Pagi itu, mama menemukan sesuatu yang berbeda pada diri putri semata wayangnya. Jika biasanya di pagi hari, mama masih mendapati Indira mengurung diri di dalam kamarnya, tidak untuk hari ini. Sedari pagi, Indira sudah sibuk bersama Bik Harsi di dapur membuat bubur. “Masih enggak ada rasanya ya, Bik? Kurang gurih?” “Gampang, Non. Tambahin santan aja. Bentar, Bibik beli di warung depan ya.” “Kamu masak buat siapa, Dir? Tumben banget?” “Mama?!” Indira buru-buru mematikan kompornya, lalu tersenyum pada mama. “Kenapa kaget gitu? Kamu masak buat suami kamu?” “Kok Mama tahu?” “Ya tahulah! Emang kamu pikir yang bayar gajinya Bik Harsi siapa? Kamu? Suami kamu?” cibir Mama. “Ngapain dia pagi-pagi udah ke sini? Minta Mama pukul lagi?” “Jadi, kemarin Mama pukulin Mahesa?” “Kenapa? D

