Tragedi di Kamar Kakak Ipar

1168 Kata
Pukul 2, "Duh akhirnya kelar juga kerjaan kantor, dan ini beberapa planning tahun ini, semoga terwujud semua, pokoknya harus," Ucap Gita penuh ambisi, sepadan dengan semangat nya yang menggebu-gebu. Gita sudah sangat lelah, dia menggerakkan pinggangnya ke kiri dan kanan, lalu melepaskan kacamata silinder nya, dan bergegas naik ke kamarnya di lantai atas. Dia tak sempat merapikan tumpukan meja, yang penting file penting sudah dipisahkan. Besok dia perlu bawa 2 map kuning saja. Dan tak lupa kacamata baca miliknya. Menghadapi laptop dan juga berkas, kacamata menjadi hal penting untuk Gita. Krekk, Pintu itu dibuka oleh Gita, dia menggelengkan kepala saat tahu, kalau suaminya tak mematikan lampu, dan saat melihat kamarnya berantakan. "Astaga mas, mau tidur kok lampu gak dimatiin, terus ini, habis baca baca kok majalahnya gak dibalikin, dan ini, baju dimana-mana," gerutunya kesal sambil mengambil barang-barang berceceran dan menyingkirkannya. Gita tak punya tenaga lagi jika harus beres-beres, dia mau istirahat dia sangat capek, besok juga ada meeting penting. Dari pada mengganggu pemandangan, Gita memilih menyimpan barang-barang berserakan itu di keranjang di sudut kamar, besok dia akan bangun pagi dan membereskan nya. Dilihatnya Dito, seperti biasa, suaminya itu tidur mendengkur, membuat kuping Gita sakit. "Aduh, pusing aku, padahal yang capek begadang kan aku, kenapa dia yang ngorok, Gita memilih membelakangi Dito, tak lama dia tertidur. Merasakan ada seseorang di sebelah, Dito seperti terbangun, dan meraba-raba, "Sayang, sayang," suara Dito setengah berbisik. Dito sebenarnya suka wanita yang lembut, perhatian dan manja, tapi seiring berjalannya waktu dan seringnya bersama membuat Dito terbiasa menghadapi Gita yang cuek dan mandiri. "Sayang, capek ya?" tanya Dito yang sudah sadar dari tidurnya. Dia menghadap Gita yang membelakanginya,dan meraba-raba lengan Gita. Berniat memberikan sedikit pijatan. "Yang, cape ya? Biar aku pijitin ya," tawar Dito penuh maksud. Gita tak merespon, dia sebenarnya belum terlelap tapi dia sangat malas melayani Dito, jadi dia memilih pura-pura tidur. "Biar aku pijatin yah, kamu tidur aja," Dito melanjutkan pijatannya, dari atas sampai ujung kaki, lalu diulang lagi. Berharap keinginannya terpenuhi. "Gimana yang enak gak?" Tanya Dito dengan senyum sumringah. Beberapa kali bertanya tapi tak dapat jawaban, Dito mengernyitkan dahi, dia sangsi, apa Gita benar-benar tidur? "Sayang, sayang," Dito menggerak-gerakkan badan Gita. Dan dia harus menelan pil pahit, Gita benar-benar tertidur pulas. 'Agh! Sial,' gerutu Dito kesal bukan kepalang. Padahal dia sudah baik-baik mijitin Gita, dan mereka juga sudah sepekan tak berseng9am4. ** Cahaya terik matahari masuk menyelinap dari celah gorden, membuat sepasang suami istri yang terlelap itu menggelinjang. Terganggu dengan kehadiran sang Surya. Gita yang posisinya persis di depan jendela kaca dengan lebar 2 meter pun bangun lebih dulu, alangkah terkejutnya dia saat melihat matahari sudah mentereng. "Astaga," Gita bergerak cepat, dia masuk ke toilet, dan segera mandi. "Astaga, kok alarm nya gak bunyi sih? Kok mas Dito gak bangunin, biasanya kalau dia tidur lebih dulu dia juga bangun lebih dulu," Gita menyalahkan Dito. Gita harus cepat, dia tak boleh terlambat di meeting penting pagi ini, dia tergopoh-gopoh mengambil Hells hitam di lemari kaca, juga menggunakan pakaian kerja seadanya. Beda dengan biasanya, Mita bisa Berjam-jam menentukan pakaian mana yang akan dia kenakan di meeting penting seperti hari ini. Jatuhannya jatuh pada jas panjang dengan warna navy, juga celana high waist, cukup mengenakan make up simple, nanti tinggal touch up di mobil, Gita beralasan. Dia menuruni tangga cepat, hampir saja kepleset, untung ada Gladis yang memegangi sebelah tangan Gita. Gladis yang tengah membersihkan meja kerja Gita. Gladis sempat kaget dengan keadaan meja makan yang dipakai sebagai meja kerja Gita kemarin. "Duh, hampir jatuh, hati-hati kak, sendalnya ketinggian tu ka," ucap Gladis. Gita memegangi pegangan tangga dan memegangi dadanya cepat, "Huh, untung aja gak jatuh, alah lagian kakak udah biasa pakai high heels cuma lagi sial aja," elak Gita, sembari merapikan baju. "Atau mungkin gara-gara lantainya licin mangkanya Kakak sampe jatuh, mangkanya kalau ngepel yang bener, jangan terlalu banyak pakai super p3l, sesuai takaran, kan kalau kakak jatuh bahaya, siapa yang bayarin kuliah kamu, siapa yang cari uang, siapa yang ngerjain semua kerjaan kakak?" Celoteh Gita panjang kali lebar. Gladis hanya mengangguk, dia tahu Gita kalau sudah marah, ngomel pasti kata-kata kasar akan keluar dari mulutnya, dan lebih parahnya lagi Gita suka mengungkit ungkit. "Kamu denger gak kalau dikasih tau? Lagian kalau pakai sesuai takaran kan jadi hemat, aduh… jadi lupa kan kakak udah telat," Gita panik, dia buru-buru mengambil kontak mobilnya. "Dis tolong masukin File kakak ke mobil, buruan!" Seru Gita. Gladis mengangguk cepat tanpa jawab ba bi Bu, dia membereskan berkas milik Gita dan menyimpannya ke mobil. Gladis memang sangat ringkas, dia suka bersih-bersih rumah dan sangat paham pekerjaan rumah, walaupun IQ nya standar saja. Sedangkan Gita, dia memang terlahir dengan IQ diatas rata-rata, walau dia tak begitu pandai memasak, Gita juga tak suka dengan pekerjaan rumah mangkanya dia bekerja keras agar memiliki banyak uang, kalau punya banyak uang kan nanti dia bisa sewa ART. "Udah di masukin semua Dia?" tanya Gita menyadarkan Gladis yang berdiri di pekarangan rumah. Gladis mendekat ke mobil dia menengok Gita, dan mengangguk, "Iya ka sudah," "Laptop ku?" "Sudah," "Map kuning?" "Iya sudah," "Pulpen kuning di atas meja," "Sudah kak," "Ya sudah bagus, oh ya Dis tolong beresin kamarku, berantakan banget, ada majalah sama baju kotor Dito di keranjang, tolong di giling, majalahnya disusun di rak dekat tv, sama handuk dijemur yah, Dito kebiasaan taruh asal aja," "Iya kak, nanti mas Dito berangkat aku beresin," "Jangan nanti-nanti, sekarang aja! Dia kalau udah tidur kayak kebo," "Oh iya ka," "Gak lama kok paling berapa menit sih ambil baju kotor,jemur handuk,beresin majalah," "Iya kak," jawab Gladis patuh. "Ya sudah kakak berangkat, uang saku mu lusa baru kakak kasih, dihemat-hemat," Aku mengangguk, sudah hafal betul petuah kak Gita yang membuat kupingku panas, bahkan uang saku pun terus dihitung-hitung dan diungkit. Kesal sekali rasanya, tapi mau bagaimana lagi, kenyataannya kalau aku memang dikuliahkan oleh kak Gita, dan numpang tinggal dirumahnya. Aku harus membalasnya walaupun tak seberapa,aku bergegas ke atas, ke kamar kak Gita. Dengan hati-hati ku ketuk pintu, Tok.. tok Tak ada jawaban, ah pasti kak Dito masih tidur, aku raih knop pintu dan ku buka sepelan mungkin takut kalau kakak ipar ku bangun. Ku tutup kembali pintu, sengaja tak rapat agar nanti keluar tak repot, ku perhatikan sudut kamar, dan sebuah keranjang hitam berukuran sedang. Berisi majalah, handuk dan selembar baju kotor. Pertama-tama ku letakkan majalah dekat tv, lalu ku ambil handuk juga baju mas Dito untuk dicuci lalu dijemur. "Karena harus ngampus jam 9 jadi aku sudah mandi dari pagi dan sudah pakai baju rapi, setelah bersih-bersih kamar ka Gita aku hanya perlu mencuci piring bekas masak tadi. Aku menyiapkan nasi goreng juga telur ceplok untuk sarapan pagi ini, kak Gita juga aku buatkan bekal, walau bagaimanapun juga aku harus berusaha merebut hati kak Gita. Aku kembali fokus pakai pakaian kotordi tangan ku, dan tiba-tiba… seseorang memegang pinggang ku erat. "Sayang, wangi banget? Kamu bikin aku nafsu deh, aroma rambut mu wangi banget bikin ketagihan," Sontak saja bulu kuduk ku berdesir hebat, sssrtt!! Aku tak bisa berkata-kata saatbenda aneh di bawah sana seperti menusuk area b****g ku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN