BAB 1 :Kembali Bertemu
assandra Mahendra tidak pernah menyangka bahwa pagi itu akan mengubah jalannya hidup untuk kedua kalinya. Jakarta sedang cerah, tidak terlalu ramai meski hari kerja. Ia baru saja kembali dari Yogyakarta seminggu lalu dan menetap di apartemen kecil di daerah Kebayoran Baru. Rencananya sederhana: memulai hidup baru, bekerja sebagai konsultan lepas, dan menjauh dari semua kenangan masa lalu—termasuk satu nama yang tidak ingin dia dengar lagi: Rayyan Adikusuma Nusantara.
Namun takdir memang suka bercanda.
Kopi di tangan, cardigan tipis membalut tubuhnya, Cassandra berjalan santai menuju kedai kopi artisan yang baru buka di pojok Senopati. Tempat itu tampak estetik, dengan bunga kering tergantung di langit-langit, dan dinding bata ekspos yang mengundang. Ia menyukai tempat-tempat semacam itu—tenang, artistik, dan tidak banyak orang mengenalnya di sana.
"Satu chocolate croissant dan kopi hitam, dua gula, tanpa s**u, ya," katanya kepada barista sambil tersenyum tipis.
"Kamu masih suka kopi pahit, ya?"
Suara itu membuatnya menoleh dengan cepat.
Matanya membulat. Tenggorokannya tercekat. "Rayyan?"
Laki-laki itu berdiri hanya tiga langkah darinya. Wajahnya masih sama—tegas, tampan, dan memancarkan aura maskulin yang sulit diabaikan. Tapi kini ada yang berbeda. Matanya terlihat lebih lelah. Lebih... dewasa.
Di sampingnya, berdiri seorang anak perempuan kecil, dengan mata tajam dan rambut ikal terurai rapi.
"Hai," sapa gadis kecil itu. "Namaku Cassandra."
Dunia Cassandra Mahendra seakan runtuh dan dibangun kembali dalam satu tarikan napas.
Beberapa menit kemudian, mereka duduk di pojok kedai. Rayyan memesan cappuccino dan es cokelat untuk anaknya.
"Dia anakmu?" suara Cassandra hampir tak terdengar.
Rayyan mengangguk pelan. "Namanya Cassandra Wijaya Nusantara."
Cassandra Mahendra menelan ludah. Satu bagian dari dirinya ingin tertawa karena ironis. Tapi bagian lainnya... merasa tersayat.
"Kenapa kamu beri nama itu?"
Rayyan menatapnya lama sebelum menjawab. "Raisa yang kasih nama itu."
Raisa.
Nama yang selalu terasa seperti pelukan dan pisau sekaligus. Cassandra tidak pernah membenci Raisa. Tidak bisa. Wanita itu terlalu tulus untuk dibenci. Tapi dia adalah cinta yang dimiliki Rayyan ketika hatinya masih setengah berada di Cassandra.
"Aku tahu tentang surat-surat itu," kata Cassandra akhirnya. "Yang Raisa tulis untuk ulang tahun putrinya. Aku sempat baca salah satunya, secara tak sengaja, dari artikel."
Rayyan tersenyum kecil. "Hari ini surat ulang tahun ke-7. Raisa menulis tujuh surat sebelum dia meninggal. Satu untuk setiap tahun kehidupan putrinya. Hari ini... surat terakhir."
Cassandra merasa ada yang mengganjal di dadanya. "Apa isinya?"
"Aku belum baca. Itu untuk Cassandra kecil. Tapi... Raisa bilang, ketika dia sudah cukup besar, dia harus tahu tentang cinta pertama ayahnya."
Cassandra terdiam.
Gadis kecil itu kembali duduk di pangkuannya, membawa kertas gambar. Ia menyodorkannya pada Cassandra.
"Ini kamu, Ayah, dan aku. Lihat, aku gambar taman bunga. Itu tempat favoritku!"
Cassandra mengusap rambut anak itu dengan lembut. Matanya memanas. Entah karena rasa kehilangan, penyesalan, atau kehangatan aneh yang tiba-tiba datang tanpa permisi.
"Cantik sekali gambarnya. Kamu pintar, ya."
"Ayah bilang, aku mirip kamu. Tapi aku belum kenal kamu. Sekarang, boleh ya aku bilang kamu temanku?"
Cassandra menatap mata bening itu. "Boleh, sayang. Sangat boleh."
Setelah mereka berpisah, Cassandra duduk lama di apartemennya. Di meja kerja, dia menatap foto lama—dirinya, Rayyan, dan Raisa dalam satu momen perusahaan dulu. Ia ingat hari itu. Raisa yang mengajaknya makan siang bersama, Rayyan yang diam-diam memperhatikan keduanya dari kejauhan, dan Cassandra yang terlalu keras hati untuk mengakui bahwa dia terluka.
Sekarang, setelah semua orang berubah, waktu memberikan satu kesempatan baru.
Satu misi. Satu harapan. Satu anak perempuan kecil yang tidak tahu rumitnya masa lalu, tapi tahu bahwa cinta itu bisa hadir kembali jika diberi ruang.
Cassandra mengeluarkan jurnal lamanya. Ia membuka halaman kosong dan mulai menulis.
"Dear Raisa, aku bertemu putrimu hari ini. Dia... luar biasa. Kamu pasti bangga. Dan Rayyan... dia masih menatapku dengan cara yang sama seperti dulu. Tapi sekarang, aku tidak lagi bersembunyi. Kali ini, aku akan berdiri di sini. Untuk putrimu. Untukmu. Dan untuk diriku sendiri."
Air mata menetes perlahan.
Hari itu, Cassandra Mahendra memutuskan untuk berhenti lari.
Dan memulai sesuatu yang baru.
Bab 2 - Surat Terakhir dari Raisa
Langit Jakarta memerah di sore hari saat Cassandra kembali melangkahkan kaki ke kafe yang sama. Ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa berhenti memikirkan Cassandra kecil. Bukan hanya karena nama mereka yang sama, tapi karena senyum gadis kecil itu menghidupkan sisi lembut dalam dirinya—sisi yang dulu ia kubur bersama kenangan masa lalu.
Rayyan duduk di pojok kafe, kali ini sendirian. Ada kotak kecil di tangannya—kotak surat.
Cassandra ragu untuk mendekat, tapi Rayyan lebih dulu melirik dan melambai pelan.
"Ini surat terakhir dari Raisa," katanya tanpa basa-basi. "Aku pikir... kamu mungkin ingin ada di sini."
Kotak itu dibuka perlahan. Surat ketujuh dikeluarkan dari dalam amplop ungu dengan pita tipis yang masih terjaga utuh.
Rayyan menyerahkannya pada Cassandra kecil, yang muncul dari belakang bangku dan duduk di antara mereka.
Dengan suara pelan, gadis itu membaca:
“Untuk Cassandra kecilku, saat kamu membaca surat ini, kamu mungkin sudah bisa membaca sendiri tanpa dieja. Aku harap kamu selalu baik, selalu ceria, dan tetap punya keberanian seperti ibumu dulu. Aku tahu kamu akan tumbuh menjadi gadis pintar dan mandiri. Tapi aku juga ingin kamu tahu sesuatu… tentang cinta pertama ayahmu.
Namanya Cassandra. Seorang wanita yang kuat, cantik, dan lembut. Dia datang dalam hidup ayahmu sebelum aku, dan meninggalkan jejak yang tidak bisa dihapus waktu. Ayahmu pernah sangat mencintainya. Dan meski kami tidak bersama, aku tidak pernah merasa kalah. Karena aku tahu, cinta itu bukan tentang siapa yang menang. Tapi siapa yang tetap mencintai dengan hati terbuka.
Kamu mungkin bingung kenapa Ibu menulis ini. Tapi suatu hari nanti, kamu akan bertemu dengan Cassandra. Dan saat itu tiba, kamu harus tahu bahwa Ibu percaya padanya. Ibu percaya bahwa dia tidak akan pernah menyakitimu. Bahkan mungkin, dia bisa menjadi sahabat terbaikmu.
Selamat ulang tahun ketujuh, sayangku. Peluk Ibu selalu ada di dalam setiap senyummu.”
Air mata mengalir di pipi Cassandra Mahendra.
Dia menoleh pada Rayyan, yang hanya menunduk. Tidak ada kata-kata. Tidak perlu.
Cassandra kecil tersenyum. “Berarti... kamu Cassandra yang Ibu ceritain?”
Cassandra Mahendra mengangguk. "Iya, sayang. Tapi aku lebih senang dipanggil tante Cassandra."
Gadis kecil itu tertawa. “Oke, tante Cass. Kamu mau temenin aku ke toko buku minggu depan?”
Rayyan menatap Cassandra dengan mata yang lebih lembut dari sebelumnya. Ada pengakuan dalam tatapan itu. Dan Cassandra tahu, bukan waktunya bicara soal perasaan.
Ini adalah waktunya... menjadi bagian dari hidup gadis kecil itu. Perlahan. Seiring waktu.
Dan mungkin, itu adalah awal dari cinta yang baru.