*** Brayen baru saja masuk ke dalam kamar. Melihat Aluna yang sedang duduk di pinggiran ranjang sambil menangis dengan mata yang merah. Brayen mengerutkan keningnya, siapa yang udah membuat Aluna menangis? "Al, kamu kenapa?" Brayen duduk di samping Aluna dan meyentuh baju Aluna dengan lembut. Tapi Aluna malah menepisnya dengan telak, membuat Brayen menjadi kaget. "Sayang?" "Pergi dari rumah ini!" suara Aluna naik lebih tinggi, dengan mimik membentak. "Pergi? Maksud kamu apa?" tanya Brayen kebingungan. Tidak tahu kenapa Aluna tiba-tiba seperti itu. "b******k!" Brayen menelan air liurnya dengan susah payah, merasakan sesuatu sudah terjadi. "Aku mau kita cerai!" kata Aluna pada akhirnya. Yakin dengan keputusan yang sudah ia buat, meski di dalam hatinya terluka sekali saat melon

