Pekarangan rumah itu masih tampak asri, bahkan sepertinya koleksi pohon buah dan bunga mama bertambah. Mama masih di sana, masih menjalankan rutinitas berkebunnya. Kali ini sedikit berbeda. Tidak ada papa yang menemaninya menyiram tanaman atau memilih membaca koran pagi di kursi santai teras. Mahesa mendorong pagar, lalu mengucapkan salam, dan—seperti dugaan Mahesa—mama tak mengacuhkannya seperti biasanya. Tidak apa, setidaknya mama tidak lagi melempar sendal ke wajahnya seperti saat di rumah sakit. “Mau apa kamu? Indira enggak ada di sini.” “Saya ke sini mau ketemu sama Mama.” Mama masih tak acuh, sibuk mematikan keran air, lalu duduk untuk mulai menanam bunga yang baru saja dibelinya dari penjaja bunga keliling. Perlahan Mahesa mendekat, meletakkan sebungkus kembang tahu di meja,

