Bab 11. Permintaan

2005 Kata
*** Semua orang memerhatikan Aluna, menyuruhnya memakan segala jenis buah, vitamin, dan kembali menyuruhnya tidur, seharian di rumah sakit benar-benar membuatnya menjadi jenuh, semua kebebasannya seolah terkekang, bahkan ia sudah dilarang untuk tidak masuk kampus, kuliah di rumah dengan dosen pribadi, tapi Aluna menolak mentah-mentah, tidak menerima keputusan yang sudah dibuat kedua orangtuanya. Baginya, berada di luar rumah, akan membuat beban fikirannya hilang, apalagi kondisi hamil seperti ini, butuh banyak hiburan agar janinnya bisa berkembang dengan baik. "Pokoknya, mamah mau kamu jagain kandungan kamu, ini itu cucu pertama mamah. Jadi, harus dijaga baik-baik." kata tante Tari mewanti-wanti. Karena takut, terjadi pendarahan lagi, dokter sudah menjelaskan, jika Aluna kembali mengalami pendarahan, bayi yang ada dalam kandungannya tidak bisa ditolong lagi. Aluna mendesis, melirik Brayen yang diam dengan acuh, memainkan ponselnya dengan serius. Padahal, ia sangat ingin diperhatikan, disuapi makanan dan diantar keliling rumah sakit, duduk ditaman, melihat anak-anak kecil yang menggemaskan. Mungkin, saat ini ia sedang diserang keinginan ibu hamil, ngidam. Aluna baru merasakannya, keinginan itu datang tanpa bisa dicegah, sekua tenaga untuk tidak meminta hal konyo itu, tapi ini benar-benar sulit, seolah menahan kentut ditempat orang ramai. Ngidam itu benar-benar menyebalkan. "Mamah lihat itu, dia nyeblin!" Aluna sedikit  berbisik, menunjuk Brayen dengan gerakan mata. Tante Tari menautkan alisnya, dalam beberapa detik, ia tahu permintaan tersirat dari menantunya. "Brayen, kamu ngapain sih, main hape terus." Brayen memutar bola matah jengah, memangnya dia harus bagaimana? "Terus? Aku harus ngapain?" "Ya kamu jaga Aluna lah, sebebtar lagi mamah sama papah pulang, otangtua Aluna juga mau pulang, jadi kamu harud jagain Aluna sampai dia keluar rumah sakit." "Apa?" "Nggak usah banyak penolakan, ini perintah mamah dan kamu harus mau ikutin." kata tante Tari tak terbantahkan, Brayen menggertakkan giginya gemas, perempuan itu pasti akan memanfaatkan kehamilannya, menyusuhnya melakukan segala macam, Brayen benar-benar tidak sudi. "Kalau kamu nggak mau menjaga anak saya, lebih baik kamu pulangin dia ke rumah saya!" kata om Arif ketus, sangat ketus, bahkan tatapan matanya menusuk Brayen, mulai tidak suka saat melihat kelakuan Brayen sebenarnya. Laki-laki itu hanya bermulut manis di depan, seolah benar-benar menerima perjodohan mereka, namun nyatanya hanya topeng. "Nah, itu kata papahnya dirawat di rumahnya aja mah, kan aku sibuk." kata Brayen, meluncurkan senyum kesenangan. Tante Tari membuka lebar kedua matanya, mengertak anak itu. Om Arif mulai naik pitam, kedua tangannya sudah saling terkepal, anak itu sudah meremehkan kemarahannya. Ia tidak akan tahu, bagaimana murkanya seorang ayah saat anak perempuannya tersakiti. "Brayen! Jaga ucapan kamu, Aluna istri kamu!" "Kenapa semuanya jadi ribut sih, aku nggak mau tau, pokoknya Brayen harus ikutin kemauan aku, kalau enggak, aku nggak mau jaga kandungan aku lagi." kata Aluna cepat, sontak semua mata tertuju pada Aluna. "Jangan-jangan, sayang. Iyah, mamah pastiin Brayen akan penuhi apapun kemauan kamu." "Mah..." Tante Tari tidak menghiraukan Brayen, ia justru lebih memiluh berbicara dengan Aluna. Om Rendra sudah kesal menahan malu, sebenarnya Om Arif sangat ingin menghajar menantunya itu, namun aksi itu bisa ditahan istrinya, saat tante Diana menggenggam tangannya. Aluna sudah beroh-oh ria , ternyata kehamilannya juga bermanfaat, bisa membalaskan sakit hatinya pada Brayen, akan dengan mudah menruhnya bagaikan seorang supir, suap mengantarkan kemana pun pergi. "Oh iya Bra, gue mau lo beliin gue mangga muda." "Ck, itu kan ada!" "Gue mau yang baru. Cari mangga yang kembar." Kedua mata Brayen berhasil melotot kaget, perempuan itu semakin gila. Permintaannya benar-benar tidak masuk akal. "Lo gila, mana ada mangga yang kayak gitu!" "Brayen, jangan tolak. Ini kemauan istri kamu. Dia itu lagi ngidam, dan ini permintaan bayi yang ada dalam perutnya" Brayen benar-benar merasa seperti anak tiri, anak yang dinomor duakan, sangat kesal dengan Aluna yang benar-benar menyebalkan. "Oke, gue cari!" Brayen berdiri menarik gagang pintu dengan kuat. "Bra!" "Apalagi?!" "Gue mau pegang hape lo, gue nggak mau nanti lo temuin pacar lo lagi." "Apa? Pacar?" "Iya, kalian harus tau, dia masih jalin hubungan sama pacarnya." kata Aluna terang-terangan, semakin membuat Brayen kesal, ingin menyumpal mulut bocor Aluna dengan popok bayi. "Enak aja lo, nggak usah nuduh. Gue nggak mau, ini kan hape gue, gue yang beli." tolak Brayen, menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menyembunyikan ponselnya. "Brayeen!" Dengan sangat malas, Brayen terpaksa memberikan ponselnya, dengan wajah yang sangat-sangat tidak rela. Mengetatkan rahangnya, ingin sekali rasanya mencubit keras kedua pipi Aluna, kelakuannya semakin menjadi, membuat emosinya meletus kepermukaan. "Jangan lama." Tanpa menjawab, Brayen ngeloyor pergi, sudah terlanjur kesal, lebih baik pergi keluar, dengan begitu ia tidakan akan memandang wajah manja Aluna yang sangat menjengkelkan, jujur Brayen sendiri sangat tidak menyangka, ada benihnya yang tertanan sempurna di rahim Aluna. Harusnya, perempuan itu tidak akan hamil secapat itu, tapi nyatanya tuhan malah memberinya calon bayi, bayi yang benar-benar belum diinginkannya. Di koridor rumah sakit, Brayen mengomel sendiri, bahkan menggepalkan kedua tangannya dengan kaki yang menghentak ke atas lantai. Sudah seperti orang gila yang kehabisan obat penenang, semua menatapnya dengan sorot mata heran. Menggelengkan kepala iba, pria tampan seperti Brayen, ternyata kurang waras. "Gila kali ya, kenapa mau gue cari mangga kembar. Ngidam palsu tuh cewek, dimana-mana yang gue tau, buah-buahan yang kembar itu, cuma pisang, salak. Seumur-umur gue tinggal di indonesia, gue belum pernah liat, kayak apa bentuknya mangga kembar setan itu, jangankan ngeliat, nyium baunya aja gue alergi, b*****t! Benar-bener perempuan gila, sengaja banget ngejaun gue, gue sumpahin lo keguguran!" sumpah serapah j*****m keluar dari mulut busuk Brayen, tingkahnya benar-benar tidak bisa tertebak, bahka  kehadiran bayi di dalam perut Aluna tidak mampu melumerkan hatinya yang kasar. Sudah terlanjur menanam benci di dalam hati, karena istri yang diinginkannya hanyalah Ines, bukan Aluna. *** Aluna tidak bisa menyembunyikan kemarahannya, melihat foto-foto di ponsel Brayen hanya tersimpan foto-foto Ines, bagaimana mesranya mereka saat berpekukan, bahkan saling mencium pipi, hati Aluna terasa sakit, bagaimana pun melihat ayah dari anak yang dia kandung mencium perempuan lain membuat hatinya sakit, merasa benar-benar tidak dihargai. Jujur, sebanarnya Aluna ingin marah, saat Brayen benar-benar tidak perduli dengan kehadiran bayi di dalam perutnya, tapi sebisa mungkin ia membuang jauh-jauh kesedihan yang hanya akan membuatnya lemah, lantas bagaimana jika suatu saat nanti pertahanannya akan runtuh? Saat seorang wanita hamil menginginkan kehadiran suami, bahkan sekarang pun, ia benar-benar ingin diperhatikan, ternyata benar, ada kalanya istri benar-benar menginginkan suami di sisinya, dan sekarang Aluna ingin hal itu. "Gue tau, lo emang nggak cinta sama gue, tapi lo harusnya hargain gue sebagai istri lo. Gue nggak selembut pacar lo, tapi gimanapun gue istri lo, orang yang lebih pantas untuk lo sayangin." lirih Aluna pelan, sangat pelan, hingga nyaris tak terdengar telinga. Kedua orangtua dan mertuanya sudah pulang, hanya tinggal Aluna sendiri, tidur di atas ranjang, membuatnya merasa bosan. Aluna memilih turun dari ranjang, berjalan ke dalam kamar mandi, lalu membuang ponsel Brayen ke dalam closed, tidak perduli dengan kemarahan yang akan diterbitkan Brayen, yang jelas Aluna bebas melakukan apapun semaunya. Aluna keluar dari dalam kamar mandi, kembaki berjalan, ingin keluar daru dalam ruangan yang membuatnya benar-benar bosan. "Ehh, Al... Lo mau kemana?" "Aduh, lo ngapain di sini?" "Gue disuruh nyokap lo, buat nemenin lo sampe Brayen dateng." "Ck, mending lo pulang." "Lo ngusir gue, Al?" Aluna mendegus kesal, entah kenapa moodnya tidak baik, hanya ingin Brayen cepat kembali, ia sudah tidak ingin mangga itu. "Gue nggak mau pergi, dari pada gue dimarahin, pokoknya lo balik lagi ke dalam." "Gue nggak mau." tolak Aluna, lantas berjalan keluar, memegang perut yang masih terasa nyeri. "Ih, lo keras kepala banget sih." Jesika greget sendiri, padahal Aluna belum diizinkan untuk banyak bergerak, pendarahan kemarin bisa saja terjadi kapan pun, kalau ia tidak mampu mengikuti saran dari dokter. "Al, ayo balik. Lo tau nggak, lo bisa keguguran loh, janin lo masih lemah, ayolah, kali ini aja lo dengerin gue." Aluna hanya bergeming, tidak perduli. Kembali melangkah, entah ingin kemana, yang jelas Aluna malas berada di dalam kamar itu. Saat melintasi suatu ruangan, mata Aluna tertuju pada bayi-bayi mungil yang sedang menutup mata, dibungkus dengan kain bedungan yang lembut, membuat mereka menjadi hangat. Aluna mendoggan kepalanya, menatap tulisan 'Ruangan Bayi', ada kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan, ia menyentuh perut datarnya, di dalam sana, ada calon bayinya, yang akan terlelap bersama bayi lainnya nanti, di dalam ruangan ini. Aluna ngeloyor masuk, membuat suster di sana memandang Aluna bingung. "Sus, saya boleh lihat bayinya?" Kening suster itu berkerut dalam, satu detik, dua detik, tiga detik, hingga akhirnya suster cantik itu tersenyum, lalu mengangguk sebagai respons. "Boleh, mbak..." Aluna sangat senang, lalu melihat bayi yang sangat cantik, kulitnya putih, pipinya begitu chubby, benar-benar tidak sabar ingin memiliki bayi sendiri, betapa bodohnya ia, melakukan hal kemarin, hampir memusnahkan calon bayi yang lucu. Jika sampai ia keguguran, mungkin sekarang akan menangis dengan penuh penyesalan, sangat munafik jika ia tidak menginginkan bayi itu, karena sekarang, Aluna sangat menyayanginya. Aluna menyentuh pipinya lembut, membuat bayi itu sedikit terusik, hingga menangis, Aluna tidak yang tudak tahu, lantas mengangkat tangannya, bingung menghentikan tangasan sang bayi. "Coba digendong deh, mbak. Bayi ini kasihan sekali, ibunya datang sendiri ke rumah sakit ini, menurut pengakuannya, suaminya bekerja di luar negri dan tidak ada kabar, sementara ibunya meninggal sehari setelah melairkan bayi ini." mendadak, hati Aluna terenyuh, hidup bayi itu sangat menyedihkan, sementara dirinya sangat bahagia karena memiliki keluarga yang lengkap, kedua orangtua dan juga kakak yang sangat menyayanginya. Pelan-pelan, Aluna menggendong bayi itu, semerbak bau surga itu menghipnotis rongga hidung Aluna, lalu menciumnya dengan sayang, hanya dalam beberapa detik, bayi itu mampu terdiam, seolah sangat nyaman di dalam pangkuan Aluna. Jesika yang berdiri sejak tadi di lawang pintu sangat terkesan, ternyata Aluna bisa bersikap selembut itu. "Terus sekarang, bayi ini gimana sus?" "Belum tau, mbak. Rencananya sih, direktur rumah sakit ini yang mau mengadopsinya, soalnya hampir 10 tahun menikah, direktut Hans belum dikasih momongan." Seolah terlihat akrab, Aluna menjadi ingin membawa bayi itu keruangannya, setidaknya untuk menemaninya hingga Brayen kembali. Apalagi yang sangat menakjubkan, saat bayi itu terlepas dari tangan Aluna, ia kembali menangis, benar-benar tidak ingin berjauhan dengan wanita yang mungkin dianggap ibu. *** "Sumpah, Jes. Anak ini itu lucu banget." "Nah, lo suka sendiri kan sama bayi. Gimana kalau kemarin bayi lo keguguran, pasti lo nyesel." "Diam." Aluna menatap Jesika tidak suka, seolah dipojokan. Jesika melipat bibirnya ke dalam, lalu menutup mulutnya. "Sorry, Al." Pintu terbuka, menampilkan sosok Brayen di sana. Pria itu mengerutkan keningnya, lalu memutar bola mata jengah, sangat terkejut melihat Aluna menggendong seorang bayi. Apakah perempuan itu sudah melahirkan bayinya? "Lo udah melahirkan?" cepat-ceoat Brayen masuk ke dalam, menatap heran bayi yang tidur di pelukan Aluna, seingatnya ia hanya pergi beberapa jam, lalu bagaimana mungkin Aluna bisa melahirkan secepat itu. Ia juga tidak amnesia atau berada di dalam mesin waktu yang cepat, ini bukan dunia doraemon, yang bisa pergi kemasa lampau atau masa depan dengan pintu ajaib, lagi pula ia juga tidak salah masuk pintu, ia benar-benar masuk ke dalam pintu kamar rawat Aluna. "Gue pergi cuma beberapa jam, bukan sembilan bulan. Ini bayi udah brojol aja." Jesika mendorong kepala Brayen, hingga terdorong kebelakang. "Dasar dodol, mana mungkin Aluna udah lahiran. Itu itu bayi orang." "Lo culik anak orang? Gila lo, mau masuk penjara?" "Lo bisa diam nggak sih, Bra. Dateng-dateng main nyerocos nggak jelas. Gue cuma pinjam anak ini, nanti juga bakal dibalikin kok." Brayen benar-benar tidak habis pikir, setan apa yang bersemayam di benak istrinya, hingga harus mengambil bayi orang lain, sepertinya kehamilan itu benar-benar merusak akal sehatnya, hingga tidak sabaran melihat bayi yang ada di rumah sakit, Aluna gila. Pikir Brayen kacau. "Brayen, muka lo kenapa schok itu, bayi selucu ini masak lo nggak tertarik, makanya, sayangin istri lo, kan mau ngasih lo anak selucu ini." kata Jesika, lalu menatap Brayen dengan tatapan remeh. Brayen mendelik, tidak menghiraukan ucapan, Jesika. "Gue nggak dapet mangga aneh yang lo mau, yaudah, gue beli aja yang ini." Aluna menatap kantong berlapis-lapis itu, berisikan mangga yang segar-segar, tapi sayangnya Aluna sudah tidak menginginkanya. "Gue udah nggak pengen, lo buang aja." Mendengar pernyataan Aluna, nyaris membuat Jesika ingin tertawa terbahak-bahak, apalagi ekspresi yang dipancarkan Brayen sangat kesal. "Kurang ajar, lo ngerjain gue!" "Lo berani bentak gue, gue bakal adyin lo ke mamah Tari." Aluna menatap songong kearah Brayen, menyipikan matanya, memamerkan kemenangan yang berada di tingkat atas, sementara Brayen masih jauh tertinggal di bawah. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN