membuat jarak di antara mereka tertutup. Mata Hanna melebar. Sementara, genggaman Jae Kyung semakin menguat. Membuat Hanna meringis kesakitan. Jae Kyung menatapnya lamat-lamat. Sementara, mulut Rani ternganga. Terkejut dengan sikap Direkturnya. "Katakan padaku, jika kau adalah Mina." Bola mata Jae Kyung naik turun melihat wajah Hanna. "Apa?" Alis Hanna saling bertautan. “KATAKAN PADAKU! JIKA KAU ADALAH MINA!" Jeritan Jae Kyung, Sontak membuat Hanna terkejut. "Apa yang Anda lakukan? Lepaskan tanganku." Hanna menggerakkan tangannya, berusaha untuk melepaskan genggaman Jae Kyung. Tapi, justru itu membuat genggaman Jae Kyung semakin kuat. Kembali menarik tubuh Hanna ke arahnya. Membuat tubuh mereka saling bersentuhan. Hanna yang bingung bersikap, hanya menurunkan pandangan. "Kau.. adalah Mina." “Aku berharap.. Akan mengatakan, jika aku sudah menemukanmu. Jika.. Ini waktunya kau kembali padaku. Memelukku dengan erat. Dan, memanggil lembut namaku. Seperti, yang kau lakukan dulu—Mina.” ** -Extra- Hanna, Jae Kyung dan beberapa pegawai yang lain—tengah berada di ruang rapat. Jae Kyung menjelaskan, jika akan ada 2 model terkenal dari Negeri Ginseng yang bakal menjadi model iklan parfum milik mereka. Tak lama setelah itu, Pintu ruangan terdorong masuk. "Perkenalkan saya adalah Hoon Park. Atlet UFC dari Korea Selatan." Hanna terkejut, membelalakkan matanya. Langsung berdiri dari kursi. "Hoon?" katanya, mengerutkan kening. Mendadak itu membuat Hoon dan yang lain memandang Hanna. Sikap serupa ditunjukkan oleh Hoon. Dia melebarkan mata serta mengernyit. "Hanna.." katanya lirih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN