Mama perlahan menutup pintu, lalu mengusap air matanya. Berusaha keras tersenyum saat menatap Mahesa yang sedari tadi menunggu di luar bersama bapak. “Maaf, Mahesa. Dira enggak mau ketemu siapapun. Termasuk kamu.” “Tapi Ma—” Mama kembali menyeka pipinya. “Tolong mengerti, Sa.” “Apa kata dokter?” “Dira syok dan harus banyak istirahat.” Mahesa mengangguk mengerti. “Ya udah, Mama masuk dulu.” “Ma,” panggil Mahesa, menghentikan langkah Mama yang hendak menutup pintu. “Tolong sampaikan pada Indira … Saya cinta Indira.” Mendengar kalimat Mahesa, mama kembali tak kuasa menahan tangisnya, tapi tetap berusaha tersenyum. Tangannya yang gemetar, terulur untuk menggapai Mahesa, memeluknya. “Iya, Mama pasti sampaikan ke Dira,” ucap Mama dengan suara bergetar. “Maafin Mama, Sa. Maaf.”

