Karena diburu waktu, aku jadi memesan ojek online, kupikir ini adalah jalan terbaik agar lebih cepat sampai, tempo hari aku juga sudah punya janji dengan Andien.
Benar saja sahabatku itu sudah menunggu di kantin tempat biasa kami bersua.
"Hai Dis, sini ayo!" ajak Andien.
Aku bergegas menghampirinya, tentunya setelah membayar tarif ojek online. "Ini kang makasih, kembaliannya ambil aja," pungkas ku menghampiri Andien dengan langkah berlari.
Andien sangat loyal dia sudah memesan makanan dan minuman dua porsi. Ku comot saja seporsi siomay di meja. Dan segelas teh.
"Hush!! Gak sopan," sikut seseorang dari arah belakang. Aku tak bisa menebak dari warna suara juga aroma parfumnya.
Ku letakkan sendok garpu dan ku kunyah dan telan lebih dulu, lalu aku menoleh ke orang yang menyikut ku.
Aku hanya mengernyitkan dahi, aku bertanya siapa sih orang yang sedang ada dihadapan ku ini.
Andien tersenyum ramah dan meminta si orang itu duduk.
"Hai Di, duduk," ajak Andien.
Pria dengan rambut ikal itu mengangguk dan menarik kursi lain, kebetulan kursi yang kami duduki cuma dua.
Jadi siomay ini untuk si dia bukan untuk ku kesal ku dalam hati. Bisa-bisanya Andien lebih menspesialkan orang ini dari pada aku, sedikit cemburu tapi masih bisa ku kendalikan.
"Oh ya Di kenalin ini Gladis," ucap Andien memperkenalkan ku dengan si pria yang duduk diantara aku dan Andien.
Ku perhatikan pria itu cukup tampan, hanya saja pakaiannya cukup berantakan, tak seharusnya dia menggunakan pakaian berlebihan seperti itu, bisa ditebak kalau orang itu cuek dengan pakaiannya.
Tapi jika dilihat pakaian yang digunakan adalah pakaian mahal, brand luar, dan lihat jam tangannya, harganya pasti lebih mahal daripada mobil mas Diko.
"Gladis, kenalin ini Demian, dipanggil Dino, wkwk," nada Andien bercanda.
Ah aku tak peduli mau dia namanya a atau b atau c, aku iya iya saja, "Hai," sapa ku sekilas sambil kembali menikmati seporsi siomay.
"Lo bilang pengen dikenalin Ama cewe, ni kenalin temen deket gue, cantik kan," ujar Andien seperti mempromosikan saja.
Emangnya dia pikir aku apa? Barang dagangan? Emangnya aku gak laku karena aku jelek? Gak lah aku menjomblo karena kriteria ku yang terlalu tinggi, wkwkwk senggut ku dalam hati.
"Hei, senyum-senyum, kesemsem ya sama Dino?" Goda Andien.
Astaga aku lupa mengontrol mimik wajahku, aku menyangkal, "Enak aja, enggak kok," pipiku mendadak merah.
"Ya udah yuk cabut!"
Aku hanya melongo saat Andien mengajakku menarik sebelah tangan ku keras, "Ma.. mau kemana Ndien?" tanya ku sambil ikut tergopoh-gopoh.
"Udah ikut aja!" ajak Andien memainkan alisnya pada teman prianya.
"Kita mau ajak happy-happy," jawab Dino dengan mengeluarkan kontak mobil.
Ku fikir rata-rata anak kampus bawa kendaraan standard yang harganya kisaran 300 jutaan, beda dengan si Dino, pria itu mengarahkan kami ke sebuah mobil mewah, dengan warna terang.
Mobil gagah, modern, canggih berwarna kuning, aku menelan ludah, mata ku seolah terpana melihat kendaraan roda empat di depan ku.
Andien menyikut lagi tanganku minta aku segera masuk, dan betapa syok nya aku saat Andien minta aku duduk di sebelah Dino.
"A.. aku dibelakang aja," tolak ku.
"Ih apaan sih, temenin Dino, kasian dia," elak Andien.
Terpaksa deh aku duduk di depan bersebelahan dengan Dino.
Dino memang tampan, kulitnya putih, tapi sayang dia kurang tinggi, aku sangat suka dengan pria yang jauh lebih tinggi daripada ku. Kalau masalah kulit sih gak apa apa mau putih atau hitam yang penting enak dilihat saja sudah cukup bagiku.
Pukul 5
"Dien, Di, anterin aku pulang ya, jangan sampai kak Gita pulang duluan bisa habis aku," pintaku pada Andien dan Dino.
Hanin sedang sibuk membongkar belanjaannya, Dino sangat royal aku dan Andien ditraktir banyak. Lihat ada sandal ada baju dan ada tas.
Malah rencananya habis dari butik Dino akan mentraktir kami makan, tapi aku minta dipulangkan, aku takut kalau kak Gita sudah pulang bisa habis diomelin nanti.
Andien hanya mengernyitkan dahi lalu dia memijat-mijat pelan, "aduh hari gini masih takut aja, Ya udahlah," raut kecewa itu diperlihatkan Andien.
"Sorry banget ya Dien, next time kita jalan lagi,"
**
Takut banget kalau kak Gita udah pulang, Aku berjalan mengendap-ngendap masuk ke rumah, dan syukur nggak ada siapa-siapa.
Keadaan rumah masih gelap, itu menandakan jika belum ada orang yang pulang. Dan aku pikir mas Diko sudah pulang ke Bogor.
Dengan santai aku merebahkan tubuhku di sofa ruang tengah, memijat-mijat betisku yang terasa nyeri dan capek, lumayan beberapa jam mengelilingi mall membuat kakiku kram.
Ku bongkar paper bag, yang isinya sandal, juga tas jinjing, walaupun itu barang mahal tapi tak sedikitpun menarik hatiku. Andien yang memilihkannya untukku bukan aku yang mau.
Bisa ditebak kalau Andien mau menjodohkan ku dengan Dino, kusandarkan punggungku di kursi, wajah Dino sama sekali tak menarik untukku, walaupun wajahnya cukup tampan tapi kok kurang greget ya.
Atau bisa dibilang kharismanya itu nggak ada, lihat deh kayak Ariel Noah walaupun dia udah berumur tapi kharismanya itu nggak mati-mati.
Aku kembali menyelonjorkan kaki, kubongkar paper bag terakhir yang berisi baju, sebuah dress pendek berwarna putih bersih, Astaga aku menggeleng-gelengkan kepalaku.
Bahannya itu loh tipis banget, dan lihat talinya lebih tipis daripada jari kelingking ku.
Ku lempar saja baju itu ke sembarang tempat, dan tiba-tiba,
Brukkk ..
"A.. astaga maaf, aku gak sengaja," ku ambil baju itu cepat.
Betapa malunya aku, saat tahu baju yang kulempar mengenai kakak iparku. Mau ditaruh dimana mukaku. Sebelum dia membentang baju itu kurebut lebih dulu.
"A.. anu, i ini punya teman ku," aku gelagapan, malu sendiri dengan pakaian tipis yang lebih layak disebut saringan kelapa.
Sementara kakak ipar ku masih diam saja, dia hanya menundukkan pandangan nya entah apa yang ada di pikiran nya sekarang.
"Ma . Mas Diko gak jadi pulang ke Bogor?" Aku mencoba basa basi, dan sedikit kepo.
"Diundur," jawabnya dingin.
"Oh," timpalku, "a.. anu aku mau beresin di belakang, mau cuci piring sekalian masakin kak Gita," ucapku berjalan mundur.
Karena kamarku dekat arah dapur, melihat wajah mas Diko yang dingin dan tak tersenyum sedikit pun membuatku jadi kepikiran.
Apa mas Diko marah dengan ku perihal tadi pagi? Tapi kan bukan salahku, aku hanya melaksanakan perintah kak Gita.
Aku jadi terbayang bagaimana dia memeluk pinggangku erat, bagaimana dia menghembuskan nafasnya pelan, dan bagaimana benda asing itu terasa tegang, keras dan tajam, agh!! Pikiran ku jadi kacau dan kotor, apa-apa an sih Gladis, buang tu pikiran kotor! Aku menggeleng-gelengkan kepala. Dan kembali mencuci piring setelah mengembalikan belanjaan ke kamar.
Aku berniat masak tumis kangkung dan sambal ikan tongkol, kebetulan masih ada beberapa potong ikan dan sedikit tahu.
Menu simple rumahan memang jadi pilihan praktis untuk ku, dan sangat enak dilidah ku, semoga saja kak Gita dan mas Diko suka.
Aku mulai memilah-milah cabai juga sebuah tomat, karena aku memang sangat suka pedas.
Tak lupa ku cuci tongkol lebih dulu, cukup 30 menit saja menu rumahan itu sudah siap tersaji.
Jam 7, biasanya kak Gita sudah pulang, tapi kok tumben belum juga nongol, aku memperhatikan jam di dinding. Berkeliling mall membuat aku merasa sudah lapar.
Kegelisahan ku ternyata jadi perhatian mas Diko yang duduk di sofa. Sementara aku sendiri sedang berdiri di dekat jendela sambil mengintip ke arah luar. Bersiap membukakan pagar untuk ka Gita.
"Ehemm, kamu kenapa?" Tanya mas Diko yang akhirnya bicara juga.
Aku menoleh, kaget dan sedikit legah akhirnya mas Diko mau bicara lagi dengan ku, aku menoleh dan menutup gorden.
"Kok ka Gita belum pulang ya mas?" Tanya ku sedikit khawatir.
Diko melipat majalah korannya, dan merapikan di bawah meja, "Loh Gita gak ngabarin?" Tanya mas Diko balik.
"Ngabarin apa mas?" tanya ku heran, sambil mengingat ingat pesan terakhir kak Gita. Pesan terakhirnya tadi siang yang berisi petuah, kalau Gladis gak boleh pulang sore-sore, dan harus kuliah yang benar, karena biaya kuliah mahal.
Aku menggeleng, "Ga mas, kak Gita gak bilang apa-apa,"
Diko tersenyum menghampiri ku, mendadak jantungku kok jadi berdebar-debar, astaga mau ngapain sih mas Diko? Tanya ku dalam hati.
"Gita lembut," jawab Diko dengan langkah pasti mendekat ke Gladis.
Gladis salting dia tak tahu harus bersikap seperti apa, "oh, a.. anu, a.. apa gak sebaiknya kita makan duluan mas, ma maksud aku, mas makan duluan, takut mas Diko lapar," aku beralasan, gak tau kok mulut ku jadi belepotan, aku sendiri heran.