Ipar Baik Hati

1360 Kata
Sebagai suami romantis, Diko berniat menyenangkan Gita. Dia berinisiatif keluar sebentar, mencari angin sekalian cuci mata. Suntuk tiap libur di rumah, ditambah cuti kemarin terasa sia-sia karena Gita yang sibuk kerja. Diko berlarian mengelilingi kompleks, sampai sejauh 1 kilo. Dia tak membawa minum, tenggorokannya kering, dia berhenti pada sebuah warung kelontong, membeli sebotol air minum, lalu membayarnya dan pergi. Minum di taman kompleks akan lebih menyenangkan, disana Diko bisa duduk di sisi taman sambil melihat keramaian. Ya, hari libur begini pasti banyak yang jogging atau sekedar berselfie ria. Dia duduk di kursi kayu di pinggir kolam ikan. Taman kompleks yang ramai dikunjungi baik oleh penduduk perumahan atau pendatang. Banyak yang menjajakan jajanan bahkan pakaian, mainan anak dan jug bunga segar. Diko mendapatkan ide, dia akan membeli satu bunga untuk Gita beserta coklat dengan bentuk hati. Tak mesti hari spesial untuk memanjakan istri, bisa hari apa saja seperti hari minggu ini. Nanti saat kita pulang dia akan memberikan kejutan itu. Diko minta rangkaian bunga dipenuhi oleh mawar merah, dia juga minta kartu ucapan yang sangat romantis. Dear istriku, Selamat hari Minggu, semoga kamu selalu sukses dan selalu sayang aku, Ya gombalan sederhana, tapi tak banyak loh laki-laki yang bisa memberikan kejutan pada istrinya. Terakhir kali Diko memberikan bunga pada Gita sekitar 2 Tahun lalu, alias tahun pertama pernikahan mereka. ** Dzrett, Dering ponsel dinaikan oleh Gladis, gadis itu sibuk mengurusi taman kecil depan rumah, Gita memang minta gladis mengurus bunga-bunga kering untuk dibuang. Setelah itu Gladys harus memupuk bunga-bunga itu, Untung saja gadis pandai bertani maklum dia kan dari kampung. Walau mulai encok tapi glady semangat menata taman, daripada dia kena omel Gita lebih baik dia capek dulu. "Huhh, panasnya," keluh Gladis. Tepat pukul 11, akhirnya tugas gladis selesai, saatnya dia memanjakan diri. Tak ada salahnya merebahkan diri terlebih dulu. Toh kalau banyak keringat kayak gitu kan nggak boleh langsung mandi. Gladys menyandarkan punggungnya di kursi teras, dia mengambil sebotol minum dingin dari kulkas, juga sepotong kue. Wajar saja keringatnya bercucuran melihat matahari begitu terik, "Astaga, bisa-bisa kulitku terbakar," Gladys memegangi kulit wajahnya yang begitu berminyak. Untung kemarin dia diberi uang oleh Diko, kayaknya dia harus ke salon deh melakukan perawatan, pasti wajahnya terbakar terik matahari. Dia lupa menggunakan topi taman. Seingat Gladys topi itu diletakkannya di gudang belakang, tapi tadi saat dicari Gladis tak menemukannya. Gladys merogoh kocek celananya dalam-dalam, dia baru sadar banyak notifikasi masuk. Salah satunya Ada pesan dari Andien, "Loh Andien," gumam Gladis sambil mengusap layar ponsel. Pesan dari Andien: Dis, perawatan yuk, mumpung libur, temenin gue, tenang gue yang traktir! Duh pucuk dicinta ulam pun tiba, baru aja niat pengen perawatan udah ada yang ngajakin ditraktir lagi, Gladys langsung tersenyum bahagia. Tak berpikir banyak, Gladis langsung masuk ke toilet dan membelah diri, dia juga sudah menemukan pakaian yang pas untuk pergi bersama Andien. Ya baju tempo hari baju pemberian dari dino, walaupun baju itu sangat seksi tapi kan gadis bisa pakai cardigan. Dia juga punya cardigan dengan warna senada, cukup memakai riasan tipis Gladis sudah siap pergi. Tint..tint Suara klakson sebanyak 3 kali terdengar, padahal Gladys baru saja mengetik pesan untuk Gita. "Itu pasti Andien," Gladys bergegas. "Ya tunggu Dien," gumamnya. "Gladis," bola mata laki-laki itu terperangah melihat penampilan Ayu gladys. "Eh, mas Diko, Gladys kira tadi temen gladis," Diko terpanah, matanya membulat, dia tampak takjub melihat penampilan gadis yang begitu seksi dan cantik. Adik iparnya terlihat begitu modern dengan dress seksi berwarna putih s**u, ditambah lagi riasan simple seperti itu membuat wajah gadis begitu menarik. Lihat bagaimana dia begitu pandai mengukir make up di wajahnya, bibir tipis itu lebih bervolume dengan lipstik merah muda, dan bola matanya terlihat lebih hidup dengan softlens berwarna biru. Juga pipinya terlihat lebih segar dengan sentuhan blush on. Diko memang menyukai wanita yang suka berdandan seperti gladis, tak sekalipun dia melihat Gita berpenampilan semenarik itu. Kita memang menggunakan make up tapi terlalu standar, Gita tak pernah menggunakan blush on setebal itu dan tak pernah menggunakan softlens seperti adiknya gladis. Satu lagi, lihat bagaimana Gladys menata rambutnya, ujung rambutnya dibuat bergelombang dengan atas yang lurus, ah itu benar-benar wanita bayangan yang selama ini ada di benak Diko. "Ma.. mas Diko, Gladys boleh izin keluar sebentar? Soalnya temen Gladys minta temenin, Gladys takut kalau minta izin ke Kak Gita," ucap Gladis ragu-ragu. Takut kali kakak iparnya TK memberikan izin. "Mas.. mas Gito," Gladis membesarkan volume suaranya. "Eh, iya dis, apa?" Tanya Diko yang tampaknya tak memperhatikan Gladis. "Hmm, Gladys boleh minta izin keluar nggak? Cuma sebentar kok mas, sebelum Kak Gita pulang Gladys pakaian pulang, gladis janji," "Memangnya mau kemana?" Tanya Diko ingin tahu. "Mau jalan sama teman," "Temen atau temen?" goda Diko. "Temen lah mas, kalau pacar pasti udah kenalin ke Kak Gita atau mas Diko," "Haha.." Diko tertawa. "Emangnya gladis sudah punya pacar?" Gladys menggeleng cepat, "belum lah mas, Gladys merantau ke Jakarta kan niatnya buat kuliah bukan buat main-main," "Lah memangnya kenapa kalau punya pacar, bukannya anak kuliahan pasti punya pacar biar makin semangat?" Kali ini Gladis yang tertawa dengan statement Diko, "ah nggak semua anak kuliahan, buktinya aku, aku jomblo," "Ah nggak mungkin kamu jomblo, masa gadis secantik kamu jomblo, pasti banyak cowok yang ngantri di kampus," "Ih.. mas Diko apaan sih, suka gombal deh," kedua pipi Gladis memerah. "Mana mas percaya, gadis cantik kayak kamu tuh pasti jadi rebutan di mana-mana," Semakin diku mengulangi kalimatnya membuat pipi gladis semakin terbakar, dia tak bisa dipuji seperti itu apalagi oleh Diko. Sejak awal kan gladi sudah terpikat dengan penampilan diko yang tampan. Tapi dia sadar diri kok kalau Diko itu adalah kakak iparnya. "Boleh ya mas, sebentar aja kok keluarnya," Gladys memohon pada Diko dengan melipat dua tangan di depan d**a. Dika berusaha menahan tawanya, dia gema sekali melihat wajah memelas Gladis, melihat bagaimana dia menarik pipi dan juga bibirnya bertaut ah begitu menggemaskan. Wajahnya terlihat seperti anak-anak, tapi dari postur tubuhnya terlihat seperti wanita dewasa, lihat bagaimana tonjolan tubuhnya yang begitu indah dan pinggangnya yang begitu ramping, ditambah lagi penampilannya yang begitu feminim. Kenapa semakin hari di kos semakin membandingkan Gladis dengan Gita istrinya, semua karena Gladis yang lebih menarik di matanya. "Memang mau kemana?" Tanya Diko lagi, 'ah nggak ada salahnya aku kasih tau mas Diko, lagi pula siapa tahu dengan aku kasih tahu mas Diko bakalan nambahin uang saku,' batin Gladis berbisik. "Hmm, Gladys mau perawatan sama temen, soalnya tadi Gladys habis panas-panasan ngurusin bunga-bunga kak Gita," Diko membelalakkan matanya, dia memperhatikan Gladis kian dekat, sampai jarak keduanya hanya setengah meter. Diko juga menoleh ke arah taman, diperhatikannya taman yang terlihat sudah bersih, juga bunga-bunga yang mulai segar, tak ada daun kering tak ada rumput dan tak ada tanaman yang layu, gladis begitu kerja keras tadi pagi. Dia sudah memasak Ya sudah bersih-bersih rumah dan lihat semua pakaian sudah terjemur, Tak adil jika di kota mengizinkan adik iparnya untuk me time. Menarik nafas terlebih dulu, lalu "Ya sudah, boleh," "Beneran mas?" Tanya Gita kegirangan. Diko mengangguk, "Tapi jangan lama-lama, sebelum Gita pulang kamu sudah harus pulang," "Siap Mas!" Jawab Gladis percaya diri. "Ya udah Gladis berangkat ya mas," Sebelum Gladys pergi, Diko menahan adik iparnya dengan menarik sebelah tangan gladis. Tangan hangat itu menyentuh permukaan tangan gladis, tangan kekar dengan otot berisi dan hawa panas. Mendadak aliran darah Gladis jadi panas, d**a nya berdebar hebat, padahal Diko hanya menyentuh tangannya saja. "Hmm, ini buat tambahan jajan," Lagi-lagi Diko memberikan lembaran merah, yang mungkin perkiraannya berjumlah 10 lembar atau lebih, dia langsung menyelipkan lembaran itu ke tangan kanan gladis. "Ma.. mas Diko, gak usah, aku ditraktir kok sama Andin," tolak Gladis. "Gak apa-apa, diambil, siapa tau kamu mau sekalian shopping sama teman-temanmu," paksa Diko. "Hmm, makasih ya mas," ** Di mobil "Ih lama banget sih, hampir aja gue kedor-kedor itu pintu," gerutu Andien kesal. "Sorry, gue soalnya minta izin dulu ke kakak gue," jawab Gladis. "Ya udah cabut yuk!" ajak Andien. Gladis memasang sabuk pengaman,begitu juga Andien. Mereka sudah tak sabar mau perawatan di salon. "Memangnya Lo dapet voucher dari mana? Sampe rela bagi-bagi ke gue?"tanya Gladis "Ya dari Dino lah," jawab Andien spontan. "Hmm, udah gue duga," "Haha, dia naksir berat tau Sama loe," Gladis tak mau peduli, di tak tertarik dengan laki-laki pendek seperti Dino.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN