Kini berganti Hoon yang termenung. Di halaman belakang rumah. Tatapannya nanar. Bintang malam yang berkerlip di angkasa tak mampu menghibur hatinya. Desahan panjang terus dilakukannya. Otaknya gagal mencerna semua kalimat Mina. Tentang kebenaran dari kematian ayahnya. “Kau sedang apa?” tanya Ji Yin. Berjalan dari arah belakang Hoon. Hoon menengok ke arah Ji Yin. Tetap pada posisinya. “Kenapa kau belum tidur? Ini sudah tengah malam.” “Aku tak bisa tidur,” jawabnya, sembari duduk di samping Hoon. “Apa yang sedang kau pikirkan?” “Tidak ada.” “Soal Mina?” Hoon diam. “Kenapa rasanya hubunganmu dengannya sangat sulit? Sekalipun tak ada aku yang muncul, mungkin kalian juga tak akan bersama. Anggap saja ini takdir.” “Tapi, aku tidak harus menyerah pada takdirku. Aku harus merubahnya.” “L

