***
Aluna membuka mulutnya tak percaya, raut wajah yang diterbitkan tak terbaca, tangan kirinya menyentuh benda tipis persegi panjang itu, disana tercetak dua garis yang saling berdekatan, sekarang semuanya benar-benar telah berakhir, benda itu menjunjukan dirinya positif mengandung. Air mata mulai bercocoran keluar dari kelopak matanya, ia mengandung anak laki-laki yang tidak mencintainya, mendengarnya saja, membuat bulu kuduknya terasa ngeri, menaruh benih dari laki-laki berhati busuk itu, bagaikan melakoni tenaga agen pembunuhan, sangat menjijikan.
"Kenapa sih, lo pakai muncul di perut gue?"
Pandangan Aluna turun kebawah, menatap nanar perut datar yang berisikan janin tanpa cinta, apa yang harus ia lakukan sekarang, melakukan aksi gila, mengugurkan janin itu? Lalu pergi tanpa dosa?
Aluna mendesah resah, lalu keluar dari dalam toilet, testpect yang tadi digunakan sudah dipatahkan, lalu dibuang kedalam tong sampah, Tidak ada satupun yang boleh mengetahui hal itu, apalagi Brayen, laki-laki kasar yang tidak pantas mendapatkan anak yang lucu darinya.
Aluna duduk di tepi ranjang, menggeser posisi hingga ranjang melesak, menyandarkan tubuhya, kepalanya pusing, tiba-tiba saja ingin kehadiran Brayen, meminta laki-laki itu untuk memijit kepalanya.
Hampir satu jam di tempat yang sama, pukul 10 malam, Brayen masih belum pulang, rasa khawatir sekoyong-konyong menjalar di dalam d**a, kemana laki-laki itu? Kabur setelah menghamilinya?
"Gue tau, pasti dia lagi berduaan sama pacarnya, gue harus kasih tau kak Rio, gue nggak mau, cewek itu sakitin hati kak, Rio. Sama kayak cowok b******k itu udah berhasil sakitin hati gue."
Aluna mengambil ponsel yang tersimpan di bawah bantal, lalu mencoba untuk menghubungi, Rio.
'Nomor yang anada tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.'
Aluna mendesah, mendengar suara layanan operator, bagaimana pun, ia harus memberi tahu sang kakak, agar tidak terlampau jatuh hati.
Brakkk!!!
Pintu didorong keras, hingga menimbulkan bunyi pukulan yang mengejutkan, nyaris tubuh Aluna terjerembab, akibat ulah laki-laki itu.
Brayen berjalan tertatih-tahih, mulutnya mengekuarkan kalimat yang tidak jelas, mengumpat, tertawa, menangis, lalu kembali tertawa, seperti orang gila yang kehabisan obat bius.
Aluna berdiri, namun Brayen malah berjalan cepat, mendorong tubuhnya hingga terhempas di atas ranjang, Aluna meringis, saat tubuh besar Brayen menindih tubuh ringkihnya, bau alkohol tercium pekat di hidung Aluna, lantas, ia mendorong tubuh Brayen dengan telak, hingga tubuh itu terbanting di samping, cepat-cepat Aluna menegakkan tubuhnya, jantungnya berdetak cepat tak karuan.
"Ines, jangan tinggalin aku, sayang... Aku butuh kamu, kamu janji, kalau kamu tidak akan pernah ninggalin aku, kamu bohong!" Brayen kembali tertawa, matanya setengah terbuka, lalu mencoba untuk duduk, menatap Aluna seperti orang yang kehilangan akal sehatnya.
"Lo..." Brayen kembali tertawa, "lo udah bikin gue kehilangan cewek yang paling gue sayang, gara-gara lo gue kehilangan perempuan berharga, perempuan murahan kayak lo nggak pantas dijadikan pengganti, Ines." telunjuk Brayen mengarah ke d**a Aluna, sangat tajam. Membuat ulu hati Aluna terasa sangat nyeri.
"Lo tau nggak? Gue itu cinta sama dia, tapi nyokap lo dan nyokap gue egois, bikin gue nggak punya pilihan, lo sama kayak mereka."
Terdengar kembali isakan Brayen, kini tubuhnya kembali tumbang, sampai akhirnya benar-benar terlelap. Mata Aluna mulai berkaca-kaca, menjatuhkan cairan bening yang akan segera membasuh pipinya, meski tidak mencintai laki-laki itu, tapi Aluna merasa sangat tersakiti, untuk apa hadirnya di sini? Melayani laki-laki itu sepenuh, termasuk memberikan kehormatannya. Untuk apa bayi yang tumbuh di rahimnya? Kalau pada akhirnya kedua orangtuanya tidak pernah mengharapkan kehadirannya.
Aluna berjongkok, membuka sepalu laki-laki itu dengan penuh ke hati-hatian, mengubah posisinya agar nyaman dengan tidurnya.
"Gue rasa keputusan gue bener, gue nggak perlu kasih tau lo soal kehamilan gue, dan sorry, jangan salahin gue kalau bikin anak ini lenyap. Karena gue sama sekali nggak pingin anak ini."
Perasaan benci dan kecewa berhasut-sahutan, seolah cicak-cicak di dinding saling mengejek bagaimana nasib Aluna, menjadi perempuan bodoh dengan pilihan yang tidak jelas, menjadi wanita jahat yang merenggut hak anak untuk hidup di dunia.
***
Ines masih belum percaya, kejadian tadi sore yang ia alami, nyaris saja Brayen memerkosanya, agar mampu memilikinya seutuhnya, laki-laki itu sudah melakukan hal yang tidak menggunakan akal sehatnya, Ines terlalu kecewa. Laki-laki yang dulu selalu menjaganya, justru hampir menghancurkan masa depannya, bagaimana jika ia tidak bisa melalukan perlawanan, mungkin, detik itu juga ia akan menghabisi nyawanya. Demi lagit dan bumi, Ines sangat-sangat kecewa.
"Sepertinya, aku harus menghilang, aku harus butuh waktu sendiri, agar aku bisa tenang, dengan begitu, Riyan juga bisa melupakan aku dengan cepat."
Ines menguap jejak air mata yang tidak kentara, lalu berjalan menuju lemari, mengamasi baju-baju yang tersusun di sana, tekatnya sudah bulat, ia harus pergi untul sesaat. Memastikan hatinya harus benar-benar jatuh untuk, Rio. Laki-laki yang kini berstatuskan sebagai kekasihnya.
Ines mengambil ponselnya, memncoba mengubungi seseorang.
'Hallo, Assalamualaikum, Mah...'
'Waalaikumussalam, sayang. Tumben kamu nelfon mamah?'
'Aku kangen, aku mau ketempat mamah.'
'Loh, kuliah kamu gimana? Mamah disini masih ngurus nenek kamu yang masih sakit.'
'Aku libur, please, aku mau ke sana, aku juga mau ketemu nenek.'
Terdengar helaan nafas panjang dati seberang sana, satu detik, dua detik, tiga detik, Ines hampir putus asa.
'Baiklah, kamu hati-hati.'
Ines menganggukan kepala, 'iya udah mah, nanti subuh, aku bakal berangkat, Assalamualaikum.' Ines langsung mematikan komunikasi, tanpa membiarkan sang mamah menjawab salam.
***
Pagi-pagi sekali, Aluna sudah sampai di rumah Jesika. Kedua orangtuanya sedang tidak di rumah, kebutulan, Riana juga ada disana, menemani Jesika selama beberapa hari kedepan.
"Aduh, Aluna, tumben lu subuh-subuh dateng ke sini, kayak nggak ada nanti siang aja lo."
"Ini mendesak." jawab Aluna cepat. Jesika menguap, membiarkan mulutnya terbuka lebar, sementara Riana tetap memelih berselimut di balik kain tebal itu.
"Lo tau tempat gue bisa gugurin kandungan gue."
Mendengar pernyataan Aluna, kedua mata Jesika yang tadinya sangat berat dibuka, kini terbelalak kaget, melotot seperti menakut-nakuti anak kecil, begitupun Riana, perempuan itu langsung melompat dari tempat tidur.
"Apa?" Jesika berteriak kaget, memandang Aluna dengan keterkejutan yang tak terduga. Selama beberapa detik, Jesika mencerna ucapan Aluna.
"Lo hamil?" tanya Jesika memastikan, Aluna hanya berkerut, memasang wajah malas untuk mengulangi ucapannya.
"Ko lo bisa hamil sih, Al." tanya Riana polos, "terus kok lo mau gugurin, kan kasian, emang lo nggak pernah lihat internet, buka situs-situs suara hati bayi yang diaborsi sama ibunya, itu kejam banget, kasian, Al."
"Gue nggak perduli, gue emang cewek kurang ajar, nggak punya hati, nggak ada otaknya, murahan, itu yang selalu Brayen bilang sama gue, jadi, buat apa gue harus hamil anak dia, gue kan perempuan nggak bener." mendadak, ucapan kemarin masih terniang-niang di telinganya, membuat hatinya bagai dicucuk pisau tajam, ucapan menghantam gendang telinganya.
"Al, lo beneran hamil?" Jesika menyentuh pundak Aluna, kedua bahunya mulau naik turun, menasan isak tangis terdalamnya. Melihat Aluna yang seperti itu, Jesika lantas membawanya ke dalam pelukan, membiarkan perempuan itu menangis di dadanya, Jesika mengusap-usap rambut tebal Aluna, berharap menenangkan sabatnya. Riana yang tidak mau salah bicara, ikut andil memeluk Aluna, mereka seolah-olah memberikan seluruh kekuatan untuk, Aluna.
"Gue nggak tau, yang jelas, dia udah tidurin gue." suara Aluna tersendat-sendat akibat tangisan, "dan sekarang, gue malah hamil, gue nggak mau, Jesika, tolong gue, kalian harus bawa gue kemana pun gue bisa lenyapin bayi ini."
"Al, jangan bertindak gegabah, gimana pun dia anak lo."
"Iya, Al. Gue nggak mau lo nyesel. Anak lo nggak salah apa-apa, masa mau lo bunuh."
Seperti kehilangan akal sehatnya, ini sudah menjadi keputusannya.
"Gue nggak perduli, kalian mau nganterin gue lenyapin janin ini, atau kalian bakal mandiin jenazah gue?"
"Tapi, Al."
"Gue nggak punya pilihan!" bentak Aluna tak tertahankan.
"O--oke, kita bakal nganterin, lo."
Setelah hampir menunggu sepuluh menit, kini mereka sudah berada di dalam mobil, ban berdecit, kendaran itu mulai meleset jauh di atas aspal. Entah apa yang ada di dalam benak Aluna, saat melihat kota jakarta pagi itu, banyak anak-anak kecil dengan baju compang camping, berhamburan mendekati mobil-mobil para pengemudi, bernyanyi dengan wajah kelaparan, sambil membawa adik yang kecil, mereka merasakan betapa kerasnya hidup di dunia. Orangtua mereka, tidak memperdulikan masa depan mereka.
Namun, ada yang menyentuh hati Aluna, membuat air matanya kembali bertetesan, saat berada di lampu merah, seorang pengemis duduk bersama dua anaknya, satu anaknya berumur 4 tahun, tidur beralaskan kain tipis, memeluk tubuhnya sambil mengigil, sementara sang ibu, memeluk bayi mungil yang masih berumur beberapa bulan, hidup tanpa suami, ibu itu mampu menyayangi anaknya. Padahal, hidupnya sangat jauh dari kata layak, tapi sedikit pun ia tidak meninggalkan, membuang atau malah membunuh anaknya.
Mata Aluna beralih menatap perutnya, menyentuhnya pelan, apa ia benar-benar mampu membunuh janin yang ada di dalam tubuhnya. Meski sama sekali tidak menginginkan kehadiran bayinya, tapi tetap saja, ia masih belum mengerti, dengan keputusan yang telah ia ambil.
Seketika, wajah-wajah bayi yang lucu-lucu dan menggemaskan muncul du pikiran Aluna, menangis dengan menja, menunggu tangan sang ibu untuk memeluknya hangat, penuh kasih sayang. Tenggorokan Aluna mengetat, merasa tercekat, semakin panas di dalam mata.
"Al, gue nggak tau dimana tempat yang bikin lo ngelajuin aborsi, tapi, di tempat ini ada beberapa jamu yang sangat dilarang untuk di konsumsi ibu hamil, karena bisa membuat keguguran, lebih baik lo beli itu aja, buat hilangin nyawa anak lo."
Bahkan Aluna sampai tidak sadar saat sampai di tempat tujuan. Mendadak tubuhnya enggan keluar dari dalam mobil.
"Kalau lo, malas beli, biar gue tang beli."
Jesika turun dari dalam mobil, Aluna hanya memandang Jesika, tanpa menghentikan kepergiannya.
"Al, lo yakin? Ini bukan main-main lo, anak lo sendiri." tanya Riana lagi.
"I--iya... Gu--gue, yakin."
Riana hanya mengangguk, percuma menasehati Aluna, anak itu terlalu kepas kepala. Dalam beberapa menit, Jesika sudah kembali, membawa kantong berwarna hitam. Aluna bisa melihat, benda itu, itu minuman yang akan meluruhkan janin di perutnya.
"Gue minum nanti."
"Terserah, lo."
Jesika kembali fokus membawa mobilnya meninggalkan tempat itu. Rasanya, ingin sekali memaki Aluna, tapi, Jesika tahu, sahabatnya sudah terlalu banyak masalah. Menambah bebannya tidak akan tega ia lakukan, meski ini perbuatan yang salah, tapi ia tidak punya pilihan lain, Aluna mengancam akan menghabisi nyawanya jika Jesika tidak mau mengantarnya.
"Eh, Al. Lo liat deh, sepupu gue, baru aja lahiran, lucu deh bayinya, ganteng banget." Riana memamerkan ponselnya, di layar itu menampakan sesosok bayi yang sangat lucu, bibir di gulum ke dalam, lalu lidahnya dikekuarkan, benar-benar menggemaskan. Membuat siapa pun ingin menggendongnya dengan lama.
"Lo liat lagi ini," Riana hendak kembali memeragakan ponselnya. Namun, Aluna menepisnya dengan telak.
"Maksud lo apa liatin foto-foto bayi itu."
"Nggak ada maksud apa-apa, gue cuma seneng aja, lihat bayi mungil tanpa dosa itu tertidur pulas."
Rian mencoba memancing Aluna, setidaknya akan membuatnya berfikir dua kali, tapi nyatanya, semua sia-sia, Aluna sepertinya sudah yakin dengan keputusannya.
"Oh..." Aluna hanya merespons singkat, entah keraguan apa yang kini menghantui hatinya, jika dia mempertahankan bayi itu, dengan alasan apa? Jika ia membunuh bayi itu, apa ia masih bisa disebut wanita baik?
Hampir satu jam perjalanan, Aluna sudah sampai di rumah kedua orangtuanya, melangkah masuk ke dalam, sementara, Jesika dan Rania terpaksa pulang, karena Aluna telah memintanya untuk pulang.
Di rumah tidak ada mamah dan papahnya, Aluna tersenyum kecut, mereka pasti masih berada di bogor.
"Loh, Al. Kok kamu bisa di sini?"
"Ka--kak, Rio." Aluna langsung berlari, memeluk sang kakak dengan erat, ingin mengadu sepenuh hati, seketika tangisnya pecah, menggelegar hingga nyaring didengar telinga Rio.
"Kamu kenapa?"
"Kak, aku sayang banget sama kakak."
"Iaa, kakak tau, dulu kamu kan juga sering bilang gitu."
"Tapi, ini beda kak, aku nggak mau kakak disakitin."
"Maksud kamu?" kening Rio mulai berkerut dalam.
"Kemarin, nggak sengaja dengerin pembicaraan Ines dan juga Brayen, ternyata selama ini, Ines nggak pernah cinta sama kakak, aku nggak pingin apa yang terjadi sama aku, juga terjadi sama kakak."
Rio mendesah panjang, lalu menarik nafas.
"Kakak udah tau masalah itu, Ines emang masih cinta sama suami kamu. Tapi, mencintai tanpa dicintai, itu udah jadi risiko kakak, nggak masalah." jawab Rio pasrah, ia sudah terlanjur mencintai Ines.
Aluna hanya menangis, "tapi aku nggak mau, dia sakitin hati kakak, kayak Brayen udah sakitin hati aku."
"Apa maksud kamu, apa yang udah dia lakuin sama kamu." sorotan mata sendu itu, kini berubah menjadi tatapan tajam penuh emosi.
"Dia, bilang, aku w************n. Karena aku dan kakak, dia harus pisah sama pacarnya, aku nggak tau harus gimana, apalagi sekarang, aku lagi hamil..." suara Aluna melamban, menundukan kepalanya, sementara Rio, nyaris tidak percara dengan apa yang barusan ia dengar.
"Ka--kamu, kamu hamil? Darah daging Brayen?" tanya Rio tidak percaya, Aluna hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
"Kakak nggak marah kan, kalau aku gugurin anak ini?" seperti tidak warad lagi, ucapan itu tercetus tanpa dipikirkan.
"Apa yang kamu lakukan?! Kamu sudah gila?!"
"Terus menurut kakak aku harus gimana? Cuma kakak yang bisa bantu aku keluar dari masalah ini, mamah sama papah, mereka udah nggak perduli lagi sama aku, kakak coba bayangin, gimana diposisi aku, harus hamil dengan laki-laki yang nggak sama sekali cinta sama kita, justru dia cuma anggap kita sampah, yang telah selesai dipakai, terus dibuang, ucapan dia yang bilang aku w************n dan sampah, itu masih terniang-niang di telinga aku! Sangat jelas, dan itu bikin hati aku sakit!" intonasi suara Aluna sudah naik tinggi, hidungnya kembang-kempis, menyeka air matanya dengan kasar, nafasnya tersendat-sendat akibat tangis.
Melihat Aluna yang seperti itu, kedua tangan Rio terkepal, ingin menghajar laki-laki itu dengan kuat. Memaki adiknya secata serta-merta, dia harus mendapatkan balasan.
"Aku harus berpura-pura tuli di depan orang yang terus meneriaki namaku, menganggap aku perempuan paling bodoh, aku nggak bisa semudah itu untuk ngelupain, aku bukan malaikat." kata Aluna lagi.
"Kakak bisa kasih tau aku? Apa ya g harus aku lakuin, aku nggak pengen anak ini." suaranya mulai mengendur, tapi belum bisa menghentikan tangis.
"Jangan bertindak gegabah, Al. Jangan lakuin apa pun yang bikin kamu nyesel, bagaimana pun, bayi itu tetap darah daging kamu, kakak nggak mau, saat anak itu nggak ada lagi di rahim kamu, kamu justru menginginkan dia kembali, itu semua nggak akan pernah terjadi lagi Al, jadi kakak harap, kamu jangan pernah ngelakuin tindakan bodoh itu, perbuatan yang akan bikin kamu menyesal seumur hidup kamu, harusnya kamu bersyukur dengan adanya anak itu, dia akan menemani kamu, merasakan kesedihan kamu, tempat kamu berbagi kepedihan. Kakak nggak mau, adik yang paling kakak sayang, justru ngebunuh anaknya sendiri." Rio berusaha untuk menenangkan Aluna, memberinga celah agar mampu berfikir jernih.
Aluna hanya mampu diam, merespons ucapan Rio yang masuk mulus ke dalam telinganya, ia kembali memeluk tangan Rio, menangis sekuatnya di sana. Berada di dua piliha yang membuatnya ragu, ragu akan kepastain.
"Kakak janji, akan ngasih perhitungan sama dia. Kakak akan bikin dia memohon, minta maaf sama kamu." janji Rio, ia tidak akan tinggal diam, emosinya sudah terlalu mendidih, ia tidak rela siapa pun menyakiti adiknya, menghabisi nyawa Brayen akan dia lakukan, karena terlalu menyayangi Aluna.
***
Bersambung.
Duh, kira-kira, Aluna bakal pertahanin bayinya nggak ya...