Capek

1450 Kata
"Wah sayuran kamu enak juga Dia, sambelnya pedes manis, nagih deh, mas doyan banget, jadi inget masakan ibu," ucap Diko. Mendadak pipi Gladis merah, dia malu dipuji oleh kakak iparnya. "Mas mau nambah lagi?" "Hmm, gak ah nanti gendut, tapi masih menampung sih, habis enak banget sambel nya," Gladis kian riang, dia tak bisa mengendalikan perasaan senangnya, kok mendadak jadi sangat senang, melebihi dari dipuji oleh ibu dan adek ya? Kalo kak Gita kan memang tak pernah memuji masakannya, buktinya sejak dia tinggal di Jakarta, selama berbulan bulan Gita gak pernah berlebihan kayak mas Diko. "Boleh deh nambah sedikit," pinta Diko. Gladis dengan cepat mengambil sesendok nasi lalu sepotong tongkol dan juga sayur tumisan. "Pake kuah?" "Pake," "Ini mas," "Loh kamu sendiri? Kok gak nambah?" "Aku udah kenyang mas," "Aduh,.kalau dimasakin enak kayak gini terus bisa-bisa mas gendut Dis," Diko makan dengan sangat lahap. Gladis terhenyak, dia hanyut memandangi Diko yang begitu bernafsu makan. Tak lama cukup 5 suapan saja, piring kedua sudah ludes. Keringat di dahi Diko bercucuran, kalau Gita yang masak pasti gak akan sepedas sambal Gladis, tapi walaupun pedas sambalan Gladis sangat nikmat. Ada aroma khas dan rasa yang bikin nagih, maklum Gladis membuat sambal dengan bumbu rahasia yang diajarkan ibunya di kampung. "Huhh, kenyang banget mas," Diko menyandarkan punggungnya di kursi makan. Dan segera mengelap sekitar mulut. Ting nong… "Kok Gladis gak buka-buka pintu sih? Mas Diko juga ditelpon gak diangkat angkat," Gita kesal, kedua tangannya sibuk membawa barang-barang kantor. Ada laptop ada berkas-berkas dan banyak lagi. Gita malas kalau harus bolak balik ke mobil, mangkanya dia bawa sekali jalan dan kesulitan membuka pintu. Gita tadi berniat lembur, tapi atasannya berbaik hati, meminta Gita banyak istirahat, jangan sampai Gita sakit. "Gladis,.Gladis, buka pintu!" Teriak Gita. Dia sudah berdiri di depan pintu lebih dari 5 menit. Sementara di dalam sana, Gladis dan Diko masih menikmati makan malam. Sampai sampai teriakan Gita tak terdengar oleh keduanya. Bruk!!! Gita meletakkan barang bawaannya di meja tengah, lalu bergegas mencari keberadaan Gladis. "Sini biar mas bantu bawain ke belakang," "Gak usah mas, biar Gladis aja," "Gak apa-apa, kasian kamu capek, udah masak, nyiapin makan dan masa kamu bersih-bersih sendirian, biar mas bawain kebelakang ya." Diko berinisiatif membawa piring kotor ke Wastafel. Dengan cepat Gladis mengambil alih piring kotor di tangan Diko, sampai kedua tangan mereka saling bersentuhan secara tak sengaja. Dan… Gita menyaksikan adegan itu, dia juga memperhatikan menu di meja, hanya tersisa sedikit lauk pauk, "Ehem, Oh lagi pada di sini, aku sampai pegel nungguin di depan pintu," Gita melipat kedua tangannya di depan d**a. Gladys kaget hanya dia Diko juga ikut kaget, "kakak," "Sayang kamu udah pulang? Loh kok nggak bilang-bilang?" Diko menari kedua tangannya dari Gladis dan membiarkan Gladis membawa piring kotor ke belakang. Keladi segera bergegas mencuci piring, tak lama hanya sedikit piring kotor, dia dengan cepat merapikan meja makan. "Enak ya makan berdua, sedangkan aku capek-capek pulang kerja, minta dibukain pintu aja susah banget, tanganku pegel harus nenteng laptop, laporan, tas kerja dan banyak lagi," Gita memijat-mijat tangannya. Sebagai suami yang baik, Diko segera menuntun istrinya duduk di salah satu kursi, "Astaga sayang maaf, HP aku masih di mobil, kamu kok nggak nelpon gladis sih?" "Aku sudah telepon handphone dia, tapi sama aja kayak kamu nggak nyaut," "Astaga mati gue! Bisa-bisanya gue lupa misahin lauk buat kak Gita," Gladis menepuk dahinya. Dia menghampiri meja makan dengan langkah ragu-ragu, biasanya dia selalu memisahkan jatah makan untuk Gita, Dia pikir kita pulang seperti biasa pukul 07. Tapi kata Mas Diko kak Gita lembur. Tapi kok lembur cepet banget. Melihat Gladys yang menunduk membuat Gita memperhatikan adiknya, "Handphone kamu mana Dis?" Gladis mengangkat dahi, "a.. anu di kamar kak," jawab Gladys polos. Gita menggelengkan kepalanya, "emangnya nggak bisa ya dikasih nada dering yang gede? Jadi kalau apa-apa kakak bisa hubungi, kamu juga dengar, nggak adek ga suami sama aja susah dihubungi," Gladys hanya bisa menunduk saat Gita menceramahinya, "Nggak susah kok, kakak cuman minta tolong bukain pintu, tangan kakak penuh megangin kerjaan kakak, kakak capek lo kerja seharian, sebagian uang yang akan untuk kuliah kamu juga, masa bantuin kakak dikit aja nggak bisa?" Diko tak tega melihat Gladis dimarahi oleh istrinya, "Sudahlah sayang, nanti biar Mas pijitin di kamar ya," Diko mencoba menenangkan Gita. "Udah jangan ngomel-ngomel mulu, Gladis juga capek, lihat pekerjaan rumah semua beres, dia sudah nyuci baju, sudah ngepel bersih-bersih dan lihat dia juga masak, masakan nya enak sayang," Mendengar pembelaan Diko membuat mood Gita hilang, dia menatap judes ke Gladis dan juga Diko. "Aku capek, aku mau istirahat," Gita bangkit dari kursi. "Sayang, makan dulu, biar mas ambilkan," Diko berusaha merayu Gita. "Kamu kan pasti capek, kamu harus makan yang banyak, ada sayur, sayur bagus buat kesehatan kamu, biar mas yang suapin ya," Diko bergegas mengambil piring. Tapi rayuan itu tak dihiraukan oleh Gita, dia tetap berlalu meninggalkan meja makan. "Mas mas Diko," panggil Gladis. Diko masih sibuk mencarikan gelas istrinya dia gak sadar kalau Gita udah gak ada di meja makan. "Mas Diko!" Panggil Gladis "Tolong ambilkan sayur yang hangat!" Pinta Diko. Gladis menunjuk ke meja makan, dia ingin memberitahu Diko kalau kak Gita sudah tidak ada. "Ka Gita udah pergi," pungkas Gladis. Diko baru sadar, dia menengok ke arah meja makan, "Astaga, Gita.. Gita," Diko menggelengkan kepala dan meninggalkan piring begitu saja. Dia berusaha mengejar Gita. ** Di kamar "Sayang, kamu kok bete, mau makan apa biar aku pesen?" Tawar Diko. "Gak pengen apa-apa," "Serius? Nanti malem laper Lo," "Ya," Gita kembali ke rutinitas rutin, dia mulai bergelut dengan laptopnya, menyibukkan diri di sudut meja kamar. Hanya butuh beberapa menit untuk membilas diri, dengan anak kecil yang masih setia di atas kepalanya, tak sempat merawat diri dan tak ada waktu itulah Gita. Darmis suka merawat jari-jemarinya di atas laptop, lebih suka membuat otaknya bekerja agar produktif. Lihatlah bagaimana berkas-berkas itu sudah memenuhi permukaan meja dalam waktu singkat. "Kamu mau ngerjain ini semua?" Gita mengangguk "Serius yang?" Gita kembali mengangguk, "Astaga hampir saja aku lupa, besok akan ada peresmian di kantor satunya," Gita membuka map merah. Diko bertolak pinggang dia benar-benar tak habis pikir dengan istrinya yang semakin hari semakin sibuk dan tak punya waktu untuknya. "Hmmm, bagaimana kalau aku ambilin teh?" Tawar Diko, sebenarnya Diko memang suami yang romantis dan perhatian hanya saja Gita terlalu cuek dan dingin kepadanya. "Air putih aja," pinta Gita. "Siap bos," Diko segera bergegas ke dapur. ** "Duh kok aku masih lapar ya? Padahal baru sejam lalu makan, kayak ada yang kurang aja, gimana kalau aku buat cemilan?" Gladis bergegas menuju dapur, Dia baru saja habis mengerjakan tugas kuliahnya. Mengerjakan tugas membuat otaknya berpikir keras, perutnya keroncongan karena terlalu keras berpikir. Gratis berniat membuat bola bola kremes yang terbuat dari terigu dan mie instan, rasanya gurih dan enak akan lebih sedap jika dicocol dengan saus sambal. Dia memang suka ngemil malam-malam, kebetulan masih ada beberapa stok mie di lemari dapur. Dengan lincahnya dia memainkan pisau, memotong-motong bawang merah bawang putih dan juga daun bawang lalu mencampurnya menjadi satu adonan yang bisa dibentuk bulat. Aroma gas mie instan dan daun bawang bercampur jadi satu, tercium sangat terharu dan nikmat. Itu yang dirasakan oleh Diko. Tap.. tap.. "Eh mas Diko," gladis kaget dengan kehadiran Diko, wajahnya merona dia malu karena ketahuan ngemil malam-malam. Diko menelan ludah melihat cemilan di atas piring, 'kelihatannya enak,' laki-laki dia menelan salivanya. Dengan mulut masih mengunyah, "Em, cobain mas, enak loh, buatan Gladis," Tak pikir panjang Digo mengambil satu bola mie, dia menggigit dan suara kriuk dari cemilan garing itu terdengar begitu Krenyes, krek… "Gimana?" Tanya Gladis. Diko menikmati setiap gigitan, cukup 2 gigitan dan dia mengangguk setuju. "Wah enak banget," puji Diko. Pipi Gladis makin merah, entah kenapa dia sangat senang bahagia mendapatkan pujian dari Diko. "Ah mas Diko berlebihan," "Mm, serius, ini tuh rentak, garing, gurih, enak banget," "Coba cocok kesini," Diko mengambil bola mie berikutnya dan mengikuti instruksi Gladis, dari mimik wajahnya dia makin menikmati cemilan itu. "Woah, ini enak banget, mas mau dong dibuatin," pinta Diko. "Serius mas?" Diko mengangguk, "Sekarang?" "Nanti malam aja, buat begadang," "Mas Diko mau begadang kayak kak Gita?" Diko melirik kiri kanan, dia mendekat ke sebelah kuping Gladis, "Hush, nanti malam ada bola, mas mau begadang, biasanya sih Mas bisa nonton dari laptop tapi kayaknya bakalan seru kalau langsung nonton di ruang tengah," "Oh aku pikir Mas Diko bakalan begadang masalah kerjaan," Diko menggeleng, "ah masalah kerjaan ya cukup di kantor saja kalau di rumah aku pengen santai mas udah capek kerja mulu, Lampung masih tengah bulan jadi kerjaan kantor rada santai," "Oke deh mas nanti Gladis buatin ya," "Makasih ya, Mas mau antar minuman ini dulu buat kakak mu," Gladis mengangguk. "Nanti jam 2 mas turun lagi," teriak Diko Gladis hanya membalasnya dengan dua jempol.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN