Gak Ada Libur

1012 Kata
Minggu pagi, Gita sudah rapi dengan pakaian lengkap, padahal ini baru pukul 08.00 pagi. Sama seperti adiknya Gladys, Gladys sudah sibuk di dapur sejak subuh. Dia tahu kalau hari Minggu adalah hari libur. Dia memasak sarapan pagi, ada nasi merah dengan rendang ayam, juga kerupuk tak ketinggalan sambal terasi juga tempe goreng. Menu yang sangat lezat untuk lidah orang Indonesia. "Pagi kak," sapa Gladis "Pagi," jawab Gita. "Kakak tapi banget," tutur Gladis sambil membawa piring ke meja makan mempersiapkan segalanya. Gita duduk di kursinya, "berat-berat banget sarapan pagi ini," tutur Gita sembari memandangi menu di meja. "Hehe, sekali-kali kak, kebetulan kan 2 hari kemarin jatah lauk Pauk dikurangi, jadi hari ini agak di tambahin," papar Gladis. "Jangan keseringan boros kayak gini dis, sekarang tuh apa-apa mahal, kamu lihat kan di berita, minyak naik hampir dua kali lipat, daging kamu beli berapa?" "Hmm, cuma beli setengah kilo kak," "Iya harga sekilonya berapa?" "80 ribu kak kalau gak salah," "Tuh kan, 80 ribu baru dagingnya, belum bumbu-bumbunya, belum yang lainnya, boros banget jatuhnya," Gladis hanya tertunduk "Sedangkan kakak kan cuma kasih jatah sehari 70 ribu buat lauk pauk, nah ini kamu over budget banget dis," Gladis tak menjawab apapun. "Kalau memang kamu mau makan rendang, mendingan kamu beli nasi padang, 20.000 juga cukup buat kamu sendiri, apalagi kalau beli nasi padang di pinggiran kampung belakang, rendang cuman 10 ribuan," Gita mulai membalik piringnya. "Hmm, iya kak besok-besok gak boros lagi," "Kalau kayak gini kan boros banget, sehari kita makan berapa kali yah apalagi kamu yang seharian di rumah," "3 kali kak," jawab Gladis pelan. "Tuh, kalau kamu lauknya enak-enak terus dikalikan 3 udah berapa coba," "Iya kak," "Bukannya nggak boleh makan enak tapi seenggaknya kamu itung-itung dong," 'aduh udah dibilang aku sudah mencoba hemat 2 hari kemarin, makanya aku bisa beli lauk pauk kayak gini, kak Gita benar-benar pelit perhitungan banget.' batin Gladis kesal, tapi dia berusaha tersenyum dan menerima masukan dari Gita. "Mana asin banget ini," Gita langsung melepehkan makannya. Gladis segera memberi segelas minum pada Gita, "Mi.. minum kak," "Aduh, kamu sering banget sih masak keasinan, udah kakak bilang pakai takaran, kebanyakan garam itu nggak bagus bisa bikin kaki bengkak, kolesterol dan masih banyak penyakit lainnya, kalau nggak keasinan kamu bikin makanan kemanisan, gimana sih," sungut Gita kesal. Berbeda dengan Gita, Dito begitu menikmati sarapan paginya, di lidahnya masakan gladis sangat enak dan pas. "Udah Mas jangan nambah mulu, lidah kamu mati rasa apa? Ini rendang tuh asik banget," ucap Gita ketus. Padahal Diko berniat mengambil sepotong rendang lagi, tapi tampaknya Gita tak mengizinkan. Gladis hanya terdiam, dia tak berani mengangkat dahinya. "Udah udah jangan nambah lagi, lihat tuh perut kamu makin hari makin gede, belum juga kepala tiga tapi perut kamu udah gede banget, gimana nanti kalau udah kepala lima bisa-bisa kamu kena kolesterol Mas," Diko menelan makanannya lebih dulu, "Enggak kok lidahku rasanya enak, pas," jawab Diko Dahi Gita mengernyit, "pas gimana? Jelas-jelas ini tuh asin banget," "Kayaknya pas deh, ini tuh gurih dari kelapa, makanya rasanya kuat," Gita menggeleng tak terima, "ah udahlah, aku nggak mau tahu kamu harus olahraga, lagian ngapain sih dua minggu ini kamu pulang mulu ke rumah? Apa kamu lagi ada masalah di kantor? Biasanya juga kamu nginep di Bogor dan jarang pulang," Diko terdiam sejenak, dia meletakkan gelas miliknya, "Hmm, ya aku lagi pengen pulang aja, mumpung masih tengah bulan, pekerjaan kantor masih lenggang," jawab Diko. "Oh, yakin hanya itu saja?" "Ya, aku kangen kamu lah, mangkanya walaupun harus Pp Jakarta Bogor aku rela, aku pengen Deket kamu sayang," jawab Diko setengah menggombal. "Ehem, aku, aku mau matiin kompor dulu ya kak, kayaknya air mateng," Gladis berpamitan, dia tak nyaman jika harus mendengarkan pertentangan pasangan suami istri itu. Gita mengangguk, diiringi Diko. "Memangnya kamu nggak capek Mas pp Jakarta Bogor? Lumayan loh 4 jam di jalan, belum lagi bensin," Diko sudah hafal perhitungan yang akan dituturkan oleh istrinya, padahal seharusnya kan Gita senang, istri mana sih yang tak mau suaminya selalu pulang ke rumah. Tapi itu tak berlaku untuk Gita, dia sudah biasa sendiri, sebelum ada Gladys dia juga terbiasa sendiri dan bergelut dengan berkas-berkas serta pekerjaannya. Jadi dia tak merasa kesepian sedikitpun sendirian di rumah. "Ya sudahlah mas terserah kamu saja, kalau kamu sanggup Pp Jakarta Bogor yaudah aku sih nggak masalah, dan satu lagi jangan sampai pekerjaan kamu terganggu gara-gara kamu kecapean di jalan," "Iya sayang, kalau awal dan akhir bulan Mas juga bakalan pilih stay di Bogor kok," "Ya, bagus," jawab Gita enteng. "Oh ya, ibu nanyain kamu kapan bisa ke Bogor?" "Terus kamu jawab apa?" "Ya mas bilang, nanti biar mas tanyain dulu kapan kamu punya waktu," Gita menggeleng-gelengkan kepalanya, "Astaga Mas.. seharusnya kamu tuh bisa dong menjaga nama baik istrimu, bilang aja kalau aku lagi sibuk pekerjaanku tuh banyak Mas, ditambah lagi kan kamu tahu sekarang aku lagi bikin kos-kosan baru di daerah Jakarta Selatan, belum lagi aku harus keliling lihat di lapangan gimana pembangunannya," "Ya makanya mas bilang mas tanyain dulu ke kamu kapan kamu punya waktu buat ke Bogor," "Ah terserah Mas aja, susah ngomong sama mas, seharusnya Mas bisa jawab dong tanpa aku jabarin dari a sampai z," Gita kian kesal. Dia mulai tak bernafsu menyelesaikan sarapannya, tapi dia tak mau mubazir jadi dia memilih untuk menghabiskan lebih dulu lauk pauk yang ada di piringnya. Dan hanya menyisakan beberapa butir nasi. "Aku nggak bisa janji pekerjaanku banyak, lagian juga ibu kan sehat di sana, ada orang yang ngurusin dia," Gita pergi meninggalkan meja makan. Sebagai suami yang baik Diko bergegas mengejar istrinya, berjalan di belakang punggung istrinya dengan langkah besar. "Tolong ambilin kontak mobilku," minta Gita, Dia sedang menggunakan sepatu kerja kesayangannya. Sepatu dengan warna krem, berbahan kulit asli, yang begitu senada dengan pakaiannya. "Kamu ada kerjaan hari Minggu gini?" Gita mengangguk mengiyakan, "Sabtu kemarin kamu juga kerja, dan sekarang.." "Aku kan udah bilang aku banyak kerjaan, Aku mau lihat pembangunan kos-kosan di Jakarta Selatan, habis itu bosku ngajak aku meeting," "Meeting?" "Yah," "Ya sudah hati-hati, hari ini aku stay di rumah, kalau kamu minta dijemput Aku siap 24 jam," Gita berlalu tanpa menjawab tawaran suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN