Kenneth - I
——————————————————
Jumat, 30 November 2019
Hari ini hari terakhir di bulan November. Malam memutuskan untuk menyambut Desember dengan cuaca favoritnya akhir-akhir ini. Hujan.
[Hujan. (n.) titik-titik yang berjatuhan dari udara. Sering membuat genangan, kadang juga membawa kenangan.]
Lian memutar bola matanya setelah membaca quote picisan tersebut. Tentu saja, gerutunya dalam hati. Semua orang juga tau. Hujan, dengan rintik-rintik dan teduh yang dibawanya, selalu membawa kenangan. Kenangan-kenangan spesial.
Terutama untuk dirinya.
Ibu satu anak itu beranjak pelan dari tempat tidurnya. Dia menatap keluar jendela. Hujan deras dengan gemuruhnya terdengar jelas. Kilatan-kilatan petir saling sambung-menyambung.
Anehnya, di tengah kegaduhan itu, Lian merasa damai. Dia mulai menutup matanya lagi.
Menyambut hujan, menyambut rintik-rintik yang menghantarkan memori-memori terindahnya.
Spontan, semua kenangan itu membasuhnya kembali. Dia memeluk tubuhnya yang hanya berbalut kamisol dan celana dalam dengan erat.
Hari pertama Kenzo mengenalkan dirinya di kelas. Kenzo yang sabar mengajarinya rumus Matematika. Kenzo yang menyatakan cintanya dengan coklat Silverqueen di tahun kedua SMA. Kenzo yang menangis memeluknya sebelum pergi berkuliah di Manchester. Kenzo yang melamarnya setelah pulang dari Manchester.
Lian menutup matanya erat-erat. Mencoba memblokade semua kenangan tentang mantan suaminya. Namun usahanya percuma. Sungguh percuma.
Kenzo yang tersenyum bahagia, menggendongnya di hari pernikahan mereka. Kenzo yang mencium keningnya penuh kasih sayang setelah dia melahirkan Lara, putri mereka.
Kenzo yang muram setelah diminta oleh ayah mengurus kantor cabang di Manila. Kenzo yang bermuka kusut dan lusuh karena harus membagi waktunya antara Filipina dan Indonesia.
Pertengkaran-pertengkaran hebat mereka. Dirinya yang lelah mengurus Lara dan dirinya sendiri. Kenzo yang lelah dan harus menanggung bebannya sendirian.
Dokumen-dokumen perceraian. Pengacara. Ketukan palu. Terguntingnya buku nikah mereka.
Air mata Lian bercucuran.
Melihat refleksinya di cermin, dia spontan menyeka matanya, dan menarik napas. Menenangkan diri.
Mereka berpisah karena terlalu keras kepala. Salah mereka berdua-lah perceraian itu terjadi 1 tahun lalu.
Namun di antara mereka, Lian rasa, dirinya-lah yang paling egois.
Sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur, lengkap dengan kuahnya. Sudah terlambat bagi mereka berdua untuk bersama; karena sejak bercerai, Lian membangun tembok tinggi di antara dia dan mantan suaminya itu.
Lian yang terluka, dan menganggap dirinya penyebab perpisahan mereka, memutuskan untuk menutup hatinya dalam-dalam.
Namun, di penghujung malam, wajah Kenzo dengan senyumnya masih terus terbayangkan oleh Lian. Tidak mau pergi, tidak mau hilang.
Ding dong.
Bel apartemen berbunyi. Lian tersadar dari lamunannya. Siapa itu? herannya. Rasanya dia tidak memesan apa-apa. Dia sedang berusaha menghemat uangnya yang tersisa.
Sebagai seorang freelancer, niatnya untuk mengerjakan permintaan para klien menurun drastis akhir-akhir ini. Kesepian yang dia rasakan setiap hari mulai mempengaruhi keadaannya, membuatnya kehilangan semangat, bahkan ketika Lara menginap di tempatnya, mencoba menghiburnya.
Ayahnya mencoba mengiriminya uang, namun selalu dia tolak. Lian ingin berusaha mandiri setelah perceraiannya dengan Kenzo yang berada.
Lian rasa, cinta dari Lara & keluarganya berikan bukanlah solusi bagi kesepian yang dia rasakan. Dia perlu rasa cinta yang lain. Cinta romantis. Mungkin sudah waktunya bagi dia untuk membuka hati lagi.
Namun, siapa yang dapat menggantikan Kenzo?
Lian tersadar lagi, lantas menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Lupakan. Lupakan. Lupakan dia. Lupakan Kenzo, Yan.
Bel berbunyi lagi. Bergegas, Lian segera memakai bathrobe putih miliknya, menutupi kamisol merah tua berenda yang biasa dia pakai untuk tidur. Bel berbunyi sekali lagi, sebelum akhirnya Lian meraih gagang pintu.
Dengan memasang nada ramah dan senyum, dia membukanya.
"Yaaa? Ada apa-"
Ucapannya spontan terhenti ketika dia menyadari siapa sosok dibalik pintu itu. Terpampang di wajahnya, sosok yang Lian kenal. Sosok yang dia sangat kenal.
Terlalu kenal.
Pria itu membalikkan badannya. Mengenakan jaket kulit, kedua tangannya berada di saku celana. Kelihatannya dia sudah menunggu cukup lama. Sebuah map hijau terhimpit di lengannya. Fitur-fitur kaukasian lebih menonjol daripada fitur mongoloidnya. Harum lavender dari jaketnya seketika menyeruak.
Kenneth Hartanto, alias mantan suaminya, Kenzo.
Lian kaget. Ekspresinya otomatis membatu saat menyambut tatapan ayah dari anaknya itu.
Dia kaget sekali dengan kedatangan tamu tak diundangnya kali ini. Bagaimana tidak? Setelah bercerai, seperti ada perjanjian tidak tertulis di antara mereka untuk menjauhi satu sama lain. Mereka hanya mengobrol sesekali; kebanyakan tentang Lara, dan kebanyakan langsung berakhir karena nada ketus dari Lian.
Mereka hanya masih berhubungan kalau soal Lara. Lara sepertinya sudah menjadi tali penghubung yang tersisa di antara mereka, setelah semua "tali" yang lain putus.
Jujur, kebanyakan tali itu diputuskan oleh Lian. Setelah bercerai, awalnya hubungan mereka masih baik-baik saja. Mereka bahkan masih sering menghubungi satu sama lain, sekedar menanyakan kabar.
Namun lama kelamaan, Lian mulai berubah. Dia menjauh, menjadi dingin. Meninggalkan Kenzo dengan kebingungan. Hanya dengan alibi Lara-lah Kenzo masih bisa menemui mantan istrinya itu.
Sejenak, Lian mengira kalau Kenzo datang untuk mengantar Lara bermalam di tempatnya, karena kesibukan Kenzo yang mengharuskannya bolak-balik kantor cabang. Namun setelah Lian mencari-cari, tak kunjung terlihat sosok putrinya. Jadi untuk apa Kenzo datang kesini tanpa Lara?
Kenzo berdehem kecil, berinisiatif duluan mencairkan keheningan di antara mereka.
"Hai, Yan."
Lian tersadar, dan menatap Kenzo heran.
"Ngapain kamu disini?" sahutnya dengan ketus. Dia mendongak ke arah Kenzo dengan muka tidak suka. Siapa juga yang suka tiba-tiba didatangi mantan malam-malam tanpa alasan?
Kenzo memutar-mutar bola matanya. Lima detik berlalu, tidak ada respon. Lian mendelik; orang aneh, pikirnya. Dia bergerak menutup pintu apartemennya lagi. Namun tangan Kenzo langsung mencegahnya.
"Please, Yan. Give me lima minutes. Ini tentang Lara kok," ujar Kenzo memelas.
Lian berpikir sebentar. Ditatapnya mata coklat Kenzo, yang nampak jujur. Lian pun mendengus dan membuka pintunya lagi dengan malas.
"Oke. Cuma 5 menit, dan kamu langsung pulang. Langsung. Nggak ada basa-basi. Aku mau kerja."
Lian membuka pintu, membiarkan Kenzo itu masuk.
Kenzo mencoba berkomentar. "Wow, you're working on weekend? Lagi kebanjiran klien?" celetuknya sambil menutup pintu. Lian mendelik lagi, kemudian berjalan menuju sofa.
Dengan pelan, Kenzo membelakangi pintu. Dan diam-diam, diraihnya kunci pintu dan dikantonginya sebelum Lian berbalik.
Lian duduk di sofa, kemudian menaikkan alisnya. "Dari mana kamu tahu aku kerja freelance? Aku nggak pernah cerita."
"Dari mama," jawab pria di depannya itu hati-hati. Untunglah Ibu Lian masih akrab denganku, pikir Kenzo. Dia menaruh map yang dia bawa diatas meja makan.
Sekilas, dia menatap bathrobe putih yang mantan istrinya kenakan. Bagian d**a-nya sedikit terbuka, membuat Kenzo menelan ludahnya.
"Bohong. Mama nggak ngerti konsep-konsep begituan. Buka f*******: aja latah," bantah Lian.
"Oh iya. Mana Lara? Kenapa nggak kamu bawa dia? Atau harus kulaporkan kamu atas dugaan penelantaran anakku?"
Kenzo memejamkan matanya, mencoba menerima nada sinis yang dilontarkan mantan istrinya barusan. Nah, hal ini yang tidak dia suka. Lian, setelah bercerai, menghindari dirinya bagaikan gas beracun. Baru saja dia memasuki apartemen, dia sudah dituduh melakukan penelantaran anak. Semua yang dia lakukan seperti salah di mata Lian.
"Nggak usah lebay. Lara nginap di rumah neneknya," sanggah Kenzo sambil membuka matanya lagi.
Pria itu mendengus. "Dia capek bolak-balik antara rumah Papa dan rumah Mamanya tiap minggu, you know? She needs a break, Yan. Dia baru umur 3 tahun, after all. Jadi aku titip dia di rumah Mommy." Kenzo menatap Lian tegas.
"Dan lagi, dia anak-ku juga," tambah Kenzo sambil menekan kata 'ku. "Anak satu-satunya. Nggak mungkin aku menelantarkan dia."
Lian terdiam di sofa mendengar penjelasan itu. Ekspresi Kenzo berubah, terlihat tidak suka dituduh sebagai orangtua yang sembrono. Secuil rasa iba muncul di hati Lian.
Oke. Mungkin dia terlalu jahat, selalu berprasangka buruk terhadap mantan suaminya. Padahal hal itu tidak perlu. Dia menarik napas.
"Jadi, apa yang mau kamu omongkan?"
Suara Lian agak melunak.
Lantas, pria itu beringsut duduk di sampingnya. Namun Lian spontan bergeser ke samping, menjaga jarak. Kenzo memutar bola matanya.
"Nggak usah gitu juga, Yan."
"Lima menit kan? Straight to the point. Nggak usah basa-basi," sergah Lian lagi. Rautnya kembali menjadi tidak suka.
Pria campuran Inggris-Indonesia itu mengerut. Bisa nggak sih, mantan istrinya ini nggak ketus-ketus amat? Oke. Semoga cerita ini, bisa membuat hatinya luluh sedikit. Harapnya.
Kenzo mengarahkan pandangannya ke arah meja makan, memulai kisahnya.
"Ehm. Jadi gini. 2 minggu kemarin, ada perayaan hari keluarga di TK-nya. Nah, sejak pulang dari acara itu, Lara udah... beberapa hari ini nggak mau makan. Nggak mau mandi. Dia bahkan didn't want to go to school anymore, Yan. I'm worried," ungkap Kenzo sedih.
Sekilas dia melihat Lian, dan bersorak dalam hati ketika melihat ekspresinya. Persis seperti yang dia inginkan, Lian langsung cemas.
"La-Lara kenapa?" Lian gugup. "Kenapa? Apa hubungannya sama perayaan itu?"
Kenzo menarik napas. "Dia bilang, dia iri sama teman-temannya. Ortunya lengkap. Kemarin acaranya adalah piknik bersama keluarga, dan cuma dia yang ortunya 1. Hanya ada aku."
Lian langsung melotot. Apakah Kenzo menuduhnya tidak peduli?
"Lah? Kenapa kamu nggak bilang sama aku? Aku bisa datang, jadwalku kosong. Kenapa nggak bilang? Kamu berasumsi apa sampai-"
"See?" Kenzo memotong omongannya cepat. "Gimana aku mau ngundang kamu, kalau kamunya aja benci sama kehadiranku. Kita bahkan nggak bisa duduk berdua tanpa kamu yang marah-marah. Ingat pesta ultah Mama kemarin? Kita cuma ngobrol sedikit, dan langsung berdebat. Right in front of Lara, Yan. Lara nangis. Her day was ruined because of us," balas Kenzo tajam.
Lian langsung terdiam mendengar perkataannya.
Kenzo melanjutkan. "Jujur, Yan. Aku nggak paham kenapa kamu benci aku segitunya. I mean, setiap kali aku ngomong, semua langsung kamu sergah. Aku bagaikan racun, kamu nggak mau dekat-dekat sama aku even cuma 10 menit pun."
"Aku tahu, selama kita nikah, aku banyak buat salah ke kamu. But, come on, Lian. At Least give me a chance. Tolong jangan benci aku segitunya, walau aku mantan suami kamu. Jujur, Yan, aku nggak tahan ngeliat pandangan benci-mu lagi. Sebutin apa yang harus kulakukan, biar kamu seenggaknya mau memandangku. Akan kulakuin itu. Apa aja"
Kenzo mengambil napas, akhirnya mengeluarkan isi hatinya. Dia membuang napas, dan bersiap menyambut sahutan ketus dari Lian. Namun setelah mendongak, dia malah terkejut.
Perasaan bersalah menabrak Lian bagaikan truk. Dia mengalihkan pandangannya.
Menggigit bibirnya, dia menahan tangisnya sekuat tenaga.
Haruskah dia bilang, bahwa dia menjauhi Kenzo karena dia tidak tahan? Bukan. Bukan karena dia benci. Salah besar.
Justru sebaliknya. Lian tidak tahan, melihat sosok Kenneth Hartanto, dan sadar bahwa dia bukan miliknya lagi.
Dia tidak tahan melihat Kenzo berbicara dengan wanita lain tanpa berhak dia ganggu. Dia tidak tahan melihat jari Kenzo saling bersalaman tanpa cincin emasnya lagi.
Lian juga tidak tahan dengan dirinya sendiri. Setiap kali dia melihat sosok Kenzo, dia selalu teringat malam-malam dirinya menangisinya. Teringat saat dia mengenang indahnya masa lalu mereka.
Tiap kali menatap Kenzo, yang Lian ingat adalah malam-malam kesepiannya. Dimana Lian selalu merindukan senyumnya, cintanya,....
.... dan sentuhannya.
Dirinya-bukan, tubuhnya, yang juga merindukan Kenzo.
Dan demi menahan semua itu, Lian hanya mengingat kembali semua kenangan tentang Kenzo di dalam ingatannya. Terkadang, melakukan hal yang membuatnya jijik pada dirinya sendiri.
——————————————————
"Kenny...."
"Kenny....ah-" lenguh Lian pelan. Suaranya mengudara di tengah gelapnya kamar. Nafasnya memburu. Malam ini, dia harus menghibur tubuhnya lagi.
Entah karena apa, barusan dia membuka folder pernikahannya kembali. Berisi pesta pernikahan mereka. Dia pun menangis lagi sambil menatap foto-foto pesta satu demi satu. Entah apa manfaatnya, selain menangisi nasibnya sendiri buat yang kesekian kali.
Hingga, dia berhenti di satu video.
Bukan, bukan video rekaman pesta pernikahannya, yang diambil dengan kamera profesional. Melainkan video hasil rekaman ponsel lamanya.
Ragu-ragu, Lian menekan tombol play.
Di video itu, nampak Kenzo yang mengambil rekaman di dekat wajahnya. Kemudian, Kenzo menjauhkan ponsel itu. Yang Lian lihat selanjutnya mengagetkan dirinya sendiri. Lian terbelalak.
Dia melihat dirinya sendiri membelakangi kamera, duduk di pangkuan Kenzo, menciumi leher Kenzo ganas bagaikan kelaparan.
Tubuh mereka terpampang polos, tanpa sehelai benang pun. Dadanya yang polos dan berisi melekat pada d**a Kenzo yang bidang. Lian terus mencium leher Kenzo, meremas rambutnya sambil melenguh.
Lian menghentikan video saat Kenzo menunjukkan sekitarnya. Dilihat dari kamar yang mereka tempati, Lian sadar bahwa video itu diambil pada malam bulan madu mereka.
Namun dilihat dari keringat dan ekspresi mereka berdua, itu bukan malam pertama mereka.
Video itu pasti diambil pada malam ketiga atau keempat. Saat mereka berdua sudah tidak malu-malu lagi.
Lian menelan ludahnya, dan setelah menimbang-nimbang, menekan tombol play lagi.
Sontak terdengar erangan keras, dan Lian menyilangkan kakinya kuat-kuat saat melihat Kenzo mulai menggerakan tubuh mungil miliknya yang dia pangku. Pria itu menggerakkan tubuhnya ke atas dan bawah dengan satu tangan. Terdengar jelas bunyi kulit mereka saling menghantam.
Lian menggigit bibirnya kencang mendengar desahannya sendiri.
Kenzo mendekatkan kamera ke wajahnya lagi, dan sambil tersenyum, menunduk melahap buah d**a Lian. Lian semakin mendesah, memegangi rambut Kenzo kuat-kuat. Terlihat kedua putingnya menegang keras sembari Kenzo bermain-main dengan tubuhnya.
Sambil terus menggerakkan tubuh Lian, Kenzo menggigit lembut p******a kanannya, kemudian menghisapnya kuat-kuat. Lian meracau. Kenzo terkekeh.
"Hmm. What's the matter, Lily?"
Tubuh Lian yang menonton tegang saat mendengar nama itu. Nama yang sudah lama tidak dia dengar. Dia sontak menekan pause.
Lily.
Dia menarik nafas. Matanya mulai menggenang kembali.
Nama itu, panggilan sayang Kenzo untuknya, Liliana.
Menahan air mata yang hampir muncul, Lian menelusupkan tangannya ke bagian di antara kedua pahanya. Seolah kehilangan akal, dia menekan tombol play kembali.
Terlihat pipi Lian bersemu merah mendengar nama itu. Senang dengan reaksi istrinya, Kenzo bertanya lagi.
"Ah, I see, Lily. Kamu sukanya dikasarin, kan?"
Kenzo kemudian menampar kuat b****g Lian, yang langsung disambut dengan racauan lagi.
"KENNY!" pekik Lian nyaring.
Kenzo tersenyum lebar, puas dengan reaksi Lian. Tangannya berpindah, mengusap pipi Lian dengan ibu jarinya, kemudian menyisipkan rambut Lian ke belakang telinga.
Dipandangnya wajah Lian, Kenzo mencium bibirnya lembut. Spontan, Kenzo makin mempercepat laju miliknya yang beradu hangat di dalam tubuh Lian.
"Cantik."
Dia pun memeluk tubuh istrinya yang berguncang erat-erat.
Lian, dengan mukanya yang kebakaran, memeluknya balik dengan manja, dan sekilas melihat ke arah kamera.
Lian yang menonton malu bukan kepalang melihat mukanya sendiri. Wajahnya penuh keringat, kemerahan, dan rambutnya berantakan. Mulutnya terus terbuka, mengeluarkan suara-suara nyaring akibat rasa nikmat yang hampir dia lupa.
Entah di ronde keberapa mereka saat itu, yang pastinya bukan ronde pertama. Mereka berdua terlihat kacau karena tengah dimabuk cinta.
"Kenny..." Lian terkesiap saat menatap kamera.
"Hmm?"
Gantian. Sekarang Kenzo yang sibuk menciumi leher Lian dengan rakus.
"Ja-ah... Jangan direkam," keluh Lian di sela-sela desahannya.
"Buat kenang-kenangan," goda Kenzo.
"Okay-okay. I'll stop it, Lily." Kenzo lalu mencium kening Lian.
Dia terlihat ingin menyelesaikan malam bersama istrinya dengan segera.
Kenzo melihat ke arah kamera untuk yang terakhir kali, dan....
video pun terhenti.
Nafas Lian memburu.
Putingnya mengeras, menonjol di bawah baju piyamanya. Bra-nya sudah terlepas dari tadi. Tangannya sibuk memainkan miliknya di bawah. Wajah cantiknya berderai air mata.
Video itu singkat, namun cukup untuk membuat pikirannya dan tubuhnya kacau.
Dia memejamkan mata kuat-kuat, berusaha mengingat malam itu. Juga malam yang lainnya. Semua malam, dan pagi, dan siang, dan sore yang dia lalui bersama Kenzo. Suaminya tersayang.
Lian memasukkan jari telunjuknya ke dalam. Dia mendesah. Jarinya bergerak maju-mundur. Kurang puas, Lian menambahkan jari tengahnya lagi. Dia mengerang nikmat.
Maju-mundur. Maju-mundur. Maju-mundur. Dia membayangkan milik Kenzo-lah yang bergerak di dalamnya.
Dia mencubit dan memainkan dadanya, membayangkan tangan dan mulut Kenzo-lah yang memainkan putingnya.
"Kenny...Kenny...Kenny," ucap Lian berkali-kali. Membayangkan sentuhan mantan suaminya, Lian merasa keenakan. Dia hampir sampai.
Lian melirik video itu lagi, dan memundurkannya ke bagian dimana Kenzo tersenyum hangat ke arahnya. Air matanya jatuh.
Lian dapat merasakan seluruh tubuhnya menegang.
"KENNY!" Lian mendesah nyaring.
Dia menarik dua jarinya keluar. Basah. Berlumuran cairan milik-nya.
Namun Lian masih menangis. Meringis pedih.
Kenzo tidak di ada disini. Kenzo bukan suaminya lagi.
Kenzo bukan miliknya lagi.
"Kenny...."
Gumam Lian sebelum kehilangan kesadarannya.
————————————————-
Air mata Lian jatuh.