Bab 13. Takdir Terpahit

1969 Kata
*** Isakan tangis pilu seolah mengantarkan perjalanan Rio, tanah merah itu kini mulai menghilangkan sosoknya yang sudah ditutup dengan papan. Pergerakan jarum jam seolah mengiringi kepergian, dengan langit yang sebentar lagi akan memuntakan hujan, senyum tulusnya tidak akan pernah diterbitkan lagi, tingkah menyebalkannya saat menjahili kini seolah tertinggal jauh di belakang, seolah akan menjadi kenangan yang akan diingat di masa depan. Aluna masih belum percaya, tadi malam kakaknya masih memeluknya, mencium kepalanya dengan hangat, memberikan perlindunhan ternyaman. Ulu hatinya benar-benar terasa sanga nyeri, tidak ada tanda-tanda yang ditujukan Rio, mengikrarkan ia akan pergi secepat ini, pulang kembali ke asalnya. Tante Diana masih menangis menggelugut di pelukan om Arif, dia menenggelamkan kepalanya di sama, mencengkram kuat kemeja hitam suaminya. Masih terbayang bagaimana wajah Rio saat menggodanya, membuat suasana rumah menjadi ricuh karena berhasil membuatnya kesal, sekarang anak laki-lakinya sudah pergi untuk selama-lamanya, tubuhnya terkubur di bawah tanah yang dingin, ruangan yang sempit tanpa udara. "Papah, ini semua nggak benar kan, pah. Anak kita Rio nggak mungkin meninggal." suara tante Diana terdengar bergetar, menusuk ditelinga siapaoun yang mendengar, hidungnya merah, matanya sudah sembab tak berbentuk. "Rio itu anak yang baik, selalu nurut apa kata mamah, dia nggak pernah ngebantah mamah, nggak pernah berkata kasar, dia baik pah, kenapa dia malah diambil dari kita, dia belum menikah, mamah pengen punya cucu dari dia, dia juga belum tunjukin ke mamah kesuksesan dia buat jadi seorang Dosen, dia sendiri yang bilang sama mamah, kalau dia mau bikin orang pinter, mau bikin kampus sendiri dan gratisin semua biaya buat anak pintar yang nggak mampu, dia belum buktiin sama mamah, Pa. Dia--" nafas tante Diana tersedat-sendat, dadanya sangat sesak, tenggorokannya menyempit sudah tidak bisa berkata kata lagi. Kabar kematian anaknya terlalu mendadak, kemarin sore hanya ingin pamit untuk mencari Ines yang hilang kabar, nyatanya pagi-pagi ia sudah mendengat kabat kematian putranya, anak yang ia sayang. "Mah, udah ma. Mamah tenang. Kita nggak boleh kayak gini." om Arif berusaha tegas, meski hatinya sangat hancur, remuk bagaikan di lempar bom yang berbahaya, jika ia bisa membelah dadanya sendiri, mungkin hatinya sudah hancur menyatu bersama darah. Tapi, sebisa mungkin ia tidak ingin terlihat rapuh di depan istri dan anaknya. "Orang itu jahat, dia memukuli Rio sampai meninggal, padahal dia cuma bantu ibu-ibu hamil yang kena jambret." itulah yang hanya mampu ia ucapkan, kesaksian yang diberikan Aluna lewat mulut Rio sendiri. Jika ia tahu siapa yang membuat Rio kehilangan nyawanya, ia bersumpah akan membalas nyawa anaknya. Om Arif tidak bisa berbicara banyak. Ia hanya berusaha memeluk istrinya, menenangkan hatinya yang sudah kacau balau. Merasakan tangis terdalam istrinya. Tante Tari berjongkok, membawa Aluna ke dalam pelukanya, kondisi Aluna terlihat begitu lemah, wajahnya terlihat sangat pucat. "Aku sayang banget mah, sama kak Rio." Aluna tersenyum ironi, kalau tidak didekap mertuanya, mungkin ia tidak akan mampu meneggakkan tubuhnya, tenanganya benar-benar sudah habis, tidak lagi bisa memikirkan kondisi janinnya sendiri. "Kamu jangan terlalu stres, Al. Ingat bayimu, jangan sampai kita kehilangan dia juga." Aluna hanya merespon tipis, jawahnya datar, bahkan di antara kerumunan orang-orang itu, Aluna tidak bisa melihat keberadaan Brayen. Laki-laki itu benar-benat menghilang. "Pah, mending sekarang papah cari Brayen. Bawa dia ke sini!." om Rendra mengangguk, lalu ingin melangkah, tapi ia bisa melihat Brayen datang bersama seorang perempuan. Kening laki-laki paruh baya itu pun berkerut dalam, mengamatin wajah anaknya. "Rio....!" gadis itu menjatuhkan lututnya di atas tanah, melihat batu nisan bertuliskan nama Rio, rasa bersalahnya kini semakin besar, laki-laki itu pergi tanpa membawa cintanya. "Rio, kenapa kamu pergi ninggalin aku." isaknya pilu, ia baru saja pulang ke jakarta, berniat untuk menemui Rio kerumanya, nyatanya ia mendapatkan kabar Rio telah meninggal, sementara Brayen? Entahlah, Ines sendiri tidak tahu sejak kapan Brayen telah mengikutinya. "Aku cuma pergi sebentar, kenapa kamu malah meninggalkan, aku?" hati  Ines benar-benar terasa sangat nyeri, meski tidak sepenuhnya mencintai Rio, tapi laki-laki itu sudah menemaninya sejak 2 minggu terakhir, menimbulkan benih cinta yang akan segera tumbuh, kebaikan laki-laki itu berhasil mematahkan komitmen Ines, karena masih ada cinta selain Brayen. Tapi, rasa itu telah patah, mati bersama Rio yang pergi meninggalkannya. Kepingan luka itu terpaksa ditelan dengan pahit oleh Ines, Rio telah pergi meninggalkannya. 'Kalau misalnya aku melamar kamu, diterima sama mama kamu nggak ya?' 'Kalau mamah aku nolak?' 'Aku paksa mamah kamu, kalau mamah kamu tetap nggak bolehin, aku bakal culik kamu, bawa kamu ketempat terpencil, tidak seorang pun di sana, kita akan bikin kota sendiri, dengan anak satu triliun' Ines tertawa geli, pernyataan konyol apa barusan yang ia dengan, laki-laki itu menginginkan anak yang sangat banyak, bagaimana mungkin? 'Kamu mau bikin padat negara Indonesia sama anak-anak, kamu?' 'Ya nggak apa-apa dong, anak-anak pintar yang akan megang kekuasaan yang tinggi ' 'Hahaha, aku nggak mau.' 'Berarti kamu nggak cinta sama kamu, lihat nanti, saat aku nggak ada, kamu bakal kesepian, terus nangis sendiri deh, kangenin aku, kangen bau kentut aku.' Ines mencubit pelan pinggang Rio, membuatnya meringis. 'Kamu jorok.' Rio hanya terkekeh, melihat wajah geli kekasihnya. Kalimat itu masih terekam jelas di dalam otak Ines, seperti sebuah rekaman yang kembali di putar, berhasil menoyor dadanya. Kata-kata Rio yang seolah punya kehidupan, sangat yakin dengan masa depan mereka, sekarang kini sudah tertinggal jauh, meninggalkan kepingan luka yang mendalam. Andai saja Ines bisa memutar waktu, ia akan memenuhi pernintaan konyol Rio yang tidak mungkin terujud itu. Brayen sendiri masih diam di tempatnya, mematung tidak jelas, masih terkejut dengan kematian iparnya itu, padahal kemarin mereka masih sempat bertengkar hebat, apa yang telah membuatnya mati? "Aku cinta sama kamu, Rio. Apa kamu bisa kembali? Kamu pernah bilang sama aku, pengen punya anak satu triliun, ayooo..." Mendengar pernyataan Ines, membuat hati Brayen perih, ia mencintai gadis yang mungkun kini tidak mencintainya lagi, lantas apa hadirnya, menolak takdir, melawan arus mencapai tepiannya bersama Ines, tapi Ines malah pergi berlayar bersama orang lain, mencari tepian untuk bahagianya sendiri. "Brayen, dari mana saja kamu?!" suara sentakan om Rendra  berhasil menyadarkan Brayen, "kamu kemana? Kenapa nggak jagain Aluna, kamu tau, dia hampir keguguran lagi, untuk pendarahannya bisa dihentika!" Demi tuhan, Brayen tidak perduli, sejak awal ia sudah menegaskan dalam hati, tidak ingin anak itu lahir ke dunia, anak yang hanya akan membuat hubungannya dan Aluna samakin terikat, bahkan kematian Rio membuat Brayen senang, dengan begitu tidak akan ada lagi pahlawan Aluna, bahkan bisa kembali merebut hati Ines yang tekah dirampas Rio. "Mah, perut aku sakit...." lirih Aluna pelan, tante Tari terbelalak kaget. Langsung memapah tubuh Aluna. "Kita ke mobil ya sayang. Kamu harus kembali ke rumah sakit." Aluna hanya mengangguk pasrah, tidak ingin hal buruk terjadi dengan janinnya, kakaknya sudah berpesan, agar Aluna selalu menjaga bayinya, Aluna tidak ingin mengrcewakan Rio, jika gagal menjaga calon anaknya. "Kamu lihat, istri kamu itu butuh kamu, kamu temani dia, di rumah sakit!" Brayen berdecak malas, sangat enggan sebenarnya. Tapi perintah papahnya mutlak, percuma ia membantah. *** Aluna masih berbaring lemah di atas ranjang, jarum infus menempel di tangannya, seluruh tenanganya seolah terkuras habis, benaknya masih bertanya-tanya, nyatakah kepergian Rio? Hampir ratusan kali ia meyankin dirinya, tapi semuanya kembali membuatnya jatuh, lalu dihimpit batu besar, membuatnya sekalin terperosok pada lubang kelaraan. Hati siapa yang tidak akan hancur saat kehilanga seorang kakak, saudara yang sangat menyayangi dan melindungi. Jesika dan Rania sudah berada di ruangan Aluna, berita duka kematian Rio berkembang pesat, hingga menyebar di kampus mereka. Bahkan saat ini Arsya juga berada di sana, ingin menghibur kesedihan Aluna, bagaimana pun, Aluna gadis yang ia sayangi sejak dulu, tidak tega melihatnya bersedih, hanya saja keberadaannya yang jarang muncul membuatnya selalu menjadi pengecut. Tante Tari sedang bertemu dengan dokter yang menangani kandungan Aluna, sepertinya ada yang sedang dikhawatirkan. "Lo makan ya, Al. Lihat, anak pinter kayak Arsya aja udah jengukin lo." Aluna hanya menatap Arsya dengan tatapan tak terbaca, lalu sedikit tersenyum tipis, bahkan lebih dominan cemberut. "Lo mau gue suapin?" tanpa izin, Arsya sudah lebih dulu menyodorkan sendok di mulut Aluna, mau tidak mau, ia harus menerima suapan Arsya. "Ciyeee, giliran disuapin cowol ganteng aja lo mau." celetuk Riana, lantas semua di sana terkekeh, kecualu Aluna. "Lo harus makan banyak, kasihan kan anak lo, nanti gue udah nggak jadi om lagi." kata Arsya, entah keberanian dari mana. Jika Arsya tidak mampu memiliki Aluna sebagai kekasihnya, tak apa, menjadi sahabat yang selalu berbagi akan membuatnya senang. Brayen mengintip di balik pintu, melihat bagaimana mesranya Arsya nemperlakukan Aluna, ada yang begitu aneh menjalar di d**a Brayen, menimbulkan sakit, kedua tangannya mulai mengepal, menimbulkan buku-buku jari yang mulai memutih. Tak pelak, laki-laki itu berjalan cepat, masuk ke dalam kamar, memandang Arsya dengan ketus. "Ngapain kalian rame-rame di sini?!" "Yee suka-suka gue lah, Aluna temen kita, jadi jangan heran kalau kita di sini, lagian dia juga sendiri doang, lo aja main kabur-kaburan kayak setan." Kening Brayen berkerut dalam, seolah merasa sedang disindir tajam. "Biarin aja, lo santai aja." kata Arsya mengangkat bahunya acuh, lalu kembali memberikan suapan untuk Aluna, bahkan gadis itu pun menerima dengan baik. "Manja! Caper bangen sama orang, makan sok pake disuapin!" Mendengar ucapan Brayen, membuat Aluna tersedak, batuk-batuk. Arsya terkesiap kaget, memegang bahu Aluna, lalu memberikannya minuman. Iris mata Brayen menatap tidak suka. Geli melihat pemandangan itu, menunjukan istrinya itu memang bukan wanita yang baik. "Mending lo pergi sono, gara-gara lo Aluna keselek." celoteh Riana to the point, lalu mendegus menatap Brayen tidak suka. Brayen bernafas lewat mulut, lalu kembali ngeloyor pergi tidak jelas. *** "Jadi, bagaimana kondosi kandungan menantu saya, Dok?" Dokter Vani menarik nafas dalam, lalu kembali menghembuskannya. "Kandungannya itu lemah, buk. Semenjak pendarahan pertama, itu sudah membuat risiko tinggi akan terjadinya mendarahan lagi. Saya khawatir jika pendarahan terus terjadi, menantu ibu akan kehilangan calon anaknya." "Astagfirullah... Terus sekarang bagaimana dok, apa yang harus dilakukan." "Menantu ibu harus mau istirahat total, jangan bekerja berat, kalau perlu jangan dibiarkan melakukan pekerjaan rumah, apalagi jangan sampai stres, setelah saya periksa, Aluna tidak hanya tertekan fisik, tapi juga batinnya. Tolonglah untuk keluarga membuat dia tidak banyak fikiran, sebisa mungkin harus ada disampingnya." Tante Tari mengangguk mengerti, ia sudah membuat keputusan, selama beberapa hari ia akan menginap di rumah anaknya. Diana tidak mungkin bisa menjaga anakanya, sebab kondisi psikisnya juga terguncang hebat, kepergian Rio benar-benar membuat luka yang mendala. "Baik, dokter. Saya akan menjaga menantu saya dengan baik." Dokter Vani mengangguk. "Yasudah, kalau begitu, saya permisi dulu, dok. Terimakasih." "Iyaa bu, sama-sama." dokter Vani mengangguk, lalu tante Tari sudah melangkah pergi meninggalkan ruangan dokter Vani. Tante Tari tidak akan tinggal diam, ia tidak mau kehilangan calon cucunya, Brayen tidak boleh membuat beban fikiran Aluna semakin berat, apalagi kekhawatirannya, saat Brayen nekat untuk kembali berama kekasihnya itu. "Brayen, kamu ngapain di sini?" tante Tari berdecak lidah, lalu melipat tangan di atas d**a, memandang Brayen dengan tajam. "Cepat masuk!" "Ck, malas mah. Lagian di sana banyak temennya kok." "Kamu suaminya, mamah bilang kamu masuk!" kata tante Tari tak terbantahkan. Matanya berapi-api, menatap Brayen dengan sangar, seperti singa yang akan memakan mangsanya. Brayen tertawa sarkastis, sungguh jenaka harus berpura-pura menerima. Tidak punya pilihan lain, dengan sangat-sangat terpaksa, Brayen masuk ke dalam ruangan terkutuk itu. "Aluna, mamah sudah bicara sama dokter, kamu itu benar-benar harus jaga kandungan kamu." "Emang kata dokter apa, tan?" tanya Jesika kepo. "Kandungan Aluna lemah, bisa terjadi keguguran kapan aja, kalau Aluna tidak mau menuruti saran dokter, dia akan kehilangan bayinya." Mendengar ucapan mamahnya, kening Brayen hanya terangkat, acuh tidak perduli. Semua kejahatan yang tanpa sengaja dilakukan tetap membuatnya buta. "Aku janji, kok. Bakal jaga kandungan aku, sesuai permintaan kak Rio." "Pokoknya kamu harus nurut sama mamah, jangan sampai kamu stres." "Gimana nggak stres tan? Suaminya sendiri aja nggak pernah mau perduli." kali ini Arsya ikut bicara, bukan untuk mengompori atau berniat mengacaukan suasana, bukan sama sekali, ia bukan laki-laki sebrengsek itu. Kini, tatapan tante Tari beralih ke arah Brayen, dengan tatapan begitu ketus, masih menyinpan kemarahan karena anaknya itu sempat menghilang, meninggalkan tanggung jawabnya pada Aluna. Ditatap seperti itu, membuat Brayen semakin jengkel, ingin pergi meninggalkan tempat sial itu, dimana orang-orang selalu memojokkanya. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN