Bab 10. Penyesalan

1799 Kata
*** "b******k!" berkali-kali pukukan keras dari Rio di hantamkan ke wajah Brayen, membuat laki-laki itu tersungkur di atas lantai, emosinya sudah mendidih ke jantung, tidak akan memberi ampun pada laki-laki seperti Brayen, isakan tangis Aluna masih menggema di telinganya, membuat hatinya semakin sakit. Ia akan menghabisi siapapun yang menyakiti orang-orang yang dia sayangi. Tidak membiarkannya hidup bebas tanpa dosa. "Gue nggak bisa nerima, lo bikin adek gue sakit hati." kedua matanya melotot, memandang Brayen penuh emosi, nafas Rio memburu, seiring meledaknya amarah yang tersimpan. Brayen tertawa sarkastis, lalu memandang Rio tanpa minat. "Maksud lo apa? Lo bilang gue sakitin hati adek lo? Bukanya kebalik? Kalian berdua yang udah bikin gue sama Ines mendererita, nggak usah memutar balik fakta, lo pacarin Ines kan? Lo yang bikin gue sakit hati, jadi impas dong, gue bikin adek lo menderita." seakan ditoyor dengan ucapan itu, Rio kembali mengepalkan tangannya, melayangkan pukulan kuat di hidung Brayen, hingga mengeluarkan darah segar. Brayen kembali tersungkuh dibatas lantai, membuatkan tubuhnya tergolek begitu saja, tidak melakukan perlawanan apa pun, memberi kebebasan penuh untuk Rio menghabisi wajahnya. Rio kembali menarik kerah baju Brayen, menegakkan tubuhnya secara paksa. Lalu nyaris mencekik lehernya. "Kalau lo nggak terima, lo bisa hajar gue, lakuin apa pun sepuas hati lo, tapi jangan pernah lo sakitin hati, Aluna." "Gue nggak perduli sama hati dia! Kalau lo mau adek lo ngga sakit hati lagi, kembalikan Ines ke gue." "b******k!" pukulan itu kembali memburi Brayen, Rio bahkan menendang perutnya, sampai menginjaknya kuat, membuat pria itu terbatuk karena sakit. Ia hanya kembali tertawa, seolah benar-benar menganggap remeh amukan Rio. "Jangan bilang sama Brayen kalau aku hamil, kak. Kalau kakak bilang, aku nggak segan-segan buat gugurin anak ini, setelah itu, aku akan habisi nyawaku." Kalimat itu kembali menyentil telinga Rio, kalau bukan terikat janji dengan Aluna, ia pasti sudah memberi tahu laki-laki itu, tentang keberadaan bayinya dalam kandungan Aluna. Setelah puas membabi buta Brayen, kini Rio meninggalkan Brayen yang masih terkapar, memandang Rio dengan tatapan setan. *** Aluna sudah benar-benar tidak bisa berfikir jernih, sudah berusaha untuk mempertahankan bayi itu, tapi nyatanya, kebimbangan selalu membuat kepalanya ingin pecah. Ia memandang gelas berisikan jamu yang akan segera meluruhkan janinnya, entahlah, mungkin dengan begini, semua akan berakhir, laki-laki seperti Brayen akan kehilangan anaknya, balasan yang setimpal. Membuat laki-laki itu menyesak karena tidak akan bisa bertemu anaknya. Aluna mengusap air mata yang masih mengalir di pipi, lalu mendekatkan gelas yang berisikan air terkutuk itu ujung bibirnya, menelannya dengan mata terpejam, bau khas jamu kini masuk kerongga hidung, merasakan pahitnya air itu. 'Kau membunuhku, ibu.' Mata Aluna terbuka, kalimat itu memukul dadanya, cairan itu telah habis setengah, masuk ke dalam lambungnya. Cepat-cepat Aluna berlari ke dalam toilet, memasukan jari ke dalam mulutnya, harus memuntahkan jamu sialan itu, Aluna menyesal, bertidak gila seperti orang yang tidak punya otak. Dalam beberapa detik, ia berhasil, memuntahkan jamu itu kembali, tenggorokannya terasa sangat pahit, dirinya seolah tak berpijak di atas bumi, bagaimana bayi itu? Reaksi yang dirasakan mulai terasa, Aluna menyentuh perut yang terasa sangat nyeri, mendadak berada dalam ketakutan, ketakutan yang tidak bisa dijelaskan. Nafas Aluna memburu, tubuhnya gemetar, keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Kebimbangan setan itu berhasil mengoyahkan keputusan-keputusan terkutuknya, jika bayi itu benar-benar keguguran, maka Aluna benar-benar perempuan terkutuk. Aluna berjalan tertatih-tatih, memegang perutnya yang terasa sangat sakit, melilit bagaikan kawat berduri yang membelit, rasa sakit itu terasa hingga menjalar ketulang ekornya, benat-benar sakit. Dengan tangan bergetar, ia mengambil kembali ponselnya, membuka grubchat mereka bertiga. Aluna: 'Jes, bawa gue ke rumah sakit, gue kesakitan setelah minum jamu itu ' Jesika: 'lo benar-benar pengen bunuh anak, lo?' Aluna: 'cepaatt! Tolongin gue, sakiitt!' Riana: 'astaga, Alunaa. Lo benar-benar gila ' Aluna menaruh ponselnya kembali, meringkuk di atas ranjang sambil memegangi perutnya, sungguh, ini benar-benar sangat sakit. Otaknya terus mencerna, perbuatan yang dia lakukan sudah melampaui batas. Karena menahan sakit, Aluna sampai mengigit bibirnya, merintih hingga mencengkram speri kasur. Daha merah sudah berserakan di mana-mana, sakitnya pendarahan seratus kali lipat dibandingkan sakitnya mestruasi. Tidak lama kedumian, Jesika dan Riana datang, mereka serempak menjerit dan berteriak. Aluna sudah nyaris tidak sadarkan diri, mukanya pucat pasi, tangannya dingin, telinganya sayup-sayup mendengar langkah kaki Jesika dan Riana mendekat. Dalam mimpi, Aluna bertemu dengan Brayen, laki-laki utu tersenyum manis kepadanya, menagapnya penuh cinta, menggenggam tangannya, lalu menciumnya dalam, sambil berkata. 'Jangan lakukan itu, Aluna. Dia tidak salah, maafkan aku' *** Aluna terbaring kemah di atas ranjang, di tangannya menempel jarum infus. Aluna menatap nanar tabung infus yang menggantung, tidak ada yang dipikirkan selain mengingat perbuatan gilanya, bahkan sampai saat ini, ia belum tau, apakah bayi itu masih ada di dalam perutnya, atau sudah hilang karena perbuatan kejinya. "Lo kenapa bisa setega itu, Al. Gue pikir lo bakal pertahanin anak lo sendiri, dan nggak ngelakuin tindakan ini." Lantas, Aluna membuang mukanya  setetes air matanya jatuh. "Buat apa? Ayah dari anak itu juga nggak pengen dia lahir." "Brayen udah tau soal ini?" Aluna hanya menggeleng. "Bahkan lo sendiri nggak bilang sama Brayen soal kehamilan lo, gimana lo bisa simpulin kalau dia nggak mau nerima anak itu?" Jesika tidak habis fikir, kehabisan kata-kata untuk menghadapi Aluna. "Lo nggak tau, ini berat buat gue." "Terus dengan lo bunuh anak lo, itu bisa bikin semua beban lo hilang? Enggak, Al. Gue itu sayang sama lo, lo sahabat gue, dan gue nggak mau, lo itu hidup dalam rasa bersalah, kerena ngambil keputusan yang salah." "Terus gue harus gimana? Gue tau gue salah, dan sekarang, gue harus nerima resiko sebagai pembunuh, karena ngebunuh anak gue sendiri." intonsi suara Aluna naik, rasa marah dan kecewa pada diri sendiri tidak bisa terelakkan, nasi sudah menjadi bubur, ia sudah salah jalan dalam mengambil keputusan. Jesika mendesah resah, "lo harusnya bersyukur, karena bayi lo masih di selamatin sama tuhan." "Ma--maksud, lo?" "Lo nggak keguguran, meski mustahil, karena pendarahan yang lo alami cukup hebat. Tapi, Allah masih mau pertahin anak lo itu. Mungkin, ini udah jadi takdir lo, mau nggak mau, sepahit apa pun, lo harus terima." Ada rasa sejuk yang menyiram d**a Aluna, bayi itu masih ada dalam rahimnya, tumbuh dan masih bernyawa. "Sekarang, biar gue telfon Brayen. Biar dia tau, kalau lo lagi mengandung anak dia." "Jangan, Please, jangan kasih tau dia." "Kenapa? Dia kan harus tau." "Biar nanti gue sendiri yang kasih tau." Jesika hanya mengangguk, "oke." Rio masuk ke dalam ruangan Aluna, memandang adiknya dengan wajah kekecewaan, ternyata, Aluna sudah mengingkari janjinya. "Apa yang udah kamu lakukan, Aluna?" tanya Rio, suaranya penuh penekanan, menelan kecewa. Jika Aluna benar-benar berhasil mengugurkan kandungannya, Rio berjanji, tidak akan bisa memaafkan Aluna. "Ma--maaf..." Kening Rio berkerut dalam, kemudian menatap Aluna dengan tatapan teduh. "Harus berapa kali kakak bilang sama kamu, tolong, jangan pernah lakuin hal terkutuk itu, tapi kenapa kamu tetap mau bunuh dia." "Aku nggak tau, dan aku masih belum bisa ngerti, apa aku bisa nerima dia." "Apalagi yang harus kamu permasalahkan, Aluna. Kakak sudah memberi pelajaran sama dia, jangan bikin kakak malu, karena kakak sudah membela kamu mati-matian, gimana kalau Brayen tau kamu mau menyakiti anak kamu sendiri, kata-kata apa lagi yang harus kamu denger dari mulutnya, belajarlah untuk membuang jauh-jauh sifat egois kamu, Al. Kamu bisa pegang ucapan kakak, saat bayi itu udah nggak ada lagu di dalam perut kamu, kamu pasti akan menginginnya kembali, jadi kamu jangan pernah hilangin anak itu." Rio menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Untung saja, bayi kamu itu masih bisa diselamatkan. Sekarang kamu lihat diri kamu, kamu berada di sini, kamu tau apa yang bakal kamu dapet dari Brayen? Justru kamu akan senakin dihina. Harusnya, kamu bisa jadiin bayi kamu itu sebagai alat yang bisa membuat Brayen bertekuk lutut, bukannya itu yang kamu mau?" Mata Aluna mengerjab, mencerna ucapan Rio. Memang ada benarnya kata Rio, dengan kehamilannya itu, mertuanya akan semakin menyayanginya, akan memaksa Brayen untuk bertekuk lutut di hadapannya. "Sekarang, mamah sama papah, bakal dateng kesini, kakak udah kasih tau mereka, kalau kamu pendarahan, kaka sengaja bilang, kalau kamu nggak tau soal kehamilanmu itu, hingga akhirnya kamu harus mengalami pendarahan, keduaorang tua Brayen juga sudah tau, dan kamu tau apa yang terjadi, mereka marah sama Brayen, menganggap Brayen nggak becus jaga kamu." "Apa, kakak kasih tau mereka?" "Bukan kak Rio, tapi gue. Gue hampir aja rasanya mau tampar lo." kata Riana cepat, memasang wajah kesal menatap Aluna. "Kok lo gitu sih?!" "Yaa kalau gue nggak laporin lo, bisa aja lo ngulangin lagi kan? Yaa lebih baik mereka tau, biar lo nggak bisa seenaknya mau bunuh anak lo." "Kamu liat, Al. Temen-temen kamu aja, yang bukan siap-siapa anak kamu, sangat memperdulikan anak kamu, tapi kamu sendiri malah mau singkirin dia." Aluna merasa teropojok, memilih menangis. Mereka semua semakin membuat Aluna merasa bersalah, menyesal karena sudah melakukan kejahatan, amarah butanya sudah membuatnya nyaris seperti wanita yang tidak punya hati, sangat terkutuk dirinya. "Kalian terus aja pojokin gue." "Nggak ada yang pojokin kamu, Al. Kita semua sayang sama kamu, sayang sama calon bayi kamu itu." Aluna hanya terisak, dadanya bagaika dihimpit batu besar, kesalahan yang ia lakukan sudah membuat orang lain salah paham. *** Brayen tidak bisa banyak bicara, di dalam mobil mamahnya terus mengomel tidak jelas, memberi tahu istrinya sedang mengandung, menuduh dirinya tidak becus, demi lagit dan bimi, Brayen tidak menginginkan anak dari wanita akungkuh itu, ia sama sekali tidak menyangka, kalau Aluna akan hamil secepat itu. "Mamah nggak mau tau, kalau sampai itu terjadi lagi sama Aluna, mamah akan marah besar sama kamu, apalagi sekarang Aluna lagi hamil cucu mamah." Brayen mendesah malas, selalu membahas kehamilan perempuan itu. "Terserah mamah lah, dia aja yang nggak becus, jaga diri aja nggak bisa, apalagi bisa jaga kehamilannya, kenapa nggak keguguran aja sekalian." "Tutup mulut kamu Brayen!" sentak tante Tari kuat, matanya melotot menatap tajam ke arah Brayen. "Mamah serius, kalau sampai kamu sakitin Aluna lagi, mamah nggak bakal anggap kamu sebagai anak lagi!" "Papah heran, papah nggak pernah ajarin kamu sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab kayak gini. Apa susahnya sih, menjaga istri sendiri. Kamu itu jangan terusin ego kamu." Rasanya Brayen ingin menghilang, kabur dari kehidupan mereka, apalagi sekarang Aluna sedang mengandung, akan semakin mempersulit langkahnya. "Tesersah kalian. Selama ini, aku emang selalu salah kan?" "Kamu mau bikin mamah sakit? Mamah nggak main-main, kamu mau menjadi anak durhaka? Pokoknya kamu harus baikin Aluna, titik. Mamah nggak mau nerima alasan apapun!" Tante Tari membuang muka kesamping, sudah malas berdebat dengan anak keras kepala itu, tapi, di sisi lain, ia juga tidak sabar, menunggu calon cucunya lahir ke dunia. Tante Tari berjanji, akan menurutin apa pun kemauan menantu kesayangannya, karena ini demi janin yang ada di kandungannya. Sementara itu, Brayen benar-benar sangat enggan untuk bertemu Aluna. Apalagi sekarang perempuan itu bisa memanfaatkan kehamilannya, Brayen menjambak rambutnya frustasi, tadi siang, Rio sudah memukulinya, sekarang harus berhadapan dengan wajah Aluna yang begitu menyebalkan. Kalau bukan karena tabte Tari, Brayen sangat enggan menjenguknya, meski sedang mengandung, Brayen tetap tidak perduli, baginya, Aluna hanya debu yang tak berarti. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN