Seharusnya Diko sudah pulang ke Bogor, tapi entahlah berkat adanya Gladis di rumahnya membuat Diko jadi kangen masakan rumah terus.
Berawal dari tumisan juga sambal semua membuat Diko betah membuat selera makannya meningkat.
Dilihatnya di sudut kamar, kita sibuk dia sangat serius menatap layar laptopnya, tak sedikitpun dia ama lirik ke Diko yang ada di ranjang.
Diko yang sejak tadi merebahkan punggungnya di kasur, dengan dua tangan terbuka menahan kepalanya.
Kenapa yang ada di otaknya hanya Gladys, 'dia cantik juga, wajahnya manis senyumnya ayu dan bentuk tubuhnya bagus,' batinnya menghayal.
Ingatannya balik ke hari itu, mengingat keladis yang menggunakan pakaian tipis, yang memperlihatkan kaki mulusnya ditambah lagi saat dia membungkuk marai sendok di dapur, ditambah lagi insiden tadi. Baju putih berbahan tipis, berserat lembut dan tali hanya setebal senar gitar.
Diko jadi membayangkan bagaimana jika Gladis mengenakan pakaian itu, "wah pasti bakalan cantik banget," tungkasnya pelan.
"Cantik?"
"Pasti bakalan sexy banget," lanjut Diko
"Cantik, Sexy, maksudmu?" Sambar seseorang.
Membuat khayalan diko terhenti, sudah ada Gita di sebelahnya.
"Cantik! Siapa yang cantik?"
Diko terhenyak, dia bangkit dari posisi berbaring ke posisi duduk, mendekat ke Gita yang ada di sisi ujung ranjang.
"Ya kamulah sayang, kamu tuh cantik, kulitnya putih orangnya pintar, cerdas dan aku sayang banget sama kamu,"
Gita menoleh sekilas, "Lalu?"
"Lalu apa?"
"Siapa yang sexy?"
"Ha sexy?" Tanya Diko balik.
"Iya kamu barusan bilang cantik terus seksi?"
"Ya pasti kamu lah sayang, hanya kamu yang paling cantik, sexy dan cerdas di dunia ini," diko memeluk Gita secara spontan.
Bukannya senang Gita malah malas juga menjauh dari Diko, dia melepaskan pelukan Diko.
"Ih apaan sih Mas, aku beres mandi," tolaknya.
Diko terdorong, pelukannya ditolak mentah-mentah oleh Gita.
"Loh, aku juga udah bersih-bersih tadi,"
"Mandi gih, bau banget, badan kamu lengket, terus ganti baju pakai piyama tidur yang panjang, Aku nggak suka lihat cowok pakai kolor kayak gini,"
Ya sejak awal menikah kita memang tak suka jika suaminya memakai celana pendek, Dia terganggu jika melihat kaki seseorang dengan bulu tebal seperti kaki Diko.
Jika sudah dibahas masalah pakaian, Digo jadi ikut badmood. Tanpa basa basi Diko meninggalkan Gita, dia masuk ke kamar mandi.
"Mmm, syukurlah dia mandi," ucap Gita. Berada berjam-jam di depan laptop membuat mata Gita terasa perih, kepalanya jadi sakit, dia butuh istirahat. Tak lama Gita pun tertidur pulas.
**
Byurrr..
"Seger," kita mengguyur seluruh tubuhnya dengan air hangat. Dia juga menggunakan sabun dengan aroma menyengat.
Semua kebutuhannya sudah dipenuhi oleh Gita, istrinya yang memiliki sabun, parfum dan seluruh alat mandi serta kebutuhan diko lainnya.
"Mm moga aja habis mandi Gita mau," Diko mulai bersemangat, dari kemarin dia mau minta jatah tapi dia sedikit segan dengan Gita.
Mengingat Gita begitu sibuk dengan pekerjaannya, kita mulai memakai pakaian yang sudah dipersiapkan Gita. Setelah selesai dia keluar dengan gelora baru.
"Sayang!!" Panggil Diko bersemangat.
Tapi sayang semangat itu langsung turun ketika dia melihat Gita tertidur pulas. Diko menggelengkan kepala. Kalau sudah tidur begitu mana mungkin dia tega mengganggu Gita.
Lagi-lagi malam ini harus ditunda, kasihan jadi gak dapat jantan 8 hari. Diko mengelus-ngelus jagoannya.
Daripada otaknya sakit, diko lebih memilih untuk turun ke bawah, di liriknya jam di dinding, baru pukul 01.00 malam. 1 jam lagi pertunjukan bola akan dimulai.
Untuk menemani kesepiannya membawa ponsel miliknya. Sebenarnya dia suami yang setia dan tak macam-macam, dia juga tak pernah melirik kiri dan kanan. Itulah kenapa kita begitu percaya pada diko.
Diko adalah laki-laki pekerja keras, kedua orang tuanya juga mengakui, dan menceritakan secara terus terang pada Gita. Itulah kenapa kita tak berpikir dua kali saat Gita meminangnya.
Sama dengan Diko, kita adalah wanita pekerja keras, yang kesehariannya lurus seperti jarum jam, kehidupannya tak pernah aneh-aneh, sejak muda Dia sudah terbiasa bekerja, sejak di bangku kuliah dia sudah mencari uang untuk membiayai kuliahnya sendiri. Dan saat tamat kuliah dia sudah bisa mengirim uang untuk menyekolahkan adik-adiknya di kampung termasuk Gladis.
Dan setelah bekerja 3 tahun di perusahaannya, istri Diko itu diangkat menjadi manajer, 2 tahun ini adalah puncak dari karir Gita.
Gita sudah bisa dibilang sukses usia muda, dia sudah memiliki beberapa usaha sampingan, juga beberapa belas karyawan.
Diko sudah tiba di ruang tengah, dia mengisi waktu dengan bermain game online. Saking asyiknya di atas sadar jika requestannya sudah tiba.
"Tara, silahkan mas Diko," ucap Gladis ramah.
"Astaga Gladys, bikin Mas kaget aja," spontan Diko mematikan ponselnya.
"Memangnya sudah jam 2?" Tanya diko sambil mencari keberadaan jam dinding.
Gladis tersenyum tipis, membuat rona wajahnya memerah, Dia terlihat begitu cantik alami dengan rambut terikat tinggi dan sedikit keringat di dahinya. Juga kaos oversize yang menjiplak karena keringat.
Diko memperhatikan sejenak, "makasih ya Dis,"
"Iya sama-sama mas, Yaudah aku mau lanjut nyuci di belakang," ucap Gladis.
"Malam-malam gini nyuci?" Tanya diko heren.
Gladis mengangguk, "Iya Mas, besok mau kuliah pakai baju putih, kebetulan baju putih Gladis yang paling layang cuma satu jadi terpaksa deh dicuci pakai, hehe," jawab Gladis setengah bercanda.
Sebenarnya dia punya beberapa baju putih, cuma namanya cewek kalau sudah cocok dengan satu baju pasti dia akan sangat percaya diri dengan baju itu, itu juga ya berlaku pada gladis.
Kemeja putih dengan lengan balon, dengan kancing bermotif kotak-kotak, sejak dulu itu adalah baju kesayangan Gladis. Walaupun harganya tak begitu mahal, tapi gladis sangat suka dengan baju itu.
Diko hanya menghela nafas, "Jadi kamu cuci tangan?"
"Iya lah mas masa pake mesin, toh cuma satu," jawab Gladis sambil berjalan meninggalkan Diko.
**
"Ah sekalian cuci tas itu ah," Gladis masuk lagi ke kamar mandi.
Gadis memang suka bermain air, lihat bagaimana pakaian dan juga barangnya terawat. Dia sangat menjaga setiap benda yang dimilikinya apalagi dia hanyalah anak kampung yang memiliki sedikit uang, untuk membeli barang bagus dia harus menabung berbulan-bulan.
Jadi wajar jika dia sangat menjaga dan menghargai setiap barang yang dimilikinya saat ini. Tas yang dicucinya saat ini adalah tas yang dibeli dengan jerih payahnya sendiri.
Saat SMA dulu, gadis mencari tambahan uang dengan menjual makanan ringan yang dibuatnya sendiri dan di jajakan di kelas.
Dulu kak Gita hanya mengirim sedikit uang, baru saat kelas 3 SMA kak Gita memberikan uang cukup lumayan pada ibu dikampung.
Tapi Gladis adalah tipe anak yang tak tegang, dan tak mau memaksakan kehendaknya. Kalau dia menginginkan sesuatu dia akan berusaha mendapatkannya dengan caranya sendiri, yang penting tak membebani keluarga apalagi ibu.
Lihat bagaimana dia memperlakukan tas itu, sangat hati-hati dan lembut, walau sudah bertahun-tahun tapi tas itu begitu terawat bahkan terlihat seperti baru.
Diam-diam diko memperhatikan Gladys, Dia sangat senang melihat pekerjaan gladis yang ringkas. Keadaan dapur yang bersih, tak ada satu piring kotor pun, dan tak ada noda minyak sedikit pun dinding keramik. Dito makin mengedarkan pandangannya, dia memperhatikan bagaimana gadis menjemur satu persatu barangnya.
Ada tas, sepatu dan baju putih, adik iparnya itu setiap hari terlihat semangat, dan sangat sering bersenandung. Diko sedikit terhibur dengan kehadiran Gladis, mendengar senandung riang Gladis membuat hari-harinya jadi lebih ceria.
Gladis sangat beda dengan Gita, Gita tak pernah terdengar bersenandung gita juga orangnya pendiam, sedangkan diko sebenarnya lebih suka gadis periang seperti Gladis.
"Eh ada mas Diko," Gladis berbalik badan melihat Diko yang sudah ada di belakangnya.
Diko yang bertolak pinggang pun tersenyum, "wangi banget cucian kamu, sampai-sampai Mas terpanggil ke sini," ucap Diko.
"Hehe, iya mas, Gladis pake pewangi soalnya, mestinya sih cukup 2 tutup botol,eh malah ketumpahan hampir setengah botol, kalau tahu kak Gita bisa habis dimarahin," Gladis menepuk dahinya, seolah mengatasi dirinya payah.
"Haha… gak lah, cuma pewangi, kan murah, bisa beli lagi,"
Gladis terbelalak, Diko tak tahu saja kalau kak Gita itu sangat perhitungan dan cermat, walau hanya pewangi tapi itu bisa dipermasalahkan oleh Gita. Ah untung kejadiannya malam-malam, Gita kan sudah nyenyak tertidur.
"Oh ya, ini," Diko menyelipkan beberapa uang kertas berwarna merah untuk Gladis.
"Ih buat apaan ini? Gak usah mas," tolak Gladis.
"Gak apa-apa, ambil buat jajan, atau buat beli baju," seru Diko.
"Se.. serius mas?" Tanya Gladis tak percaya.
Diko mengangguk, "iya serius, ambil gih, buat beli baju putih," goda Diko.
"Hehe, mas bisa aja,"
"Kalau kamu butuh apa-apa bilang sama mas, insyaallah mas bantu," tawar Diko.
Gladis mengangguk, "Makasih ya mas," ucap Gladis sekali lagi.
"Oh ya untuk kejadian kemarin aku minta maaf ya,"
"Ke.. kemarin?"
"Iya yang dikamar,"
Mendadak pipi Gladis merah, jika dia mengingat kejadian itu, dimana Diko memeluknya erat dari arah belakang, dia ingat betul bagaimana benda tajam terasa begitu menusuk area bokongnya.
"Hmm, i.. iya gak apa-apa, lagian gak salah mas Diko juga, Mungkin salah Gladis," pipi Gladis kian memerah seperti terbakar matahari.
"Gladis yang minta maaf, karena masuk ke kamar gak ijin, habis kak Gita yang nyuruh," papar Gladis.
Diko hanya menelan ludah, ' Ah, tapi berkat Gita nyuruh Gladis ke kamar, jadi aku bisa memeluk Gladis, mencium aroma shampoo nya dan juga merasakan begitu rampingnya pinggang gadis ini,' batin Diko.
"Ngomong ngomong kamu besok ngampus jam berapa?" Tanya Diko.
"A.. aku, a.. anu jam jam berapa yah, ya mungkin agak siang mas, soalnya cuma 2 mata kuliah,"
Ya ampun aku kok jadi gelagapan gini ya? Kok aku jadi nervous gini ya, masa iya mas Diko mau nganterin ke kampus,nanti bisa-bisa kak Gita salah paham lagi, ah mungkin aku aja yang kegeeran.
"Emangnya mas Diko mau anterin aku?" tanya ku dengan wajah polos dan pura-pura bodoh.
"Hmm, pengen sih, tapi mas harus berangkat pagi," jawab Diko.
"Oh," Gladis hanya tertunduk.
Situasi mendadak mencekam, bukan mengerikan tapi lebih ke pemandangan salting. Lihat bagaimana Gladis berusaha bersikap biasa pada Kakak iparnya, dan lihat bagaimana Diko yang berusaha menahan kekagumannya pada adik iparnya sendiri.